15 November di Mandara Giri


Kadang kita lupa, kita pernah jatuh cinta seperti dua remaja tanggung yang hari ini sering kita tertawakan tingkah polahnya. Kadang kita lupa, kita pernah bertingkah begitu rupa yang hari ini kita tuduh memalukan. Begitulah waktu, dialah yang paling kejam memporandakan ingatan kita, bahkan tentang cinta. Mari kita tolak. Kita tolak keangkuhannya yang membuat kita lupa. Mari sejenak membuka catatan kita di masa muda.

Jika kaulayangkan ingatan ke masa silam, kita pernah duduk bersahabat debu di antara kolom-kolom perkasa yang menyangga gedung tua nan wibawa itu. Aroma debunya masih tercium hingga jauh hari dan kecelakaan kecil pertemuan itu dicatat oleh cemara yang berbaris rapi di dekat pohon bodi. Tanyakanlah pada mereka, pasti akan dibeberkannya setitik rahasia, bahwa kecelakaan itu adalah rencana mereka. Debu dan kolom itu hanya tumbal belaka, mereka dihukum menjadi saksi perjumpaan kita.

Dulu, ketika aroma debu itu masih segar, aku sering ragu. Keraguan itu berbuah canggung yang tak terkira. Maka warna menjadi korban tuduhan bahwa merah bukanlah paduan yang aku suka. Sejatinya aku kehilangan kata untuk memulai perundingan diantara kita yang nampak tak mungkin di masa lalu. Angin megirimkan rasa penasaran dan aku mabuk oleh prasangka dan praduga. Aku tersenyum, marah lalu tertawa oleh keliaran imajinasi yang meluap-luap karena cinta.

Ingatkah kamu, di altar suci Mandara Giri itu, dua remaja bercengkrama dipandu angin. Mereka merasa yakin meski tak banyak hal yang sejatinya meraka pahami. Tapi tidak ada yang lebih hebat dari dua anak manusia yang membiarkan hatinya terbebas lalu memilih dan memutuskan. Mereka menitipkan janji pada angin dan pada gerit pepohonan yang bersenandung menghamba pada titah sang malam. Purnama itu mempesona, layaknya kecantikanmu dan kala itu tak tertandingi. Bahkan tidak oleh Dewi Saraswati yang tersenyum simpul menyaksikan kita memamerkan kejujuran.

Berbilang purnama berlalu, banyak jalan yang terlewati dan pulau-pulau terlampaui. Tapi kita masih sama, hidup tak beranjak terlalu jauh ketika menengok ke dalam hati. Angin masih mengantaran rasa penasaran dan aroma debu di selipan kolom raksasa itu seakan sama. Tapi tak hanya itu. Angin kini membawa tak sekedar cinta, hasrat dan birahi yang meletup tapi juga wibawa yang disematkan kepadaku. Terutama titah yang menjadi kewajiban. Bahwa sebentuk jiwa yang lahir dari rahimmu adalah buah pertapaanku. Dan itu penanda cinta, seperti halnya aroma debu yang tetap akan melekat pada kolom-kolom raksasa nan wibawa itu.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

5 thoughts on “15 November di Mandara Giri”

  1. Trimakasih ayah, sudah menjadi pendamping yang selalu penuh cinta. Ekspresi cinta kita terpancar tajam dari mata Lita, buah hati kita. Tetaplah jadi yang terbaik dalam hidup ibu dan Lita ya yah…. Love u

  2. Tatkala dua insan dipertemukan. Kadang lingkungan menertawakan. Kadang kita tdak menganggap lingkungan tidak ada. Kita seringkali menganggap bahwa semesta ini hanya berisi aku dan dia. Hmm tulisan yang sangat indah Mas. Sebuah goresan hati yang begitu lugas.

    Sebuah kehidupan yang pernah melintas disetiap relung perjalanan yang ada. Menjadi sebuah inspirasi yang gamblang bagi setiap yang membacanya. Itulah kejernihan sebuah karya.

  3. Aroma debunya masih tercium hingga jauh hari dan kecelakaan kecil pertemuan itu dicatat oleh cemara yang berbaris rapi di dekat pohon bodi. Tanyakanlah pada mereka, pasti akan dibeberkannya setitik rahasia, bahwa kecelakaan itu adalah rencana mereka. Debu dan kolom itu hanya tumbal belaka, mereka dihukum menjadi saksi perjumpaan kita==== this is…….Ah, I was gonna say ‘brilliant’, but ‘stupendous’ also sounds about alright.
    ๐Ÿ™‚

    Subhan Zein

  4. Saya selalu berpikir menjadi orang dewasa berarti menjadi lupa. Mereka menghadapi anak muda seakan-akan tidak pernah berada dalam usia yang sama dulunya. Aneh.
    Saya takut memang takdirnya akan seperti itu, tidak ingat hal-hal seistimewa dan sesederhana jatuh cinta yang besar maknanya saat muda. Entah karena merasa terlalu angkuh atau sekedar malu mengakuinya.
    Orang-orang seperti Bli membuat saya percaya bahwa bertambah usia, tidak membuat kita lupa. Tulisannya bagus, as always, makasih Bli.
    Your other half must be very lucky to have you ๐Ÿ™‚

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s