Rok Mini


dari http://baltyra.com/

Suatu siang di bulan September, di belahan bumi utara.

“Eh sorry banget gue telat” Sarah datang beringsut, wajahnya agak tegang.
“Ya nih, nggak biasanya lu telat. Dari mana?” Rina yang sudah menunggu menyambut dengan pertanyaan.
“Ya, tadi gue nemenin si Rama tuh ke mall. Keliling nyari bahan bubur buat anaknya.”
“Lo, kenapa lu yang nyari, si Astrid ke mana?”
“Justru itu, tadi tiba-tiba si Astrid telpon gue buat bantuin si Rama beli bubur. Dianya lagi ada tugas ke Washington katanya.”

“Alah, masak gitu aja si Rama nggak bisa?”
“Kaya’ gak tahu Rama aja lu. Mana pernah dia belanja sendiri. Sekarang giliran si Astrid pergi, bingung dah dia. Gue yang jadi korban. Tapi kasian juga si Bayu, anaknya. Kalau gak gue bantuin, kelaperan tuh bocah.”
“Oh gitu. Ya lah, lu mesti bantu temen lah.”
“Eh Rin, gue tadi ngelihat si Jaka di mall. Gile, bawa cewek dia. Cantik, rok mini lagi. Ada apa-apa tuh gue rasa.” Sarah bersemangat mulai bergosip.
“Eh yang bener lu. Orang baik-baik gitu kok digosipin.”
“Ya, dia kan sudah punya istri, masak pergi sama cewek lain. Rok mini lagi. Gue yakin itu selingkuhannya.”
“Hush, tahu dari mana?! Temennya kali.”
“Gak! Gue yakin. Dia kelihatan agak grogi gitu pas gua lihat dan Cuma melambai aja dari jauh gak berani deket-deket gue yg lagi jalan sama si Rama.”
“Sok yakin lu! Lu kan gak kenal deket sama dia. Jangan sok nuduh lah.”
“Emang yakin gue!”

Sarah semakin menjadi bercerita tentang Jaka yang diduganya berselingkuh. Rina hanya mendengarkan dengan seksama sambil senyum-senyum. Dia mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Eh lu gak dingin tuh pakai celana pendek begitu?”
“Dingin sih, tadi gua harus lari-lari dari rumah demi bantuin si Rama. Males lah gue ganti baju lagi lagian kan ribet kalau lari-lari gitu harus pakai celana panjang.”
“Jadi lu gitu doang tadi sama si Rama di mall? Celana pendek gitu?”
“Ya, emang kenapa?”
“Gak apa-apa sih. Kalau dilihat Pak Soleh dan gank-nya bisa celaka lu.” Rina tergelak hebat.
“Sialan lu. Lu kira mall itu tempat ibadah apa?!”

Di hari yang sama, tidak jauh dari tempat Sarah dan Rina bercakap-cakap.

“Kak, bangun kak. Ini obatnya.” Santi membangunkan kakak iparnya, Rosita yang tertidur.
“Eh sudah datang to. Makasih ya obatnya. Mas Jaka mana?” Rosita terjaga dari tidurnya.
“Tuh di dapur lagi benerin keran. Tadi sekalian dibeliin alatnya waktu di mall.”
“Oh, kasian Masmu San. Jadi repot dia kalau aku sakit gini.”
“Ya sih, tadi aja ribet banget di mall beli macem-macem. Lari ke sana ke mari. Tapi nggak apa-aka Kak. Yang penting Kak Ros harus cepet sembuh ya.”
“Makasih ya San.” Rosita terharu mendengar kebaikan adik iparnya.
“Kita ketemu temennya Mas Jaka tadi di mall tapi ga sempat dikenalin soalnya lagi ribet banget.”
“Siapa San?”
“Kata Mas Jaka sih namanya Mbak Sarah. Tapi aku ga sempat kenalan sih. Mas Jaka juga melambai aja dari jauh.”
“Oh, Sarah. Ya aku kenal. Dia termasuk orang lama di sini tapi kami gak deket banget sih. Kelihatannya baik orangnya.”
“Ya aku lihat sih baik sepertinya. Dia sama cowok tadi. Suaminya kali ya?”
“Rasanya belum punya suami deh dia.”
“Oh ya? Seperti pasangan gitu aku lihat jalan berdua. Mbak Sarahnya juga pakaiannya sexy gitu, Cuma celana pendek doang.”
“Gitu ya? Ga tahu juga sih. Calonnya kali, aku juga ga tahu.”
“Ya bisa jadi Kak.”
“Kamu pakai rok mini gitu tadi ke mall San?”
“Ya. Dingin banget ternyata. Aku kebiasaan di Jakarta sih. Kenapa Kak?”
“Gak apa-apa sih. Kadang ada aja sih orang Indonesia di sini yang punya perhatian lebih soal begini.”
“Ya ampun. Bukannya ini Amerika, negara bebas?!”
“Ya sih, tapi kan banyak orang Indonesia yang masih teguh memegang nilai sopan santun biarpun tinggal di negara liberal begini. Kalau Pak Soleh yang lihat kamu, dijamin Mas Jaka akan ditegur” Rosita menjelaskan sambil tertawa.
“Lo, kan aku adik kandungnya?!”
“Mana orang-orang tahu kamu adiknya Mas Jaka. Kan kamu baru pertama kali ke sini, cuma sebentar lagi.”
“Ah masak segitunya sih. Aku kira orang-orang yang sudah tinggal di luar negeri berpikiran terbuka.”
“Pikiran mereka sih terbuka, tapi kalau melihat paha terbuka, pikirannya bisa menyempit lagi.”
“Ah Kakak bisa aja.”

Keduanya pun tergelak. Siang beranjak sore, dingin musim gugur mulai terasa.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

10 thoughts on “Rok Mini”

  1. Ingat posting di wall seorang dosen kemarin “Wanita diuji kesabarannya ketika pria tidak punya apa-apa. Pria diuji kesabarannya ketika wanita tidak pakai apa-apa”.

  2. Hehehe… jadi ingat sahabat Chinese saya yang menentang berat rok mini dan hot pants…. katanya,
    “Aih… kasihan suami saya nanti mbak… nanti dibekasin dong….” hehehe…
    itu pilihan… dan biarkan hati nurani kita memilihnya… 🙂

    nice pak Andi…

  3. begitukah adanya mas…? apa itu juga gambaran yang mewakili kondisi teman-teman di Sydney maupun wollongong,………kalau demikian…berarti…peribahasanya jadi begini donk…..”dimana bumi dipijak, langit TIDAK SELALU dijunjung” …Is it right ? 🙂

  4. baru kali ini catatan Bli agak lucu,,,ternyata Bli dosen yang suka nulis cerpen :). saya berharap tulisan bli di blog ini dibukukan terutama yang cerita beasiswa…bermanfaat sekali membaca postingannya (terutama beasiswa dan cerita luar negerinya). salam Bli Andi, smoga sehat2 dan slalu berbagi pengetahuan

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s