Pengemis cantik


Saya sedang menunggu bus di sebuah halte di dekat Woolworth di Kota Wollongong. Pagi itu baru pulang kerja, lelah dan agak mengantuk. Bisa dibayangkan, winter yang dingin, pagi yang beku dan saya yang kelelahan. Tampang pastilah tidak menjanjikan.

Seorang cewek cantik tiba-tiba saja sudah di deapn saya mengulurkan tangannya. Antara sadar dan ngantuk saya akhirnya tahu dia minta uang. “Do you have 2 dollars and fifty cents please?” katanya memelas. Cewek ini cantik, berpakaian agak terbuka untuk ukuran winter. Dari tampangnya sama sekali tak terlihat dia miskin. Rambutnya gaya, celana jeans ketat, jaket juga gaul. Wajahnya jelas ber-make up secukupnya layaknya anak muda.

Saya sempat berpikir sejenak. Hal seperti ini bukan yang pertama. Mengejutkan memang, di negeri seperti Australia kadang ada saja yang meminta uang receh. Saya beberapa kali dimintai uang receh oleh anak-anak berpakaian sekolah, tetapi belum pernah saya berikan. Antara penasaran, ngantuk dan lelah, saya merogoh saku celana dan menyerahkan dua dollar kepada ‘pengemis cantik’ itu lalu tenggelam lagi dalam lamunan. Sekilas saya lihat dia menghambur ke dalam sebuah bus. Rupanya dia gunakan uang itu untuk membayar ongkos bus. Saya melupakannya.

Beberapa saat kemudian saya merasa ada yg memperhatikan tidakan saya itu. Sepasang bule yg berdiri di dekat saya menggeleng-gelengkan kepala menyaksikan cewek itu sambil berguman, entah apa yang dikatakannya. Dari gerak geriknya saya yakin, mereka tidak suka dengan apa yang dilakukan cewek itu terhadap saya. Namun saya tidak punya waktu berinteraksi dan orang itu memang tidak berkomunikasi dengan saya. Saya hanya senyum saja lalu melanjutkan lamunan.

She should not have done that to you” tiba-tiba seorang ibu yang duduk di dekat saya berkomentar. Dia jelas tidak suka dengan tindakan cewek itu dan bersimpati pada saya. “Embarrassing!” katanya menambahkan. Saya hanya tersenyum, tidak tertarik melayani. “You are so nice, where are you from?” tanya ibu itu pada saya. “Indonesia” kata saya singkat sambil senyum. “She should not have asked the money from you” katanya menambahkan. Sampai di sini, saya senyum aja. Malas berdiskusi lebih lanjut. “Indonesia is a poor country, you are a poor man. Why did you give the money to her?” kata ibu itu meneruskan ucapannya. Kini saya tersentak kaget. Itu adalah kalimat yang jauh di luar dugaan saya. Kantuk saya jadi hilang, saya duduk tegak.

Excuse me!” kata saya menatap wajahnya lekat-lekat. Saya merasa ada yang tidak beres dengan tuduhan itu. Saya pun harus angkat bicara. “First, Indonesia is not a poor country. Watch your language Ma’am” kata saya sambil tetap menatapnya. Dia nampak sedikit terkejut dengan respon saya. Tadinya dia sepertinya memang ingin menunjukkan rasa simpati pada saya tetapi dia telah memilih kata-kata yang salah. Saya kira orang akan setuju bahwa seorang warga bangsa bisa saja tidak enak hatinya ketika bangsanya dibilang miskin tanpa tedeng aling-aling, betapapun hal itu adalah kebenaran. “Second, I gave the money because I wanted to. Not because she forced me to do so” lanjut saya lagi, pelan tapi tegas. Entah darimana datangnya meluncurlah kalimat-kalimat berikutnya dari mulut saya.

I don’t mind you question her value and her attitude, but please do not question mine. You should not preach me on what to do and what not to do. I believe I know what I have done.” Ibu itu melihat saya, dia tidak kuasa menyembunyikan kekagetannya. Wajahnya tidak begitu bahagia. Saya lanjutkan “My value is: if someone comes to me in need and if I can help, I will do. That’s what I believe. If she did not deserve my help, or if she fooled me for only 2.5 dollars, that’s her problem. Not mine. I am offended, Ma’am when you said that Indonesia is a poor country and I am a poor man!” Perempuan yang kelihatan mapan itu terperangah, sama sekali tidak menduga reaksi saya. Saya menatapnya dengan senyum, kali ini pastilah dingin. “Where are you from Ma’am?” saya tanya karena pertanyaan serupa disampaikan ke saya tadi. Dia gelagapan. “I am Australian”, katanya. “I am offended” kata saya mengulangi pernyataan sebelumnya. Masih menatap wajahnya.

I am really sorry” katanya terbata dan agak memelas. Ada penyesalan di wajahnya, saya dengan serta merta jadi kasihan kepada perempuan bule itu. “That’s OK, Ma’am”, kata saya menyudahi percakapan itu. Saya kembali diam. Kali ini sambil berpikir, menimbang-nimbang apakah saya berlebihan. Bisa jadi, tetapi naluri kebangsaan memang bisa terusik kapan saja. Nasionlisme bisa terusik ketika seorang perempuan bule perlente dengan mudahnya menuduh bangsa saya miskin hanya gara-gara saya bertampang gelandangan duduk tepekur di sebuah halte bus di Wollongong. Dia tentulah tidak seperti anak-anak muda Australia yang menganggap Bali adalah sorga dan menjadikannya tujuan internasional pertama dalam hidupnya. Pengemis cantik itu boleh jadi kurang ajar tetapi mereka yang merendahkan bangsa lain, memang perlu mendapat pelajaran.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

22 thoughts on “Pengemis cantik”

  1. Gile, Mas, melabrak bule, hehe… apa memang itu gayanya orang Australia ya? Kalo menurut statistik yang dia tau kita memang poor, setidaknya dibanding mereka, dia merasa normal bilang begitu… kayanya dia kena ‘culture shock’ dan kaget kalo kita bisa marah dikatain poor 🙂
    Jadi sedih sih kalo tau begitu nilai Indonesia di mata sebagian orang Oz

    1. Sebaiknya tidak ditekankan pada “melabrak bule” karena siapa saja boleh dilabrak kalau salah 🙂 Melabrak bule tidak lebih istimewa dari menegur seorang anak kecil yang melakukan kesalahan 🙂

  2. It was a right thing you have done when other country underestimates Indonesia. Although you are now studying in Australia, it doesn’t mean you become lost of your national identity. like some people who have studied abroad they are too proud to what they have got and lost their identity.

  3. Bli, do you mind if I contact you personally? I need your help for my future study. Could I get your email address, please? or if you don’t mind please send a blank mail to my email address. I really appreciate your help.

    Regards,
    Musa

  4. saya juga kaget dg ap yg dikatakan madam tsb,, tp saya bangga dg sikap dan gaya pak andi berikutnya…
    Salam geodet (lhoh) 🙂

  5. first, saya suka value pak andi.
    second, saya penasaran bagaimana mimik dan intonasi pak andi saat bersitegang dengan si ibu, as kalo diliat dari bahasa dan respon di blog ini, pak andi adl orang yang ramah dan lembut.

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s