Putri Malu, Elin dan Ikan Kecil di Pancuran


Sore itu saya mengajak Lita, anak saya, pergi ke pancuran di dekat rumah di Tabanan Bali. Beji, orang Bali menyebutnya, sebagai tempat untuk mengambil air suci saat upacara di Pura yang ada di desa. Pancuran ini tidak pernah kering, selalu berlimpah air bahkan di musim kemarau yang paling panjang sekalipun. Konon ini sudah terjadi sejak zaman dahulu, seperti diceritakan oleh orang tertua di kampung kami.

Saya menelusuri jalan setapak yang kini berbeton kuat. Ingatan saya melayang ke suatu masa 20 tahun silam saat menyusuri jalan yang sama dengan sepeda gayung. Saat itu saya masih kelas 1 SMP, berusia sekitar 13 tahun. Jalanan waktu itu berlumpur dan ditumbuhi rumput yang liar. Lumpur dan rumpur di musim hujan adalah paduan sempurna yang tidak pernah membiarkan sepatu saya bersih sampai di sekolah. Sore itu saya termenung sendiri sambil menceritakan hal itu pada Lita. Dia mungkin mengerti ceritanya tetapi sepertinya tidak bisa merasakan apa yang saya rasakan dulu. Di jalanan yang terjal dan licin seperti itu, sepeda lebih sering dituntun daripada dinaiki, itu pasti. Ingatan saya juga melayang ke SMP 2 Marga dan terutama guru-gurunya yang meletakkan landasan yang kuat bagi pengetahuan saya saat ini.

Kami tiba di pancuran. Ada tiga bilik untuk tujuan berbeda. Bilik di sebelah timur, yang paling dekat jalan setapak adalah untuk laki-laki, bilik tengah yang paling kecil adalah untuk mengambil air suci, dan bilik paling barat, paling jauh dari jalan setapak, adalah tempat mandi perempuan. Meskipun berbeda bilik, tidak perlu mengintip untuk bisa melihat orang mandi karena temboknya tidak tinggi. Entah mengapa, belum pernah ada cerita menghebohkan bahwa ada orang yang berusaha mengambil ‘keuntungan’ dari situasi ini. Atau mungkin melihat orang mandi bukan sesuatu yang layak jari berita di kapung saya, entahlah. Tapi kisah ini bukan tentang mandi, apalagi mengintip orang mandi, sama sekali bukan.

Di pancuran saya melihat tujuh anak perempuan kecil. Yang tertua kelas enam SD, bernama Elin. Enam dari tujuh orang itu bersaudara dan yang terkecil berumur kira-kira satu tahun lebih sedikit. Satu dari mereka adalah sepupu Elin. Bertujuh mereka mandi di pancuran. Tidak hanya itu, satu dari mereka sedang memandikan adik terkecil mereka yang masih bayi itu. Dua lainnya sedang sibuk menyikat pakaian, mereka sedang mencuci baju dan celana. Keduanya berumur tidak lebih dari tujuh tahun. Di tahun 70an, pemandangan ini barangkali biasa namun di tahun 2011, dia jadi layak dituliskan di sebuah blog. Lita termasuk anak yang cukup mandiri tetapi untuk mencuci pakaiannya sendiri di pancuran apalagi sambil memandikan adik yang masih bayi sepertinya mustahil terjadi. Saya melamun menyaksikan itu. Peradaban memang berupa-rupa dan kadang jauh sekali jurang perbedaannya. Ketika di sebuah lingkungan, kemandirian ditandai dengan bangun sendiri di pagi hari tanpa dipaksa atau mengambil sendiri susu di kulkas, Elin dan adik-adiknya menganggap mencuci pakaian sendiri di pancuran sambil memandikan adik bayi mereka sebagai keniscayaan yang tidak istimewa. Mereka bahkan mungkin tidak mengenal kata ‘mandiri’.

Bersama Lita, ada juga Dinda, anak dari sepupu saya yang seumuran denganya. Sore itu ada Sembilan anak perempuan kecil di pancuran dan saya mengamati dengan seksama. Saya membiarkan mereka berdua menangkap ikan dan kepiting di bilik pancuran itu. Air pancuran yang menggenang di tiap bilik mandi membentuk kolam, tempat hidup berbagai ikan, udang dan kepiting kecil. Di sela kesibukan mereka mencuci dan atau memandikan adiknya, Elin dan adik-adiknya sibuk menyemangati Lita saat menangkap ikan dan kepiting kecil. Sebagian besar akhirnya bergabung bersama Lita dan terlihatlah gadis-gadis kecil yang berlomba menangkap ikan dan kepiting kecil. Lita dan Dinda hanya mengenakan celana dalam, mereka terlihat sangat menikmati. Entah ke mana larinya disiplin Kumon atau ketangkasan Lita berhitung matematika dalam Bahasa Inggris. Sore itu hanya ada satu yang paling penting di dunia: ikan dan kepiting kecil. Satu per satu makhluk kecil itu mengisi gelas bekas air mineral yang sudah disiapkan Lita dan Dinda.

Sementara itu, saya menjauh, memperhatikan dari pinggir danau besar tidak jauh dari mereka. Cekikikan mereka terdengar jelas dan yang ada hanyalah kebahagianan dan keceriaan. Tawa itu tanpa beban dan kemerdekaan mereka untuk menyentuh alam benar-benar terasa. Dua puluh lima tahun yang lalu saya melakukan hal yang sama. Kenangan itu hadir kembali. Saya tidak bisa mengerti jika ada orang tua yang melarang anak-anak mereka menikmati segarnya air pancuran hanya gara-gara baju mahal mereka kotor dan tidak bisa dibersihkan. Alangkah banyak hal yang terlewat jika anak-anak ini tidak sempat merasakan licinnya batu berlumut di pancuran sambil berlarian mengejar ikan-ikan kecil itu.

Saya berjongkok mengamati dari kejauhan. Di depan saya terhampar tanaman yang tidak asing. Kami menyebutnya don mailing-maling (daun pencuri) atau Puteri Malu dalam Bahasa Indonesia. Perlahan saya menyentuh sehelai daun kecil itu dan diapun mendadak jadi kuncup. Jika saya sentuh batangnya, seketika batang itu merunduk melemah dan terjuntai. Kami menyebutnya maling karena perilakunya seperti maling yang kepergok ketika disentuh: surut, malu dan merunduk.

Saya layangkan pandangan, alam masih seperti dulu. Jalan setapak itu sama seperti dua puluh tahun lalu, hanya sekarang lebih rimbun oleh rumput karena jarang dilalui roda sepeda atau motor. Sudah tidak ada lagi orang yang melalui jalan setapak di pinggir danau ini dengan sepeda karena mereka bepergian lewat jalan besar yang sudah diaspal. Dua puluh tahun lalu, jalanan besar itu masih barbatu pecahan yang kasar dan tidak nyaman untuk sepeda.

Saya duduk di bawah keluarga pohon pisang yang pangkalnya diselimuti jerami yang mulai basah dan membusuk. Terlihat dua ekor kadal berlarian berkejaran menimbulkan suara berisik kecil. Mereka seperti tidak takut dengan kehadiran saya. Mereka berlari menerobos gerombolan Puteri Malu yang seketika lunglai oleh sentuan tubuh mereka. Di kejauhan, riuh tawa riang dari Lita dan teman-temannya masih terdengar. Mereka merasakan kenikmatan yang sama dengan yang saya rasakan dua puluh tahun lalu. Sangat menyenangkan melihat Lita tumbuh bersahabat dengan iPad sekaligus sigap menggengam ikan atau kepiting kecil di telapak tangannya. Seperti kata para pintar, negeri ini membutuhkan orang yang memiliki daya saing di tingkat dunia namun memiliki pemahaman yang cukup akan negerinya yang beragam. Akankah Lita dan teman-temanya menjadi bagian dari generasi harapan itu?

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

6 thoughts on “Putri Malu, Elin dan Ikan Kecil di Pancuran”

  1. Pak Andi, saya suka kalimat ini “Seperti kata para pintar, negeri ini membutuhkan orang yang memiliki daya saing di tingkat dunia namun memiliki pemahaman yang cukup akan negerinya yang beragam.”

    Terimakasih untuk terus mengingatkan tentang hal itu 🙂

  2. saya selalu suka tulisan-tulisan mas andi. diangkat dari hal sehari-hari yang kadang dianggap sepele seperti ikan, kepiting, pisang n’ rambutan de el el. tapi sarat nilai dan makna serta menyentuh.

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s