New York 2012: Tiga Dekade UNCLOS


Note: Cerita ini adalah bagian dari New York 2012

Sidang Umum PBB
Sidang Umum PBB

Jam 9 pagi tanggal 10 Desember 2012 saya sudah berada di depan Gedung 2 UN Plaza di 44th Street di Manhattan. Di Gedung inilah berkantor United Nations Division for Ocean Affairs and the Law of the Sea (DOALOS). Lima tahun lalu saya berkantor di gedung ini selama tiga bulan saat menyelesaikan penelitian tentang landas kontinen Indonesia. Kini saya kembali sebagai alumni. Rasanya luar biasa.

Beberapa saat kemudian delegasi dari berbagai negara berdatangan. Saya melihat Andrei, seorang alumni lain dari Brazil, mendekat. “You must be Andi!” katanya dan saya sambut dengan ramah dengan mengataan “I am sure you are Andrei!” Beberapa alumni lain juga datang satu per satu termasuk petinggi DOALOS dan beberapa professor dari berbagai institusi di Amerika dan Eropa. Alumni UN-Nippon Foundation Fellowship yang diundang untuk menghadiri peringatan ulang tahun UNCLOS ke-30 di New York adalah Andrei (Brazil), Abbas (Djibouti), Sampan (Thailand), Andi (Indonesia), Muhiuddin (Bangladesh), Mustaffa (Oman), Anama (Samoa), Me Chinho (Sao Tome and Principe), Lilian (Guatemala), Ansy (India), Gloria (Tanzania), dan Cecilia (Chile). Sementara itu di New York sedang ada beberapa orang yang sedang melakukan kegiatan fellowship seperti yang saya lakukan lima tahun lalu. Mereka adalah Joy (Fiji), Cecilia (Brazil), Nicole (Barbados), Jean (Madagascar) Godwin (Ghana), Fiona (Solomon Island), Senia (Indonesia) dan Mahdi (Comoros).

Jam 9.50 kami segera bergerak dari 2 UN Plaza menuju UN Secretariat yang ada di 1st Avenue tidak jauh dari tempat kami berkumpul. Dingin tidak terasa karena kehangatan mulai tercipta dari percakapan yang sangat akrab. Saya bertemu lagi dengan beberapa teman yang sudah saya temui di berbagai tempat sebelumnya sehingga percakapan jadi hidup. Memasuki Sekretariat PBB bukan perkara mudah, pemeriksaan sangat ketat. Kami melewati sebuah bangunan khusus untuk pemeriksaan barang bawaan layaknya masuk pesawat. Laptop dikeluarkan, ikat pinggang dilepas, segala elektronik lain dan logam dikeluarkan dari tempatnya, dan sepatupun dilepas jika perlu. Setelah itu kami memasuki ruang Sidang Umum PBB guna memperingati ulang tahun UNCLOS ke-30.

Ruangan begitu besar dan berwibawa, delegasi berbagai negara telah menempati meja masing-masing dengan tanda delegasi negara. Kami para alumni duduk di tribun atas sehingga leluasa menikmati semuanya. Tepat di depan saya adalah panggung dan podium dengan latar belakang logo PBB di belakangnya yang terpampang besar. Suasana begitu berwibawa, sesuatu yang sudah saya nikmati lima tahun lalu tetapi baru kali ini saya perhatikan dengan seksama. Sorot lampu yang sedemikian rupa menciptakan suasana yang serius dan anggun di ruangan itu, semua orang hening. Sementara itu kami para alumni yang duduk di tribun masih asik bercakap-cakap bernostalgia.

Peringatanpun dibuka oleh pembawa acara yang kemudian menyerahkan waktu kepada Sekretaris Jendral PBB, Ban-Ki Moon untuk memberikan pidato. Sejujurnya, tidak mudah mendengarkan pidato inspiratif dalam acara-acara formal PBB semacam ini. Waktunya singkat, kata-katanya formal dan acaranya telah diatur dengan kaku. Selain itu, harus diakui, Ban-Ki Moon bukanlah seorang orator ulung. Dia adalah pemimpin yang baik tanpa kualitas orasi yang menggetarkan hati. Ban-Ki Moon bukan Obama, itu pasti. Isi pidatonya tidak begitu baru tetapi jelas tegas menguatkan harapannya akan kepedulian terhadap isu kelautan di masa depan serta apresiasinya terhadap UNCLOS.

Tommy Koh berbicara setelah Ban-Ki Moon. Pidatonya lebih inspiratif. Tommy adalah presiden konferensi yang mewujudkan UNCLOS 30 tahun silam. Lelaki inilah yang menyebut UNCLOS dengan istilah “Constitution of the Oceans” yang menandakan bahwa konvensi ini adalah aturan hukum paling komprehensif yang mengatur isu kelautan dan hukum laut. Salah satu yang menarik adalah dia mendorong secara tegas agar Amerika Serikat sebagai tuan rumah peringatan ulang tahun UNCLOS ke-30 segera meratifikasi UNCLOS. Seperti yang diketahui banyak orang, Amerika sampai asat ini belum menjadikan UNCLOS sebagai bagian dari hukum nasionalnya karena belum melakukan ratifikasi. Di kesempatan lain, ajakan Tommy Koh ini disambut oleh delegasi dari Amerika dengan mengatakan bahwa Presiden Obama da Sekretaris Clinton mendukung ratifikasi tersebut dan kini Amerika sedang berproses. Meski demikian, semua orang tahu bahwa proses itu tentu tidak akan berjalan cepat.

Berbagai delegasi dari Asia, Pasifik, Afrika, Latin Amerika, Eropa dan lain-lain berbicara satu per satu. Semua mengungkapkan keberhasilan UNCLOS dalam tiga dekade ini dan harapannya ke depan. Selain memuji UNCLOS, masing-masing menyampaian apresiasi terhadap tokoh-tokoh yang telah menyumbangkan pemikiran, waktu dan tenaganya untuk mewujudkan UNCLOS menjadi seperti sekarang.

Salah satu yang menjadi bahasan menarik adalah penambangan di laut dalam atau deep seabed mining yang umumnya berada di luar kewenangan (yurisdiksi) suatu negara. Penambangan di lokasi seperti ini dimungkinkan dengan pengawasan dari International Seabed Authority (ISA). Intinya, penambangan semacam ini bisa dilakukan oleh suatu negara dengan konsekuensi harus berbagi hasil sedemikian rupa yang kemudian didistribusikan kepada negara-negara di dunia, termasuk yang tidak memiliki pantai/laut (land-locked states). Penambangan di laut dalam ini memerlukan perhatian yang lebih karena kini teknologi penambangan sudah memungkinkan aktivitas semakin jauh dari daratan.

Sementara itu saya menyimak dengan takzim. Apa yang dikatakan oleh para pembicara itu tentu tidak lebih hebat dari apa yang bisa dibaca di buku dan jurnal tentang UNCLOS tetapi menjadi istimewa karena semua itu disampaikan langsung. Saya tidak pernah bertemu langsung dengan Ban-Ki Moon atau Tommy Koh sebelumnya meskipun sudah sangat mengenalnya dari media. Peringatan ulang tahun UNCLOS ke-30 itu menjadi semacam wadah bertemunya para pendekar senior seperti Tommy Koh dengan anak-anak bawang seperti saya. Jika generasi memang berganti maka para dewa itu tetap harus digantikan kelak. Para muda, mau tidak mau, siap tidak siap, harus menyandang peran itu suatu saat nanti. Sayapun melihat kawan-kawan saya sesama alumni UN-Nippon Foundation Fellowship dari berbagai benua yang terkesima menyimak. Mungkin dalam benak mereka ada kelebat pemikiran yang sama bahwa suatu saat mereka harus siap meneruskan tongkat estafet idealisme para penjaga samudera itu. Tiga dekade yang telah dilalui dengan baik adalah masa penting tetapi tantangan ke depan tentu jauh lebih penting. Selamat ulang tahun UNCLOS ke-30.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

2 thoughts on “New York 2012: Tiga Dekade UNCLOS”

  1. 30 tahun? Oh ya, UNCLOS lahir tahun 1982 yah, wakil Indonesia waktu itu Pak Mochtar dan Pak Hasjim Djalal ya.. Hmmm. 1982, Ah, ternyata sebentar lagi usiaku sama dengan UNCLOS.. Dua ekspresi untuk ini 😦 dan 🙂

    Dirimu harus suatu saat gantikan dua dewa Indonesia itu untuk UNCLOS yah, kawan. Aku bantu doakan… 😉

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s