Menjadi Minoritas


Teman saya yang tidak beragama Hindu kadang keliru mengucapkan selamat hari raya keagamaan pada saya. Tentu saja itu tidak jadi soal dan saya tidak perlu kecewa. Saya yakin Tuhan juga tidak kecewa, apalagi marah pada kekeliruan remeh temeh seperti itu. Ucapan itu, salah atau benar, begitu menyentuh karena disampaikan dengan tulus. Itu sudah lebih dari cukup. Saya terharu banyak teman Muslim, Budhis atau Nasrani yang dengan terbata-bata mengatakan ‘rahajeng nyangra Rahiha Nyepi’, misalnya. Saya yakin ini tidak mudah bagi mereka dan munculnya kata-kata itu adalah hasil kesungguhan.

Kurangnya pengetahuan mereka tentang agama Hindu tentu bukan sebuah pertanda tidak peduli. Mereka memang tidak memiliki media umum yang cukup untuk belajar. Hal ini berbeda dengan kami para pemeluk Hindu yang minoritas secara jumlah. Setiap kali ada perayaan Idul Fitri atau Natal, media masa memberitakan dengan gencar dan cekatan. Beruntung sekali kami yang minoritas bisa belajar dengan mudah dan gratis. Saya tahu betul bahwa “inalilahi wainailaihi rajiun” itu, misalnya, diucapkan ketika ada orang yang meninggal karena di TV bisa ditonton setiap hari. Para pencinta sinetron, apapun agamanya, pasti bisa mendengar ini hampir setiap malam. Saya juga tidak perlu keliru antara Idul Adha dan Isra Mi’raj karena TV mengajarkan dengan baik. Ini berbeda dengan teman saya yang tiba-tiba menelpon mengucapkan “Selamat Waisak”, tanpa tahu bahwa Waisak itu sebenarnya dirayakan teman-teman Budhis. Atau seperti sopir taxi di Jakarta beberapa tahun silam yang dengan baik hati menjelaskan Kota Jakarta dan mengatakan “ini kelenteng Mas, tempat sembahyang orang China” ketika lewat di depan Pura Rawamangun. Saya coba meluruskan dengan tersenyum.

Menjadi minoritas itu bagi saya sebuah berkah karena dengan begitu saya punya media belajar lebih banyak. Tidak saja harus hafal Trisandya yang wajib sifatnya, saya juga terbiasa menikmati lantunan adzan yang indah karena memang bisa didengarkan dari TV nasional. Saya juga paham, saat adzan berkumandang saya sebaiknya diam sejenak di depan kelas saat mengajar menunggu adzan selesai. Tidak saja bersuka cita saat Galungan dan Kuningan, saya juga menikmati semaraknya Natal karena suguhan TV dan hiasan warna-warni di setiap tempat umum yang saya datangi. Belum lagi film-film Hollywood bertema natal yang mempesona. Di dalam konteks dan tempat berbeda, menjadi minoritas juga mendatangkan banyak berkah. Sebagai orang Indonesia saya beruntung karena ‘terpaksa’ bisa Bahasa Inggris karena Bahasa Indonesia bukan “Bahasa Mayoritas”. Tentu berbeda dengan orang Inggris yang hanya bisa satu bahasa. Menjadi orang Asia yang tinggal di Australia adalah berkah karena saya bisa memaklumi ada orang yang ‘to the point’ kalau ngomong, ada juga yang ‘muter-muter’. Orang Australia yang tidak mengenal Asia mungkin sulit memahami ini. Saya juga tahu ada tamu yang langsung pesan minum, ada juga yang sudah ditawari lima kali tetap bilang “tidak usah” padahal ketika dibuatkan minum, dihabiskan juga. Orang Australia mungkin kurang paham bahwa ada tamu yang menolak dibuatkan minum tetapi sebenarnya tetap ingin minum. Menjadi minoritas membuat kita belajar lebih banyak.

Keuntungan lain kaum minoritas secara agama adalah dia bisa menjelaskan konsep keagamaannya dengan ‘meminjam’ konsep agama lain yang mayoritas. Jika diminta menjelaskan tentang ngaben oleh teman muslim, saya selalu mulai dengan mengutip ‘inalilahi wainailaihi rajiun’ yang saya pahami bermakna “segala sesutu yang berasal dari Allah kembali kepada Allah”. Demikian pula di Hindu bahwa segala ciptaan Hyang Widhi itu akan kembali kepada-Nya dan terurai menjadi unsur-unsur pembentuknya. Jazad akan kembali ke unsur pembentuknya yang disebut panca maha buta. Inti dari ritual bagi orang meninggal adalah mengembalikan jazadnya kepada unsur pembentuk itu sehingga jiwa/roh/atma bisa mempertanggungjawabkan hidupnya di dunia. Tentu saja caranya bisa beragam. Ada yang dipendam di tanah sehingga akhirya terurai oleh mikroba dalam waktu tertentu. Orang Hindu memilih menggunakan energi yang kasat mata yaitu api sehingga proses ‘pengembalian’ ini menjadi lebih cepat. Kadang ada temen yang bertanya sambil berkelakar “tapi kan api itu panas, tersiksa dong?” dan saya jawab “makanya, ngaben diperuntukkan khusus bagi orang yang sudah meninggal”. Tentu saja diskusi biasanya berakhir dengan gelak tawa.

Selain bisa atau harus mendengarkan dharma wacana Pedanda Made Gudung tentang kebajikan yang diajarkan Agama Hindu, saya juga memiliki kesempatan mendengarkan khotbah KH Zainuddin MZ atau Aa Gym atau Ustadz lain yang sering muncul di TV nasional. Meskipun tidak sengaja, kesempatan belajar kebajikan agama Islam tersedia dengan cuma-cuma. Jika membuka diri dan hati, saya bisa belajar segala kemuliaan ajaran dari berbagai agama. Kemewahan dan keberuntungan semacam ini mungkin tidak bisa dinikmati oleh teman-teman non Hindu karena pelajaran tentang agama Hindu tidak bisa dinikmati di banyak media umum. Kalaupun akhirnya ada yang salah-salah mengucapkan selamat hari raya keagamaan atau tertukar antara Hari Nyepi dan Waisak, saya bisa memahami. Saya juga paham ada sebagian kawan agama lain yang tidak mengucapkan selamat hari raya kepada penganut agama lain dengan alasan yang diyakini kebenarannya. Seandainya saja tidak sebegitu banyak media bagi saya untuk belajar, bisa jadi saya akan ‘menuduh’ yang demikian itu ‘anti kerukunan beragama’. Hasil menyimak diskusi di berbagai media umum, kenyataannya tidaklah demikian.

Teman-teman saya juga kadang bertanya “orang Hindu sembahyang berapa kali sih?” Ada juga yang manggut-manggut antara percaya dan tidak kalau saya bilang “tiga kali”. Wajar karena dia pasti tidak pernah mendengar panggilan sembayang menggunakan pengeras suara. Sementara itu, saya yang tinggal di Jogja jadi tahu bahwa teman-teman muslim sembahyang lima kali. Meskipun tidak sholat, saya sudah terjaga subuh-subuh karena suara adzan yang menggema. Saya bahkan tidak perlu waker untuk bisa bangun pagi. Alangkah indahnya menjadi minoritas. Hidup penuh kemudahan dan pengetahuan tentang agama lain tersedia dengan cuma-cuma. Pemahaman saya mungkin saja keliru tetapi ekspos terhadap informasi yang beragam ini memberi kemudahan dalam memahami perbedaan dan tidak dengan absurd menganggap bahwa kebaikan hanya ada pada agama sendiri. Tentu saja, seperti kata Will Smith di film Hitch, “if we pay attention”.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

13 thoughts on “Menjadi Minoritas”

  1. There’s something really wrong about the way we organize our religious life in Indonesia because minority rights are not truly respected. I’m deeply ashamed being part of a majority who are completely ignorant about the rights of others and let the inherent predispositions we have had from our early years evoke certain prejudice towards the minority.

    I’m writing a book on this, and I’m hoping it will contribute to the better. Thanks for sharing this. Your writing is another wake up call!

    Subhan Zein

    1. I think the wrong thing here is trying to impose our religious beliefs forcefully towards others.
      When someone is a majority in a majority country, you’ll feel like you have all the power in the world (Australia sometimes is no different – in terms of race).
      Fortunately we are the lucky few who have experienced to be a minority out of our small pond of Indonesia and I believe we have the obligations to set the record straight.
      Thank you for the nicely written article!

  2. nice posting Bli 🙂 saya dulu mayoritas di ind, skrg di inggris jadi minoritas, jadi belajar banyak juga soal toleransi… up to the point when i concluded that kebaikan ada di tingkah laku tiap individu, regardless agamanya apa, bahkan yg tdk beragama sekalipun tetap bisa mengklaim untuk berkelakuan baik. why not 🙂

    1. Interesting. Saya menemukan banyak sekali orang tidak beragama yang lebih baik dari yang beragama, meskipun ini tidak serta merta mengarahkan kita pada kesimpulan bahwa agama itu membuat orang tidak baik. Kenyataannya, sangat amat banyak (dan mungkin lebih banyak) orang beragama bersikap sangat sangat sangat baik. Menarik untuk dikaji.

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s