Korupsi Semangka

dipinjam dari arjip.wordpress.com

Genjo tekun memotong semangka yang baru dibelinya dari sebuah toko buah pagi tadi. Sore ini akan ada diskusi mahasiswa Indonesia di luar negeri, tempat Genjo dan kawan-kawannya menuntut ilmu. Samar-samar didengarnya Budiman sedang berkomat kamit di kamar. Rupanya dia sedang melatih presentasinya untuk acara sore nanti. Budiman seorang aktivis, profil mahasiswa Indonesia yang ideal. Dia aktif berorganisasi, pintar di kampus dan peduli pada urusan bangsa.

Sementar itu Genjo selalu menjadi pelengkap. Otaknyanya tidak cukup canggih untuk berbicara persoalan bangsa. Dia hanya bisa mendukung dengan menyiapkan konsumsi atau sekali-sekali memasang kabel untuk audio visual diskusi. Genjo mantap dengan perannya: sebagai penggembira.

Continue reading “Korupsi Semangka”

Tips mendapatkan dana untuk konferensi atau travel grant

Sebuah konferensi di Taiwan Sebuah konferensi di Taiwan

Belakangan ini saya mendapat beberapa email dan komentar di blog soal cara mendapatkan dana untuk konferensi. Sebelumnya saya pernah menulis soal konferensi di blog ini dan menegaskan bahwa konferensi terkait erat dengan menghabiskan uang, bukan mendapatkan uang. Makanya, jika ada peneliti yang sering konferensi, umumnya peneliti ini tidak akan bertambah kaya, jika tidak menjadi lebih miskin.Untuk bisa berpartisipasi di sebuah konferensi ilmiah, seorang peserta harus menyerahkan karya tulisnya yang biasanya didahului dengan menyerahkan abstrak atau intisari penelitian. Bagi yang masih awam, saya jelaskan, abstrak atau intisari adalah ringkasan penelitian dalam beberapa ratus kata (lihat persyaratan dari panitia konferensi) yang menggambarkan keseluruhan isi penelitian. Jika abstrak ini diterima, calon peserta akan diminta menyerahkan makalah lengkap (full paper) utuk seterusnya diundang melakukan presentasi. Selengkapnya bisa dilihat di diagram alir berikut. Continue reading “Tips mendapatkan dana untuk konferensi atau travel grant”

Diplomat

alialatas
Ali Alatas – Diplomat Indonesia

Saya betemu dengan banyak diplomat selama berada di luar negeri. Ada satu hal penting dari mereka yang saya anggap baik yaitu sikap “tidak mengancam”. Saya mendengar, untuk bisa menjadi diplomat, seseorang haruslah sangat bagus. Seleksinya luar biasa ketat. Tidak diragukan lagi, diplomat itu adalah kelompok orang-orang terbaik di Indonesia pada bidangnya. Mereka, dalam bahasa sederhana, adalah orang-orang pintar. Satu hal yang sama dari beberapa diplomat baik yang saya temui adalah kehadiran mereka yang tidak mengancam.

Sangat mudah untuk merasa kecil, merasa tidak berguna dan bahkan merasa bodoh jika kita bertemu dengan seseorang yang pintar dan hebat. Diplomat yang baik mampu hadir sebagai orang yang tidak mengancam dan memberi ruang yang cukup bagi orang lain untuk berkembang leluasa dan menunjukkan dirinya dengan baik. Diplomat yang baik lebih banyak mendengar dan royal dalam memuji dan mengapresiasi. Namun saya paham betul, di dalam diri diplomat yang penuh puja puji itu bersemayam kecerdasan dan pengetahuan yang luas. Saya juga kenal dengan beberapa diplomat dan paham bagaimana cadasnya jalan mereka jadi diplomat.

Continue reading “Diplomat”

Celana Kartini

kartinilitaPak Wayan Karna seorang guru di sebuah desa di Bali. Di pertengahan tahun 80an, Pak Wayan sering menjadi bahan pergunjingan. Pasalnya, Pak Wayan ditindas istrinya. Bagi orang-orang desa di masa itu, sangat tidak elok jika seorang lelaki ditindas istri. Urusannya sangat serius, Pak wayan sering terlihat mencuci pakaian di depan mess, tempat tinggal beliau bersama keluarganya di dekat sekolah. Yang mengundang cibir, ada celana dalam istrinya dalam tumpukan cucian itu. Sungguh memalukan.

Pan Koplar, Nang Kompyang, Men Cubling, Men Gading, semua sepakat kalau Pak Wayan tengah ditindas istri. Tidak sedikit yang yakin kalau Pak Wayan kena guna-guna istrinya sehingga tunduk dan takut, rela melakukan apa saja yang diperintah istrinya termasuk mencuci celana dalamnya. Sungguh keterlaluan.

Sydney, 2013
Saya sedang tergesa memunguti jemuran, berlomba dengan hujan yang sepertinya tidak sabar akan turun. Setiap helai pakaian saya ambil, berharap bisa selesai sebelum gerimis pertama menyiram bumi. Pada tali jemuran itu, ada semua jenis pakaian. Ada pakaian saya dan Asti, isteri saya, berbagai jenis tanpa kecuali. Di saat begitu saya teringat Pak Wayan Karna. Ada satu pertanyaan yang menggelitik. Adakah saya mengalami kemunduran dan menjadi seorang Pak Wayan Karna di tahun 80an? Atau mungkinkah Pak Wayan Karna yang telah mendahului zamannya, meninggalkan para tetangganya yang sibuk bergunjing, mencibir dan menuduhnya telah tertindas istri?

Continue reading “Celana Kartini”

Pintu

Berbagi pengalaman meraih beasiswa adalah seperti menahan pintu.
Mencoba menahan pintu

Satu hal baik yang saya pelajari selama berada di Australia adalah kebiasaan orang menahan pintu ketika memasuki sebuah ruangan. Jika tidak ditahan, pintu ini akan menutup dengan sendirinya. Karena ditahan, orang yang datang tepat setelah kita akan bisa memasuki ruangan dengan lebih mudah tanpa harus bersusah payah membuka pintu. Saya mencoba melakukan ini dan menikmati dengan sangat ketika seseorang di belakang saya sumringah wajahnya dan beterima kasih dengan tulus atas kemudahan kecil yang diperolehnya. Sejujurnya, saya tidak selalu berhasil melakukan ini karena perjalanan kadang bergegas dan tergesa. Namun saya tidak akan pernah lupa rasanya melihat orang di belakang saya senang dan tersenyum saat memasuki ruangan.

Perjalanan kita tak ubahnya membuka pintu dan memasuki ruangan. Kita berhak untuk melepaskan pintu itu sehingga tertutup rapat setelah kita berhasil memasuki ruangan. Namun kita juga bisa merelakan waktu untuk menahanya sejenak agar orang di belakang kita bisa memasuki ruangan dengan lebih mudah. Kita berhak bangga dengan jumlah pintu yang kita buka dan ruangan yang berhasil kita masuki. Namun kita juga bisa memilih untuk bahagia karena banyaknya orang yang bisa memasuki ruangan yang sama dengan mudah, karena pintunya kita tahan.

Beasiswa Australia: Bisakah S2/S3 yang beda jurusan dengan S1?

Pelamar beasiswa Australian Awards Scholarship (AAS) atau yang dulu dikenal dengan Australian Development Scholarship (ADS) sering bertanya “bisakah kita melamar S2 atau S3 yang tidak sesuai dengan S1 kita?” Jawabannya BISA. Meski demikian, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

Continue reading “Beasiswa Australia: Bisakah S2/S3 yang beda jurusan dengan S1?”

Buku Baru: Berguru ke Negeri Kangguru

Berguru ke Negeri Kangguru
Berguru ke Negeri Kangguru – Pesan: di sini

Pesan buku ini di sini 🙂

Tulisan ini adalah cerita tentang sebuah buku. Ini buku terbaru saya yang membahas tips dan tricks mendapatkan beasiswa ke Australia, terutama Australia Awards Scholarship (AAS) yang dulu dikenal dengan Australian Development Scholarship (ADS). Apakah tulisan ini adalah promosi buku? Tentu saja demikian, tetapi ini tentu saja iklan tanpa bayaran 🙂

Saya mulai menulis di blog ini terkait beasiswa sejak tahun 2005 atau bahkan sebelumnya. Tanpa direncanakan, ternyata sudah ada seratusan artikel terkait beasiswa Australia di blog ini dan rupanya menjadi salah satu sebab teman-teman pembaca ‘tergelincir’ atau ‘tersesat’ di blog saya. Seiring berjalan waktu, ada banyak usulan untuk membukukan tulisan-tulisan tersebut. Tadinya saya tidak tertarik karena alasan utama menulis adalah memberikan akses bebas kepada siapa saja tanpa perlu membeli buku. Siapa saja yang memiliki akses internet harus bisa mengakses informasi yang saya tulis kapan saja dan dari mana saja. Idealnya demikian.

Ada juga penerbit yang mau menerbitkan tulisan-tulisan saya jadi buku tetapi mengharapkan tulisan di blog dihilangkan. Dalam konteks bisnis, hal ini tentu bisa dipahami. Meski demikian, ini tidak sejalan dengan semangat saya berbagi maka dengan berat hati tidak bisa saya penuhi. Akhirnya ada satu penerbit, Pandu Aksara, memberi penawaran yang baik. Baik, dalam konteks ini tentu saja tidak terkait materi atau finansial. Pandu Aksara membebaskan saya tetap memelihara tulisan yang akan diterbitkan jadi buku di blog ini. Tawaran yang menarik.

Continue reading “Buku Baru: Berguru ke Negeri Kangguru”

Twitter Pak Presiden

sbytwitterMungkin berlebihan jika saya katakan Indonesia heboh karena Presiden SBY memilik akun Twitter baru karena memang ada banyak sekali orang Indonesia yang bahkan tidak tahu apa itu Twitter. Bagi pengguna Twitter, mungkin setuju bahwa Indonesia memang heboh karena akun Twitter Pak SBY ini. Memang tidak jadi soal apakah kita tahu Twitter atau tidak. Paham atau tidak paham, Twitter tidak akan membuat kita berhenti bergerak, tidak membuat kita berhenti bermanfaat.

Suka atau tidak, pak presiden kini punya akun Twitter. Mengapa Twitter dianggap penting oleh presiden? Dugaan saya adalah karena pengguna Twitter di Indonesia banyak sekali. Sebuah artikel yang dilansir Forbes akhir tahun lalu menobatkan Jakarta sebagai kota dengan pengguna Twitter paling aktif di jagat raya. Indonesia sebagai negara, menempati posisi kelima di seluruh dunia. Sederhananya, pengguna Twitter di Indonesia banyak sekali. Tidak berlebihan jika Presiden SBY menggunakan Twitter untuk berkomunikasi dengan rakyatnya.

Continue reading “Twitter Pak Presiden”

Sewindu Menulis untuk The Jakarta Post

Tulisan ke-56
Tulisan ke-56

Delapan tahun yang lalu saya gembira sekali mendapati tulisan pertama saya terbit di The Jakarta Post. Saat itu saya masih mahasiswa S2 akhir tahun pertama di UNSW, Sydney. Itulah kali pertama saya merasakan bahwa topik yang saya teliti tidak saja penting tetapi juga menarik untuk dikisahkan. Ambalat menjadi debut saya dalam penulisan di media massa.

Saya teringat kisah Anand Krishna yang konon melakukan hal yang mirip. Jika ditanya tulisan mana yang paling membanggakan dari ratusan tulisannya maka jawabannya adalah yang ditulisnya pertama kali ketika dia bersekolah di luar negeri. Kalau ingat reaksi saya ketika itu, ada perasaan risih dan malu. Apa perlu sebuah tulisan yang muncul di The Jakarta Post dibanggakan begitu rupa? Waktu itu, rasanya reaksi itu tidak berlebihan. Entahlah bagaimana kawan saya melihatnya.

Continue reading “Sewindu Menulis untuk The Jakarta Post”

Konspirasi Bumi Datar, Distorsi dan Proyeksi Peta


Dalam ilmu yang saya pelajari tetang pemetaan, kami mengenal istilah distorsi. Intinya, bumi yang permukaannya lengkung dan cenderung tidak teratur itu harus digambarkan dalam satu bidang datar berupa peta. Tentu saja akan ada distorsi, ada kesalahan, ada perubahan bentuk.

Continue reading “Konspirasi Bumi Datar, Distorsi dan Proyeksi Peta”