Gara-gara nyetir

Jika kita membayangkan seseorang berdiri di depan ribuan orang lainnya dan memukau hadirin dengan gagasannya, umumnya kita membayangkan orang itu begitu hebat. Wajar jika kita menduga orang itu telah melakukan sesuatu yang besar dan hebat sehingga layak didengarkan, layak dikagumi bahkan layak dipuji. Jika orang itu kemudian mendapat tepuk tangan yang riuh, kita akan semakin yakin gagasannya pastilah baru, penting dan menggugah. Tapi pernahkan Anda membayangkan kalau seseorang bisa dipuja di atas sebuah pentas bergengsi, diakui kecemerlangannya hanya gara-gara dia nyetir mobil di tahun 2013? Lihatlah video ini, mungkin Anda akan setuju mengapa orang tersebut hebat sekali.

Manal Al-Sharif adalah perempuan Arab Saudi. Dia melakukan sebuah revolusi sosial di negaranya. Bukan dengan cara menurunkan penguasa yang tiran atau mengungkap korupsi yang parah. Manal melakukan revolusi dengan nekat nyetir mobil. Mengapa nyetir mobil bisa menjadi sebuah revolusi hebat? Karena di Arab Saudi, perempuan memang tidak boleh nyetir. Di luar segala hal-hal hebat terkait transformasi sosial yang begitu berharga dari cerita ini, saya menarik satu pelajaran penting. Untuk menjadi seorang pahlawan kita tidak harus melakukan hal-hal besar menurut orang lain atau pihak luar. Kepahlawanan bisa saja ditandai oleh sebuah tindakan yang kecil atau biasa menurut orang lain tetapi penting jika dilihat dari kacamata sendiri dan lingkungan terdekat. Yang terpenting ternyata bukanlah apa yang dilakukan tetapi seberapa besar dampak tidakan itu bagi lingkungan. Di negara tertentu, belum bisa nyetir di usia 18 tahun adalah keanenan, sementara di belahan dunia lainnya, berani nyetir bisa jadi tanda revolusi. Pada prinsipnya, sesuatu yang baik itu tidak harus terlihat rumit. Something good does not have to look difficult.