Berlin 2013: The Visa


Cerita ini bagian dari Berlin 2013

Visa selalu menjadi urusan penting bagi orang Indonesia jika harus bepergian lintas negara. Kunjungan ke Berlin inipun tidak berbeda. Saya harus mendapatkan visa schengen yaitu visa yang memungkinkan saya memasuki Jerman dan beberapa negara lain yang tergabung dalam penjanjian Schengen dan Uni Eropa. Dengan mendapatkan Visa Schengen ini saya akan bebas berkeliaran di beberapa negara di Eropa tanpa perlu secara khusus mendapatkan visa dari masing-masing negara. Oleh karena itu juga, persetujuan Visa Schengen memerlukan waktu cukup lama karena tidak hanya berasal dari satu negara. Karena sedang di Australia, saya harus mendapatkan visa schengen dari perwakilan yang tepat di Australia.

Ini bukan visa schengen saya yang pertama sehingga pengalaman sebelumnya agak memudahkan proses kali ini. Hal pertama yang saya lakukan tentu saja mengunjungi website perwakilan Jerman di Australia yaitu Kedutaan Besar Jerman di Canberra dan Konsulat Jerman di Sydney. Dari situ saya akhirnya mengetahui bahwa visa Schengen untuk ke Jerman tidak diurus melalui perwakilan Jerman tetapi perwakilan Austria. Memang menarik, tetapi rupanya demikianlah kerjasama mereka. Sayapun mempelajari perosedur dan persyaratannya.

Mas Johny selaku ketua symposium Ketahanan Bumi dengan cepat mengirimkan dokumen calling visa, sebuah surat dari perwakilan Indonesia di Jerman kepada perwakilan Jerman di Australia. Inti dari surat ini adalah menjelaskan bahwa saya adalah warga negara Indonesia yang akan ke Jerman dan keberangkatannya direstui oleh KBRI Jerman. Dengan surat itu KBRI Jerman meminta perwakilan Jerman di Australia melancarkan pengeluaran visa untuk saya. Karena pengurusan visa schengen ini tidak melalui perwakilan Jerman tetapi Austria, maka surat calling visa itu ditujukan kepada perwakilan Australia. Tapi saya sendiri tidak pernah melihat surat tersebut karena itu bersifat diplomatis dari satu perwakilan kepada perwakilan lainnya. Urusan tingkat tinggi yang saya tidak paham.

Dari website yang sesuai, saya mengunduh formulir visa schenen lalu mengisinya. Isiannya cukup sederhana, jauh lebih sederhana dibandingkan formulir visa Australia atau Amerika. Dalam beberapa menit saja, saya sudah menyelesaikan pengisian itu. Menariknya, penyerahan berkas pendaftaran visa itu tidak dilakukan di kantor perwakilan tetapi bisa melalui kantor pos yang ditunjuk. Di kantor pos itu juga bisa sekaligus melakukan pengambilan foto yang diperlukan untuk aplikasi visa. Spesifikasi foto ini penting diperhatikan karena mereka sangat ketat soal ukuran dan kenampakan. Daripada mengambil foto sendiri dan berisiko salah, lebih baik serahkan pada mereka. Merekalah akhlinya.

Bermodalkan formulir yang sudah diisi lengkap, surat undangan dari KBRI Berlin dan dokumen lainnya saya menuju kantor Pos Australia di Queen Victoria Building di Market Street di Sydney. Sampai di sana, saya berkonsultasi dengan petugas yang menjelaskan segala sesuatunya. Fotopun diambil dan segala urusan beres dalam beberapa menit saja. Saya harus membayar ongkos visa sekitar AUD 148 untuk semua hal. Dalam amplop tertutup itu, saya juga harus menyertakan passport asli yang nantinya akan ditempeli stiker Visa Schengen. Sebelum melakukan pendaftaran ini, saya juga harus memastikan bahwa saya memiliki visa Australia yang ditandai dengan adanya stiker di passport saya. Karena selama ini saya menggunakan visa elektronik dan tanpa stiker di passport maka sayapun harus ke kantor imigrasi Australia untuk meminta stiker visa Australia yang harganya ternyata AUD 70. Cukup mahal.

Beberapa hari kemudian saya menerima email dari perwakilan Austria yang menyatakan bahwa berkas pendaftaran saya sudah diterima. Ada satu persyaratan yang masi kurang yaitu bank statement yang menyatakan bahwa saya punya cukup uang utuk membiayai perjalanan ke Berlin. Akhirnya saya unduh bank statement dari internet banking dan segera mengirimkannya lewat email seperti yang diminta. Selanjutnya saya hanya menunggu dengan harap-harap cemas. Meskipun sudah sangat sering melakukan pengurusan visa ke berbagai negara, tetap saja rasa khawatir itu ada. Seperti yang saya tulis di twitter, melamar visa itu seperti ‘nembak cewek’, selalu ada risiko ditolak.

Beberapa hari kemudian saya mendapatkan email dari perwakilan Austria menyatakan bahwa visa saya sudah disetujiu dan passport suda dikirim ke alamat saya. Di sana juga disertakan kode khusus agar saya bisa menelusuri perjalanan passport saya sehingga memudahkan saya menjemputnya di kantor pos terdekat. Prosesnya memang sedikit rumit tetapi semuanya jelas dan pasti. Ada jaminan bahwa semua tahap bisa dipercaya. Itu yang penting.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

One thought on “Berlin 2013: The Visa”

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s