Mengenal Indonesia dari Sabang sampai Merauke


@SabangMeraukeID
@SabangMeraukeID

Ada satu pertanyaan penting yang belum bisa saya jawab dengan baik “bagaimana mewakili Indonesia di pentas dunia?” Jika harus mewakili Indonesia dengan sepotong baju, baju apa yang paling layak mencirikan Indonesia? Ini bukan sesuatu yang mudah dilakukan dengan ratusan suku bangsa dan sekian banyak pakaian daerah di Indonesia. Ketika menjadi Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia (PPIA) University of Wollongong, saya selalu mengalami kesulitan ketika harus mengikuti pameran budaya antarbangsa. Kesulitan pertama adalah ketika ingin menampilkan PPIA agar tampil khas diantara organisasi pelajar dari berbagai negara. Memang tidak mudah menyajikan atribut yang menarik, khas dan gampang diingat karena keindahannya. Bendera Merah Putih tentu saja khas tetapi rasanya tidak cukup untuk meghadirkan semarak pesta antarbangsa yang menuntut kemeriahan lebih dari kibaran Sang Saka Merah Putih. Akhirnya, pilihan lebih sering jatuh pada atribut Bali yang memang sudah dikenal di Australia. Namun Bali bukanlah Indonesia. Bali, dengan segala keunikan dan keindahannya sesungguhnya tidak pernah bisa mewakili Indonesia secara utuh. Tidak heran jika seorang petugas bank Commonwealth di Wollongong bertanya polos tanpa dosa kepada kawan saya yang dari Bali ketika membuat rekening “are you actually from Bali or Indonesia?

Di balik kesulitan yang saya rasakan itu, sesungguhnya ada persoalan yang lebih penting: saya ternyata tidak cukup mengenal bangsa saya sendiri. Setiap kali diminta menjelaskan Indonesia, saya sesungguhnya sibuk menjelaskan tentang Bali dan Jawa. Saya hanya bisa menjelaskan dua pulau yang akrab di pikiran saya dan tidak mampu mewakili 17 ribu lebih pulau lainnya. Pengetahuan saya tentang Indonesia mengenaskan. Harus diakui dengan penuh rasa bersalah, saya baru menginjakkan kaki di tanah Sumatera saat berusia 34 tahun, itupun untuk sebuah undangan mengajar di Baturaja. Alangkah mengenaskannya. Lebih memalukan lagi ketika di saat yang sama saya telah mengunjungi lebih dari 20 negara untuk berbagai keperluan. Apakah memang sudah menjadi tradisi bahwa manusia cenderung memperhatikan hal-hal jauh dibandingkan yang dekat di depan matanya? Tidak heran jika peta Planet Mars konon lebih detail dibandingkan peta dasar samudera yang dalam. Singkat kata, saya menyadari pengetahuan saya yang pendek tentang bangsa saya. Mereka yang jauh lebih muda dari saya semestinya mendapat kesempatan dan memanfaatkan waktunya untuk mengenal bangsanya lebih dekat, dari Sabang sampai Merauke.

Suatu hari, Ayu Kartika Dewi, seorang sahabat baik di dunia maya, mengirimkan sebuah email pada saya. Ayu adalah sosok inspiratif yang kepadanya saya banyak belajar meskipun belum pernah sekalipun bertemu. Ayu yang saya kenal, pernah menjadi pengajar muda, satu dari generasi pertama Gerakan Indonesia Mengajar yang didirikan Mas Anies Baswedan. Ayu sesungguhnya sudah bekerja di sebuah perusahaan multinasional berbasis di Singapura ketika memutuskan untuk menjadi guru di pelosok Halmahera Selatan, Maluku Utara. Tidak mudah untuk mempercayai pilihan ini, jika saja saya tidak benar-benar melihat dan mengetahuinya sendiri. Bahwa di saat ini, masih ada orang-orang seperti Ayu dan kawan-kawannya yang rela mendonasikan setahun waktunya untuk sebuah nilai yang mereka percaya meskipun itu tidak memberikan imbalan materi dan kemewahan. Mengutip kata-kata Mas Anies Baswedan, para pengajar muda ini adalah bukti bahwa para Ibu di Nusantara sesungguhnya masih melahirkan para pejuang. Mereka telah mewakili saya dan jutaan rakyat Indonesia guna melunasi janji kemerdekaan para pendiri bangsa ini untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Mengenal orang-orang seperti Ayu membuat saya masih percaya pada harapan bahwa hidup memang dipenuhi kisah-kisah kepahlawanan.

Bersama Dyah Widiastuti dan Aichiro Suryo Prabowo, Ayu mengusulkan satu gerakan yang membuat saya tertegun. Saya juga belum pernah bertemu dengan Dyah tetapi telah mengenalnya di dunia maya. Aichiro sendiri, terus terang belum saya kenal. Meski begitu, saya yakin ketiganya adalah anak-anak muda harapan Indonesia. ketiganya menggalang gerakan yang dinamakannya Sabang Merauke. Gerakan ini didasari oleh kenyataan bahwa bangsa ini begitu luas dan beragam dalam berbagai hal. Dan bahwa keragaman itu adalah keniscayaan yang harus disyukuri sebagai sebuah berkah oleh setiap Insan Indonesia. Mereka meyakini bahwa anak-anak Indonesia harus diberi kesempatan tidak saja untuk memahami tetapi juga merasakan sendiri keragaman dan perbedaan itu. Sabang Merauke akan memberikan kesempatan kepada anak-anak muda Indonesia usia SMP untuk merasakan hidup jauh dari rumah dan berbaur dengan saudara sebangsa yang berbeda suku agama, ras dan adat serta golongan. Seperti kata Ayu dalam sebuah presentasi inspiratifnya, sesungguhnya keberagaman dan toleransi itu tidak cukup dibaca dari buku PPKN saja. Keberagaman dan toleransi itu harus dirasakan sebagai sebuah pengalaman empirik sehingga terbentuk pemahaman yang mendarah daging dan akhirnya menjadi karakter.

Saya beruntung sebagai orang Hindu yang lahir dan menghabiskan masa kecil hingga 18 tahun di Bali. Saya bisa cukup mudah membangun rasa percaya diri sebagai orang Hindu dalam konteks positif sekaligus bisa memahami rasanya menjadi kelompok minoristas secara agama karena berada di negeri Indonesia yang Islami. Hidup di Bali yang mayoritas Hindu memberi ruang pada saya untuk bertumbuh menjadi bagian dari kelompok mayoritas. Hal ini cukup positif dampaknya dalam membangun kayakinan diri. Di satu sisi tayangan keislaman yang mudah diperoleh dari media massa membuat saya dengan mudah belajar nilai-nilai luhur Islam dan agama lainnya. Perpaduan yang unik ini turut membentuk sikap hidup yang tidak mudah terintimidasi oleh kehadiran agama lain sekaligus tidak merasa perlu bangga berlebihan pada kepercayaan sendiri. Saya membayangkan gerakan Sabang Merauke bisa menghadirkan pengalaman yang serupa pada anak-anak Indonesia sehingga mereka bisa merasakan secara langsung bagaimana rasanya hidup pada lingkungan berbeda. Hanya dengan pengalaman nyata, pemahaman mereka akan terbentuk lebih sempurna. Pengalaman, sejatinya, tetaplah guru yang utama.

Ketika mengetahui ide gerakan Sabang Merauke, saya sudah mebayangkan Lita, anak saya, menjadi salah satu pesertanya. Alangkah indahnya ketika Lita nanti hidup di sebuah desa ratusan kilometer dari rumah, tinggal dengan keluarga angkat bersama kakak mahasiswa pendamping yang agama, adat dan kebiasaannya berbeda. Hari-harinya mungkin akan penuh tantangan tetapi pelajaran akan mengalir deras memenuhi hidupnya. Pelajaran itu datang lewat komunikasi berbeda bahasa, gurauan di meja makan yang sederhana, permainan anak-anak di jalan yang tidak lazim dilihatnya, ataupun sawah dan kebun yang membentang sejauh mata memandang. Lebih dari itu, pemahaman pasti hadir ketika Lita harus berkunjung ke Masjid, Klenteng, Wihara atau Geraja saat mengantar saudara angkatnya bersujud pada Sang Pencipta. Melalui telinganya, kedamaian akan hadir lewat shalawat atau lagu pujian kepada Tuhan yang berpadu cantik dengan Gayatri Mantram yang dilantunkannya setiap pagi. Maka yang selanjutnya hadir bukanlah sekedar toleransi tetapi penghormatan. Bahwa yang berbeda itu tidak harus ditoleransi karena memang tidak pernah salah tetapi dihormati karena kemuliaan yang disandangnya.

Saya membayangkan akan ada semakin banyak anak Indonesia yang mengenal negerinya dengan lebih baik dari Sabang sampai Merauke. Berbeda dengan saya yang tergagap-gagap ketika harus mewakili dan menjelaskan Indonesia, maka anak-anak Indonesia di masa depan akan mewakili Indonesia dengan percaya diri karena paham benar kebesaran dan keluasan Nusantara. Tidak saja mereka menikmati kebesaran Nusantara dari buku-buku dan tayangan video tetapi mereka telah merasakannya. Mereka bahkan tidur bersama keluarga Indonesia lainnya di sebuah rumah sederhana ratusan kilometer dari tempat tinggalnya. Yang terpenting, mereka akhirnya akan melihat perbedaan suku, agama, ras dan adat serta golongan seperti halnya mereka melihat warna-warni baju yang dikenakan para sahabat karibnya. Warna-warni yang menghadirkan keindahan, bukan untuk diseragamkan apalagi dipertentangkan. Apakah saya akan tega membiarkan Lita bertualang di tanah yang jauh dari rumah di usia belasan? Jika dia berani naik pesawat dari Jogja ke Bali sendirian di usia tujuh tahun, maka pastilah nyalinya tidak akan ciut untuk menempuh ratusan kilometer jika kepadanya dijanjikan sebuah negeri yang lebih ramah dan menghormati keragaman. Lita dan anak-anak Indonesia sesungguhnya adalah para pemberani. Mereka akan mengenal Indonesia dari Sabang sampai Merauke jika kita memberi mereka cukup kesempatan.

Di Kereta Wollongong-Sydney, 20 Maret 2013 jam 1.18 subuh

Informasi lebih lanjut tentang Sabang Merauke:
Ide awal : Email Ayu Kartika Dewi tentang Sabang Merauke
Website : http://sabangmerauke.org/
Twitter : @SabangMeraukeID

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

4 thoughts on “Mengenal Indonesia dari Sabang sampai Merauke”

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s