Trikaya Parisudha


ikmbali.wordpress.com

Suatu sore saya mendapat sms dari ibu mertua “Yah, Lita mau belajar Agama sama ayah jam 7 ya!” Dari semua sms yang ada, ini termasuk salah satu yang menegangkan. Segaul-gaulnya seorang Bapak, ketika tiba saatnya, maka dia harus mengajarkan agama kepada anaknya. Di titik inilah dia akan bertanya pada dirinya, seberapa paham dia tentang agama yang dianutnya.

Lewat Skype, saya menemani Lita belajar Agama Hindu untuk kelas 1 SD. Terus terang saya tidak ingat persis apa yang saya pelajari ketika SD 20an tahun yang lalu. Rasanya malah tidak pernah belajar agama. Agama, bagi saya di masa kecil adalah berangkat beriringan ke pura, bermain bersama teman dan bergembira karena bisa berlarian di jaba Pura. Tidak ada terori dan terutama tidak ada iming-iming surga apalagi ancaman neraka. Setelah dua dekade berlalu, belajar agama rupanya tampil berbeda. Saya disuguhi modul dan banyak soal oleh Lita. Jangankan untuk menjawab soal sedemikian, membacapun mungkin saya belum cakap ketika seumuran dengannya.

Trikaya Parisudha adalah tema utama pelajaran malam itu. Dalam bahasa yang serem, Trikaya Parisudha adalah tiga perilaku hidup yang disucikan umat Hindu. Dalam bahasa yang bisa dimengerti oleh Lita, Trikaya Parisudha adalah “jadi anak baik”. Ada tiga perilaku yang harus disucikan yaitu pikiran, perkataan dan perbuatan. Dalam bahasa Sansekerta dikenal dengan istilah Manacika, Wacika dan Kayika. Cukup mudah membuat Lita memahami ajaran berpikir, berkata dan berbuat baik tetapi tidak mudah membuat Lita menghafal istilah Sansekerta itu. Dengan berbagai trik, akhirnya Lita berhasil menghafalkan dan memahaminya.

Yang lebih sulit dari semua itu tentu saja membuat Lita memahami dan kemudian menjalankannya. Saya membuat sepuluh soal contoh sikap sehari-hari dan menugaskan kepada Lita untuk menjawab manakah yang termasuk Manacika, Wacika dan Kayika. Dalam beberapa menit, dia menjawab dengan baik. Saya berikan contoh, misalnya “berkata yang sopan kepada Mbah termasuk?” Tentu saja Mbahnya senang dengan contoh tersebut :). Setelah berhasil menjawab dengan cepat dan benar, ada satu pertanyaan tersisa. Apa yang menjamin Lita jadi orang baik setelah menghafal segala teori tentang Trikaya Parisudha? Saya yang masih jauh dari baik hanya bisa berharap.

Saya teringat kejadian siang sebelumnya. Ketika saya turun dari mobil di kampus Wollongong dan hendak membeli tiket parkir, seorang perempuan muda bergegas mendekati saya. Dia menawarkan apakah saya mau menggunakan tiketnya karena masih berlaku selama dua jam. Saya termenung sejenak dan tentu saja menerima dengan senang hati. Perempuan ini membeli tiket untuk 4 jam dan baru digunakannya selama 2 jam sehingga tiket itu bisa saya pakai. Tiket tersebut tinggal saya letakkan di dashboard dan petugas tidak akan mendenda saya. Tentu saja dia tidak meminta bayaran, itu adalah pemberian gratis. Harga tiket itu tidak mahal tetapi kebaikannya menyentuh hati. Ketika saya bilang “I really appreciate your kindness” dia berkata “someone did the same for me the other day. I thought I should pay it forward”. Dia meneruskan sebuah kebaikan.

Perempuan itu mungkin tidak paham Trikaya Parisudha tetapi dia baru saja mengajarkannya dengan sangat cantik pada saya. Trikaya Parisudha itu mungkin sederhana saja, sesederhana memberikan tiket parkir kepada orang asing tanpa bertanya asal usul dan agamanya. Kebaikan juga tidak harus dikembalikan kepada mereka yang memberikan, bisa juga kepada orang yang tidak dikenal seperti yang dilakukan Trevor McKinney di Pay it Forward.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

2 thoughts on “Trikaya Parisudha”

  1. Om Swastyastu…..Mas Andi

    Menuntun buah hati dalam memperkenalkan keyakinan berke-Tuhanan adalah tugas orang tua, terkadang kita begitu meremehkan kemampuan anak-anak kita…namun siapa yang kira kalau ternyata lafadzh-lafadzh asing dengan mudahnya diserap oleh bocah-bocah kecil ini. Malah…anak saya lebih jago dalam hafalan doa-doa kegiatan sehari-hari sehingga sayapun harus rela menghapal kembali bersamanya (hehehe).

    Harapan saya….semoga “stempel keagamaan” yang saat ini melekat pada jagoan kecil saya .tidak semata hanya karena proses “pewarisan keyakinan” semata…., saya ingin…. kelak dia menjalani proses “kelana hati dan jiwa”-nya sendiri, sehingga kepercayaannya akan Kedigdayaan Sang Maha Kuasa yang selama ini telah dia kenal menjadi proses penguatan dan pengenalannya secara pribadi dan mendalam, yang pada akhirnya EKSTRAK dari keyakinan itu akan MENGKRISTAL dalam sanubarinya…(bukan hanya menempel seperti puzzle yang mudah dibongkar pasang). Saya yakin “kristal bening” itu nantinya akan menjadi PONDASI yang kokoh dalam setiap bangunan yang akan didirikan anak-anak kita kelak, menjadi sebuah KOMPAS penunjuk arah kemanapun dia berlayar mengarungi hidupnya…dan kristal itu juga saya yakini akan menjadi PERISAI yang mampu menangkal berbagai virus penyakit hati dan gemerlapnya dunia…, Tuhan..semoga …anakku kelak…menjadi Karunia-Mu yang dapat memandu kearah kebajikan dan kebijaksanaan Tuhan…(Pandu Bagus Witjaksono Athallah)…amiiiiiinnnnnn.

    Hal terberat yang saya rasakan dalam proses pembelajaran ini adalah…bagaimana kita dapat mengejawantahkan…sifat-sifat kebajikan Tuhan itu dalam wujud keteladanan contoh dan sikap….melalui laku dan pitutur….,sementara kami orang tuanya adalah manusia-manusia biasa….dengan segala kekurangan dan kelemahan. Hingga kami memutuskan…bahwa “proses perkenalan” bocah kami dengan Dzat yang Maha Daya ini akan menjadi proses pembelajaran bagi kami semua…, belajar….yang saya yakin tidak akan pernah berakhir…hingga jiwa tercerai dari raga…, karena mengenal-Mu Tuhan…berarti… harus memasukkan-Mu dalam jiwa.. benak dan sanubari kami…dalam setiap desah dan tarikan nafas kami…..dan itu akan berlangsung seumur hidup kami…

    Berbahagialah orang-orang yang secara intim dapat terus menjalin komunikasi dengan Tuhan..dalam berbagai BENTUK dan WUJUD-NYA….dan semoga …Tuhan terus berbicara melalui kebeningan dan kepolosan bocah-bocah kecil kita….

    Terima kasih mas andi…..telah membawa kami untuk berbincang dengan Tuhan..melalui senyum manis…para malaikat kecil ….yang tengah belajar mengenal Tuhan.

    Om Shanti..Shanti..Shanti…Om

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s