Do you still remember Google Art Project by which we can ‘visit’ a museum or art gallery without leaving our home? Now we can do just the same for the White House. I understand that the experience of touching an historic paint or an antiquate ceramic plate will never be replaced by exploring things through the screen of your computer. However, the feeling of being able to see things from a very short distance even though without touching them is a stimulating experience too. Imagine this. You have not even yet visited the United States of America for financial reason, for example, but you can have the feeling of doing a White House tour. No queue, no security check, no passport or other ID required, no payment, no other visitors so you can enjoy every shingle object without distraction. The most important thing is you can do it anytime you like. No visiting hours applicable. You can do this now, thanks to the Google Art Project. Thanks to the marriage of Geospatial technology and art. Enjoy the White House 🙂
Mahasiswa Baru Perlu Diplonco!
Begini cara saya melakukannya 🙂

- #MhsBaru, bayangkan apa yg terjadi 4 tahun lagi. Bayangkan seberapa cantik CV kamu saat itu. Seberapa menjual?
- #MhsBaru, 4 thn lg kalian tdk ingin bilang “IP saya pas2an, ga aktif organisasi, prestasi biasa2 saja. Gmn caranya jual diri?”
- #MhsBaru, secantik apa lamaran kerja yg kalian inginkan 4 thn lagi? Rancang dr sekarang krn msh ada waktu tapi wkt tdk berlebih.
- #MhsBaru, kalian tdk ingin menyesal ga bisa melamar kerja krn IP ga cukup pdhl masih ada 3thn untuk bersiap2 🙂
- #MhsBaru, kalian ga ingin nyesel ga bisa lamar beasiswa S2 ke LN krn TOEFL ga cukup padahal 3 thn ini habis buat twitteran 🙂
- #MhsBaru, kalian tdk ingin jadi orang hilang saat wawancara kerja 4 thn lagi, pdhl kesempatan berlatih di organisasi banyak sekali.
- #MhsBaru, kalian tdk ingin nyesel ga lolos kerja 4thn lagi krn ga bisa software pdhl punya laptop, Internet kenceng, banyak temen.
- #MhsBaru, kalian ga mau nyesel 4 thn lagi krn ga bljr bhs Ingris dr sekarang pdhl belajar saat sdh kerja itu sulit banget 😦
- #MhsBaru, bayangkan menulis email 4thn lagi ke sebuah perusahaan, apa yg akan kalian ceritakan tentang ‘kehebatan’ kalian?
- #MhsBaru, lihat teman2mu skrg. 4 thn lagi mungkin bersaing lamar kerja. Kenapa kamu yg berhak diterima jika yg dicari hanya 1?
Continue reading “Mahasiswa Baru Perlu Diplonco!”
Rahasia Pembunuhan Presiden
Hotel Le Meridien, 10 Maret 2010
Aku menghempaskan tubuhku di sebuah sofa. Lelah sekali rasanya setelah seharian bergerak tiada henti. Kantuk menyerang tanpa ampun padahal hari belum gelap. Dalam pandangan yang samar aku melihat keranjang kecil yang cantik di atas meja berisi buah-buahan segar yang diselimuti plastik transparan. Pada selimut itu menempel secarik kertas bertuliskan “Kamar Presiden”. Aku tidak begitu mengerti mengapa keranjang buah itu belum dibawa ke kamar presiden padahal keranjang buah lain sudah lenyap.
Ruang sekretariat nampak sepi, hanya ada aku yang terduduk lesu. Cukup melelahkan mengikuti gerakan seorang Djoko Suyanto yang sigap. Pak Dadang, asisten pribadi yang mendampinginya dari Jakarta, juga kerepotan mengimbangi kesigapannya. Kunjungan Presiden SBY ke Sydney kali ini memang dipenuhi berbagai jadwal. Aku dan para relawan lain yang bertugas mendampingi rombongan selama di Sydney dibuat jugkir balik dengan jadwal padat para menteri.
Korupsi Semangka

Genjo tekun memotong semangka yang baru dibelinya dari sebuah toko buah pagi tadi. Sore ini akan ada diskusi mahasiswa Indonesia di luar negeri, tempat Genjo dan kawan-kawannya menuntut ilmu. Samar-samar didengarnya Budiman sedang berkomat kamit di kamar. Rupanya dia sedang melatih presentasinya untuk acara sore nanti. Budiman seorang aktivis, profil mahasiswa Indonesia yang ideal. Dia aktif berorganisasi, pintar di kampus dan peduli pada urusan bangsa.
Sementar itu Genjo selalu menjadi pelengkap. Otaknyanya tidak cukup canggih untuk berbicara persoalan bangsa. Dia hanya bisa mendukung dengan menyiapkan konsumsi atau sekali-sekali memasang kabel untuk audio visual diskusi. Genjo mantap dengan perannya: sebagai penggembira.
Tips mendapatkan dana untuk konferensi atau travel grant
Sebuah konferensi di TaiwanBelakangan ini saya mendapat beberapa email dan komentar di blog soal cara mendapatkan dana untuk konferensi. Sebelumnya saya pernah menulis soal konferensi di blog ini dan menegaskan bahwa konferensi terkait erat dengan menghabiskan uang, bukan mendapatkan uang. Makanya, jika ada peneliti yang sering konferensi, umumnya peneliti ini tidak akan bertambah kaya, jika tidak menjadi lebih miskin.Untuk bisa berpartisipasi di sebuah konferensi ilmiah, seorang peserta harus menyerahkan karya tulisnya yang biasanya didahului dengan menyerahkan abstrak atau intisari penelitian. Bagi yang masih awam, saya jelaskan, abstrak atau intisari adalah ringkasan penelitian dalam beberapa ratus kata (lihat persyaratan dari panitia konferensi) yang menggambarkan keseluruhan isi penelitian. Jika abstrak ini diterima, calon peserta akan diminta menyerahkan makalah lengkap (full paper) utuk seterusnya diundang melakukan presentasi. Selengkapnya bisa dilihat di diagram alir berikut. Continue reading “Tips mendapatkan dana untuk konferensi atau travel grant”
Diplomat

Saya betemu dengan banyak diplomat selama berada di luar negeri. Ada satu hal penting dari mereka yang saya anggap baik yaitu sikap “tidak mengancam”. Saya mendengar, untuk bisa menjadi diplomat, seseorang haruslah sangat bagus. Seleksinya luar biasa ketat. Tidak diragukan lagi, diplomat itu adalah kelompok orang-orang terbaik di Indonesia pada bidangnya. Mereka, dalam bahasa sederhana, adalah orang-orang pintar. Satu hal yang sama dari beberapa diplomat baik yang saya temui adalah kehadiran mereka yang tidak mengancam.
Sangat mudah untuk merasa kecil, merasa tidak berguna dan bahkan merasa bodoh jika kita bertemu dengan seseorang yang pintar dan hebat. Diplomat yang baik mampu hadir sebagai orang yang tidak mengancam dan memberi ruang yang cukup bagi orang lain untuk berkembang leluasa dan menunjukkan dirinya dengan baik. Diplomat yang baik lebih banyak mendengar dan royal dalam memuji dan mengapresiasi. Namun saya paham betul, di dalam diri diplomat yang penuh puja puji itu bersemayam kecerdasan dan pengetahuan yang luas. Saya juga kenal dengan beberapa diplomat dan paham bagaimana cadasnya jalan mereka jadi diplomat.
Celana Kartini
Pak Wayan Karna seorang guru di sebuah desa di Bali. Di pertengahan tahun 80an, Pak Wayan sering menjadi bahan pergunjingan. Pasalnya, Pak Wayan ditindas istrinya. Bagi orang-orang desa di masa itu, sangat tidak elok jika seorang lelaki ditindas istri. Urusannya sangat serius, Pak wayan sering terlihat mencuci pakaian di depan mess, tempat tinggal beliau bersama keluarganya di dekat sekolah. Yang mengundang cibir, ada celana dalam istrinya dalam tumpukan cucian itu. Sungguh memalukan.
Pan Koplar, Nang Kompyang, Men Cubling, Men Gading, semua sepakat kalau Pak Wayan tengah ditindas istri. Tidak sedikit yang yakin kalau Pak Wayan kena guna-guna istrinya sehingga tunduk dan takut, rela melakukan apa saja yang diperintah istrinya termasuk mencuci celana dalamnya. Sungguh keterlaluan.
Sydney, 2013
Saya sedang tergesa memunguti jemuran, berlomba dengan hujan yang sepertinya tidak sabar akan turun. Setiap helai pakaian saya ambil, berharap bisa selesai sebelum gerimis pertama menyiram bumi. Pada tali jemuran itu, ada semua jenis pakaian. Ada pakaian saya dan Asti, isteri saya, berbagai jenis tanpa kecuali. Di saat begitu saya teringat Pak Wayan Karna. Ada satu pertanyaan yang menggelitik. Adakah saya mengalami kemunduran dan menjadi seorang Pak Wayan Karna di tahun 80an? Atau mungkinkah Pak Wayan Karna yang telah mendahului zamannya, meninggalkan para tetangganya yang sibuk bergunjing, mencibir dan menuduhnya telah tertindas istri?
Pintu

Satu hal baik yang saya pelajari selama berada di Australia adalah kebiasaan orang menahan pintu ketika memasuki sebuah ruangan. Jika tidak ditahan, pintu ini akan menutup dengan sendirinya. Karena ditahan, orang yang datang tepat setelah kita akan bisa memasuki ruangan dengan lebih mudah tanpa harus bersusah payah membuka pintu. Saya mencoba melakukan ini dan menikmati dengan sangat ketika seseorang di belakang saya sumringah wajahnya dan beterima kasih dengan tulus atas kemudahan kecil yang diperolehnya. Sejujurnya, saya tidak selalu berhasil melakukan ini karena perjalanan kadang bergegas dan tergesa. Namun saya tidak akan pernah lupa rasanya melihat orang di belakang saya senang dan tersenyum saat memasuki ruangan.
Perjalanan kita tak ubahnya membuka pintu dan memasuki ruangan. Kita berhak untuk melepaskan pintu itu sehingga tertutup rapat setelah kita berhasil memasuki ruangan. Namun kita juga bisa merelakan waktu untuk menahanya sejenak agar orang di belakang kita bisa memasuki ruangan dengan lebih mudah. Kita berhak bangga dengan jumlah pintu yang kita buka dan ruangan yang berhasil kita masuki. Namun kita juga bisa memilih untuk bahagia karena banyaknya orang yang bisa memasuki ruangan yang sama dengan mudah, karena pintunya kita tahan.
Beasiswa Australia: Bisakah S2/S3 yang beda jurusan dengan S1?
Pelamar beasiswa Australian Awards Scholarship (AAS) atau yang dulu dikenal dengan Australian Development Scholarship (ADS) sering bertanya “bisakah kita melamar S2 atau S3 yang tidak sesuai dengan S1 kita?” Jawabannya BISA. Meski demikian, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.
Continue reading “Beasiswa Australia: Bisakah S2/S3 yang beda jurusan dengan S1?”
Buku Baru: Berguru ke Negeri Kangguru

Pesan buku ini di sini 🙂
Tulisan ini adalah cerita tentang sebuah buku. Ini buku terbaru saya yang membahas tips dan tricks mendapatkan beasiswa ke Australia, terutama Australia Awards Scholarship (AAS) yang dulu dikenal dengan Australian Development Scholarship (ADS). Apakah tulisan ini adalah promosi buku? Tentu saja demikian, tetapi ini tentu saja iklan tanpa bayaran 🙂
Saya mulai menulis di blog ini terkait beasiswa sejak tahun 2005 atau bahkan sebelumnya. Tanpa direncanakan, ternyata sudah ada seratusan artikel terkait beasiswa Australia di blog ini dan rupanya menjadi salah satu sebab teman-teman pembaca ‘tergelincir’ atau ‘tersesat’ di blog saya. Seiring berjalan waktu, ada banyak usulan untuk membukukan tulisan-tulisan tersebut. Tadinya saya tidak tertarik karena alasan utama menulis adalah memberikan akses bebas kepada siapa saja tanpa perlu membeli buku. Siapa saja yang memiliki akses internet harus bisa mengakses informasi yang saya tulis kapan saja dan dari mana saja. Idealnya demikian.
Ada juga penerbit yang mau menerbitkan tulisan-tulisan saya jadi buku tetapi mengharapkan tulisan di blog dihilangkan. Dalam konteks bisnis, hal ini tentu bisa dipahami. Meski demikian, ini tidak sejalan dengan semangat saya berbagi maka dengan berat hati tidak bisa saya penuhi. Akhirnya ada satu penerbit, Pandu Aksara, memberi penawaran yang baik. Baik, dalam konteks ini tentu saja tidak terkait materi atau finansial. Pandu Aksara membebaskan saya tetap memelihara tulisan yang akan diterbitkan jadi buku di blog ini. Tawaran yang menarik.