Kartu Nama Pak Dino


Bandingkanlah

Sore tadi saya menyimak sebuah suguhan inspiratif: pemaparan Bapak Dino Patti Djalal, Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat, soal Diaspora Indonesia. Diaspora Indonesia, dalam bahasa sederhana, adalah orang yang memiliki keterikatan Indonesia namun tinggal di luar Indonesia. Pemaparannya terkait hasil pelaksanaan sebuah kongres bersejarah di Los Angeles beberapa hari lalu yang bertajuk Congress of Indonesian Diaspora (CID). Dalam lawatannya ke Australia kali ini, beliau menyempatkan diri bertemu masyarakat Indonesia di Sydney dan menyampaikan apa yang terjadi di LA beberapa waktu lalu. Hasil pertemuan Diaspora Indonesia itu disajikan kepada Diaspora Indonesia di Sydney.

Entahlah, saya merasa begitu kenal sosok Dino Patti Djalal. Bukan karena beliau mengenal saya tetapi karena saya telah menikmati puluhan pidato inspiratifnya lewat dunia maya. Saya menonton hampir semua video KBRI Washington DC yang memuat pemaparannya. Tentu saja berlebihan jika saya merasa begitu mengenalnya hanya gara-gara saya menyimak pidatonya dan membaca buku-bukunya. Tapi kenyataannya memang tidak banyak hal lain yang bisa dilakukan utuk mengenal seorang selebriti seperti beliau.

Ketika beliau membuka pemaparannya, saya sebenarnya berharap sebuah moonwalk tetapi tentu saja itu harapan sia-sia. Beliau membuka dengan kelakar yang membuat riuh suasana. Kelakar itu tetap memukau meskipun, lagi-lagi, saya merasa begitu akrab dengannya. Mungkin ini akibat saya menonton puluhan pidatonya di dunia maya. Seperti yang saya simak di video, kelakar itu memang terbukti membuat hadirin sangat betah dan rela menyimaknya tanpa berpaling. Saya rasakan energi dan pesona itu membius hadirin. Setidaknya sebagian besar merasakan itu.

Ada banyak hal yang disampaikan oleh Pak Dino, Konjen Sydney yang menjadi tuan rumah acara itu telah merekam dan akan menayangkannya di internet. Saya akan sabar menunggu rekaman itu dan yakin bahwa itu akan menjadi tontonan yang bagus bagi mereka yang tidak sempat menyaksikannya.

Begitu banyak yang saya nikmati tentang seorang Dino Patti Djalal dan semakin banyak yang ingin saya tahu tentangnya. Saya mengingat lagi sebuah obrolan di Manila dengan Pak Hasjim Djalal, ayah dari Dino Patti Djalal tentang watak dan otak. Kini saya memahami lebih tepat, makna cerita itu. Dalam hidup, memang diperlukan kombinasi yang cantik antara otak dan watak. Dino, menurut saya, baru saja menunjukkan itu dengan sangat baik.

Di akhir acara, saya sempatkan berbicara sejenak. Tentu saja tidak lama karena Dino adalah seorang selebriti, semua orang menginginkan waktunya. Ketika saya ceritakan soal mimpi saya agar bisa diuji oleh Pak Hasjim Djalal, beliau mengatakan “great! He is the one for you. You cannot have anyone better than him. Yang lebih penting, he is fair and he wants you to succeed.” Saya merasakan aura diplomasi yang cantik dari ucapan itu. Seperti Pak Hasjim yang selalu positif tentang putranya, Pak Dino juga sedemikian bangga dengan ayahnya. Itulah rupanya salah satu yang membuat keduanya menjadi duta besar Indonesia yang disegani.

Sabelum beranjak pulang, Pak Dino memberikan sebuah kartu nama. Saya tertegun melihatnya. Sebagai seorang surveyor, hal pertama yang saya lihat adalah sebuah peta Indonesia dengan tinta emas yang tercetak rapi di satu sisi. Di sana bertuliskan kata “Sabang” di ujung barat dan “Merauke” di ujung Timur. Yang membuat peta itu istimewa adalah dua titik di bawahnya yang dihubungkan garis putus-putus. Di titik sebelah kiri tertulis “San Francisco” dan di titik sebelah kanan tertulis “New York”. Naluri spasial saya muncul begitu menyaksikan paduan itu. Garis bentang Indonesia dari barat ke timur ternyata lebih panjang dibandingkan garis yang menghubungkan sisi barat dan sisi timur Amerika Serikat ( Alaska memang tidak dilibatkan dalam ilustrasi itu). Peta sederhana tanpa skala itu seakan berucap, “Indonesia, secara geografis lebih besar dibandingkan Amerika”. Ukuran tentu saja bukan segalanya tetapi pemahaman yang benar akan kedudukan geografis bisa memberi kita kesan yang lebih baik terhadap sebuah bangsa. Karena penasaran saya mengukur jarak ujung barat hingga timur Indonesia dan Amerika Serikat di Google Earth. Ternyata benar bahwa ukuran Indonesia adalah sekitar 5300 kilometer sementara ukuran Amerika Serikat sekitar 4800 kilometer (tanpa Alaska). Indonesia, senyatanya, memang sebuah negara besar dalam arti sebenarnya.

Di sisi lain kartu nama itu saya membaca sederet fakta: world’s 3rd Largest (Stable & Multiethnic) Democracy. Population: 230 Million – 4th Largest in the World. Emerging Economy of the 21st Century. World’s largest Muslim Population. 30% of World’s Tropical Rainforest. Southeast Asia’s largest Country and Economy. Founding Member of ASEAN. Founding Member of Non-Aligned Movement. Member of G-20.

Sederet kata itu tentu tidak berarti bagi ibu saya di desa tetapi itu adalah fakta. Tidak sulit untuk mencibir dan bertanya sinis “masak sih?” tetapi tidak satupun dari fakta itu dibuat seenaknya tanpa data. Benar bahwa kesulitan hidup memang masih terjadi di tanah air dan banyak hal yang harus diperbaiki tetapi ukuran-ukuran formal itu tentu memberi tahu kita sesuatu. Optimis saja memang tidak cukup, tetapi seperti kata Pak Dino, sinis lebih tidak menolong. Kartu nama Pak Dino mengingatkan saya sebuah cara lain untuk menjadi seorang Indonesia.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

22 thoughts on “Kartu Nama Pak Dino”

  1. wahh jadi penasaran pengin liat kartu namanya… eh pak Dino mampir UK ga yah, ngomong soal Diaspora lagi? pengin hadir ah kalau beliau mampir. saya sempat nulis dua artikel soal Diaspora dan benar-benar tergugah dengan pidato pak Dino 🙂 thanks for sharing mas… eh, boleh ga ya facts itu di-print di kartu nama kita, sekalian promosi Indonesia kan…(itukah arti kalimat terakhir artikel di atas?) hehe

    1. Mbak Wiwid,
      Saya harap di masa depan kita tidak perlu menulis apa2 selain nama kita dan Indonesia karena dengan melihat dua kata itu orang akan tersenyum bahagia.

  2. Luar biasanya Indonesia terasa sekali ketika sedang tidak berada di Indonesia.. sepertinya itu yang saya tangkap dari tulisan Bli.. jd pengen merasakannya langsung, bukan hanya terbius kata-kata yang saat ini ada di depan saya.. ^_^ Indonesia memang.. se-su-a-tu.. 😀

  3. “Indonesia, secara geografis lebih besar dibandingkan Amerika”.

    Statement diatas saya copy dari blog nya Andi.
    Amerika termasuk Alaska dan Hawaii. Alaska adalah negara bagian terbesar di Amerika tapi tdk kelihatan dikartu. Untuk diketahui bahwa secara legal, statement diatas tidak “accurate”.

    1. Thanks atas koreksinya 🙂 Silakan berimajinasi sendiri2 dan mengambil pelajaran masing2 🙂
      Kalimat lengkapnya Peta sederhana tanpa skala itu seakan berucap, “Indonesia, secara geografis lebih besar dibandingkan Amerika”

      1. FYI, sekadar menyumbang pengetahuan, statement yg tidak keliru adalah: “Indonesia, secara geografis lebih besar dibandingkan dari ‘contiguous’ Amerika”.

        ‘Contiguous’ Amerika adalah daratan Amerika antara Canada dan Mexico.

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s