Let’s visit CERN Lab for FREE!

If you are a big fan of particle physics, you might want to visit the CERN Laboratory in Geneva, Switzerland. Have you been there? If not, you may want to visit the lab virtually before paying a real visit next time. Thanks to Google Street View, now you can visit CERN Lab. anytime you want without appointment. You do not have to put any safety equipment/uniform either. Enjoy!

Sugianto

Gambar dari http://djinar.wordpress.com

“Bupati Tabanan, Sugianto, …” demikianlah kumandang berita radio hampir setiap sore di tahun 1980an. Saya sampai menghafalnya dan bahkan rasa-rasanya kata Sugianto yang paling tepat diucapkan setelah frase “Bupati Tabanan”. Rekaman seorang anak kecil memang kuat. Sugianto adalah Bupati Tabanan pertama yang saya kenal sejak mengerti Bahasa Indonesia.

Tidak ada yang aneh ketika Tabanan dengan masyarakat mayoritas pemeluk Hindu memiliki Bupati orang Jawa yang Islam. Saya bahkan tidak ingat ada orang yang membicarakan agama atau suku ketika itu. Paruman di banjar, kelakar di warung-warung atau kumpulan lelaki dewasa menyabung ayam di pempatan jalan saban sore tidak pernah dihiasi pembicaraan tentang agama. Pak Sugianto tidak dipertanyakan keimanannya, tidak digugat keberpihakannya pada masyarakat Tabanan yang mayoritas Hindu. Di Banjar Pengembungan tempat kelahiran saya, yang 100% penduduknya Hindu, tidak pernah sekalipun terdengar bisik-bisik soal agama Pak Bupati yang berbeda.

Continue reading “Sugianto”

Ketika Anies Baswedan Turun Tangan

Gambar di pinjam dari http://twitpic.com/b4xoka

Saya merasa mengenal Anies Baswedan tetapi yakin bahwa Mas Anies tidak kenal saya. Saya menggunakan istilah Mas semata-mata karena usia kami tidak terpaut jauh dan merasa bahwa beliau mewakili kaum muda. Meskipun pernah beberapa kali berkirim email dan bertegur sapa lewat twitter, saya adalah satu dari sekian ratus ribu orang. Tentu tidak istimewa. Namun bagi saya, seorang Anies Baswedan adalah keistimewaan. Itulah alasan saya menuliskan ini.

Saya mendengar nama Anies Baswedan pertama kali pada tahun 2008 ketika dia dinobatkan oleh Majalah Foreign Policy sebagai satu dari 100 tokoh intelektual dunia. Sebagai anak muda, saya bangga ada orang Indonesia muda yang menyandang predikat bergengsi itu. Sejak itulah, saya mulai mempelajari sepak terjangnya lewat dunia maya. Karena predikat bergengsi itu, tidak sulit mendapatkan informasi tentang Anies dari media massa. Saya mulai menyimak pemberitaannya dan menonton videonya di Youtube. Fakta bahwa Mas Anies telah menjadi rektor di usia 38 tahun adalah keistimewaan tersendiri, lepas dari segala kontroversi yang menyertai perhelatan itu. Banyak tulisan yang telah membahas ini.

Kini Mas Anies mengikuti Konvensi Partai Demokrat untuk menjaring calon presiden. Wacana Anies Baswedan menjadi calon presiden untuk pertama kali saya dengar ketika beliau diwawancarai oleh BBC tahun 2010. Dengan agak nakal tapi cerdas pewawancara yang cantik dari BBC bertanya apakah Anies adalah kandidat presiden Indonesia. Anies dengan tegas menjawab bahwa dia bukan kandidat presiden dan ingin memfokuskan diri di dunia pendidikan. Di akhir acara, pewawancara kembali bertanya setengah ‘memojokkan’ dan Anies dengan cerdas menjawab “kita lihat saja nanti”.

Continue reading “Ketika Anies Baswedan Turun Tangan”

Idul Fitri Tahun Ini, Aku Ingin Pulang

Ibu, aku ingin pulang. Aku ingin pulang menemuimu lagi seperti tahun lalu. Alasanku hanya satu: aku rindu. Aku merindukan aroma pagi yang basah oleh embun dan tunduk oleh dingin kabut saat subuh. Aku merindukan teriakanmu yang dulu salah kupahami ketika menarik selimutku dan mengancamku untuk bersujud pada Sang Khaliq. Aku rindu gigil pagi saat dingin air tanah menampar wajahku yang ragu-ragu berbasuh wudhu. Aku rindu Ibu.

mubarak

Puasaku tahun ini aku niatkan untuk berserah diri tapi sejatinya ada pintaku. Aku ingin lewatkan Ramadhan untuk bersegera menemuimu. Padamu aku menemukan kasih Tuhan yang mengejawantah dalam pikir, kata dan laku. Aku tak pintar mencerna ayat-ayat suci, engkau tahu itu tapi aku tak pernah dirundung ragu akan keEsaan-Nya. Ada penegasan tentang Sang Keberadaan, tidak saja dari sentuhan hangatmu, tetapi juga dari kepedulian yang kau sembunyikan dalam kemarahanmu. Aku merindukan kemarahanmu, seperti ketika aku kecil saat menduga bahwa merafalkan ayat-ayat suci adalah siksaan di fajar buta. Aku terlambat Ibu, tapi aku menyadarinya kini.

Continue reading “Idul Fitri Tahun Ini, Aku Ingin Pulang”

Belajar Public Speaking ala Marty Natalegawa

Saya pernah menulis tips dan trik untuk menjadi pembicara publik atau public speaker, di blog ini. Saya memang bukan pembicara publik professional tetapi punya sedikit pengalaman dan tips yang saya berikan berdasarkan pengalaman itu. Selain dari pengalaman sendiri, saya juga menuliskan hasil pengamatan saya terhadap pembicara publik lain yang menurut saya menarik. Saya pernah menulis rangkaian tips, memberikan contoh presentasi dan juga pernah mengajak pembaca belajar dari pidato Agus Yudhoyono. Kali ini saya ingin mengajak pembaca sama-sama menikmati dan belajar public speaking dari seorang diplomat senior Indonesia: Dr. Marty Natalegawa. Ada beberapa hal dari dari Pak Marty yang masih terus saya pelajari sampai kini.

Continue reading “Belajar Public Speaking ala Marty Natalegawa”

Mengakui Kebaikan, Menandai Kesalahan

kafka-kecilPagi itu saya sedang mengantri di kantor post Kingsford, Sydney untuk mengambil paket kiriman. Rumah sedang kosong ketika paket itu diantar ke rumah sehingga saya mendapat pesan untuk mengambilnya di kantor pos. Tepat ketika saya maju karena tiba giliran untuk dilayani, seorang lelaki berusia senja menepuk bahu saya dan dia meminta dilayani lebih dulu. Hal ini tidak biasa terjadi di Australia karena umumnya orang-orang mengantri dengan tertib. Tidak terbiasa dengan kejadian demikian, saya terperangah bengong. Tidak hanya saya, petugas kantor pos juga terlihat terkejut. Secara spontan perempuan muda, petugas itu, hendak mengingatkan si bapak tua untuk membiarkan saya dilayani terlebih dahulu. Melihat itu, saya memberi isyarat agar lelaki itu dilayani duluan. “It’s okay!” kata saya tersenyum untuk meyakinkan bahwa saya tidak apa-apa. Dari gaya bicaranya, saya duga lelaki tua itu seorang imigran. Dari wajahnya, kemungkinan besar dia berasal dari dari Eropa Timur.

Continue reading “Mengakui Kebaikan, Menandai Kesalahan”

Gelar Kehormatan untuk Marty Natalegawa

Foto oleh Jerico Pardosi
Dr. Marty Natalegawa, foto oleh Jerico Pardosi

Tidak biasanya saya mengenakan setelan jas saat berada di Australia. Negeri ini penuh dengan suasana informal dalam hal penampilan, terutama untuk mereka yang berstatus mahasiswa seperti saya. Makanya, mengenakan jas adalah keistimewaan. Jika bukan karena menghadiri acara penting, mungkin jas itu tidak akan menjalankan tugasnya hari ini. Pagi-pagi sekitar jam 10, saya sudah melaju dengan kereta dari Central Station menuju Macquarie University, Sydney. Hari ini istimewa, Macquarie University akan menganugerahkan gelar doktor kehormatan di bidang sastra (Dr Honoris Kausa) kepada Dr. Marty Natalegawa, Menteri Luar Negeri Indonesia. Saya ingin menyaksikan sejarah itu.

Continue reading “Gelar Kehormatan untuk Marty Natalegawa”

Diplomasi Sopir Taxi

Saya memesan taxi untuk berangkat dari Orchard Hotel di Singapura menuju penginapan lain tidak jauh dari Bandara Changi. Sadar tidak paham lingkungan di Singapura, saya menggunakan Google Maps untuk penunjuk arah. Meskipun naik taxi, saya ingin tahu waktu tempuh dan rute perjalanan. Ketika memasuki taxi, saya jelaskan tujuan saya dengan alamat dilengkapi nama dan nomor jalan. Pak sopir lalu menanyakan daerah yang ingin saya tuju. Saya paham, bagi orang lokal, akan lebih baik diberitahu nama daerah atau kawasan, tidak sekedar nama jalan dan nomornya. Dengan Google Maps yang sudah disimpan sebelumnya saya memberitahu sang sopir. Kamipun melaju.

Di tengah jalan beberapa kali pak sopir bertanya rute yang ingin saya lewati. Di satu persimpangan, misalnya, dia bertanya apakah saya ingin lurus atau lewat kiri dengan memberi pertimbangan untung ruginya. Saya kira ini sikap yang baik. Saya pun manut saja, yang penting cepat. Meski demikian, saya tetap melihat peta navigasi di iPad.

Semua berjalan baik-baik saja hingga kami tiba di satu persimpangan. Saya lihat peta di iPad menyarankan belok kiri tetapi rupanya pak sopir hendak lurus. Saya dengan santai bilang “according to the map, we can turn left here”. Dia langsung menjawab, kalau ke kiri akan macet dan justru lebih lama. Mendengar itu, saya paham dan tidak memaksa “Oh okay, no problem” kata saya dengan santai. Dia berusaha menjelaskan situasi lalu lintas di Singapura dan saya tentu paham. Tiba-tiba dengan nada yang tidak seramah tadi, dia tanya “do you want to turn left?” Saya segera jawab “no, I am just saying. Please continue. No problem.” Entah bagaimana ceritanya, dia tidak berhenti di situ dan tetap berbicara yang menurut saya terdengar seperti membela diri secara berlebihan. Saya duga, dia mengira saya memaksa dia lewat kiri sementara dia sudah terlanjur memilih jalur lurus. Lebih jauh lagi, suaranya tiba-tiba agak naik, mengatakan bahwa kalau saya ingin belok kiri, harusnya saya mengatakan dari awal, tidak tiba-tiba di persimpangan. Untuk kalimat yang terakhir ini saya maklum, rupanya dia salah paham dengan pernyataan saya. Sadar akan hal ini saya hanya bilang “oh okay, no worries”. Saya ingin menenangkan suasana dan menghindari perdebatan yang tidak penting.

Di luar dugaan, sopir ini tidak menyudahi di situ, dia tetap berbicara banyak, menjelaskan hal-hal yang tidak perlu dan tidak ingin saya ketahui. Yang lebih menyedihkan, nada bicaranya tinggi dan cenderung menyalahkan. Ada kesan bahwa dia yang tahu Singapura dan saya tidak begitu paham. Tentu saja itu benar karena dia seorang sopir taxi di Singapura dan saya hanyalah penumpang asing. Saya memilih untuk diam saja, menahan emosi yang mulai naik juga. Tidak elok berdiplomasi dengan seorang sopir taxi untuk hal-hal yang tidak akan membuat perjalanan saya jadi lebih cepat. Kamipun terdiam agak lama.

Saya berusaha mencairkan suasana dengan bertanya hal-hal lain. Saya tanyakan populasi Singapura untuk sekedar berbasa-basi. Saya terkejut bukan kepalang ketika dijawab dengan ketus nada tinggi “six millions”. Dalam hati saya tersenyum geli melihat polah sopir taxi ini tapi saya hanya mengiyakan. Saya tidak paham mengapa hal kecil itu bisa membuat dia sedemikian emosi begitu lama. Lebih parah lagi, dia mulai melaju kencang dan kasar karena sering harus ngerem mendadak di jalanan Singapura yang tidak lengang. Saya mulai tidak nyaman tetapi berusaha menahan diri agar tidak terjadi interaksi yang lebih tegang.

Suatu ketika, saya mendengar ada peringatan dari GPSnya bahwa taxi itu melaju terlalu cepat, melebihi kecepatan yang diizinkan. Saya mulai merasa tidak nyaman dan khawatir dengan keselamatan. Gerakan mobil itu terasa kasar dan grasa grusu. Saya masih diam sambil menyiapkan strategi komunikasi terbaik. Belum sampat saya berkata apa-apa, peringatan yang sama terdengar lagi dari GPS. Dengan spontan saya berkata “I think you are too fast” dan disambut dengan suara tinggi oleh pak sopir “you think 60 is too fast? What do you want? 40? It will be very slow. When will we arrive there?” Jawaban itu terus terang membuat emosi saya naik drastis. “I don’t know the rule here, Man but the GPS said that we are too fast. That’s it!” Tidak mau kalah, dia lalu bilang “there is something wrong with the GPS. The speed is only 60. It is not too fast. What do you want? 40?” lagi-lagi dia mengulang ucapannya. “Sorry I don’t know that your GPS is broken. That is what I heard and I can feel that you are too fast. Slow down a little bit” kata saya masih berusaha tenang meskipun suara saya pastilah mulai bergetar. “No, the GPS is broken” katanya masih dengan nada tinggi.

Belum lagi kami selesai berargumen, GPS mengeluarkan peringatan yang sama bahwa kami melebihi kecepatan yang diizinkan. Di situlah saya mulai kehilangan kendali kesabaran dan saya pun berteriak. “Hey, Man! You are too fast and I know that. I am not stupid. Slow down!” mendengar saya berteriak rupanya dia sedikit terkejut karena tidak menduga saya berani melakukan itu. Tapi karena terlanjur merasa di atas dari tadi, dia tidak berubah sikap. Dia tetap membela diri bahwa itu tidak terlalu cepat. Saya sudah lupa dengan segala sopan santun dan berteriak “Hey, you shut up!” tapi dia masih berucap walaupun kini dengan nada suara yang sudah agak turun. Tanpa ampun saya mengulang lagi, kali ini lebih keras dan kasar “You ******* shut up!” sambil menunjuk wajahnya dari belakang. Seketika dia tercekat dan diam. Saya melanjutkan dengan emosi yang masih menyala “I am a customer here and you are providing me with service. You know that! My concern is my safety. I don’t care your GPS is broken or not, when I say slow down you ******* slow down, OK! Who do you think you are man?! I have been very patient to listen to your lecture along the way. I could feel that you underestimated me, right?! You are wrong, Man! I know I am not from here. I am from Indonesia but I know the law and you don’t play with me, Man!” Saya bicara dengan nada sangat tinggi dan itu membuatnya terkejut luar biasa. Dengan spontan dia bilang “sorry Sir” sambil gemetar, meskipun terdengar tidak ikhlas. “What is your name?” kata saya dengan nada mengancam. Diapun menyebut satu kata dan saya tidak puas dengan itu “tell me your full name!!!” dan diapun menyebutkan nama lengkapnya. Dengan nada khawatir dia bertanya “what for Sir?” Kali ini saya ingin memberinya pelajaran kecil “you know what for. I can call your company and you don’t have to wait until tomorrow, you will lose your job tonight!” Saya bisa melihat wajahnya pucat dan kemudian berkali-kali minta maaf “I am really sorry Sir” katanya berulang-ulang, kali ini dengan nada yang memelas.

Diam-diam saya mulai kasihan pada lelaki malang itu. Meski demikian emosi saya belum reda dalam waktu yang sesingkat itu. Giliran saya memberi kuliah padanya. Saya ungkapkan semua kejadian tadi dan saya sadar betapa angkuhnya dia menanggapi saya. Saya juga tahu dia telah meremehkan saya. Saya tanya “is it because you know that I am a foreigner so you treat me that way? If this is the case and this can be very long because I will not stop it here!” Mendengar itu dia semakin takut “no Sir. I didn’t mean that. I am really sorry Sir. It was my mistake. I apologise, really!” kata-katanya memelas, sirna sudah keangkuhan yang tadi dipamerkannya. Mendengar itu, amarah saya mereda. Pelan-pelan saya menyadari situasi dan berusaha mengusir emosi. “You know what ***?!” kata saya dengan nada lebih tenang. “Yes Sir?” jawabnya santun. “I like this country because you provide friendly environment and respect foreigners like me. And what you just did does not at all reflect that. That is why I was so upset. I hope you understand that.” “Yes Sir, once again I am sorry Sir” katanya dengan nada halus dan santun. Sayapun memilih untuk diam menenangkan diri.

Mendekati tujuan, dia bertanya dengan sopan dan takut-takut karena dia ternyata tidak tahu persis alamat yang kami tuju. Memang tidak mudah menemukan nomor gedung di saat gelap seperti itu. Saya hanya bilang “just go straight, I will tell you.” Saya memang aktifkan Google Maps Navigation sehingga bisa tahu persis tujuan saya. Kamipun sampai di tempat yang saya tuju. Pak sopir kembali minta maaf dengan tulus dan kali ini saya tanggapi dengan tulus juga “that’s Ok, no worries. No problem between us, ***” Tidak berhenti di sana, saya merasa tidak tega membuat hatinya gundah gulana. Dia pasti masih sangat khawatir kalau-kalau saya akan menelpon perusahaannya atau melakukan tindakan hukum. Saya berkata “I know that I was also angry and impolite yelling at you but you know the reason.” “Yes, Sir, I understand” katanya. Saya lanjutkan, “I will not prolong this case, don’t worry. I also apologise for what I have said to you. I realise it was not appropriate”. Mendengar itu dia berkata “no, Sir, that’s fine. I am sorry once again.” Saya menjabat tangannya saat keluar dari taxi.

Saat taxi itu melaju saya dihinggapi rasa lega. Lega karena telah menggagalkan sebuah penindasan oleh satu manusia terhadap manusia lainnya. Terlebih lagi, lega karena saya telah meminta maaf dengan tulus kepada seorang asing yang perasaannya mungkin saya lukai.

PS. Kejadian di atas murni insiden antara sopir taxi dan penumpangnya, tidak terkait hubungan antarnegara, apalagi nasionalisme 🙂 Komentar sebaiknya fokus pada insiden tanpa membawa-bawa nama negara 😉

Gara-gara nyetir

Jika kita membayangkan seseorang berdiri di depan ribuan orang lainnya dan memukau hadirin dengan gagasannya, umumnya kita membayangkan orang itu begitu hebat. Wajar jika kita menduga orang itu telah melakukan sesuatu yang besar dan hebat sehingga layak didengarkan, layak dikagumi bahkan layak dipuji. Jika orang itu kemudian mendapat tepuk tangan yang riuh, kita akan semakin yakin gagasannya pastilah baru, penting dan menggugah. Tapi pernahkan Anda membayangkan kalau seseorang bisa dipuja di atas sebuah pentas bergengsi, diakui kecemerlangannya hanya gara-gara dia nyetir mobil di tahun 2013? Lihatlah video ini, mungkin Anda akan setuju mengapa orang tersebut hebat sekali.

Manal Al-Sharif adalah perempuan Arab Saudi. Dia melakukan sebuah revolusi sosial di negaranya. Bukan dengan cara menurunkan penguasa yang tiran atau mengungkap korupsi yang parah. Manal melakukan revolusi dengan nekat nyetir mobil. Mengapa nyetir mobil bisa menjadi sebuah revolusi hebat? Karena di Arab Saudi, perempuan memang tidak boleh nyetir. Di luar segala hal-hal hebat terkait transformasi sosial yang begitu berharga dari cerita ini, saya menarik satu pelajaran penting. Untuk menjadi seorang pahlawan kita tidak harus melakukan hal-hal besar menurut orang lain atau pihak luar. Kepahlawanan bisa saja ditandai oleh sebuah tindakan yang kecil atau biasa menurut orang lain tetapi penting jika dilihat dari kacamata sendiri dan lingkungan terdekat. Yang terpenting ternyata bukanlah apa yang dilakukan tetapi seberapa besar dampak tidakan itu bagi lingkungan. Di negara tertentu, belum bisa nyetir di usia 18 tahun adalah keanenan, sementara di belahan dunia lainnya, berani nyetir bisa jadi tanda revolusi. Pada prinsipnya, sesuatu yang baik itu tidak harus terlihat rumit. Something good does not have to look difficult.

Birahi

http://desamenyali.blogspot.com.

Made Kondang diam saja ketika Klian Banjar memberi perintah. Ada pertanyaan dalam hatinya tetapi tidak diungkapkannya karena alasan etika. Tidak elok mempertanyakan, apalagi membantah perintah Klian Banjar.

“Pastikan semua petani yang membajak sawah, mulai hari ini, tidak menggunakan sapi betina.” Klian Banjar mengulangi sekali lagi perintah yang sebenarnya sudah cukup jelas bagi Kondang.
“Ya, Pak Klian” jawab Kondang lirih.
“Saya tidak mau lagi melihat ada yang menggunakan sapi betina seperti yang sudah-sudah. Sangat tidak elok!” sambung Pak Klian seperti gusar.

Continue reading “Birahi”