Tuhan yang gaul


Selepas Trisandya malam, Made Kondang tertidur di altar pemujaannya. Dia kelelahan karena seharian bekerja keras. Tidak biasanya, Kondang bermimpi. Dia bermimpi bertemu Tuhan.

“Hyang Widhi, maafkan hamba tertidur di altar” Kondang spontan meminta maaf.

“Santai aja Kondang, lu jangan gugup gitu dong” Tuhan menjawab dan membuat Kondang terheran-heran. Dia tidak menyangka Tuhan gaul sekali bahasanya.

“Maaf Hyang Widhi, kok tidak pakai Bahasa Sansekerta? Kan mantra-mantra pakai Sansekerta semua?”

“Emang lu ngerti kalau gua pakai Bahasa Sansekerta?” Tuhan justru bertanya pada Kondang.

“Ya, nggak sih” Kondang meringis. Dalam sekejap dia merasa akrab dengan Tuhan.

“Eh Kondang, lu jangan malas ya. Altar suci begini jarang lu sapu. Bersihin dong, giamana sih lu?”

“Maaf Hyang Widhi. Saya belum sempat. By the way, kalau altar kotor, Hyang Widhi marah ya?”

“Ya nggak sih, kan enak dilihat kalau bersih. Lu seneng bersih juga kan?”

“Terus, kalau kotor, apakah mempengaruhi kesucian Hyang Widhi?”

“Enak aja lu! Memang gua disamain sama lantai, bisa kotor karena debu. Gak ngaruh lagee.”

“Terus kenapa harus dibersihkan?” Kondang penasaran.

“Yang perlu kebersihan itu kan lu, para manusia sekalian. Kalau kotor penuh debu begini, penyakit di mana-mana kan. Debu kehirup anak kecil bisa berabe deh. Kalau Gua sih gak penting sama kebersihan, gua kan gak bisa sakit. Gua nyuruh supaya bersih dan teratur itu buat lu sendiri, bukan buat gua.”

“Oh gitu ya. Tapi ini kan rumah Hyang Widhi, masak masa Tuhan tidak bisa membersihkan dari penyakit?”

“Eh Kondang, penyakit itu kan gua juga yang bikin. Hukumnya memang begitu, di mana ada kekotoran, di situ ada penyakit. Terus sekarang lu suruh gua melanggar hukum yang gua bikin sendiri, enak aja lu. Kalau lu ga pengen ada penyakit di sini, ya bersihkan. Jangan biarkan kotoran sarang penyakit ada di sini. Simple kan.”

“Apa Hyang Widhi tidak bisa menyihir tempat ini jadi bersih seketika?”

“Eh enak di lu dong. Yang lu bisa kerjakan sendiri kerjakan dong. itu gunanya lu punya akal, pikiran, kekuatan. Jangan apa-apa diserahkan sama gua. Emang gua ga ada kerjaan lain, apa?! Kalau diki-dikit gua ambil alih, itu namanya intervensi, nggak bener itu!”

“Bukankah Tuhan itu maha segala-galanya? Bisa melakukan apa saja?” Kondang makin penasaran.

“Bener. Tetapi semua sudah gua buatkan hukumnya kan. Hukum itu yang berjalan sempurna mengatur alam ini. Biarpun lu Trisandya khusu’ tiga kali sehari tapi kalau gak pernah nyapu di altar, ya bisa sakit juga. Kan tempatnya kotor, jadi sarang penyakit.”

“Lalu apa gunanya berdoa kalau begitu Hyang Widhi?”

“Berdoa itu untuk mengingatkanmu kembali bahwa Hukum gua berjalan sempurna. Itu saja. Untuk mengingatkanmu bahwa untuk mencapai sesuatu, lu harus berusaha. Doa itu puja, bukan permintaan, Kondang. Emang lu kira gua nggak ngerti yg lu perlukan sehingga lu perlu datang ke gua tiga kali sehari hanya untuk meminta ini dan itu. Gua udah tahu Kondang, bahkan sebelum lu sempet mikir.”

Kondang tertegun. Meskipun dengan bahasa gaul, apa yang disampaikan Hyang Widhi kali ini terasa lebih mudah dipahami. Tuhan tidak seserem yang dia bayangkan selama ini.

“Hyang Widhi, kalau Tuhan gaul begini dan gak serem, umat bisa kacau lo.”

“Kacau pagimane?”

“Ya, kacau. Karena Tuhannya nggak serem, mereka bisa seenaknya berbuat, gak takut sama Tuhan lagi.”

“Lu lupa ya, gua tadi bilang hukum gua bekerja sempurna. Kalau ada orang yg nggak nurut sama perintah gua, ya otomatis dia dapat ganjarannya. Kan hukumnya bilang begitu. Jadi orang jahat kena hukuman itu bukan karena gua marah atau tersinggung. Itu karena hukumnya demikian. Tidak ada seorangpun yang bisa terhindar. Lu masih ingat kan Isavasyam idam sarvam? Gua ada dan meliputi segalanya. Tidak ada satu hal dan kejadianpun di alam semesta ini yang luput atau terpisah dari gua.”

“Kalau ada orang yang menghina Hyang Widhi, marah nggak?” Kondang mendesak.

“Kalau lu yang jadi Tuhan, lu pasti sudah emosi kalau dihina ya. Kalau gua sih asik aja. Dihina atau dipuji tidak berarti apa-apa bagi gua. Santai aja coy!”

“Jadi hukum itu bekerja meskipun orang tidak takut, tidak percaya, tidak yakin, atau tidak hormat?”

“Yo’i” kata Tuhan dengan gaulnya.

By the way, Hyang Widhi marah nggak kalau aku taruh patung di altar ini?”

“Kenapa harus marah?”

“Ya siapa tahu Hyang Widhi nuduh aku memuja patung”

“Ya nggak kaleee. Emang lu memuja patung?”

“Ya nggak sih. Cuma kadang sulit aja membayangkan Hyang Widhi, jadi aku perlu media untuk konsentrasi.”

“Ga masalah. Lu taruh aja patung sebanyak yang lu mau. No problem!” buset Tuhan bisa Bahasa Inggris juga, Kondang bergumam dalam hati.

“Hyang Widhi ga merasa diduakan?”

“Ha ha ha ha. Enak aja lu Kondang. Lu kira gua ini cewek cemburuan, bisa merasa diduakan. Masak lu samain gua sama pacar lu Nyoman Sumi itu. Gua kan Tuhan, bukan pacar lu ha ha ha. “ Kondang tersentak mendengar jawaban Hyang Widhi yang di luar dugaannya. Kondang siap-siap mengajukan pertanyaan yang lebih dasyat lagi, memuaskan rasa penasarannya..

Eh De Kondang, ngudiang pules dini, pongor Bethara nyanan!” tiba-tiba suara itu membangunkan Kondang dari mimpinya. Ibunya berteriak, melarangnya tidur di altar pemujaan karena dia bisa dihukum Tuhan kalau tidur di tempat suci. Kondang terjaga kaget, dia merenung. Kalau saja Ibunya tadi diajaknya bermimpi, mungkin beliau tidak akan menuduh Hyang Widhi itu pamarah, apalagi pencemburu. Diam-diam Kondang berharap, Tuhan memang gaul seperti yang dijumpai dalam mimpi liarnya.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

4 thoughts on “Tuhan yang gaul”

  1. mantrap bro.

    cara memahami hukum dan kekuasaan tuhan yang bagus.

    tapi kayaknya hrs lebih hati2 lagi di bagian akhir ya…
    ada yg tersungging takutnya… hehehe

    anyway busway, mantap

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s