New York 2012: Perjalanan


Note: Cerita ini adalah bagian dari New York 2012

Tanggal 9 Desember 2012 adalah hari H saya harus terbang ke New York. Membayangkan saja rasanya sudah lelah karena penerbangannya sangatlah panjang. Waktu temput sekitar 22 jam dari Sydney ke New York City dengan sekali transit gi Los Angeles. Dengan perbedaan waktu 16 jam, bisa dibayangkan dramatisnya jet lag yang akan dialami.

Jam 9.20 saya sudah melaju dari North Wollongong Station menuju Sydney International Airport dengan kereta api. Mas Handoko, flat mate baru, mengantar dengan si biru, mobil yang begitu setia menemani sejak tahun lalu. Perjalanan lancar jaya sampai di Bandara. Tanpa menunggu lama, saya langsung check in di Delta Airlines untuk penerbangan jam 14.40. Hanya ada satu isu kecil, paspor saya tidak memuat visa Australia karena visa-nya elektronik. Petugas counter menanyakan hanya untuk memastikan. Dia berbaik hati menanyakan itu agar saya tidak mendapat masalah ketika pulang dari Amerika dan masuk Australia lagi minggu depan. Sayapun memastikan bahwa saya memiliki visa Australia dengan menunjukkan visa elektronik lewat email yang bisa diakses lewat iPhone. Pelajaran moral dari cerita ini: meskipun visa elektronik, ada baiknya tetap dicetak sehingga bisa ditunjukkan dengan mudah saat diperlukan.

Sebelum berangkat saya sempatkan menghubungi Asti dan Lita di Jogja dengan Skype lewat iPad, pamitan terakhir. Sempat juga mengirim beberapa email kepada orang-orang penting untuk memberitahukan kepergian saya atau sekedar berpamitan. Saya sudah membayangkan, kehangatan Australia sebentar lagi berganti New York yang menggigil di musim dingin. I miss downunder already even before I depart.

Jam 14.40, saya sudah melaju dengan Delta Air. Saya duduk di dekat jendela, di samping saya seorang lelaki berkebangsaan Australia dan di sampingnya lagi seorang perempuan yang saya tidak tahu asal usulnya. Lelaki di sebelah saya bekerja di sebuah perusahaan perancang mesin poker dan rupanya sering ke Las Vegas untuk pekerjaannya itu. “For work, unfortunately!” katanya ketika saya bertanya kepentingan dia ke Las Vegas. Mendengar kata Las Vegas, tentu saja yang terbayang pertama kali adalah bersenang-senang dan berlibur. Rupanya tidak demikian dengan lelaki ini.

Karea sebelumnya lebih sering begadang, sayapun tertidur sempurna hanya beberapa menit setelah pesawat tinggal landas. Beberapa jam pertama saya tidak menikmati hiburan sama sekali, tidak juga membaca buku atau menulis. Ini agak berbeda dengan perjalanan-perjalanan lain yang biasanya saya habiskan dengan nonton film atau menulis cerita perjalanan. Saya mengandalkan rekaman twitter atau catatan kecil di iPhone atau foto yang diambil secara acak jika nanti harus membua cerita perjalanan yang lebih panjang.

Perjalanan dari Sydney ke LA ditempuh sekitar 14 jam, sebuah perjalanan yang sanga lama dan panjang. Jarak tempuh sekitar 12.000 kilometer atau 7000an mil. Saya yang duduk di dekat jendela tentu saja harus meminimalkan acara keluar dari tempat duduk sehingga tidak terlalu banyak mengganggu penumpang di sebelah saya. Akan lebih rumit lagi karena mereka sedang tidur. Strateginya adalah meminimalkan asupan makanan dan minuman sehingga tidak perlu sering ke kamar mandi. Strategi ini mungkin tidak begitu sehat tetapi saya selalau merasa ini membantu menjaga kenyamanan teman duduk saya di sebelah. Alhasil, saya sama sekali tidak beranjak dari tempat duduk selama 14 jam itu. Sebuah prestasi yang layak dihargai oleh teman di sebelah saya.

Selama perjalanan, tentu saja saya juga akhirnya menonton film yaitu Abraham Lincoln, the Vampire Hunter. Filmnya menarik karena menggunakan konteks sejarah kepresidenan Amerika yang tersohor saat periode Abraham Lincoln. Kisahnya yang dimodifikasi dengan sentuhan mistis seperti vampire membuatnya menarik. Melihat film itu membuat saya terbayang kunjungan ke Washington 5 tahun lalu saat menyaksikan patung Abraham Lincoln yang terkenal itu. Di depannya berdiri gagah tugu Amerika yang terkenal itu. Tata rias wajah yang cemerlang membuat karakter Lincoln bisa nampak dengan sangat baik pada actor yang memerenkannya di film yang saya tonton.

Selain menonton saya juga membaca buku yaitu Chairul Tanjung (CT) si Anak Singkong yang sempat saya beli saat pulang ke tanah air beberapa bulan lalu. Buku ini berisi kisah-kisah perjalanan hidup CT dalam meraih sukses sebagai salah satu pengusaha berhasil di Indonesia. Lepas dari gaya penulisannya yang sebenarnya bukan merupakan favorit saya, buku ini menarik dibaca oleh para anak muda, terutama mahasiswa, untuk meningkatkan naluri wirausaha. Buku ini dengan lugas membahas bagaiaman CT dengan cerdas menemukan peluang-peluan usaha sejak usaha belia. Bahasanya yang sederhana membuatnya mudah dibaca, meskipun itu mengurangi dramatisasi yang mungkin diinginan oleh sebagian pembaca lainnya.

Jam 9.30 pagi saya tiba di Los Angeles. Menariknya, saya tiba di hari yang sama tanggal 9 Desember 2012 yang artinya saya kini menjadi lebih muda. Berangkat jam 14.40 dari Australia dan tiba jam 9.30 pagi waktu yang sama jadi saya lebih muda sekitar administratif lima jam meskipun tidak demikian halnya secara biologis.

Waktu saya tidak banyak ketika transit di LA. Karena merupakan negara bagian pertama yang saya singgahi di Amerika maka proses imigrasi berlangsung di LA. Saya harus mengambil bagasi lalu menjalani proses imigrasi dan secara resmi memasuki Amerika. Prosesnya tidak rumit tetapi cukup panjang karena begitu banyak orang yang datang ke Amerika saat itu. Sebelum turun dari pesawat saya sudah mengisi formulir kedatangan untuk kepentingan imigrasi, termasuk mendeklarasikan apa yang saya bawa. Untuk mendapat pemeriksaan, saya harus mengantri di barisan sangat panjang. Hari itu juga ada rombongan siswa dari Australia yang melaksanakan tour ke Las Vegas sehingga suasana jadi riuh rendah. Saya lihat jam, waktu semakin mepet dengan penerbangan berikutnya. Saya bertanya-tanya bagaimana proses transfer akan dilakukan dengan antrian panjangg seperti ini.

Anyone flying before 12 today?” tiba-tiba saya mendengar seorang perempuan berteriak. Saya lamngsung mengacungkan tangan dan diapun meminta saya keluar dari antrian karena akan diproses lebih cepat. Sayapun tidak perlu mengantri dan segera melalui proses imigrasi. Karena memang mendesak waktunya, sayapun dip roses di loket untuk warga negara Amerika. Beberapa petugas di sekitar situ terlihat ramah, jauh lebih bersahabat dibandingkan saya ke New York lima tahun lalu saat diinterogasi di Bandara Minneapolis. Seorang lelaki bahkan guyon ketika melihat saya membaca sesuatu di ipad. “Is it ipad 2 or the new one?” katanya bertanya. Dia bahkan bertanya lagi “are you getting the new one, or iPad mini” dan saya jawab dengan tersenyum “no, I am good with this.” Percakapan sederhana itu menghadirkan suasana akrab dan membuat penumpang tidak begitu tertekan menghadapi proses imigrasi yang panjang.

Sayapun melewati seorang petugas dan setelah ditanya beberapa hal, saya sudah melenggang meninggalkan petugas menuju tempat pengambilan barang. Kopor saya ternyata sudah turun dari conveyer belt dan siap ditarik masuk pesawat berikutnya. Semua lancar, semua mudah. Saya sempatkan untuk ngetwit dengan wifi yang tersedia gratis di Bandara Los Angeles. Pagi di Los Angeles berarti malam di tanah air, Australia dan sekitarnya. Beberapa kawan masih sempat membalas dan memberi dukungan terhadap perjalanan saya.

Sesaat kemudian saya sudah kembali duduk di sebuah kursi pesawat Delta Air yang kini berukuran lebih kecil. Saya diapin dua perempuan, keduanya orang New York. Keduanya rupanya sering bepergian di sekitar Amerika untuk kepentingan bekerja. Saya sempat bicara banya dengan yang duduk di sebelah kiri karena rupanya lebih terbuka untuk bicara berbagai hal. Saya tanyakan perihal Gubernur Arnold Swazeneger yang sempat memimpin California selama dua periode karena dia pernah tinggal di California. Dia mengatakan, “Arnold was not bad” melihat latar belakang politiknya yang tidak terlalu kuat. Kami juga sempat berbicara tentang politik Amerika, tentang Obama, tentang banana alam, tentang perjalanannya yang sudah ke beberapa negara Asia dan sebagainya. Sangat menyenangkan dan menambah banyak wawasan. Dia adalah seorang konsultan.
Yang menarik, perjalanan dari LA ke New York saya tempuh dengan memanfaatkan fasilitas internet yang disediakan maskapai. Saya harus membayar USD 20 untuk bisa online selama tiga jam. Meski agak mahal, rasanya sangat layak. Bisa tetap berinteraksi dengan teman-teman di dunia maya saat ada di udara, menghadirkan kepuasan tersendiri. Menyenangkan bisa menyapa orang dengan menulis “greeting from up in the air”.

Kombinasi antara ngobrol, twitteran, tidur, nonton film dan membaca membuat perjalanan terasa cepat. Tanpa terasa saya sudah tiba di Bandara JFK di New York dan kini siap-siap melaju menuju penginapan. Saya lalu menuju tempat mangkal taxi setelah mengambil barang bawaan yang hanya berupa satu kopor yang tidak terlalu besar. Saya termasuk orang yang tidak suka membawa banyak barang ketika bepergian. Setelah antri beberapa lama, sayapun mendapatkan taxi yang sopirnya orang Pakistan. Dengan sigap dia membawa saya ke Middle Village di Queens tempat saya akan menginap selama di New York. Hari telah gelap dan dingin mulai menyerang. Saya mengenakan jaket tebal sejak keluar dari bandara tadi. Selain dingin, hujan cukup deras dan suasana berkabut. Benar-benar bukan sambutan terbaik oleh New York untuk seorang saya yang kembali lima tahun setelah menginjakkan kaki di New York pertama kali.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

4 thoughts on “New York 2012: Perjalanan”

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s