Belakangan ini saya sering belajar di sebuah ruangan di UNSW sejak tinggal di Sydney. Di ruangan itu ada dapur tempat para mahasiswa makan siang atau sekedar istirahat menikmati teh. Di dapur itu ada lap/tisu kertas gulung yang menempel di tembok. Tisu itu kadang saya ambil untuk membersihkan meja dari tetesan air, melapisi tangan saat memegang gelas berisi kopi panas atau untuk membersihkan piring dari remah-remah makanan. Setiap kali selesai mencuci perabotan, saya juga memanfaatkan tisu itu untuk membersihkan tangan.
Berbeda dengan tisu toilet yang mudah dipotong karena sudah ditentukan penggalan-penggalan untuk memotong, tisu gulung itu harus dipotong dengan pemotong bergerigi yang sudah ada pada wadahnya. Tisu itu juga kuat, jauh lebih kuat dari tisu toilet sehingga harus ditarik dengan tenaga secukupnya agar terpotong. Singkat kata, memotong tisu gulung itu perlu sedikit keterampilan dan juga tenaga.
Berikut ini daftar universitas di Australia yang bisa dipilih oleh pelamar Beasiswa Australia Awards Scholarship (AAS) atau yang dulu dikenal dengan Australian Development Scholarship (ADS) tahun 2013/2014. Jika Anda melamar AAS, sangat dianjurkan untuk menghubungi salah satu dari universitas di bawah ini. Yang melamar Master by Research atau PhD, wajib menghubungi calon pembimbing dari salah satu universitas berikut. Silakan lihat juga website CRICOS: http://cricos.deewr.gov.au untuk informasi lebih lanjut.
Di tangah malam itu, tiba-tiba Asti, isteri saya, keluar dari kamar, menemui saya yang masih di depan komputer. Di tangannya ada iPad yang pada layarnya ada Lita yang sedang bicara lewat Skype. Menyusul di belakangnya ada Mbak Dyah dan Sita, dua teman serumah, sesama pejuang Indonesia di Australia. Ada kue cantik dan tiga lilin yang menyala. Terharu sekali, kejutan kecil itu begitu menyentuh. Memang bukan pesta mewah atau kue mahal dan hingar bingar perayaan. Malam itu istimewa karena penuh dengan sentuhan pribadi.
Lita turut menyanyi lewat Skype dan membantu saya meniup lilin ketika lagu ulang tahun selesai dikumandangkan. Saya masih ternyanyut dalam haru. Adalah perayaan kecil sederhana yang dibalut dengan sentuhan pribadi ini yang membuat ulang tahun saya yang ke-35 jadi istimewa. Semua mengulurkan tangan. Sita dengan sigap mengabadikan gambar dan seperti biasa mengupload foto lebih cepat dari saya memotong kue. Sementara itu Mbak Dyah sibuk di dapur membuat cocktail yang istimewa. Di tengah malam itu kami membuat satu pesta kecil yang begitu berkesan.
Bahan kuliah dalam bentuk animasi Flash. Klik untuk melihat.
Salah satu kemewahan sekolah S3 di negara maju adalah kesempatan untuk menjalankan peran-peran professor/pembimbing. Salah satu kesempatan itu adalah mengajar. Tidak jarang mahasiswa S3 diberi kesempatan mengajar S1 atau bahkan S2 oleh supervisornya. Ini kesempatan baik dan bisa mendatangkan uang. Saya punya beberapa pengalaman serupa tetapi yang saya ceritakan kali ini agak berbeda.
Tidak biasanya, aku kesulitan memulai sebuah ujar-ujar tentang keindahan. Aku ditikam kecantikan yang beku dan misterius. Kota Praha, dinginnya menawan dan menyandera hati yang terkejut penuh seluruh. Aku akan ceritakan sebuah perjalanan. Perjalanan yang tiba-tiba dan sekedar mengekor naluri yang terpengaruh oleh hingar bingar perdebatan di suatu senja yang bernas. Aku berjalan menuju satu kota, mengharap bisa menyingkap misteri yang tak pernah kugantungkan terlalu tinggi.
Praha mengejutkanku, Kawan! Aku mencoba-coba merangkai kata, menggambarkan pesona yang tertumpah lewat dingin yang menggigit atau semburat sinar yang ragu-ragu di balik kolom-kolom gedung tua. Pesona yang berpendar lewat batu-batu yang menjulang tinggi, tersusun rapi merenda ukiran-ukiran berwibawa. Pesona yang memancar dari pucuk-pucuk menara di kastil-kastil tua yang bijaksana atau sungai yang membelah kota dengan tenang dan percaya diri. Tapi aku tak kuasa. Keindahan ini di luar kuasa kata-kata maka aku ingin mengajakmu menikmatinya.
Kita akan susuri pagi musim dingin yang menggigil, menanjak dari rumah tinggal kita menuju stasiun kereta di sebelah rumah. Maka nikmatilah kepulan asap dari mulutku dan tertawalah melihatku bersidekap merintih-rintih menahan dingin. Atau ketika aku menenggelamkan kedua telapak tangan di saku celana dan bersikeras menarik kepala ke dalam dada. Maklumilah, aku putera katulistiwa yang bermewah-mewah dengan hangatnya matahari sepanjang tahun. Maka dingin ini memberi nuansa baru, gigil yang mengundang gelisah.
Di dalam kereta listrik itu kita menikmati perjalanan. Ular besi ini melintas tenang pada alur-alur baja yang menjaga lintasannya. Nikmatilah gerit roda yang mendesing-desing membawa kita ke sebuah tempat yang kita tak tahu. Tengoklah ke belakang dari kaca jendela, alur baja itu membentang jauh kita tinggalkan tetapi seperti tak habis dan ujungnya tak kunjung kita temui. Lihatlah aku yang bersandar di belakang, mencoba merayu seorang gadis cantik yang malu-malu ketika disapa. Anak dara itu tersenyum simpul ketika kupuji perihal tutur bahasa asingnya yang memukau. Dia memerah wajahnya kawan, sambil dipatut-patutkannya sikapnya untuk mengembalikan pujiannya padaku. Aku tergelak dalam hati. Tak usah kau curiga karena aku tak tertawan senyumnya tapi pada ubin-ubin batu yang berbaris rapi menopang alur-alur baja yang dilintasi ular besi ini. Aku terpesona pada misteri peradaban tua yang mengkilat bercahaya dalam wibawa yang rentanya.
Mari kita turun. Lalu berlari sambill bersenda gurau menuju lorong bawah tanah. Kita tunggangi naga besi lainnya yang rupanya tak suka matahari dan mendekam sehari-hari di lorong-lorong yang dalam. Rasakanlah tangga yang melaju deras membawa kita menuju sarangnya di bawah sana. Dia akan membawa kita pada satu istana. Di sepanjang jalan, mari kita kisahkan tentang negeri ini. Tentang perpisahannya dengan kerabat dekatnya dan tentang pergantian namanya dari Cekoslovakia menjadi Ceko karena harus membiarkan kerabat dekatnya, Slovakia, berjalan sendiri. Konon mereka berpisah tanpa perang, kawan! Orang-orang bijak menyebutnya disolusi damai yang akhirnya membagi kecantikan alam menjadi dua. Aku duga, senyum gadis di Slovakia tak kalah berseri dengan wajah yang tadi kurayu di dalam kereta.
Mari kita takjub, membiarkan mulut kita terngaga dan hati berdecak kagum menyaksikan kesempurnaan. Sama sepertimu, aku tak pernah menduga kota ini menyimpan pesona begitu cemerlang. Aku menuduhnya renta dan tak berwibawa karena kemelaratan yang menghimpitnya. Aku salah kawan. Aku salah, seperti kamu juga yang pasti salah. Praha menyimpan rapi keelokan paras kota dan rumitnya peradaban panjang yang menyejarah. Rasakanlah pesona itu terpancar dari gedung-gedung tua berwibawa atau dari ukiran-ukiran kastil yang menjulang. Dengarkanlah mereka bercerita tidak saja tentang raja-raja Eropa dan sejarah panjangnya tetapi juga tentang sepak bola yang mereka menangkan. Maka Slovakia tak akan pernah bisa dipisakan dari Ceko karena nama keduanya pernah bersanding menjadi satu tatkala tropi Piala Eropa disematkan pada para pahlawan sepakbola di tahun 1976. Tapi kita bukan pemuja bola kawan. Kita adalah pemuja desiran angin yang dingin, pemuja hembusan kabut yang mengepul dari mulut-mulut para pejalan kaki yang berseteru dengan gigil musim dingin. Kita adala pemuja lorong-lorong sempit diantara gedung-gedung tua yang dibangun dengan segala kebanggaan berabad silam.
Lalu kita akan berhenti di sebuah jembatan tua. Jembatan ini memastikan kehagatan dari dua sisi kota tetap terjaga atau beku musim salju tidak hanya menyengsarakan satu ujung belaka. Jembatan ni adalah cerita tentang ikhtiar mengatasi keterpisahan. Mari kita berhenti sejenak, lalu saksikanlah sebuah museum di kejauhan yang nampak mungil namun berwibawa. Di pinggir sungai itu, dia mempertontonkan sebuah kebanggaan yang kiranya memang layak disombongkan. Pada sebuah papan batu di kejauhan itu, tertulis Kafka Museum. Dialah kebanggaan bangsa Ceko, Kawan! Dialah penulis ternama yang namanya dicatat dengan tinta emas dalam daftar yang mewarnai wajah dunia lewat tradisi berpikirnya.
Mari kita duduk sejenak di taman kota setelah seharian menikmati keindahan yang dibalut sejarah panjang. Berkelakarlah kita tentang Nusantara di belahan bumi utara. Dulu Sang Proklamator kita, konon, melihat Cekoslovakia sebagai sahabat. Lihatlah sepatu Batta yang sejatinya berasal dari sini dan dijadikan tradisi alas kaki di negeri kita. Dan jika kamu masih tidak paham mengapa leluhur kita menyebut odol untuk pasta gigi, di kota ini kita temukan jawabannya. Mereka bahkan masih menggunakannya hingga hari ini. Di sudut-sudut toko yang berjejal di Praha, kita bahkan temukan petunjuk-petunjuk jitu tentang rasa penasaran kecil kita tentang Nusantara. Dan nikmatilah salam sapa seorang pemuda tampan yang berdiri angkuh bersandar di sebuah kereta besi masa silam yang berkilat-kilat. Terkejutlah kamu karena dari mulutnya tercurah bahasa ibu kita yang tak asing di telinga. Pemuda itu adalah ceceran tanda persahabatan satu bangsa di garis katulistiwa dan satu peradaban di belahan bumi utara.
Lelahkah kamu mengikutiku? Aku tahu, sejarah panjang ini tak kan habis dinikmati sehari. Tapi hari telah senja, Kawan. Mari kita beranjak pulang. Perjalanan kita masih jauh dan kita harus melintasi bangsa-bangsa menuju peradaban lain. Tubuh-tubuh kita harus melesat pergi meski hati berat untuk beranjak. Hati kita tersandera, Kawan. Tersandera pesona Praha.
This video is part of my lecture at RSIS, NTU, Singapore on 14 March 2013. I was invited to Singapore to gave a lecture to students and government official regarding maritime boundaries.
Pak Wayan Karna seorang guru di sebuah desa di Bali. Di pertengahan tahun 80an, Pak Wayan sering menjadi bahan pergunjingan. Pasalnya, Pak Wayan ditindas istrinya. Bagi orang-orang desa di masa itu, sangat tidak elok jika seorang lelaki ditindas istri. Urusannya sangat serius, Pak wayan sering terlihat mencuci pakaian di depan mess, tempat tinggal beliau bersama keluarganya di dekat sekolah. Yang mengundang cibir, ada celana dalam istrinya dalam tumpukan cucian itu. Sungguh memalukan.
Pan Koplar, Nang Kompyang, Men Cubling, Men Gading, semua sepakat kalau Pak Wayan tengah ditindas istri. Tidak sedikit yang yakin kalau Pak Wayan kena guna-guna istrinya sehingga tunduk dan takut, rela melakukan apa saja yang diperintah istrinya termasuk mencuci celana dalamnya. Sungguh keterlaluan.
Sydney, 2013
Saya sedang tergesa memunguti jemuran, berlomba dengan hujan yang sepertinya tidak sabar akan turun. Setiap helai pakaian saya ambil, berharap bisa selesai sebelum gerimis pertama menyiram bumi. Pada tali jemuran itu, ada semua jenis pakaian. Ada pakaian saya dan Asti, isteri saya, berbagai jenis tanpa kecuali. Di saat begitu saya teringat Pak Wayan Karna. Ada satu pertanyaan yang menggelitik. Adakah saya mengalami kemunduran dan menjadi seorang Pak Wayan Karna di tahun 80an? Atau mungkinkah Pak Wayan Karna yang telah mendahului zamannya, meninggalkan para tetangganya yang sibuk bergunjing, mencibir dan menuduhnya telah tertindas istri?
Sebenarnya ini bukan berita baru. Saya baru tertarik menuliskannya di blog ini untuk dokumentasi dan untuk Anda yang belum tahu. Kini kita bisa berkunjug ke banyak museum di seluruh dunia dan menikmati koleksinya secara virtual. Kita bisa seakan-akan masuk ke museum dan menjelajahi setiap sudut museum dan menikmati maha karya seni di dalamnya tanpa terganggu siapapun, tanpa perlu antri dan tanpa risau museum sebentar lagi akan tutup.
Pernahkan Anda membayangkan datang ke sebuah museum impian Anda dan menjadi satu-satunya pengunjung dengan waktu tak terbatas untuk menikmati setiap koleksi? Pernahkan membayangkan mengamati setiap lukisan atau patung atau benda seni bersejarah lainnya dari dekat seakan-akan Anda membawa kaca pembesar? Pernahkan membayangkan Anda menelusuri lorong-lorong museum sendirian dan berdiam diri selama mungkin tanpa ada yang mengganggu? Kini, semua itu bukan hanya angan-angan. Google Art Project telah membuat semua itu menjadi nyata. Google telah mengumpulkan koleksi puluhan jika tidak ratusan museum dan menyajikannya dengan pendekatan geospasial menggunakan teknologi yang sama dengan Google Street View. Anda bisa berkunjung ke sebuah museum dan merasakan pengalaman menikmati koleksinya seakan itu hal nyata. Berikut adalah contoh sebuah museum di Sydney: Art Gallery of New South Wales. Semua bisa dilihat di Google Art Project.
Tanggal 7 Maret saya meninggalkan Berlin menuju tanah air. Siang menjelang sore itu saya mengajak Ayu makan siang terakhir. Meskipun hampir seminggu tinggal bersama, kami jarang sekali bertemu karena kesibukan masing-masing. Saya ingin menyampaikan terima kasih saya yang tulus di hari terakhir. Saya sudah berjanji mengajak Ayu makan siang dan kali ini saya yang akan mentraktir. Dibandingkan segala kebaikan Ayu yang telah menyediakan tempat tinggal dan sarapan sehat setiap hari, traktiran itu adalah hal minimal yang bisa saya lakukan. Kami makan di sebuah restoran sushi.
Visa selalu menjadi urusan penting bagi orang Indonesia jika harus bepergian lintas negara. Kunjungan ke Berlin inipun tidak berbeda. Saya harus mendapatkan visa schengen yaitu visa yang memungkinkan saya memasuki Jerman dan beberapa negara lain yang tergabung dalam penjanjian Schengen dan Uni Eropa. Dengan mendapatkan Visa Schengen ini saya akan bebas berkeliaran di beberapa negara di Eropa tanpa perlu secara khusus mendapatkan visa dari masing-masing negara. Oleh karena itu juga, persetujuan Visa Schengen memerlukan waktu cukup lama karena tidak hanya berasal dari satu negara. Karena sedang di Australia, saya harus mendapatkan visa schengen dari perwakilan yang tepat di Australia.