Prosa Sembilan tahun


Family in the 21st century

Kucoba menulis puisi saat terjaga dari kelelahan. Semalam, aku serahkan diri pada kuasa kegelapan. Aku ingin seperti dulu saat muda, ketika lirikan mata, senyum dan amarahmu bermuara pada sastra. Di masa muda, aku adalah pujangga karenamu. Kujelmakan tetas air, pagi yang jinak, udara yang panas dan matahari yang menikam menjadi puisi. Mantra-mantra menjadi kidung cinta. Perjalanan di ladang tandus menjadi serangkai kata-kata yang membuat para pejalan kaki tergiur iri. Tidak ada yang lebih hebat dari cinta saat aku mencari alasan untuk berkarya.

Pagi ini aku menulis puisi, berharap pesona itu masih sama dan ingin kuceritakan tetang kita lewat bait-bait syair yang membuai. Tapi aku gagal. Ada kelakar jenaka yang tak selalu puitis, ada keniscayaan yang rumit dan tidak selalu dramatis romantis. Penaku tak lagi trengginas meliuk-liuk di atas kertas yang bernas. Mengenangmu kini tak melahirkan puisi, melainkan prosa realita. Sebuah karya yang lebih sederhana dan lebih mudah dicerna. Keindahannya tak memerlukan lamunan dan wibawa kecerdasan yang menjulang. Di ujung tahun kesembilan aku melebur puisi menjadi prosa yang meneduhkan. Bahwa kisah ini tak lagi sekedar romansa yang mengagungkan keindahan, dia adalah juga pemujaan atas ketidaksempurnaan. Perjalanan kita tak lagi hanya serangkai kata-kata pujian, dia adalah juga kesungguhan untuk saling menopang. Pilar kita tak lagi hanya gairah yang meluap-luap tanpa lelah tapi juga keyakinan bahwa masing-masing adalah penyangga bagi mimpi-mimpi yang kini kita namakan cita-cita.

Puisi tak lagi kutuliskan tetapi kutemukan pesona dalam prosa yang baru saja kujelmakan. Tidak seperti puisi yang mengajak kita merenung dan bermimpi, prosa ini membuat kita bangun dan berkarya. Seperti sungai Neckar di Bumi Utara atau Antartika di Selatan yang tak peduli pergunjingan, kita mengalir saja dan menerima. Seperti parit kecil di Tegaljadi dan Samudera Hindia di selatan Bali, kita tak selalu bersama tapi yakin akan melebur satu ketika. Maka begitulah, cinta tak sekedar puisi, cinta adalah juga perihal delimitasi dan konferensi. Dia tak sekedar birahi tapi juga organisasi, motivasi dan investasi. Tak seperti pujangga yang gemetar mencari kata-kata surgawi untuk puisi, kita menyulam semua kata menjadi indah dalam prosa. Mari bersulang merayakan cinta.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

11 thoughts on “Prosa Sembilan tahun”

  1. salam kenal dari saya buat pak Andi,.. saya suka dengan prosanya,.. saya juga ingin dapet beasiswa ke New zealand ada cara mudah ngga?

  2. wah,,, tulisan pak andi kali ini sastra sekali…sangat nikmat dibaca pak…ringan tanpa meninggalkan maknanya yang dalam…

  3. Bung Made..
    Waah.. saya baru nyambung dengan kondisi saya sepertinya. Menjelng 1 tahun pernikahan saya, sepertinya saya masih bisa membuat tulisan2 sastra yg membuai untuk istri tercinta.. namun sy menduga dalam hitungan tahun2 berikutnya, kata2 itu tak lagi mmebuai. Awalnya sy khawtir, sudah tak adakah cinta? tapi ternyata bukan tak ada cinta, tapi kita telah memahami cinta dengan lebih sempurna. Bahwa ia bukan cuma kata2 membuai, bukan cuma birahi yg meledak-ledak, tapi ia juga cerita tentang ketidaksempurnaan yg saling menerima, pelengkap hidup yang punya rasa jauh lebih indah dibanding cinta picisan yg sekedar lewat saja.

    thx anyway.. šŸ™‚

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s