Kedatangan saya ke Berlin tahun 2013 ini berawal dari sebuah undangan untuk berpatisipasi dalam symposium ketahanan bumi atau Earth Resilience yang kedua. Intinya, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Berlin berniat mengumpulkan pemikiran dan gagasan dari orang-orang Indonesia yang tersebar di seluruh dunia terkait dengan ketahanan bumi. Maka diadakanlah sebuah forum yang memungkinkan para ilmuwan Indonesia untuk betemu dan bercurah gagasan. Simposium Ketahanan Bumi ini berfungsi demikian.
Ada satu pertanyaan penting yang belum bisa saya jawab dengan baik “bagaimana mewakili Indonesia di pentas dunia?” Jika harus mewakili Indonesia dengan sepotong baju, baju apa yang paling layak mencirikan Indonesia? Ini bukan sesuatu yang mudah dilakukan dengan ratusan suku bangsa dan sekian banyak pakaian daerah di Indonesia. Ketika menjadi Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia (PPIA) University of Wollongong, saya selalu mengalami kesulitan ketika harus mengikuti pameran budaya antarbangsa. Kesulitan pertama adalah ketika ingin menampilkan PPIA agar tampil khas diantara organisasi pelajar dari berbagai negara. Memang tidak mudah menyajikan atribut yang menarik, khas dan gampang diingat karena keindahannya. Bendera Merah Putih tentu saja khas tetapi rasanya tidak cukup untuk meghadirkan semarak pesta antarbangsa yang menuntut kemeriahan lebih dari kibaran Sang Saka Merah Putih. Akhirnya, pilihan lebih sering jatuh pada atribut Bali yang memang sudah dikenal di Australia. Namun Bali bukanlah Indonesia. Bali, dengan segala keunikan dan keindahannya sesungguhnya tidak pernah bisa mewakili Indonesia secara utuh. Tidak heran jika seorang petugas bank Commonwealth di Wollongong bertanya polos tanpa dosa kepada kawan saya yang dari Bali ketika membuat rekening “are you actually from Bali or Indonesia?”
Di sebuah perjamuan makan malam di Canberra selepas konferensi, anak muda itu berkisah. Dia lahir di Malaysia, besar di Singapura dan mengenyam pendidikan tinggi di Australia. Seorang pemuda berwawasan global dan terekspos oleh geliat internasional. Dia cakap berbahasa Inggris, itu sudah pasti. Menariknya, saya bisa menyimak dengan jelas, cengkok Singlish terdengar cukup sering dari celotehnya.
Ada satu kegagalan utama saya di tahun 2012 yaitu belum menyelesaikan sekolah S3 saya, tidak sesuai dengan yang seharusnya saya lakukan. Kata orang bijaksana, kalau ada kemauan pasti ada jalan, kalau tidak ada kemauan biasanya banyak alasan. Maka saya bisa menyampaikan 1001 alasan untuk membenarkan mengapa saya harus menunda penyelesaian studi S3 saya hingga tahun 2013 nanti. Meski demikian, di balik semua itu ada satu kebenaran yang tidak bisa dibantah: semua itu terjadi karena kelemahan saya sendiri. Maka resolusi paling utama saya untuk tahun 2013 adalah menyelesaikan S3. Semoga alam semesta bersekongkol membantu saya mewujudkan resolusi ini.
Dengan menjadikan kegagalan sebagai pelajaran dan motivasi, saya ingin mengenang sejenak apa yang terjadi tahun 2012 lalu. Dari berbagai kegagalan, ada juga keberhasilan. Dari sekian banyak hal yang tidak membanggakan, ada hal-hal yang menumbuhkan semangat. Tahun 2012 saya lewati dengan suka dan duka, seperti halnya tahun-tahun lainnya.
Sore tadi, saya menerima telepon dari seorang sahabat baik. Kami berbicara banyak hal yang penting dan tidak begitu penting. Selalu menyenangan berbicara dengan sahabat baik, apapun topiknya. Di ujung percakapan dia mengucapan “Selamat Natal” dengan sangat ringan tanpa beban. Sambil tertawa renyah sayapun membalas tidak kalah santainya “Selamat Natal juga”. Jika tidak dipikir serius, ucapan ini biasa saja. Dia jadi tidak biasa karena yang mengucapkan adalah seorag Muslim dan diucapan kepada seorang pemeluk Hindu. Tidak satupun dari kami merayakan Natal dalam konteks agama. Meski demikian kami tentu saja menikmati libur natal dan akhir tahun karena sama-sama berada di Australia.
Tanggal 23 Desember 2012 saya diwawancarai oleh RRI Pro 3 terkait isu perbatasan Indonesia dengan negara tetangga. Wawancara berlangsung cukup lama dan disiaran secara nasional. Yang tertarik dan belum sempat menyimak, silakan nikmati rekaman berikut 🙂
Dalam sebuah lokakarya kepemimpinan yang diselenggarakan di Kangaroo Valley, New South Wales, Australia setiap peserta diminta mempresentasikan seorang pemimpin yang menginspirasi hidupnya. Lokakarya itu diikuti oleh pemimpin dan calon pemimpin di Asia Pasifik. Kala itu pertengahan 2009, Obama sedang naik daun. Ada pikiran untuk mempresentasikan Obama karena memang menginspirasi hidup saya. Meski begitu saya urungkan karena saya duga akan ada terlalu banyak orang yang menjadikannya idola. Saya berpikir lama dan akhirnya menemukan tokoh yang saya yakin tepat mewakili seorang pemimpin yang menginspirasi hidup saya.
Di depan para peserta dari Asia Pasifik itu saya berdiri. Saya memegang sebuah poster ukuran sedang dengan gambar seorang perempuan berbusana sederhana. Dengan menatap para hadirin saya memulai presentasi itu dalam Bahasa Inggris.
“Pemimpin ini adalah seorang perempuan. Perempuan ini bukanlah siapa-siapa. Dia dilahirkan di sebuah tempat di pelosok dunia yang mungkin tak ketetahui oleh peradaban. Dia bukanlah seorang politikus, bukan pula tokoh masyarakat. Dia juga tidak terkenal. Dia adalah perempuan biasa tetapi dia menjadi batu karang yang menjaga ketegaran keluarganya. Dia adalah perempuan yang perkasa. Dia kuat dalam makna sebenarnya. Di tahun ‘70an dan awal 80an, dia bekerja di sebuah penambangan batu padas tradisional, di sebuah tempat yang mungkin bahkan tidak terlihat pada Google Earth edisi premium.
Saya sedang berada di antrian panjang imigrasi saat akan meninggalkan Sydney menuju LA dalam perjalanan ke New York. Antriannya sangat panjang, lebih panjang dari yang pernah saya lihat. Di depan saya terlihat puluhan anak muda berseragam dengan tulisan “Las Vegas Tour 2012”. Rupanya beberapa anak sekolah Australia akan bersenang-senang di Las Vegas. Ini yang membuat antrian jadi lebih panjang.
Agenda utama kunjungan saya ke New York adalah untuk menghadiri pertemuan alumni UN-Nippon Foundation Felloswhip yang dilangsungkan bersamaan dengan peringatan 30 tahun UNCLOS. Saya diundang sebagai mantan representatif (presiden) alumni dan sebagai pengelola media jejaring terutama website alumni.
Jam 9 pagi tanggal 10 Desember 2012 saya sudah berada di depan Gedung 2 UN Plaza di 44th Street di Manhattan. Di Gedung inilah berkantor United Nations Division for Ocean Affairs and the Law of the Sea (DOALOS). Lima tahun lalu saya berkantor di gedung ini selama tiga bulan saat menyelesaikan penelitian tentang landas kontinen Indonesia. Kini saya kembali sebagai alumni. Rasanya luar biasa.
Beberapa saat kemudian delegasi dari berbagai negara berdatangan. Saya melihat Andrei, seorang alumni lain dari Brazil, mendekat. “You must be Andi!” katanya dan saya sambut dengan ramah dengan mengataan “I am sure you are Andrei!” Beberapa alumni lain juga datang satu per satu termasuk petinggi DOALOS dan beberapa professor dari berbagai institusi di Amerika dan Eropa. Alumni UN-Nippon Foundation Fellowship yang diundang untuk menghadiri peringatan ulang tahun UNCLOS ke-30 di New York adalah Andrei (Brazil), Abbas (Djibouti), Sampan (Thailand), Andi (Indonesia), Muhiuddin (Bangladesh), Mustaffa (Oman), Anama (Samoa), Me Chinho (Sao Tome and Principe), Lilian (Guatemala), Ansy (India), Gloria (Tanzania), dan Cecilia (Chile). Sementara itu di New York sedang ada beberapa orang yang sedang melakukan kegiatan fellowship seperti yang saya lakukan lima tahun lalu. Mereka adalah Joy (Fiji), Cecilia (Brazil), Nicole (Barbados), Jean (Madagascar) Godwin (Ghana), Fiona (Solomon Island), Senia (Indonesia) dan Mahdi (Comoros).
Jam 9.50 kami segera bergerak dari 2 UN Plaza menuju UN Secretariat yang ada di 1st Avenue tidak jauh dari tempat kami berkumpul. Dingin tidak terasa karena kehangatan mulai tercipta dari percakapan yang sangat akrab. Saya bertemu lagi dengan beberapa teman yang sudah saya temui di berbagai tempat sebelumnya sehingga percakapan jadi hidup. Memasuki Sekretariat PBB bukan perkara mudah, pemeriksaan sangat ketat. Kami melewati sebuah bangunan khusus untuk pemeriksaan barang bawaan layaknya masuk pesawat. Laptop dikeluarkan, ikat pinggang dilepas, segala elektronik lain dan logam dikeluarkan dari tempatnya, dan sepatupun dilepas jika perlu. Setelah itu kami memasuki ruang Sidang Umum PBB guna memperingati ulang tahun UNCLOS ke-30.
Ruangan begitu besar dan berwibawa, delegasi berbagai negara telah menempati meja masing-masing dengan tanda delegasi negara. Kami para alumni duduk di tribun atas sehingga leluasa menikmati semuanya. Tepat di depan saya adalah panggung dan podium dengan latar belakang logo PBB di belakangnya yang terpampang besar. Suasana begitu berwibawa, sesuatu yang sudah saya nikmati lima tahun lalu tetapi baru kali ini saya perhatikan dengan seksama. Sorot lampu yang sedemikian rupa menciptakan suasana yang serius dan anggun di ruangan itu, semua orang hening. Sementara itu kami para alumni yang duduk di tribun masih asik bercakap-cakap bernostalgia.
Peringatanpun dibuka oleh pembawa acara yang kemudian menyerahkan waktu kepada Sekretaris Jendral PBB, Ban-Ki Moon untuk memberikan pidato. Sejujurnya, tidak mudah mendengarkan pidato inspiratif dalam acara-acara formal PBB semacam ini. Waktunya singkat, kata-katanya formal dan acaranya telah diatur dengan kaku. Selain itu, harus diakui, Ban-Ki Moon bukanlah seorang orator ulung. Dia adalah pemimpin yang baik tanpa kualitas orasi yang menggetarkan hati. Ban-Ki Moon bukan Obama, itu pasti. Isi pidatonya tidak begitu baru tetapi jelas tegas menguatkan harapannya akan kepedulian terhadap isu kelautan di masa depan serta apresiasinya terhadap UNCLOS.
Tommy Koh berbicara setelah Ban-Ki Moon. Pidatonya lebih inspiratif. Tommy adalah presiden konferensi yang mewujudkan UNCLOS 30 tahun silam. Lelaki inilah yang menyebut UNCLOS dengan istilah “Constitution of the Oceans” yang menandakan bahwa konvensi ini adalah aturan hukum paling komprehensif yang mengatur isu kelautan dan hukum laut. Salah satu yang menarik adalah dia mendorong secara tegas agar Amerika Serikat sebagai tuan rumah peringatan ulang tahun UNCLOS ke-30 segera meratifikasi UNCLOS. Seperti yang diketahui banyak orang, Amerika sampai asat ini belum menjadikan UNCLOS sebagai bagian dari hukum nasionalnya karena belum melakukan ratifikasi. Di kesempatan lain, ajakan Tommy Koh ini disambut oleh delegasi dari Amerika dengan mengatakan bahwa Presiden Obama da Sekretaris Clinton mendukung ratifikasi tersebut dan kini Amerika sedang berproses. Meski demikian, semua orang tahu bahwa proses itu tentu tidak akan berjalan cepat.
Berbagai delegasi dari Asia, Pasifik, Afrika, Latin Amerika, Eropa dan lain-lain berbicara satu per satu. Semua mengungkapkan keberhasilan UNCLOS dalam tiga dekade ini dan harapannya ke depan. Selain memuji UNCLOS, masing-masing menyampaian apresiasi terhadap tokoh-tokoh yang telah menyumbangkan pemikiran, waktu dan tenaganya untuk mewujudkan UNCLOS menjadi seperti sekarang.
Salah satu yang menjadi bahasan menarik adalah penambangan di laut dalam atau deep seabed mining yang umumnya berada di luar kewenangan (yurisdiksi) suatu negara. Penambangan di lokasi seperti ini dimungkinkan dengan pengawasan dari International Seabed Authority (ISA). Intinya, penambangan semacam ini bisa dilakukan oleh suatu negara dengan konsekuensi harus berbagi hasil sedemikian rupa yang kemudian didistribusikan kepada negara-negara di dunia, termasuk yang tidak memiliki pantai/laut (land-locked states). Penambangan di laut dalam ini memerlukan perhatian yang lebih karena kini teknologi penambangan sudah memungkinkan aktivitas semakin jauh dari daratan.
Sementara itu saya menyimak dengan takzim. Apa yang dikatakan oleh para pembicara itu tentu tidak lebih hebat dari apa yang bisa dibaca di buku dan jurnal tentang UNCLOS tetapi menjadi istimewa karena semua itu disampaikan langsung. Saya tidak pernah bertemu langsung dengan Ban-Ki Moon atau Tommy Koh sebelumnya meskipun sudah sangat mengenalnya dari media. Peringatan ulang tahun UNCLOS ke-30 itu menjadi semacam wadah bertemunya para pendekar senior seperti Tommy Koh dengan anak-anak bawang seperti saya. Jika generasi memang berganti maka para dewa itu tetap harus digantikan kelak. Para muda, mau tidak mau, siap tidak siap, harus menyandang peran itu suatu saat nanti. Sayapun melihat kawan-kawan saya sesama alumni UN-Nippon Foundation Fellowship dari berbagai benua yang terkesima menyimak. Mungkin dalam benak mereka ada kelebat pemikiran yang sama bahwa suatu saat mereka harus siap meneruskan tongkat estafet idealisme para penjaga samudera itu. Tiga dekade yang telah dilalui dengan baik adalah masa penting tetapi tantangan ke depan tentu jauh lebih penting. Selamat ulang tahun UNCLOS ke-30.