Ketika Anies Baswedan Turun Tangan


Gambar di pinjam dari http://twitpic.com/b4xoka

Saya merasa mengenal Anies Baswedan tetapi yakin bahwa Mas Anies tidak kenal saya. Saya menggunakan istilah Mas semata-mata karena usia kami tidak terpaut jauh dan merasa bahwa beliau mewakili kaum muda. Meskipun pernah beberapa kali berkirim email dan bertegur sapa lewat twitter, saya adalah satu dari sekian ratus ribu orang. Tentu tidak istimewa. Namun bagi saya, seorang Anies Baswedan adalah keistimewaan. Itulah alasan saya menuliskan ini.

Saya mendengar nama Anies Baswedan pertama kali pada tahun 2008 ketika dia dinobatkan oleh Majalah Foreign Policy sebagai satu dari 100 tokoh intelektual dunia. Sebagai anak muda, saya bangga ada orang Indonesia muda yang menyandang predikat bergengsi itu. Sejak itulah, saya mulai mempelajari sepak terjangnya lewat dunia maya. Karena predikat bergengsi itu, tidak sulit mendapatkan informasi tentang Anies dari media massa. Saya mulai menyimak pemberitaannya dan menonton videonya di Youtube. Fakta bahwa Mas Anies telah menjadi rektor di usia 38 tahun adalah keistimewaan tersendiri, lepas dari segala kontroversi yang menyertai perhelatan itu. Banyak tulisan yang telah membahas ini.

Kini Mas Anies mengikuti Konvensi Partai Demokrat untuk menjaring calon presiden. Wacana Anies Baswedan menjadi calon presiden untuk pertama kali saya dengar ketika beliau diwawancarai oleh BBC tahun 2010. Dengan agak nakal tapi cerdas pewawancara yang cantik dari BBC bertanya apakah Anies adalah kandidat presiden Indonesia. Anies dengan tegas menjawab bahwa dia bukan kandidat presiden dan ingin memfokuskan diri di dunia pendidikan. Di akhir acara, pewawancara kembali bertanya setengah ‘memojokkan’ dan Anies dengan cerdas menjawab “kita lihat saja nanti”.

Ketika saya lihat video itu pertama kali, saya belum banyak melihat tokoh muda Indonesia yang bisa berekspresi secerdas Anies, terutama dengan Bahasa Inggris yang baik. Saya yang menyukai retorika dan ekspresi oral langsung jatuh cinta pada gaya komunikasinya. Inilah yang dibutuhkan Indonesia, saya pikir. Indonesia membutuhkan orang yang optimis akan perjalanan dan proyeksi Indonesia di masa depan, paham kesulitan dalam mewujudkan proyeksi itu serta mau bekerja berkeringat dalam merealisasikannya. Saya rasa Anies termasuk dalam deretan orang-orang yang demikian.

Di hari-hari setelah ‘perkenalan’ saya dengan Mas Anies, saya menyimak gebrakan-gebrakan yang dilakukannya seperti Gerakan Indonesia Mengajar. Tidak perlu saya bahas di sini karena sudah begitu banyak berita tentang Indonesia Mengajar. Yang menjadikannya istimewa adalah gerakan ini berhasil mengetuk hati anak-anak muda terbaik Indonesia untuk menjadi guru di SD-SD terpencil di Indonesia selama satu tahun. Seperti yang ditegaskan oleh Mas Anies, Gerakan Indonesia Mengajar tidak hendak menyelesaikan persoalan pendidikan tetapi menunjukkan satu peran nyata dan tidak hanya mengutuk berbagai persoalan pendidikan di Indonesia.

Esensi dari Gerakan Indonesia Mengajar adalah bahwa seorang Anies Baswedan menunjukkan satu sikap kepemimpinan yang menggerakkan. Dia percaya betul bahwa Indonesia memilki segudang masalah yang tidak mungkin diselesaikan satu orang maka yang diperlukan adalah kemampuan untuk menggerakkan orang untuk turun tangan. Gerakan Indonesia mengajar adalah salah satu bukti kepemimpinan yang menggerakkan itu. Ada lebih dari 7000 orang anak muda terbaik Indonesia yang berusaha keras memperebutkan sekitar 50an posisi menjadi Pengajar Muda untuk menjadi bagian dari proses pendidikan di Indonesia di kawasan-kawasan terpencil. Bagi saya, ini luar biasa karena kompetisi untuk bisa ‘berjuang dan menderita’ itu bahkan lebih ketat dibandingkan kompetisi untuk mendapatkan beasiswa S2/S3 di Australia setiap tahunnya. Tidakkah ini sebuah fenomena yang istimewa? Mengutip Mas Anies, fenomena ini menegaskan satu hal bahwa para ibu di tanah air Indonesia masih melahirkan pejuang.

Tahun 2011 saya bertemu seorang teman lama di Perth, Australia. Saya tidak akan sebut namanya di sini karena saya tidak sempat mohon izin beliau dan kemungkinan Anda, para pembaca, akan mengenalinya. Teman ini bercerita tentang Mas Anies. Meskipun dia setuju dengan sebagian besar kiprah seorang Anies Baswedan, dia menyampaikan satu ganjalan. “Anies selama ini ada di luar arena”, kata teman saya ini. “Jika dia memang peduli pada bangsa ini, seharusnya dia mengotori tangannya, terjun ke politik dan merasakan panas dinginnya dunia politik” katanya menambahkan. Dengan tegas teman ini menyayangkan karena Anies selama ini hanya menjadi warga negara yang baik dan peduli tetapi tidak memilih untuk terjun langsung memperbaiki keadaan bangsa sesuai dengan kapasitas yang dimilikinya. Meskipun saya selalu yakin bahwa untuk berperan pada bangsa ini, seseorang tidak harus terjun ke dunia politik, saya diam-diam setuju dengan apa yang dikatakan teman ini. Sejak itu, rasa penasaran saya makin tinggi dan beharap-harap cemas akankah seorang Anies Baswedan turun gunung mengotori tangannya untuk memperbaiki negara ini lewat jalur politik?

Setelah sekian lama mengikuti pemikirannya lewat media massa terutama tulisan dan media audio visual, akhirnya saya berkesempatan bertatap muka langsung dengan Mas Anies Baswedan. Tentu saja saya adalah satu titik kecil tak berarti di kerumunan ribuan orang yang juga menyaksikan pesonanya di Grha Sabha Pramana UGM ketika itu. Saya merasa bertemu Mas Anies tetapi beliau tentu saja tidak menyadari kehadiran saya di kerumunan itu. Saya ingin menyerap energi positif dan tertulari semangat bergerak, makanya saya ada di tempat itu bersama ribuan generasi yang jauh lebih muda dari saya. Hasrat dan kekaguman yang lama saya pendam coba saya kelola dengan baik dan perlakukan secara rasional. Anies hanya manusia biasa saja yang sarat akan sifat-sifat manusia maka saya berusaha untuk tidak membabi buta menilainya. Saya paham, saya pasti bias karena semua orang akan bias tetapi saya ingin bias dengan berbagai perspektif, bukan dengan satu pandangan saja.

Tulisan yang saya buat setelah ‘pertemuan’ dengan Mas Anies rupanya menarik perhatian beliau. Tanggal 20 Oktober 2012 saya mendapat email dari Mbak Irma Hutabarat, penyiar TVRI itu. Rupanya Mas Anies sempat meneruskan tautan tulisan saya ke Mbak Irma yang kemudian membaca dan mengapresiasinya. Sebuah tulisan kecil itu menghubungkan kami meskipun dalam interaksi yang tidak begitu intensif. Mas Anies bukanlah satu-satunya orang yang saya ulas di blog saya tetapi tulisan itu adalah salah satu yang menuai tanggapan yang begitu banyak. Tujuan saya hanya satu: mencoba menyebarkan energi positif tentang Indonesia dan berharap anak-anak muda Indonesia terinpirasi dengan sebuah karya nyata dari anak muda Indonesia lainnya.

Anies Baswedan adalah seorang yang percaya dengan pendidikan sebagai alat transformasi peradaban. Saya yang lahir di keluarga dengan ayah yang tidak lulus SD dan Ibu yang hanya lulus SD benar-benar memahami apa yang dimaksud Mas Anies. Agak mengerikan membayangkan pertumbungan kelas menengah (secara ekonomi) Indonesia yang cukup pesat jika tidak disertai dengan pendidikan yang memadai. Tulisan Renald Kasali yang berjudul “Dul”, dengan tepat menggambarkan kekhawatiran ini. Indonesia yang bergerak maju secara ekonomi akan melahirkan generasi-generasi yang tercukupi secara materi tetapi mengenaskan dalam hal pendidikan sehingga dengan mudah menjadi ‘diktator’ baru di masyarakat. Maka dari itu, konsentrasi Anies Baswedan pada pendidikan adalah kualitas pemimpin yang akan menjadi titik terang bagi Indonesia.

Sebagai orang Hindu yang minoritas dalam konteks agama di Indonesia, saya menyukai pandangan Mas Anies soal keberagaman. Bukan karena pembelaannya terhadap minoritas tetapi karena ketegasanya akan pandangan bahwa bangsa ini tidak dirancang untuk melindungi minoritas tidak juga mayoritas tetapi seluruh rakyat Indonesia. Dengan demikian, Anies Bawedan telah membuat kaum minoritas bernafas legas sekaligus tidak mengusik kemapanan perasaan kaum mayoritas. Dia degan tegas membedakan kapan seseorang harus diperlakukan sebagai umat beragama, kapan sebagai warga negara. Dalam menyikapi kerusuhan beraroma agama, Mas Anies dengan tegas mengatakan bahwa itu harus dilihat sebagai suatu tindakan perusakan oleh sebagian warga negara terhadap warga negara lainnya maka hukum harus ditegakkan dan mereka harus ditangkap dan diproses. Seorang Anies Baswedan tampil sebagai muslim yang baik dan berwawasan keagamaan yang mumpuni sekaligus memiliki sikap penghormatan yang selayaknya terhadap pemeluk agama lain. Inilah yang dibutuhkan di Indonesia yang majemuk. Indonesia tidak membutuhkan toleransi antaragama karena memang tidak ada yang salah atau aneh sehingga perlu ditoleransi. Yang diperlukan adalah pemahaman dan penghormatan di tengah keberagaman.

Saya memahami bahwa peran Indonesia di kancah dunia makin penting. Pemimpin Indonesia adalah seorang yang harus bisa duduk sejajar dengan Presiden Amerika di sebuah meja sambil berkelakar membicarakan nasib peradaban manusia. Indonesia adalah ekonomi nomor 16 di dunia dalam hal PDB/GDP, nomor 5 di Asia dan juara di Asia Tenggara. Pemimpinnya harus memiliki naluri dan kapasitas yang mencerminkan posisi Indonesia kini di percaturan politik dan ekonomi dunia. Saya membayangkan sebuah perdebatan di ruang sidang PBB di New York atau Geneva dan dihadiri oleh presiden dan perdana menteri sekitar 200 negara di dunia. Saya tidak ingin presiden saya terbengong-bengong tidak mengerti dan akhirnya tidak bisa menyuarakan pandangan penting dari negara berpenduduk seperempat miliar ini. Tidak penting siapa presidennya tetapi pemilih seperti saya harus paham hal ini dan memastikan bahwa presiden yang akan datang memenuhi syarat ini. Melihat cara pandang dan ekspersi Mas Anies tentang ekonomi dan politik dunia, rasanya saya rela menyerahkan mandat itu kepadanya untuk mewakili aspirasi seperempat miliar manusia Indonesia untuk mewarnai dunia.

Urusan presiden tentu saja tidak hanya di gedung PBB atau forum-forum internasional lainnya. Urusan presiden adalah soal seorang Ibu yang masih mengembara dari satu lampu merah ke lampu merah lainnya sambil menggendong bayinya yang kelaparan. Urusan presiden adalah soal seorang anak di desa terpencil yang tidak ada di peta, kelaparan dan tidak bisa sekolah. Urusan presiden Indonesia adalah seorang umat kepercayaan tertentu yang teraniaya di sebuah kecamatan kecil tanpa mampu menggerakkan aparat polisi untuk menghentikannya. Urusan presiden Indonesia tidak sederhana. Urusan itu terentang dari Sabang sampai Merauke, dari soal Ibu muda yang ditinggal suami dan tidak bisa membeli beras hingga memastikan keseimbangan perekonomian dunia lewat perhelatan G-20 yang mentereng. Maka Mas Anies benar, Indonesia memerlukan pemimpin yang memiliki pemahaman akar rumput yang baik (good grass root understanding) dan kapasitas international yang mumpuni (world class competence).

Terlalu pagi untuk menduga-duga bahwa Mas Anies Baswedan akan menjadi seorang presiden yang baik bagi Indonesia. Jalan masih panjang dan proses akan berjalan dengan berbagai tantangan. Untuk bisa menjadi kandidat presiden saja jelas tidak mudah. Persaingan dalam Konvensi Partai Demokrat jelas ketat dan terjal. Di sisi lain, jelas ada pandangan bahwa Konvensi Demokrat adalah sebuah jebakan yang akan menjadikan orang-orang seperti Mas Anies sebagai tumbal untuk meningkatkan citra partai. Bisa jadi demikian tapi Anies Baswedan memang layak memilih jalan ini. Kita tahu, calon presiden harus berasal dari partai politik, tidak boleh dari jalur independen sesuai amanat konstitusi kita. Partai Demokrat adalah yang terbuka memberi jalan secara formal dan Mas Anies mengambil kesempatan itu.

Lepas dari segala kemungkinan, satu hal yang saya patut teladani dari seorang Anies Baswedan adalah kesempatan dan panggilan untuk mengabdi pada negara harus diraih jika memang peduli. Menjawab keraguan seorang teman yang saya jumpai di Perth tahun 2011 silam, Mas Anies dengan tegas memilih jalan tidak mudah itu. Dia katakan, jika saja tepuk tangan dan sanjungan yang dia harapkan, dia tidak usah mengikuti konvensi ini karena dengan posisinya sekarang dia sudah menuai segala puja dan puji. Kesediaannya mengikuti Konvensi Partai Demokrat adalah wujud nyata kemauannya untuk turun tangan mengabdikan diri pada bangsanya. Mencari orang yang pintar berteori sangatlah mudah tetapi kemauan menjawab tantangan untuk terjun dan mengabdi membuktikan teori itu perlu keberanian. Memang tidak salah jika kita memilih untk menjadi warga negara yang baik, taat hukum, dan membayar pajak tepat waktu. Namun bagi seorang Anies Baswedan, ini belum cukup. Dia merasa perlu mengotori tangannya untuk memastikan bahwa warga negara yang taat hukum dan membayar pajak tepat waktu itu mendapatkan keadilan dari pajak yang dibayarkannya. Anies ingin turut serta menjaga dan memastikan kebaikan dan ketaatan warga negara itu tidak menjadi bahan bakar dan makanan empuk bagi keserakahan para punggawa negeri yang miskin integritas.

Dalam konteks lain, saya mengingat satu ajaran, bahwa data hendaknya kita olah menjadi informasi (information) sehingga berakumulasi menjadi pengetahuan (knowledge). Pengetahuan ini sebaiknya tidak berhenti menjadi pengetahuan tetapi harus bermanfaat. Untuk menjadikannya bermanfaat bagi masyarakat luas maka pengetahuan itu harus menjelma menjadi kebijakan (policy). Setelah menjadi kebijakan publik maka pengetahuan ini akan memengaruhi hidup orang banyak. Salah satu usaha menjadikan pengetahuan bermuara pada kebijakan adalah dengan menjadi bagian dari pembuat kebijakan. Saya duga, inilah yang mendasari Mas Anies ingin turun tangan, tidak hanya menjadi penonton dan komentator yang baik di pinggir lapangan.

Mudahkah itu? Tentu saja tidak. Yakinkah Anies akan bisa melakukanya? Sejujurnya, saya sendiri tidak berani menjamin dan tidak ada satupun yang seharusnya lancang menjamin hal yang belum terjadi dan rumit itu. Mas Anies adalah seorang intelektual yang dikenal di kalangan terdidik tetapi kurang dikenal di kalangan akar rumput yang tidak berpendidikan. Ibu Bapak saya jelas tidak akrab dengan nama Anies Baswedan dan beliau mewakili jutaan orang Indonesia, saya yakin. Ini adalah satu tantangan tersendiri bagi Anies jika benar-benar ingin menjadi presiden bagi seluruh rakyat Indonesia.

Perihal kedua, Anies belum pernah terjun langsung di pemerintahan. Dengan mudah orang akan melihat kekurangpengalaman Anies sebagai kelemahan. Anies tentu harus siap dengan kenyataan itu. Tidak saja siap menjawab keraguan dengan orasi berbunga-bunga tetapi dengan serius menyiapkan diri dan menghadirkan bukti berupa aksi. Aksi tentu akan berteriak jauh lebih nyaring dan lebih ‘bertaksu’ dibandingkan retorika berbunga-bunga yang kosong. Pengalaman organisasi Anies sejak muda dan keberhasilannya menjadi rektor yang tidak saja berhasil secara administratif tetapi juga inspiratif adalah salah satu bukti yang menguatkan. Yang terpenting, Mas Anies terbukti memiliki kapasitas kepemimpinan yang menggerakkan. Indonesia yang besar ini tidak bisa dikelola seorang superman. Indonesia harus dikelola bersama dan kebersamaan itu memerlukan inspirasi yang menggerakkan.

Perihal ketiga, Mas Anies bukan orang kaya. Setidaknya, beliau tidak cukup kaya jika politik memang hanya memberi ruang pada mereka yang berlimpah harta. Jika sebagian besar rakyat Indonesia masih mudah silau dan menggadaikan pilihannya pada lembaran ratusan ribu maka Mas Anies jelas tidak memiliki banyak harapan untuk menjadi pemimpin di Indonesia. Meski demikian, orang yang tidak kaya tetapi memiliki integritas, gagasan cemerlang dan harapan masa depan yang baik akan dipercaya oleh mereka yang rasional. Obama di Amerika tidak kaya ketika mencalonkan diri tetapi dia mendapat dukungan dana yang luar biasa dari akar rumput, dari masyarakat kelas bawah. Dengan donasi 10 atau 20 dolar dari jutaan masyarakat biasa maka Obama berhasil mengumpulkan jutaan dollar sumbangan. Dia pun membatasi sumbangan tidak boleh lebih besar dari 1000 dolar dari satu orang sehingga Obama tidak akan berhutang budi terlalu banyak pada satu orang. Ini dilakukan agar dia tidak tergantung dan didikte oleh satu pihak ketika menjabat nanti.

Orang-orang seperti Obama dan Anies Baswedan bisa mendapat kesempatan jika masyarakat sadar bahwa politik memerlukan biaya dan sebaiknya pembiayaan itu datang dari rakyat, bukan dari sekelompok elit masyarakat yang punya nafsu berkuasa dan mengendalikan. Jika menginginkan seorang presiden bisa tegas pada kelompok elit yang durjana maka jangan biarkan kelompok itu yang membiayai politik. Kitalah yang harus membiayai politik itu. Rakyat yang semestinya mengulurkan tangan, mengantar dan membiayai orang-orang baik menjadi pemimpin karena dengan begitu kita menjaganya tetap bersih. Dia akan terhindar dari tindasan sekelompok orang dan tidak akan bertekuk lutut pada siapapun yang durjana. Dia hanya akan ‘bertekuk lutut’ pada kita, pada rakyat biasa.

Anies Baswedan selalu percaya bahwa negeri ini didirikan bukan dengan cita-cita tetapi janji. Janji untuk melindungi, mencerdaskan, menyejahterakan dan menyediakan ruang bagi setiap warga negara untuk berperan dan mewarnai dunia. Bagi Anies, janji adalah sesuatu yang harus ditepati dan dilunasi. Yang terpenting, Mas Anies percaya bahwa pelunasan atas janji itu adalah urusan bersama, bukan urusan pemerintah semata. Mas Anies percaya pada kemampuannya dan yang lebih penting dia percaya pada kemampuan kita, rakyat Indonesia, untuk bisa melunasi janji untuk bangsa kita. Dengan keyakinan itu Mas Anies ingin turun tangan untuk turut serta melunasi janji-janji kemerdekaan Indonesia itu. Indonesia patut tersenyum jika perhelatan politik penting ini diramaikan oleh orang-orang muda berintegritas seperti Anies Baswedan. Pada akhirnya, tulisan ini bukanlah dukungan politik pada Aneis Baswedan dan saya tetap tidak berhak mengatakan kenal apalagi dikenal seorang Anies. Tulisan ini adalah ekspresi kepedulian dan kecintaan pada sebuah bangsa bernama Indonesia. Selamat berjuang Mas Anies.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

64 thoughts on “Ketika Anies Baswedan Turun Tangan”

  1. Tulisan yang cerdas bli. Saya juga mengagumi Mas Anies Baswedan. Salah satu kutipan Mas Anies yang saya suka ialah Indonesia perlu pemimpin yang menggerakkan seluruh elemen masyarakat, tidak dibatasi hanya dari kalangan pemerintahan, private sector, dan NGO. Namun, setiap masyarakat yang “telah naik kelas” harus membantu masyarakat yang belum mampu “naik kelas”.

    Saya telah lama membaca berbagai tulisan Anda Bli, saya juga harus mengakui bahwa Anda telah mampu melakukan apa yang telah Mas Anies sering katakan, walaupun beda konteks, yaitu “menghadirkan mimpi2 di ruang kelas”. Ini sering Mas Anies katakan saat bercerita tentang Indonesia Mengajar. Adapun Anda bli, memnag tidak dengan ambil bagian dalam Indonesia Mengajar, akan tetapi profesi Anda sebagai dosen dan berbagai cerita yang menginspirasi dalam blog Anda telah menumbuhkan semangat bagi masyarakat luas.

    Indonesia membutuhkan orang2 seperti Mas Anies dan Anda. Selalu menginspirasi… Saya berharap suatu saat bisa bertemu dengan Anda bli.

    1. Hello Sobat Erwin,

      Terima kasih atas komentar yang positif dan menyejukkan. Syukurlah Erwin melihat sisi positif dari tulisan saya dan merasa ada inspirasi di dalamnya. Saya akan senang sekali bisa ketemu suatu saat nanti. Jika saya sudah di Jogja, kontak saya jika sedang ada di Jogja ya 🙂

  2. Tulisan yang cerdas bli. Saya juga mengagumi Mas Anies Baswedan. Salah satu kutipan Mas Anies yang saya suka ialah Indonesia perlu pemimpin yang menggerakkan seluruh elemen masyarakat, tidak dibatasi hanya dari kalangan pemerintahan, private sector, dan NGO. Namun, setiap masyarakat yang “telah naik kelas” harus membantu masyarakat yang belum mampu “naik kelas”.

    Saya telah lama membaca berbagai tulisan Anda Bli, saya juga harus mengakui bahwa Anda telah mampu melakukan apa yang telah Mas Anies sering katakan, walaupun beda konteks, yaitu “menghadirkan mimpi2 di ruang kelas”. Ini sering Mas Anies katakan saat bercerita tentang Indonesia Mengajar. Adapun Anda bli, memnag tidak dengan ambil bagian dalam Indonesia Mengajar, akan tetapi profesi Anda sebagai dosen dan berbagai cerita yang menginspirasi dalam blog Anda telah menumbuhkan semangat bagi masyarakat luas.

    Indonesia membutuhkan orang2 seperti Mas Anies dan Anda. Selalu menginspirasi… Saya berharap suatu saat bisa bertemu dengan Anda bli.

  3. Matur suksma Pak Made atas tulisannya. 🙂
    Bagi saya, tulisan ini tidak hanya ‘menggiring’ kami memahami keberadaan seorang Pak Anies Baswedan, tapi juga (bagi saya) ‘mengajari’ bagaimana cara menyampaikan sebuah analisis dari sudut pandang yang unik dengan penyampaian yang baik.

    1. Hello Sofi,
      Terima kasih atas komentar Sofi yang sangat baik dan positif. Saya suka belajar dari orang baik. Mas Anies adalah salah satu guru virtual saya. Tidak sulit menulis hal baik tentang seseorang/sesuatu yang baik 🙂

  4. Indonesia butuh pemimpin yg bisa menumbuhkan optimisme dan bisa menggerakkan rakyatnya utk sama2 menyelesaikan masalah. Itu ada di Anies Baswedan dengan membawa gaya kepemimpinan baru “collaborative leadership”
    Gw pengen punya Presiden yang bisa gw banggain. Dan tahun depan gw pengen banget bisa bilang “Gw bangga punya presiden Anies Baswedan”

  5. Selama ini saya banyak belajar dari tulisan-tulisan Mas Andi, tentang bagaimana bertutur, membelajarkan tanpa menggurui, dan terutama tentang semangat menulis itu sendiri.
    Semoga suatu saat nanti bisa berkesempatan berbincang langsung dengan mas Andi.

    Senang sekali bisa membaca tulisan mas tentang sosok Pak Anies yang juga saya kagumi. penggambaran yang begitu jernih, nyata, menapak bumi. Keep writing Mas!

      1. Haha.. makasih Sugit. Aku tidak bisa berbuat banyak sepertimu dan para pengajar muda. Terima kasih telah mewakili kami turut turun tangan. Semoga tulisan ini menjadi sedikit hiburan dan penyemangat 🙂

  6. Salam kenal, Mas Andi.

    Sebuah ulasan yang sangat menarik, penuh argumentasi logis, serta menukik tajam pada pemahaman makna. Saya baru pertama kali berkunjung ke blog Anda, Mas Andi, dan saya harus mengakui bahwa saya mengagumi cara bertutur Anda melalui tulisan dan pemilihan kata. Menarik dan patut diapresiasi.

    Menyoal ketokohan Anies Baswedan di tengah hiruk pikuk kondisi bangsa seakan membawa sebuah harapan baru bagi kita semua, khususnya generasi muda. Ya, kita sangat berharap keikutsertaan beliau di Konvensi Demokrat bisa memberi inspirasi baru bagi iklim perpolitikan negeri ini. Saya yakin, Anies Baswedan bukanlah tipe orang yang haus akan kekuasaan dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya. Bukan, dia bukan orang seperti itu. Tapi, saya sangat yakin bahwa keikutsertaan beliau dalam kancah politik nasional adalah suatu cara untuk memberi inspirasi pada tokoh politik dan rakyat Indonesia tentang makna politik yang sebenarnya. Kita harus bangga dan mendukung usaha inspiratif ini. Anies Baswedan bukan orang yang ingin selalu dipuja dan disanjung di mana-mana, karena itulah, ia mengajak kita semua untuk ikut turun tangan, berjabat erat untuk mengurus masa depan negara tercinta. Semoga kita bisa mewujudkannya 🙂

    salam 🙂

    1. Mas Noveri,

      Terima kasih atas kunjungan dan apresiasinya.
      Saya percaya, orang-orang dengan niat baik harus bersatu dan menguatkan. Ini adalah hal minimal yang saya bisa lakukan untuk mendukung orang baik untuk menjadi pemimpin Indonesia. Mas Anies tidak sempurna tetapi saya melihat niat baiknya untuk mengabdi. Itu yang kita perlukan.

  7. Salam kenal, Mas Andi.

    Sebuah ulasan yang sangat menarik, penuh argumentasi logis, serta menukik tajam pada pemahaman makna. Saya baru pertama kali berkunjung ke blog Anda, Mas Andi, dan saya harus mengakui bahwa saya mengagumi cara bertutur Anda melalui tulisan dan pemilihan kata. Menarik dan patut diapresiasi.

    Menyoal ketokohan Anies Baswedan di tengah hiruk pikuk kondisi bangsa seakan membawa sebuah harapan baru bagi kita semua, khususnya generasi muda. Ya, kita sangat berharap keikutsertaan beliau di Konvensi Demokrat bisa memberi inspirasi baru bagi iklim perpolitikan negeri ini. Saya yakin, Anies Baswedan bukanlah tipe orang yang haus akan kekuasaan dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya. Bukan, dia bukan orang seperti itu. Tapi, saya sangat yakin bahwa keikutsertaan beliau dalam kancah politik nasional adalah suatu cara untuk memberi inspirasi pada tokoh politik dan rakyat Indonesia tentang makna politik yang sebenarnya. Kita harus bangga dan mendukung usaha inspiratif ini. Anies Baswedan bukan orang yang ingin selalu dipuja dan disanjung di mana-mana, karena itulah, ia mengajak kita semua untuk ikut turun tangan, berjabat erat untuk mengurus masa depan negara tercinta. Semoga kita bisa mewujudkannya 🙂

    salam

    Noveri

  8. akhirnya saya menyapa langsung bli Andi dgn trigger tulisan ini. karena yang awal, maka saya utarakan perkenalan agar lebih sayang, seperti sebuah pepatah. sebagai mahasiswa saya tentunya mempunyai idealis tentang apapun termasuk menatap negeri ini. dan tulisan bli Andi di blog ini seperti menyiram air bibit tanaman di kepala saya…. saya melihat anda dan I-4 (http://www.i-4indonesia.info) adalah generasi berikutnya dari ICMI. saya senang ketika generasi I-4 bersedia turun tingkat mengajak dibawahnya naik tingkat. tidak terus di menara gading.
    terkait dengan tulisan diatas, saya lebih tertuju pada ‘perihal ketiga….’ karena selama ini orang baru (muda) yang idealis sering tergelincir pada masalah uang. saya harap pak Anies juga bisa tetap lurus tidak ditelikung oleh kepentingan pengusaha durjana atau tentara durjana.

    salam

  9. Dulu saya sering mampir ke blog Mas Andi untuk ‘ngejar’ Beasiswa. Siapa sangka hari ini saya mampir lagi kesini, untuk hal ini.

    “pilih jalan yang mendaki, penuh tantangan, sepi, jauh dari puja-puji. Bukan jalan yang lurus, mendatar, penuh tepuk tangan. Karena sesungguhnya dibalik jalan mendaki itulah adanya puncak”, ujar Anies Baswedan ramah pada kami, tiga purnama lalu. Dan hari ini, beliau sendiri mencontohkan pada kami tentang jalan yang mendaki, sepi, penuh rintangan. Ini yang kita sebut Role Model!

    Pak Anies memang masih muda, minim pengalaman. Karena itu ia tak tawarkan masa lalu, ia tawarkan masa depan 😀 (*ngebalikin kata-kata Pak Anies :p)

  10. Semoga orang2 seperti saudara semakin banyak dinegeri ini, dan semakin menemukan teman2 nya, sehingga energinya bisa bersatu dan mampu sebagai penggerak. Salam dari saya Masduki.

  11. Saya sudah mengagumi Pak Anies sejak duduk di bangku kuliah(kini saya sudah+/-3th berwirausaha seusai lulus kuliah). Pak Anies memang satu di antara sekian orang yg dibutuhkan Indonesia. Tapi saya kecewa, kenapa Pak Anies mw bergabung ke partai D*m*krat?

    1. Saya yakin beliau punya pertimbangan sendiri. Yg pasti, sebagai orang non partai, Mas Anies perlu wahana. Sepertinya memang hanya Demograt yg memberi ruang itu saat ini. Partai lain jelas punya kandidat sendiri. Tapi saya setuju, ini jelas ada risikonya. Mari kita lihat.

  12. Saya berharap suatu saat nanti Indonesia mempunyai pemimpin yang menjadikan pendidikan sebagai pondasi kemajuan negara 🙂

  13. saya juga tidak berfikiran, seorang anies baswedan yang notabene adalah idealis kelas tinggi masuk dalam dunia politik yang penuh intrik kotor.
    “Kalo orang baik saja meninggalkan politik, maka binasalah karena orang buruk yang menguasai politik.”
    Setidaknya dengan anies baswedan masuk ke dunia politik, memberikan warna lain untuk kebaikan politik itu sendiri tentunya.

  14. hallo kakak andi,

    terima kasih sudah menulis ini… sekarang tidak hanya kepada Mas Anies, hari ini saya juga mulai kagum dengan Kak Andi… ijin share tulisannya ya kak.. supaya semakin banyak lagi orang seperti kakak… 🙂

    sincerelly yours,
    khrisna kumala

  15. Setelah melihat secara langsung seorang Anies Baswedan mendorong semangat anak muda di acara turuntangan yg diadakan di gedung mulo, sulsel, saya begitu bersemangat tatkala beliau menyampaiakan ide dari pikiran2nya. Negeri ini butuh banyak “tangan2” yg mau dan ikhlas memperbaikinya. Saya yakin, Bli juga salah satunya 😀 .

  16. bukan hanya konten tulisannya yang menarik untuk dibaca tetapi juga seolah-olah ratusan kosa kata yang sama, seperti menjadi berbeda karena cara merangkainya menjadi kalimat sangat luar biasa. saya mau kursus menulis mas

  17. Tulisan yg sangat menarik Bli Andi..spt juga anda, saya juga mengagumi Anies Baswedan sbg intelektual muda harapan Indonesia yg kalo boleh meminjam istilah Man of Steel, dia adalah the man who gonna save the world..mungkin dimulai dari Indonesia dulu..
    Mengenai konvensi partai, ini jg mengundang tanda tanya saya tp barangkali ini jalan tercepat untuk segera turun tangan, untuk jangka panjangnya mungkin mas Anies perlu membuat parpol sendiri sbg alternatif parpol yg selama ini ada yg penuh dg para durjana memimjam istilah anda.

  18. Sebelum ini, says tidak pernah membaca sebuah artikel sampai selesai, demikian juga koran atau majalah. Untuk pertams kalinya saya membaca sebuah aftikel sampai selesai sekalian dengan komentar2 yang menyertainya. Terima kasih atas pencerahannya yang membuat saya lebih mengenal sdr Anis. Walaupun usia saya bisa dikatskan tidak muda lagi, kepala 6, tapi saya juga bergabung sebagai relawan turun tangan surabaya bersama dengan ratusan anak muda yang. Mengapa saya mau menjadi relawan? Karena saya mantsn aktifis dan masih aktif dibeberapa kegiatan sosial, juga saya berharap dapst berperan serta membuatperubahan

  19. Sebelum ini, says tidak pernah membaca sebuah artikel sampai selesai, demikian juga koran atau majalah. Untuk pertams kalinya saya membaca sebuah aftikel sampai selesai sekalian dengan komentar2 yang menyertainya. Terima kasih atas pencerahannya yang membuat saya lebih mengenal sdr Anis. Walaupun usia saya bisa dikatskan tidak muda lagi, kepala 6, tapi saya juga bergabung sebagai relawan turun tangan surabaya bersama dengan ratusan anak muda yang. Mengapa saya mau menjadi relawan? Karena saya mantsn aktifis dan masih aktif dibeberapa kegiatan sosial, juga saya berharap dapst berperan serta membuat perubahan dengan turun tangan bersama Anies Baswedan untuk mencapai Indonesia yang lebih baik. Kalau saya tidak mendapat kesempatan menikmati Indonedia yang lebih baik, setidaknya untuk anak cucu nanti. Terima kasih mas Andi.

  20. Salam bapak..

    Saya memang belum lama mengikuti tulisan – tulisan bapak, tapi saya banyak terinspirasi terutama ketika membaca tulisan ini, saya teringan masa SMA saya dulu ketika guru bahasa inggris saya meminta kami satu persatu maju ke depan kelas untuk menjelaskan apa yg akan kami lakukan bila menjadi presiden. Saya tidak mempunyai persiapan apapun, dengan bahasa inggris yg alakadarnya saya menjelaskan keinginan saya untuk memajukan pendidikan indonesia, walaupun gemetaran saya menyelesaikan pidato saya :-D, saya lega dan guru sayapun memberikan pujian atas gagasan saya walupun bahasa saya seadanya. tapi ketika kembali ke tempat duduk salah seorang teman saya bertanya, apakah pidato saya tadi tentang memajukan pendidikan indonesia, dia melanjutkan pertanyaan mengapa yg saya majukan pertama adalah pendidikan, karena menurutnya memajukan ekonomi lebih penting. ketika itu saya hanya menjawab iya karena tidak ingin mengganggu teman lain yg akan berpidato. Saya sedikit kesal karena dia bertanya tentang isi pidato saya, tapi saya bisa terima karena tau kemampuan bahasa inggris saya memang kurang. Saya hanya heran kenapa dia berfikir hal utama yang harus dimajukan adalah ekonomi??. tapi setelah membaca tulisan bapak saya senang, saya telah menyampaikan hal yg baik, dan sekarangpun saya masih meyakininya..
    Terimakasih atas tulisan – tulisannya pak 🙂

  21. Salam kenal Bang Andi, Saya senang sekali menemukan blog Bang Andi. Tulisan ini bagi saya sangat bagus. Cara bertutur tulisan ini membuat saya mudah memahami dan seakan-akan ikut serta mengenali Mas Anies dengan lebih lagi.
    Tetap menulis Bang! 😀

  22. Saya selalu terpukau dengan setiap gagasan yang diungkapkan oleh mas anis baswedan. walaupun mungkin gagasan itu bukan murni dari beliau, namun beliau mampu mengungkapkannya dengan cara yang menarik sehingga mampu menggerakkan hati setiap kita semua. Beliau pintar menularkan semangat, membangun rasa optimis dan menyalakan harapan bahwa masalah-masalah bangsa yang ada itu bisa diatasi.

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s