Sore itu saya mengajak Lita, anak saya, pergi ke pancuran di dekat rumah di Tabanan Bali. Beji, orang Bali menyebutnya, sebagai tempat untuk mengambil air suci saat upacara di Pura yang ada di desa. Pancuran ini tidak pernah kering, selalu berlimpah air bahkan di musim kemarau yang paling panjang sekalipun. Konon ini sudah terjadi sejak zaman dahulu, seperti diceritakan oleh orang tertua di kampung kami.
Saya menelusuri jalan setapak yang kini berbeton kuat. Ingatan saya melayang ke suatu masa 20 tahun silam saat menyusuri jalan yang sama dengan sepeda gayung. Saat itu saya masih kelas 1 SMP, berusia sekitar 13 tahun. Jalanan waktu itu berlumpur dan ditumbuhi rumput yang liar. Lumpur dan rumpur di musim hujan adalah paduan sempurna yang tidak pernah membiarkan sepatu saya bersih sampai di sekolah. Sore itu saya termenung sendiri sambil menceritakan hal itu pada Lita. Dia mungkin mengerti ceritanya tetapi sepertinya tidak bisa merasakan apa yang saya rasakan dulu. Di jalanan yang terjal dan licin seperti itu, sepeda lebih sering dituntun daripada dinaiki, itu pasti. Ingatan saya juga melayang ke SMP 2 Marga dan terutama guru-gurunya yang meletakkan landasan yang kuat bagi pengetahuan saya saat ini.
Continue reading “Putri Malu, Elin dan Ikan Kecil di Pancuran”






