Galungan



galungan

Tanggal 27 Maret 2013, umat Hindu merayakan Galungan. Definisi yang saya percaya sejak SD, Galungan adalah peringatan atas kemenangan Dharma (kebaikan) atas Adharma (kejahatan). Galungan diperingati setiap 210 hari sekali setiap Rabu, Kliwon, Dungulan. Demikianlah kalender yang dijadikan pedoman oleh umat Hindu di Indonesia dan akan cukup panjang kalau dijelaskan di sini.

Dalam suasana Galungan begini saya selalu mengenang masa kecil saat ada di Bali. Galungan identik dengan masa bersenang-senang karena saat inilah ada kemungkinan punya baju baru, meskipun tidak selalu. Di saat Galungan pula, kami, anak-anak kecil, dibolehkah bangun subuh-subuhh lalu menonton para orang tua yang menyembelih babi sehari sebelum Galungan. Yang tidak terlupakan adalah saat berebut kantung kemih babi untuk dijadikan bola atau balon untuk bermain di hari-hari berikutnya. Anak-anak kecil tidak dibebani apapun terkait ritual agama, tidak juga ada kewajiban membaca sloka-sloka Bhagavadgita dalam menyambut Galungan. Yang ada hanya satu: kegembiraan tanpa syarat.

Saya tidak akan pernah lupa mengganggu Ibu saya di dapur yang menggoreng daging lalu ‘mengusir’ saya dengan memasukkan potongan daging kecil ke mulut saya. Tentu saja itu tidak bertahan lama karena beberapa menit kemudian saya akan datang lagi ke dapur dan berharap diusir dengan cara yang sama. Bagi keluarga kami di tahun 80an atau awal 90an, daging adalah benda berharga luar biasa. Satu potong kecil daging yang dimasukkan ke mulut saya diringi kemarahan pura-pura untuk mengusir memberikan sensasi tiada tara. Saya menikmatinya dan tidak akan melupakannya. Saat bercerita di masa-masa sekarang, kisah ini tak pernah luput jadi bahan kelakar. Galungan membuat saya rindu keluarga.

Saat Galungan, kami bersembahyang di pura keluarga sendiri dan pura umum. Selain itu, Galungan adalah saatnya sembahyang di pura keluarga tua. Saat inilah para perempuan yang sudah menikah kembali ke rumah tuanya, bersembahyang dan bersima krama (silaturahim) dengan keluarga. Saya memahami, inti dari sembahyang di pura keluarga tua adalah merekatkan kembali hubungan persaudaraan yang mungkin lupa dijaga selama 210 hari sebelumnya. Maka dari itu, saya selalu ingatkan ibu saya, yang terpenting saat beliau pulang ke rumah tuanya adalah menyapa dan bercengkrama dengan sanak saudara selain mencakupkan tangan memanjatkan doa pada Hyang Widhi dan para leluhur.

Jika kita percaya Tuhan memiliki penglihatan (darsana), pendengaran (sravana) dan pengetahuan (jnana) yang menembus ruang dan waktu, maka tentulah kedatangan kami ke pura keluarga tua bukan semata-mata untuk ‘menemui’ Sang Pencipta. Ada alasan yang lebih pragmatis: menjaga keharmonisan hubungan keluarga. Maka tidak elok jika kita datang ke rumah tua lalu menuju pura, bersembahyang khidmat lalu pulang tanpa menghiraukan segelas teh atau sepiring nasi yang ditawarkan keluarga. Galungan tidak semata-mata demi ikatan umat dengan Tuhan tetapi antarmanusia yang lebih sering diliputi keliru dan kesalahpamahan.

Galungan di Rantau
Sudah setengah hidup saya terlewatkan di luar Bali. Secara agama, saya telah menjadi minoritas selama tidak kurang dari 17 tahun. Ada banyak pertanyaan tentang agama Hindu yang muncul di kepala saya setelah berada di luar Bali. Pengalaman menjadi kaum mayoritas selama 17 tahun pertama hidup bahkan membuat saya tidak pernah bertanya tentang agama. Demikianlah rupanya risiko jika kita merasa menjadi kaum mayoritas, kita bisa lupa bertanya, lupa merenung dan lupa menyadari ada pihak lain di sekitar kita.

Galungan di luar Bali tentu berbeda. Tidak ada hingar bingar penyembelihan babi, tidak ada gelayut penjor yang menghiasi jalanan berkilo-kilometer panjangnya, tidak ada deretan gadis menjunjung sesajen pajegan yang tersenyum sumringah meski berjuang melawan terik matahari. Yang pasti, tidak ada sekumpulan anak-anak yang bermain menendang bola dari kantung kemih seekor babi yang lehernya ditikam belati di satu pagi buta.

Galungan bahkan bukan hari libur nasional sehingga saya kadang tetap harus kuliah atau bahkan ikut ujian saat Galungan di akhir tahun 90an. Kini, saya sering harus tetap mengajar atau bahkan memberikan materi di sebuah seminar saat Galungan. Salahkah itu? Untunglah di Bhagawadgita atau Wedha lainnya tidak ada kata-kata kuliah, ujian apalagi konferensi. Kami diberi kemewahan untuk menggunakan akal sehat ketika datang saatnya menginterpretasi ritual dan tradisi. Saya pahami, Galungan adalah saat berintrospeksi, melakukan kalibrasi atas keimanan dan terutama pengalaman kebatinan spiritual seseorang. Terutama, Galungan mengingatkan lagi dan lagi, bawa kebaikan akan menang dan dimenangkan pada akhirnya.

Yang bekerja di berbagai bidang, yang menjadi politisi, yang menjadi pemimpin diberi kebebasan menerjemahkan makna Galungan yang relevan bagi mereka. Intinya sederhana, kejahatan tidak akan pernah bisa berkuasa atas kebaikan. Meskipun di satu masa kehidupan terjadi sebaliknya, Hindu menjanjikan reinkarnasi dan ada Hukum Karma yang bekerja sempurna. Isavasyam idam sarvam, tidak ada satu halpun yang terjadi di luar kuasa Tuhan, Sang Pemilik Waktu. Demikianlah saya memahami Galungan.

Galungan yang dirayakan seorang minoritas seperti saya mengajarkan akan dunia yang luas dan hidup yang diwarnai keberagaman. Merayakan Galungan di tengah kumandang adzan atau lantunan lagu gereja atau puja puji terhadap Sang Budha menawarkan pelajaran batin yang dalam dan sensasi spiritual baru. Bahwa damai dan kejayaan Dharma itu bisa disaksikan lewat kebajikan para sahabat, tak peduli apapun agama yang dipeluknya. Bahwa kebenaran itu memang tunggal dan tidak ada duanya, Bhinaka Tunggal Ika tan Hana Dharma Mangrwa, tetapi itu bukan berarti dia menjadi monopoli umat Hindu saja. Keluhuran yang diserukan Rama, Krishna ternyata juga indah ketika disimak lewat kebijaksanaan Muhammad, Yesus atau Sang Budha.

Selamat merayakan Galungan. Sebuah perayaan yang mencerahkan hati dan mengingatkan bahwa kita hidup di tengah masyarakat yang majemuk. Semoga kita diberi kekuatan untuk senantiasa percaya bahwa kebenaran pada akhirnya akan selalu berkuasa atas ketidakbenaran. Mari merajut keharmonisan dengan Hyang Widhi, umat manusia, tanpa merisaukan agamanya, dan lingkungan alam yang menghidupi kita. Merayakan Galungan seperti anak kecil yang hanya mengenal kegembiraan karena tidak kotor kepala dan hatinya oleh kecurigaan, beban perbedaan, dan ketakutan-ketakutan akibat kesibukan berhitung untung rugi beragama dalam kemasan surga dan neraka.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

7 thoughts on “Galungan”

  1. Dear Pak Andi, Om Swastiyastu…

    Selamat hari raya Galungan dan Kuningan. Semoga Hyang Widhi melimpahkan anugerah kesehatan, keselamatan, pengetahuan dan kesejahteraan bagi semua.

    Saya sangat tersentuh membaca artikel Mas tentang Galungan. Sungguh artikel itu menggambarkan cerminan hati seorang Hindu yang besar, luhur dengan toleransi yg tinggi, and all encompassing. Izinkan saya kiranya untuk dapat share artikel itu dengan teman-teman lain. Saya yakin mereka juga akan berpikir mendalam setelah membacanya.

    On other note, saya nanti akan sampaikan email tentang World Hindu Youth Conference yang akan diadakan pada akhir bulan ini di Bali. Mohon pandangan dan tanggapan to enrich the views and thoughts of our friends in promoting Sanathana Dharma.

    Om Santih Santih Santih Om.

    S Raja

    ________________________________

  2. Om Swastiastu
    Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan, Sebuah nilai yang tidak berhingga terkandung dalam hari raya Galungan dimana ajaran -Nya yang menuntun umat dalam menuju kebenaran dan keabadian.

  3. Selamat Galungan dan Kuningan Bli Andi. Tentu perasaan dan pengalaman yang mirip-mirip bisa saja kita jalani dulu dan saat ini. Semoga kita selalu diberkati dan semua keluarga sehat rahayu. Shanti _/|\_

  4. Pada akhirnya kita akan menyadari bahwa inti dari setiap agama adalah kebaikan, bukan membuktikan mana yang paling benar.
    Dan keberagaman yang saling bertoleransi seperti yang Anda gambarkan itu indah 🙂

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s