New York 2012: The US Visa


Note: Cerita ini adalah bagian dari New York 2012

The US Visa
The US Visa

Menjadi orang Indonesia itu sangat menarik. Salah satu yang membuatnya menarik adalah ketika harus melakukan perjalanan ke luar negeri. Perjalanan ini selalu dilengkapi cerita seru karena harus mengurus visa. Indonesia bisa ke luar negeri tanpa visa hanya jika ke sembilan negara ASEAN. Selain itu, semua memerlukan visa. Maka dari itu, selalu ada cerita menarik yang mungkin tidak dialami oleh orang-orang dari negara lain, terutama yang lebih maju. Supervisor saya yang orang Inggris bahkan tidak punya pengalaman mengurus visa Amerika dan Eropa, misalnya. Kasihan sekali dia. Itulah sebabnya saya katakan menjadi orang Indonesia itu sangat menarik. Kita orang-orang yang gesit dan cerdas, bisa mengurus sesuatu yang orang lain bahkan tidak pernah pikirkan.

Perjalanan saya ke New York untuk menghadiri peringatan ulang tahun UNCLOS ke-30 tahun 2012 ini juga memerlukan visa. Saya segera mencari informasi pengurusan Visa Amerika melalui website kedutaan Amerika di Australia (Canberra). Meskipun sudah pernah mengurus Visa Amerika lima tahun lalu, tetap saja saya harus mengecek prosedurnya karena seringkali prosesnya berubah sesuai kebutuhan dan situasi interaksi bangsa-bangsa. Adanya insiden di satu kawasan kadang membuat pengurusan visa lebih sulit. Selain itu, pengurusan visa Amerika memang terkenal tidak mudah.

Setelah melakukan pencarian, saya temukan bahwa pengurusan visa Amerika dari Australia terpusat di http://www.ustraveldocs.com/au/. Jika mendaftar dari negara lain, maka tinggal ganti folder dua huruf di belakang sesuai negara, misalnya http://www.ustraveldocs.com/id/ untuk Indonesia. Saya pelajari bahwa visa yang sesuai untuk perjalanan saya adalah non-imigran karena memang ini kunjungan singkat. Jenis visa yang tepat adalah bisnis dan wisata (tipe B) yang di dalamnya mencakup konferensi. Langkah yang harus ditempuh adalah

  1. Melakukan pembayaran sesuai tariff yaitu AUD 160 untuk visa jenis B yang saya perlukan. Pembayaran dilakukan dengan kartu kredit atau melalui metode lain. Saya pilih membayar dengan kartu kredit sesuai dengan pilihan yang tersedia di halaman http://www.ustraveldocs.com/au/au-niv-paymentinfo.asp.
  2. Mengisi formulir DS-160 secara online di alamat http://ceac.state.gov/genniv/ dan melengkapi foto diri. Menariknya, ketentuan foto cukup ketat dan sistem akan memutuskan apakah foto yang diupload sudah sesuai ketentuan atau belum. Pengisian formulir ini juga bisa dilakukan bertahap. Jika belum selesai suatu waktu maka bisa dilanjutkan di waktu lainnya dengan memasukkan kode aplikasi dan menjawab pertanyaan rahasia yang ditentukan sebelumnya. Setelah semuanya terisi, aplikasi bisa diserahkan (submit) secara resmi. Meski sudah diserahkan, aplikasi tersebut tetap bisa dikoreksi jika kemudian ditemukan
  3. Menetapkan jadwal wawancara. Perngurusan Visa Amerika memang memerlukan wawancara dan harus melalui jadwal yang ditetapkan sebelumnya. Penjadwalan ini bisa dilakukan secara online di alamat https://cgifederal.secure.force.com/. Sekali lagi, perlu ditentukan dari negara mana pendaftaran ini dilakukan. Ini akan menentukan lokasi wawancara. Jika memilih Indonesia maka lokasi pilihannya adalah Jakarta atau Surabaya. Saya tentu saja memilih Australia dan Sydney sebagai lokasi wawancara. Jika penjadwalan online tidak bisa digunakan, misalnya karena sistem sedang dalam perbaikan maka penjadwalan bisa dilakukan melalui telepon. Waktu itu saya menggunakan jalur telepon karena ada sedikit masalah dengan sistem online. Sayapun menelpon Konsulat Jenderal Amerika di Sydney dan menetapkan jadwal wawancara tanggal 26 November 2012 pada pukul 8.45 pagi. Yang perlu diperhatikan, pelamar visa Amerika sangat banyak sehingga jadwalnya bisa sangat padat. Lakukan seawal mungkin agar tidak terlalu mepet dengan keberangkatan.
  4. Ketika wawancara saya menyiapkan beberapa dokumen wajib yaitu: paspor yang ada visa Australianya karena saya melamar dari Australia, halaman konfirmasi formulir DS-160, bukti pembayaran (invoice), dan undangan dari United Nations. Dokumen tambahan adalah keterangan dari Universitas bahwa saya adalah mahasiswa University of Wollongong, visa Amerika saya terdahulu, rincian rekening bank untuk jaga-jaga, jadwal kegiatan selama di New York yang sudah diberikan oleh UN, bukti alamat yang dituju di New York. Untuk tempat tinggal, UN memberikan dana secukupnya dan diminta mencari penginapan sendiri. Saya memutuskan akan tinggal dengan keluarga Indonesia tempat saya tinggal lima tahun lalu.

Pagi masih agak remang ketika saya melaju dengan kereta dari Wollongong ke Sydney pada tanggal 26 November 2012. Saya turun di Martin Place, salah satu stasiun di pusat Kota Sydney yang dekat dengan Konsulat Jenderal Amerika yang berlokasi di MLC Centre lantai 10. Saya bergegas diantara kerumunan para pekerja yang bergerak seperti rombongan ikan teri, sigap dan tergesa. Saya tidak familiar dengan Gedung MLC ini karena ini merupakan kunjungan saya yang pertama. Tentu saja peta jadi andalan. Dari iPhone saya cek lokasi gedung yang tidak jauh dari Martin Place dan dalam beberapa menit saya sudah berada di dalam. Begitu masuk gedung, ternyata sudah lantai tujuh. Rupanya lantai 1 dihitung dari bawah tanah sehingga saya tinggal naik tiga lantai lagi untuk mencapai lantai 10.

Begitu tiba di lantai 10 saya melihat antrian panjang bak ular. Dari berbagai pengalaman, antrian untuk mengurus visa Amerika memang selalu yang terpanjang. Di Australia dan di Indonesia sama saja. Saya segera mengeluarkan dokumen yang diperlukan dan berbaris rapi dalam antrian. Saat antri saya melihat seorang lelaki berwajah Asia keluar dengan wajah agak resah. Saat saya tanya, dia mengatakan bahwa dia datang terlalu awal sehingga belum bisa dilayani dan diminta antri ulang. Memang ada ketentuan bahwa pelamar tidak boleh datang lebih awal dari 15 menit sebelum jadwalnya tiba. Saya yang dijadwalkan wawancara jam 8.45 tidak boleh datang sebelum jam 8.30. Menariknya, jika terlambat juga tidak akan dilayani. Maka dari itu, pelamar harus pintar-pintar memperkirakan waktu. Memang lebih baik datang awal tetapi mulai mengantri 15 menit sebelum jadwal tiba.

Di depan saya ada seorang perempuan muda yang sepertinya keturunan China. Karena cuaca panas, dia hanya mengenakan celana pendek dan kaos tipis. Menurut saya dandanan ini kurang tepat untuk kepentingan melamar visa tetapi ini Australia, siapa yang peduli. Masalahnya hanya satu, Bahasa Inggrisnya rupanya tidak begitu bagus. Dia lupa (mungkin karena tidak paham) mengeluarkan charger HP dari tasnya padahal jelas-jelas ada petunjuk semua alat elektronik harus dikeluarkan saat tas di-scan dan ditempatkan di wadah khusus. Yang menarik adalah cara petugas memperingatkannya dengan bertanya “Do you know what electronics are?” Rupanya pertanyaan itu terlalu rumit bagi cewek itu sehingga reaksinya malah bengong sambil senyum-senyum tidak jelas. Mendapat reaksi seperti itu, petugas yang rupanya sedang tegang itu menjadi semakin geram. Kata-katanya sopan tetapi nampak jelas nada marah pada suaranya. Dia meninggikan suaranya sehingga semua orang mendengar dan memperhatikan insiden itu. Entahlah, mungkin memang hal itu disengaja, setidaknya saya berjanji tidak akan melakukan kesalahan yang sama. Para pengantri di sekitar saya juga nampak merogoh tasnya lalu mengeluarkan semua elektronik yang ada.

Beberapa menit kemudian saya diminta ke satu lantai di atas tempat wawancara berlangsung. Di sana saya menunggu setelah mengambil nomor antrian. Saat duduk, ada seseorang mendekat dan duduk di samping saya. Saya tidak berani menebak tetapi rasanya orang Indonesia. Sayapun sengaja menunjukkan lambang Garuda di passport saya untuk memberinya kesempatan berinteraksi. Benar saja, dia langsung bertanya dengan Bahasa Indonesia. maka terjadilah percakapan yang sangat menarik di tengah-tengah ketegangan wajah-wajah di ruangan itu.

Saya kemudian dipanggil untuk merekam sepuluh sidik jari dan menunggu giliran wawancara. Setelah beberapa lama menunggu, saya sudah ada di sebuah loket dan siap diwawancarai. Hal pertama yang ditanyakan adalah tujuan saya ke Amerika. Tentu saja tidak sulit dijawab. Yang kemudian menarik adalah dia menanyakan apa yang saya lakukan ketika saya ke Amerika tahun 2007. Ketika saya menjawab singkat saja, misalnya “I did a research with the UN”, dia bertanya lagi, “what kind or research?” Karena merasa dia tidak akan mengerti terlalu banyak, saya menjawab singkat lagi “It’s on the law of the sea”, dia malah berkata dengan nada agak tinggi agar saya mengelaborasi karena sulit bagi dia memahami jika saya menjawab singkat. Merespon itu maka meluncurlah paragraf demi paragraf dari mulut saya tetang landas kontinen Indonesia yang saya teliti tahun 2007 silam. Menariknya, dia masih sempat menanyakan, bagaimana kelanjutan penelitian itu dan bagaimana perkembangan pengajuan landas kontinen oleh Indonesia. Saya cukup terkesima. Entahlah apakah dia memang secanggih itu atau dia memang telah mempelajari siapa saya sebenarnya sebelum wawancara itu.

Yes, you visa has been approved!” katanya tanpa ekspresi. Melamar visa ke Amerika memang cukup menegangkan tetapi hasilnya (disetujui maupun ditolak) instan, hanya beberapa menit saja. Sayapun mengantongi visa untuk jangka waktu lima tahun meskipun permohonannya hanya untuk beberapa hari. Saya sudah merasa bangga dan hebat degan visa lima tahun sebelum akhirnya tahu bahwa teman saya orang Filipina dengan mudah mendapatkan visa Amerika sepuluh tahun. Memang beda bangsa beda perlakuan.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

9 thoughts on “New York 2012: The US Visa”

  1. Ah, MLC Centre lantai 10, 5 Februari 2012, kejadian yang sangat mirip menimpa saya pas melamar visa buat ke Harvard. Ruangannya kecil, dan para penunggu duduk di kursi kecil yang berdempetan satu sama lain. Selain orang Australia, banyak pula orang Amerika Latin dan orang India yang menunggu dengam tidak sabar. Semuanya tegang. Tanpa AC yang memadai, dan petugas pewawancara yang sangat tidak ramah, suasananya sangat tidak bersahabat. Ah, satu cara untuk merayakan hari ulang tahun yang sangat tidak ingin saya ulangi..

    Subhan Zein

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s