Surat dari New York

sekjen

Aku ingin mengajakmu serta, menyusuri Eliot Avenue yang dipagari pepohonan meranggas yang menggigil karena dingin. Lalu kita hangatkan beku dengan bersenda gurau sambil memandangi bajing yang bertengger di ranting dan dahan tak berdaun karena tirani musim dingin yang kejam. Aku ingin mengajakmu serta.

Continue reading “Surat dari New York”

Setelah shortlisted Beasiswa ADS, what’s next?

Taken from http://australiaawardsindo.or.id/

Beberapa hari terakhir ada banyak kawan yang menyampaikan berita baik bahwa mereka lulus seleksi administrasi Beasiswa Australian Development Scholarship (ADS). Katanya, ada yang sudah mendapat surat dari ADS, ada juga yang menelopon langsung ke kantor ADS di Jakarta. Sebagian lagi mendapatkan informasi dari institusi mereka karena lembaganya masuk kategori Key Agencies atau targeted areas. Mereka menyebutnya masuk shortlist alias daftar pendek. Ada juga yang mengatakan “saya termasuk yang shortlisted”. Saya bisa merasakan kebahagian dalam berita itu. Meski demikian, ada juga yang belum beruntung tahun ini.

Dalam suatu percobaan memang selalu ada dua kemungkinan: berhasil atau belum berhasil. Saya tidak akan berpura-pura bijaksana menasihati mereka yang tidak lulus. Jika mereka memang serius dan berharap ketika mendaftar, wajar jika kecewa. Maka saya memaklumi mereka yang sedih tetapi dengan sungguh-sungguh ingin menyampaikan bahwa dunia belum berakhir. Saya memiliki banyak sekali cerita kegagalan. Asti, isteri saya, juga mencoba tiga kali sampai akhirnya mendapat kesempatan. Dalam bahasa sederhana, izinkan saya menyampaikan satu kalimat klasik “jangan menyerah.”

Kepada yang berhasil melewati tahap pertama, saya sampaikan selamat dan turut berdoa demi kesuksesan perjuangan selanjutnya. Meminjam istilah Chairil Anwar, kerja belum selesai, belum apa-apa. Sejatinya, jalan masih panjang dan tidak ada yang bisa menjamin Anda akan lolos hingga tahap akhir. Meski demikian, kita juga percaya bahwa tidak ada satu orangpun yang bisa memastikan Anda tidak akan diterima. Kita yakin, nasib akan berpihak pada para pejuang yang berani. Mari kita siapkan diri, mari berjuang dengan berani menyelesaikan penggal terakhir yang pastinya tidak mudah ini.

Dari 800 orang kandidat yang shortlisted, hanya sekitar 400 orang yang berhak mendapatkan beasiswa ADS tahun 2013/2014 karena jatahnya memang sejumlah itu. Untuk menghibur diri, silakan berpikir bahwa peluangnya adalah sekitar 50%, sebuah peluang yang tinggi. Agar terdengar lebih menyenangkan, silakan berpikir bahwa satu dari setiap dua kandidat akan menerima beasiswa ADS. Atau agar lebih mudah lagi, silakan berpikir bahwa Anda hanya perlu mencari pasangan sesama kandidat yang lebih rendah kemampuannya dari Anda dan jika dia tidak lolos maka Anda akan lolos karena peluangnya 50%. Cukup mudah rasanya mendapatkan ADS bukan?

Tunggu dulu. Dari 800 orang itu, akan ada 400an orang yang tidak diterima. Anda tentu tidak ingin ada dalam kelompok itu bukan? Maka dari itu tugas Anda adalah keluar dari kelompok 400 yang tidak lolos itu. Artinya, untuk bisa mendapatkan beasiswa ADS Anda wajib lebih baik dari setidaknya 400 orang. Ini tidak bisa ditawar. Dengan perspektif seperti ini Anda akan bisa menempatan perjuangan ini dalam konteks yang lebih tepat. Satu lagi, beasiswa ADS adalah misteri Ilahi. Jika Anda percaya keberuntungan, sebaiknya percaya keberuntungan versi Thomas Jefferson bahwa “the harder I work the more luck I seem to have“. Dan bahwa orang yang tidak diterima tidak selalu berarti tidak mampu.

Ada dua hal utama yang akan dihadapi oleh para kandidat yang masuk shortlist yaitu ujian IELTS dan Wawancara dengan Joint Selection Team. Saya tidak akan berbicara banyak soal IELTS di sini karena sebelumnya sudah pernah saya bahas. Yang mau saya ingatkan lagi adalah bahwa ujian formal seperti IELTS adalah sebuah ujian standard yang memiliki pola tertentu. Hal paling sederhana yang bisa dilakukan adalah memahami dengan baik pola ujian itu. Orang sebaiknya tidak mengikuti ujian sebelum hafal secara meyakinkan komponen apa saja yang diuji di IELTS, berapa jumlah pertanyaan masing-masing, berapa lama waktu ujian dan lain-lain. Belum pernah ikut IELTS sama sekali? Beli bukunya, ikuti kursusnya, atau belajar dari mereka yangs udah pernah. Intinya, Anda masih punya waktu maka gunakan waktu itu untuk bersiap-siap.

Hal kedua adalah wawancara JST. Saya sudah pernah menulis tips wawancara di blog ini. Ada juga prediksi pertanyaan yang saya buat tahun 2012 dan saya sertakan jawabannya untuk tahun 2013 atau tips wawancara dan IELTS yang saya tulis sebelumnya. Lihat juga bagaimana saya menjalani wawancara untuk beasiswa ALA, mungkin ada manfaatnya untuk persiapan. Mulai tahun ini ada sedikit perubahan dalam hal seleksi, terutama untuk PhD (atau mungkin juga Master by Research, silakan dilihat). Kandidat diminta untuk memaparkan proposal penelitiannya dalam waktu 10 menit saja dan tidak boleh lebih. Hal-hal yang wajib dipaparkan adalah metodology, mengapa penelitian penting bagi Indonesia, memastikan bahwa penelitian itu bisa diselesaikan dalam waktu yang dialokasikan dan menegaskan sumbangan penelitian itu bagi disiplin terkait. Perlu diingat, tidak diperkenankan menggunakan alat bantu presentasi seperti power point. Yang perlu disiapkan, presentasi ini akan diikuti dengan tanya jawab sekitar 25-30 menit. Semua kandidat PhD akan diundang ke Jakarta dengan biaya ADS untuk memaparkan rencana penelitiannya dan ada 60 orang calon PhD yang akan diterima, naik 100% dari tahun lalu. Silakan lihat tulisan saya tentang tips memaparkan proposal ini. Informasi ini disampaikan dalam surat undangan kepada kandidat PhD, seperti yang disampaikan oleh Sahabat Saya, Taufik E. Susanto yang berbaik hati telah berbagi surat undangan untuk istrinya.

Kisah saya dalam mendapatkan beasiswa juga pernah saya tulis di sini dan mungkin bisa dibaca lagi. Bagi yang sekian kali berjuang dan baru kali ini mendapat kesempatan untuk dipanggil wawancara, silakan simak kisah Asti, isteri saya, yang saya tulis Februari lalu. Tidak ada tips yang tiba-tiba membuat Anda jadi pintar dan pasti diterima beasiswa ADS. Meski demikian, jangan lewatkan satu pun dari semua dokumen dan bahan lain yang diberikan oleh ADS dalam amplop besar yang Anda terima. Baca semua tulisan dan nikmati semua videonya. Kunjungi lagi website resmi ADS Indonesia untuk menyegarkan ingatan. Yang bisa dilakukan adalah mengerahkan segenap upaya agar tidak kita sesali hasil apapun yang akan diberikan oleh Sang Pemilik Waktu kelak di kemudian hari. Selamat berjuang kawan!

Mahasiswa Aktivis

https://i0.wp.com/2.bp.blogspot.com/-dINNJW_kANc/T8QIAuOvpvI/AAAAAAAAAWU/tuctcHzsgKc/s1600/5f35a150705e472d62787025055ae472_1.jpg
dari: mjalaluddinjabbar.blogspot.com

Semua mata memandang takjub. Genjo tidak berkedip menyimak pemaparan Bondan yang cerdas berapi-api. Gerakan tangannya dan pemilihan kata yang nyaris sempurna membuatnya bisa memukau puluhan hadirin di ruangan itu. Genjo yang tidak mengerti politik hanya bisa diam tapi pikiran dangkalnya bisa memahami apa yang meluncur dari mulut Bondan. Bondan memang lihai memintal kata-kata menjadi kalimat yang kemudian mengalir menjadi kisah yang melenakan.

“Inti dari kegagalan bangsa kita adalah tidak adanya usaha sungguh-sungguh dari mereka yang memegang kekuasaan. Negeri kita dibangun dengan pendekatan tambal sulam tanpa perencanaan yang matang. Kita minim negarawan, yang ada hanya para oportunis yang mencari celah-celah untuk menguntungkan pribadinya. Mereka pada akhirnya tidak pernah ingat kepada rakyat yang membawa mereka pada tampuk kekuasaan” Hadirin terpesona dengan pemaparan Bondan yang begitu jelas, tegas dan tanpa tedeng aling-aling. Nampak jelas, dia juga mengetahui banyak apa yang terjadi di pemerintahan. Sementara itu Genjo kian terpesona. Usia Bondan tidak lebih tua darinya tetapi Genjo mengakui bahwa Bondan memang luar biasa.

Continue reading “Mahasiswa Aktivis”

Menghamba pada rembulan

Pejalan kaki sepertiku kadang terantuk satu pesona. Pesona yang sejatinya merambat dari kesunyian di bawah sadar, tentang keindahan yang jadi misteri. Pesona yang layaknya secarik kertas perawan, dia tanpa kuasa tanpa makna karena tanpa aksara. Aku ingin menuliskan satu kisah pada putihnya yang telanjang demi pesona yang abadi. Pejalan kaki sepertiku memang sering menyerah dan terantuk pada satu pesona.

Aku ingin membangun sebentuk mandir tempat kita memuja keberadaan. Aku ingin memoles bebatuan yang menjadi dasarnya agar rembulan membeberkan rahasia pada semburat cahayanya di satu purnama. Bahwa pertemuan ini adalah keniscayaan, saat aku terantuk satu pesona. Aku tidak akan menyerah, tetapi aku adalah pengabdi. Aku menghamba sepenuh hati, tidak pada kekuasaan yang tiada abadi tetapi pada semburat purnama yang misterius. Aku ingin menghamba pada rembulan karena padanya kutemukan apa yang selama ini kusemayamkan di bawah sadarku.

Bersama Mahfud MD mencari pemimpin masa depan Indonesia

Koreksi terakhir: Selasa, 27 Nov 12 @9.36 WIB

Silakan langsung lompat ke inti diskusi jika tidak ingin membaca rangkaian cerita sebelum diskusi.

Pak Mahfud dan moderatornya 🙂

Saya mendapat kesempatan berharga, diminta menjadi moderator sebuah diskusi istimewa dengan Profesor Mahfud MD. Nadia, ketua PPIA NSW tiba-tiba menghubungi saya lewat email menanyakan kesediaan untuk acara tersebut. Tentu saja tidak membutuhkan waktu lebih dari semenit untuk mengatakan ‘ya’, tawaran itupun saya terima dengan senang hati, meski sedikit grogi.

Stasiun North Wollongong, 24 November 2012 @ 7.40 pagi
Saya telah berdiri di pinggir rel kereta mengenaan batik lengan pendek. Hari ini adalah hari yang ditunggu, saya akan meluncur ke Sydney melakukan tugas istimewa mengantarkan diskusi bersama tokoh terkemuka Indonesia: Mahfud MD di Konsulat Jenderal RI di Sydney. Diskusi memang belum akan dimulai sebelum jam 11.00 tetapi jarak Wollongong ke Sydney ditempuh setidaknya 1,5 jam dengan kereta dan perjalanan dari Stasiun Central ke KJRI memakan waktu minimal setengah jam. Sementara itu, frekuensi jadwal kereta dari Wollongong ke Sydney adalah sejam sekali. Saya tidak boleh terlambat.

Continue reading “Bersama Mahfud MD mencari pemimpin masa depan Indonesia”

Inilah Gempa yang guncang Bali 22 November 2012

Sore ini saya mendengar dari seorang kawan bahwa Bali sedang dilanda gempa. Langsung saya telpon Ibu dan Bapak, ternyata mereka baik-baik saja. Seperti yang sudah-sudah mereka bahkan tidak tahu apapun tentang gempa itu. Syukurlah, artinya merea selamat dari bahaya. Terima kasih Tuhan. Ini adalah rincian gempa seperti yang dilansir oleh USGS, saya tampilkan dalam bentuk peta. Silakan klik ikon merah untuk mengetahui informasi rinci tentang gempa yang berkekuatan 5,4 skala richter.

Fungsi tambahan

TALOS Editor

Saya pernah menulis “Marketing in Venus” di blog ini tentang bagaimana sesuatu atau seseorang menjadi ‘laku’ bukan karena fungsi atau keahlian utamanya tetapi karena fungsi tambahannya. Saya mengalami hal ini berkali-kali, saya yakin Andapun demikian.

Sejak tahun 2011 saya secara resemi dilibatkan dalam revisi sebuah dokumen penting dalam bidang hukum laut dan terutama batas maritim. Dokumen itu bernama TALOS, sebuah buku manual yang menjelaskan aspek teknis dari Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS). Singkatnya, UNCLOS, sebagai produk hukum, dipenuhi muatan teknis yang tidak mudah dipahami oleh orang non teknis. Aspek teknis ini begitu rumit, sementara sebuah konvensi bahkan tidak memuat ilustrasi atau penjelasan tambahan. Agar pemahaman terhadap aspek teknis ini bisa berjalan baik maka sekelompok pakar teknis (geodesi, hidrografi) berinisiatif membuat buku manual yang menjelaskan. Jadi, TALOS adalah ‘suplemen’ UNCLOS yang menjelaskan segala hal teknis yang ada di UNCLOS.

Continue reading “Fungsi tambahan”

Bertemu Presiden

Bersama Hassan Wirajuda

Kadang saya bertemu orang-orang penting, para pejabat negeri, justru saat ada di negeri orang. Kalau sedang di tanah air, mungkin kesempatan makan malam atau ngobrol dengan menteri atau wapres akan terasa sulit. Isitimewakah kesempatan itu? Saya serahkan saja bagi pembaca untuk menilainya, tapi bagi saya, jelas ini bukan kesempatan sehari-hari. Kalau demikian, bolehlah dia kita anggap istimewa.

Seorang kawan bertanya ’bagaimana caranya bisa punya kesempatan bertemu orang-orang penting itu?’ Saya harus akui, tidak ada cara sistematis yang saya tempuh dan ini bukanlah cita-cita. Yang pasti, tidak pernah ada tes psikologi apalagi IELTS untuk bisa bertemu menteri. Tidak juga ada wawancara. IP juga tidak berpengaruh, apalagi jumlah publikasi ilmiah. Tidak ada.

Continue reading “Bertemu Presiden”

15 November di Mandara Giri

Kadang kita lupa, kita pernah jatuh cinta seperti dua remaja tanggung yang hari ini sering kita tertawakan tingkah polahnya. Kadang kita lupa, kita pernah bertingkah begitu rupa yang hari ini kita tuduh memalukan. Begitulah waktu, dialah yang paling kejam memporandakan ingatan kita, bahkan tentang cinta. Mari kita tolak. Kita tolak keangkuhannya yang membuat kita lupa. Mari sejenak membuka catatan kita di masa muda.

Continue reading “15 November di Mandara Giri”

Bersekongkol dengan rakyat

Belakangan ini saya cukup sering menonton video yang diunggah oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di Youtube. Selama sekian tahun ada Youtube, baru kali ini saya betah menonton video yang ditayangkan oleh lembaga pemerintah. Ketertarikan saya melihat video PemProv DKI setara dengan antusiasme saya menyaksikan video-video Obama di Gedung Putih. Menurut saya, Pemprov DKI yang digawangi Jokowi dan Ahok telah berhasil membangun antusiasme publik. Masyarakat punya ketertarikan tinggi terhadap apa yang dilakukan oleh Gubernur dan Wagub Jakarta.

Dengan menayangkan video di Youtube, sesungguhnya Gubernur dan Wagub baru sedang berupaya ‘bersekongkol’ dengan rakyat. Sebuah video pelaksanaan rapat dengan PU yang ditayangkan di bawah ini misalnya, secara transparan menunjukkan pemikiran dan sikap tegas Gubernur dan Wagub tentang pembelaannya terhadap rakyat. Semua transparan, semua terbuka. Dengan begini, rakyat tahu persis apa yang terjadi. Dengan kata lain, rakyat diajak ikut serta mengawasi pemerintah dan terutama mengawasi sikap dan perilaku birokrat. Ini kelak juga akan jadi semacam bahan dukungan jika Gubernur dan Wakil Gubernur harus melakukan perombakan personil di suatu dinas misalnya. Dengan gagah mereka bisa bilang ‘seluruh rakyat seluruh dunia tahu kok. Mereka yang akan ada di belakang kami jika ada yang menghalangi’. Kini saya makin yakin bahwa teknologi informasi yang dimanfaatkan secara baik dan oleh mereka yang punya kuasa benar-benar bisa digunakan untuk menegakkan kebajikan. Jalan tentu saja masih panjang dan terlalu pagi untuk menghakimi. Meski demikian, Saya tidak pernah seoptimis ini tentang Indonesia melihat pemimpin yang ‘bersekongkol’ dengan rakyat melalui cara cerdas seperti yang dilakukan Jokowi-Ahok.