Berlin 2013: telur setengah matang


Cerita ini bagian dari Berlin 2013

Tanggal 7 Maret saya meninggalkan Berlin menuju tanah air. Siang menjelang sore itu saya mengajak Ayu makan siang terakhir. Meskipun hampir seminggu tinggal bersama, kami jarang sekali bertemu karena kesibukan masing-masing. Saya ingin menyampaikan terima kasih saya yang tulus di hari terakhir. Saya sudah berjanji mengajak Ayu makan siang dan kali ini saya yang akan mentraktir. Dibandingkan segala kebaikan Ayu yang telah menyediakan tempat tinggal dan sarapan sehat setiap hari, traktiran itu adalah hal minimal yang bisa saya lakukan. Kami makan di sebuah restoran sushi.

Karena saya minta, Ayu menceritakan pengalaman hidupnya yang penting selama berada di Berlin. Saya tertegun mendengarkan ceritanya yang penuh perjuangan dan mengharukan. Singkat kata, kisah seorang perempuan muda tamatan SMA yang ‘nekat’ sekolah ke Jerman meninggalkan orang tua di Bali dan selanjutnya berhasil meneyelesaikan tidak saja S1 tetapi S2 tentulah inspiratif. Dari sekian banyak cerita Ayu yang jika dikumpulkan bisa menjadi buku tebal, saya terkesan satu cerita.

Ayu pernah bekerja paruh waktu selama sekolah dulu. Salah satu pekerjaannya adalah menjadi karyawan di hotel. Bekerja di dunia hospitality memerlukan ketangguhan karena menghadapi orang-orang sensitif dan memiliki tuntutan tinggi. Ayu bercerita, dia bekerja di bawah tekanan tetapi tidak memiliki pilihan lain karena memang membutuhkan pekerjaan itu. Suatu hari dia melayani tamu yang memesan sebuah telur setengah matang. Karena baru saja bekerja dan masih dalam tahap belajar dalam melakukan tugasnya Ayu melakukan kesalahan. Telur yang disuguhkannya kepada tamu ternyata tidak setengah matang tetapi matang sempurna. Begitu diterima dan dimakan oleh sang tamu, Ayupun mendapat komplain yang keras. Tidak berakhir di sana, Ayu juga mendapat teguran keras dan kemarahan dari bosnya. Sesungguhnya bisa dimengerti karena tamu memang tidak peduli apakah seseorang sedang belajar atau sudah professional. Yang mereka tahu adalah mereka sudah membayar mahal dan merasa berhak mendapat layanan terbaik tanpa kesalahan.

Saya bisa merasakan kesedihan dan bahkan kemarahan Ayu ketika kejadian itu terjadi. Saya pun pernah bekerja di restoran Thailand di Australia dan berbagai pengalaman pahit terjadi. Di saat itulah ego kita sebagai manusia benar-benar diuji. Saya bisa membayangkan, Ayu, seperti juga saya, pasti mengorbankan segudang ego ketika mau melakukan pekerjaan di restoran atau di hotel. Insiden-insiden yang terjadi memang bisa membuat kegelisahan memuncak dan ego tersentuh hebat. Tidak heran jika itu menimbulkan kemarahan dan kekesalan yang teramat sangat.

Insiden hari itu membuat Ayu merenung dan belajar. Satu hal yang dipikirkannya hal itu itu terjadi adalah dia membayangkan dirinya akan ada pada posisi tamu itu. Suatu saat, demikian keyakinan Ayu saat itu, dia akan berada di posisi tamu itu dan dia akan membuktikan sesuatu, entah apa itu. Yang pasti, kegagalan hari itu telah membuat Ayu bertekad untuk memperbaiki diri dan membuktikan sesuatu kelak di kemudian hari.

Singkat cerita, saat saya temui Ayu bulan Maret 2013 lalu, dia berstatus sudah lulus S2 dan menunggu wisuda, sudah juga bekerja di sebuah perusahaan real estate di Berlin, pernah bekerja di Frankfurt dan pernah mengenyam pendidikan di Finlandia. Ayu telah bisa memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri di Berlin dan menjadi orang pertama di angkatannya dari Indonesia yang berhasil menyelesaikan S2, itupun dilakukan sambil bekerja. Di kantornya sekarang, Ayu adalah satu-satunya orang Asia dan seringkali dia menjadi satu-satunya perempuan dalam berbagai pertemuan. Ayu kadang setengah tidak percaya dia telah mencapai semua itu. Sementara itu saya menyimak takzim setiap penggal ceritanya yang inspiratif.

Sebagai orang yang bekerja di sektor real estate, Ayu berkesempatan bertemu banyak orang dan menikmati berbagai fasilitas termasuk hotel. Pada suatu hari, ketika makan di sebuah hotel, Ayu memesan sebuah telur setengah matang. Entah apa yang menggerakkannya dia melakukan pemesanan itu tanpa ada agenda apapun. Ketika telur itu datang dan dibuka, ternyata telur itu tidak setengah matang tetapi matang sempurna. Seketika ingatannya melayang ke beberapa tahun silam. Tiba-tiba saja dia seperti melihat dirinya sedang menyerahkan telur kepada seorang tamu dan telur itu salah. Tuhan membuktikan sesuatu dalam waktu yang teramat singkat. Masih jelas dalam ingatan Ayu bahwa dia akan membuktikan sesuatu kelak, kini Tuhan telah menuntunnya menunjukkan pembuktian itu.

Rekan kerja Ayu menyadari apa yang terjadi bahwa Ayu tidak mendapatkan sesuai dengan yang dipesannya. Tentu saja wajar jika Ayu protes dan meminta penggantian sesuai dengan pesanan. Teman-temannya pasti juga sepakat. Di situlah sebenarnya Ayu bisa menunjukkan kekuatannya untuk membalas perlakuan yang diterimanya beberapa tahun silam. Seperti keyakinannya, kini dia berada di posisi seperti tamunya beberapa tahun lalu. Dia bisa marah dan bisa menunjukkan kuasanya sebagai seorang tamu.

Ayupun mengambil keputusan. Dia memilih untuk tidak komplain dan menikmati telur itu dengan penuh kesadaran. Meski telur itu tidak seenak yang diharapkannya, Ayu telah merasa memenangkan sebuah perang penting dalam dirinya. Dia telah berhasil menguasai egonya dan berhasil mengambil tindakan dengan sebuah empati, menempatkan dirinya pada posisi orang lain. Ayu tahu benar rasanya dimarahi, gugup dan menjadi terhina beberapa tahun lalu. Kini dia membuktikan bahwa dia mampu menyelesaikan masalah tanpa harus membuat sesorang merasa terhina dan sakit hati. Seperti kata Gandhi, ahimsa atau non-violence adalah tidak memukul dengan sadar ketika sebenarnya kita memiliki kemampuan dan kesempatan untuk memukul. Sebaliknya, jika seseorang tidak memukul karena memang dia takut, bukan karena kesadaran, maka itu bukanlah ahimsa melainkan tindakan pengecut. Ayu telah menunjukkan ajaran Ahimsa dengan sangat baik. Sore itu, saya telah mendapat pelajaran berharga dari sebuah telur setengah matang. Tuhan memberi peringatan lewat kisah yang disampaikan Ayu di restoran sushi di Berlin sore itu.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

4 thoughts on “Berlin 2013: telur setengah matang”

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s