Rahasia Pembunuhan Presiden


Hotel Le Meridien, 10 Maret 2010
Aku menghempaskan tubuhku di sebuah sofa. Lelah sekali rasanya setelah seharian bergerak tiada henti. Kantuk menyerang tanpa ampun padahal hari belum gelap. Dalam pandangan yang samar aku melihat keranjang kecil yang cantik di atas meja berisi buah-buahan segar yang diselimuti plastik transparan. Pada selimut itu menempel secarik kertas bertuliskan “Kamar Presiden”. Aku tidak begitu mengerti mengapa keranjang buah itu belum dibawa ke kamar presiden padahal keranjang buah lain sudah lenyap.

Ruang sekretariat nampak sepi, hanya ada aku yang terduduk lesu. Cukup melelahkan mengikuti gerakan seorang Djoko Suyanto yang sigap. Pak Dadang, asisten pribadi yang mendampinginya dari Jakarta, juga kerepotan mengimbangi kesigapannya. Kunjungan Presiden SBY ke Sydney kali ini memang dipenuhi berbagai jadwal. Aku dan para relawan lain yang bertugas mendampingi rombongan selama di Sydney dibuat jugkir balik dengan jadwal padat para menteri.

“Mas Andi.” Tiba-tiba ada seseorang masuk ruang sekretariat mengagetkan aku dari rasa kantuk.
“Ya, Pak Fahmi.” Aku menjawab, rupanya diplomat Konsul Jenderal RI di Sydney.
“Siap untuk besok malam ya. Pertanyaan yang berkelas.”
“Siap Pak. Tapi katanya tidak ada dialog Pak?”
“Ya, kita siapkan saja kalau Pak Presiden berkenan diskusi. Katanya sih kemungkinan nggak ada karena beliau tidak punya banyak waktu. Siap-siap saja lah Mas Andi.”
“Baik Pak. Beres pokoknya.”
“Ini kenapa ada buah untuk presiden di sini?” tanya Pak Fahmi sambil menunjuk keranjang meja yang dari tadi membuatku penasaran.
“Nggak tahu Pak. Dari tadi sudah di situ kok.” Pak Fahmi lalu mendekati keranjang itu dan memperhatikannya.
“Oh, ini dummy Mas” katanya sambil mengangguk-angguk sendiri dan aku tidak paham.
Dummy apa Pak? Memangnya itu buah palsu?” aku masih tidak paham. Pak Fahmi tidak mau menjelaskan, hanya tertawa kecil lalu pergi.
“Ingat besok jam tujuh malam ya Mas, jangan lupa siapkan pertanyaan yang berkelas untuk Pak SBY.”
“Beres boss!” jawabku agak lesu karena kantuk menyerang lagi.

Pelan-pelan tubuhku terasa ringan. Tangan seperti pelan-pelan terlepas dari sofa dan melayang. Kesadaran mulai hilang dan ada kedamaian yang meneyelimuti. Kelopak mataku kian berat, menutup tanpa diperintah sementara keranjang buah makin samar di atas meja. Dalam kantuk yang maha berat itu terngiang sesekali suara Pak Fahmi yang mengatakan dummy. Istilah itu begitu misterius dan mengandung sejuta rahasia. Dummy ini pasti istilah intelijen. Keselamatan presiden memang nomor satu dan Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) pasti akan lakukan apa saja untuk menjaga keamanan beliau. Mungkin salah satunya membuat tiruan atau dummy keranjang buah presiden. Entahlah.

Tubuhku semakin ringan melayang, kini aku merasa ada di kesunyian. Pada fase antara sadar dan tidak aku merasakan kesepian ruang sekretariat itu dan nyamannya sofa yang aku duduki. Jas dan dasi yang aku gunakan masih melekat di badan, setia menemani tuannya yang menuju keterlelapan. Sejenak aku dengarkan suara alam, jarum jam berdetak lalu menurun lirih dan akhirnya tidak terdengar apa-apa lagi. Aku ternggelam dalam tidur yang membuai di sofa itu.

***

“Mas … Mas … Mas Andi … bangun Mas” aku mendengar suara itu samar-samar. Aku belum bisa membuka mata. Aku merasakan bahuku disentuh dengan halus lalu berubah agak keras dan mengguncang.
“Ya…” aku mencoba mengumpulkan kesadaran. Ruangan kamar temaram karena hanya sebagian lampu yang menyala. Samar-samar aku lihat tubuh seseorang yang aku kenal. Rupanya Pak Fahmi.
“Ya Pak Fahmi. Maaf saya tertidur. Konferensi pers presiden sudah mulai ya Pak?” Aku berusaha menguasai keadaan dan baru sadar kalau di depanku sudah berdiri Pak Fahmi didampingi dua anggota Paspampres. Aku tersentak, baru kali ini itu berada sedekat itu dengan Paspampres.
“Mas Andi diminta ikut Paspampres.” Pak Fahmi nampak sedikit tegang. Aku masih tidak paham apa yang terjadi dan tidak bisa merespon kata-kata Pak Fahmi.
“Selamat Malam Bapak Andi. Saya Serka Suryadi dan ini Serka Abidin. Kami ditugaskan komandan kami untuk menjemput Bapak.” Aku tercenung, tidak paham apa yang terjadi. Pertama karena aku baru bangun dan kedua karena tidak pernah menduga akan didatangi anggota Paspampres.
“Ada apa ya Pak?” tanyaku singkat dan gamang.
“Mohon ikut kami saja Pak. Komandan yang akan menjelaskan semuanya.”
“Sekarang Pak?”
“Ya, sekarang! Mohon segera karena kita tidak punya banyak waktu.” Wajah kedua orang ini tegang, tetapi tidak setegang wajah Pak Fahmi. Aku lihat matanya, Pak Fahmi seperti memberi tanda agar aku mengikuti kemauan dua anggota Paspampres itu. Akupun beranjak dan melangkah ragu ditemani, lebih tepatnya seperti dikawal, dua orang tentara itu. Sementara Pak Fahmi tidak ikut karena memang tidak diperkenankan. Kami memasuki sebuah ruangan di lantai 9 Hotel Le Meridien itu. Ketika melewati pintu yang dibukakan oleh Serka Suryadi, aku bisa melihat sebentuk wajah tegang yang berdiri di samping tempat tidur. Di sebelahnya ada satu lelaki lain yang memegang sebuah iPad. Aku melangkah masuk dengan gamang.

“Selamat Malam Bung Andi!” kata lelaki yang rupanya komandan Paspampres itu dengan tegas namun sopan.
“Selamat Malam Pak” jawabku dengan masih diselimuti ragu yang makin menjadi. Tidak paham apa yang terjadi. Sebentar kemudian Serka Suryadi dan Serka Abidin lenyap dari ruangan. Hanya ada kami bertiga. Aku menunggu berita selajutnya dan masih menerka-nerka apa gerangan yang terjadi.
“Silakan duduk Bung.”
“Terima kasih Pak,” jawabku sambil mengambil posisi di salah satu sofa. Lelaki tinggi berwibawa itupun duduk. Lelaki yang memegang iPad duduk di sebuah sofa diantara kami. Aku dan komandan duduk berhadapan terpisah sekitar 2 meter. Diantara kami ada meja.
“Kami memerlukan bantuan Bung Andi. Ada perihal darurat yang terjadi dengan Bapak Presiden.” Lelaki itu menjelaskan tetapi aku sendiri seperti tidak percaya dengan apa yang aku dengar.
“Maaf, saya kurang mengerti maksud Bapak.”
“Saya akan jelaskan. Kami mohon dengan hormat Bung Andi bersedia bekerjasama karena kita tidak punya banyak waktu.” Suara lelaki itu tegas, tetap sopan tetapi tidak bisa disembunyikannya rasa khawatir pada nada bicaranya.
“Apa yang terjadi Pak?” aku tanya dengan wajah gamang, masih tidak percaya dengan apa yang terjadi.
“Beberapa jam lalu, tim intelijen kami berhasil memecahkan satu kode rahasia. Itu merupakan ancaman bagi keselamatan Presiden SBY. Tim kami percaya, ini terkait dengan percobaan pembunuhan terhadap Bapak Presiden.” Aku seperti disengat petir di siang bolong. Mata yang dari tadi masih sedikit ngantuk tiba-tiba melek karena terkejut. Adrenalinku perlahan-lahan naik ke permukaan dan tubuh terasa hangat. Rasa lelah yang tadi menghimpit tiba-riba lenyap entah ke mana. Di luar itu, aku mulai dilanda rasa khawatir, terutama saat sadar aku sedang dipanggil oleh komandan paspampres perihal rencana pembunuhan Presiden SBY. Bahkan bermimpipun aku tidak pernah, akan terlibat perihal serius dan genting seperti ini.
“Lalu…?” aku bertanya ragu.
“Kami membutuhkan bantuan Bung Andi untuk memecahkan kode rahasia yang kami terima dari pihak tertentu.”
“Tapi saya tidak tahu apa-apa Pak?”
“Bung Andi, kami telah menerima informasi dari Jakarta tentang Bung. Kami tidak punya harapan lain. Saya harap Bung Andi bersedia menyelamatkan Presiden SBY dari ancaman pembunuhan ini.”
“Tapi saya tidak punya keahlian apapun terkait intelijen Pak?” aku semakin khawatir.
“Setidaknya Bung harus berusaha. Negara memanggil Bung Andi saat ini.” Suara lelaki itu menguat dan bergetar. Aku gugup dibuatnya. Sementara itu lelaki yang dari tadi memegang iPad tiba-tiba menatapku dan terlihat begitu garang. Kedua lelaki itu menatapku seakan mengadili.
“Mohon izin komandan” kata lelaki beriPad yang segera dipersilakan sang Komandan.
“Silakan dijelaskan lebih rinci.” Rupanya lelaki beriPad ini yang mengetahui perihal teknis apa yang terjadi.
“Bung Andi, kami sudah berhasil menemukan bahwa akan terjadi upaya pembunuhan terhadap Presiden SBY selama kunjungan ke Australia. Tim kami berhasil menyadap informasi usaha pembunuhan ini. Pemecahan sandi informasi intelijen menunjukkan bahwa akan ada penembakan atau peledakan bom terhadap Presiden SBY. Yang kami belum bisa pastikan adalah posisi penembak atau peledak bom itu. Yang kami dapatkan dari pemecahan sandi yang ada adalah sebuah instruksi perjalanan. Kami duga ini adalah jaringan pembunuh bayaran internasional yang biasa melakukan operasi antarnegara. Kami mohon Bung Andi membantu kami memecahkan makna instruksi operasi tersebut.”
“Mengapa saya Pak?” aku masih tidak yakin dan memang tidak bisa melihat satu tandapun bahwa aku bisa membantu menyelesaikan kasus yang rumit itu.
“Bung Andi, kita tidak punya waktu untuk berbasa-basi. Mari kita kerja sekarang! Kami sudah tahu siapa Anda dan keahlian Anda dalam mengungkap rahasia lokasi dengan keahlian geospasial Anda.” Kata-kata lelaki itu membuat aku terkejut. Dari mana asalnya semua informasi itu.
“Saya memang belajar pemeataan tetapi sama sekali tidak terkait dengan urusan intelijen seperti ini Pak.” Suaraku bergetar dan panik. Tiba-tiba komandan yang sedari tadi diam langsung berdiri. Entah dari mana datangnya, di tangannya sudah terhunus sepucuk pistol yang mengarah kepadaku. Aku nyaris pingsan karena sama sekali tidak percaya apa yang aku lihat. Aku gugup, nafasku memburu dan lemas. Aku tidak biasa menguasai keadaan. Aku tidak bisa berkata-kata, hanya menatap ujung pistol yang mengarah ke wajahku dengan kepanikan yang tidak bisa dijelaskan. Mimpi apa aku semalam sehingga malam ini harus menghadapi ancaman nyawa. Wajahku pucat, keringat mulai bercucuran. Aku gugup segugup-gugupnya.

“Bung Andi! Anda tidak punya pilihan lain. Jika kita tidak singkap rahasia ini sekarang juga, Presiden SBY akan menemui ajalnya dan saya akan menyusul setelahnya. Pilihan saya jelas: memaksa Anda untuk membantu pekerjaan saya atau menghilangkan nyawa Anda bila itu memang perlu. Dalam situasi seperti ini kami tidak mengenal hukum Bung. Anda lakukan atau Bung Andi menjadi orang pertama yang saya eksekusi karena menolak bekerjasama menyelamatkan Presiden SBY.” Suara lelaki itu dipenuhi amarah, menggelegar dan diliputi panik yang teramat sangat. Aku menatapnya tepat di matanya. Aneh. Kini tidak terasa lagi kepanikan. Tidak terasa lagi ketakutan. Rupanya aku sudah melewati semuanya, saat hidup dan mati terasa sama. Aku menatap wajahnya dan ketika aku yakin bahwa tidak ada kesempatan untuk menyurutkan langkah. Sebuah point of no return, aku mendapatkan energi yang entah dari mana datangnya.

“Tunjukkan kode itu pada saya!” aku berkata lirih tapi tegas berenergi. Lelaki dengan iPad itu menunjukkan layar iPadnya padaku dengan satu catatan sebuah berita pendek. Sementara sang komandan pelan-pelan menurunkan pistolnya dengan nafas yang masih sedikit memburu. Dia memasukkan pistol itu lalu beranjak perlahan mendekati kami berdua yang sedang melihat layar iPad.
Aku membaca pesan itu yang rupanya sudah merupakan hasil kerja intelijen Paspampres. Dalam hati aku membaca kalimat yang rupanya sudah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia itu: “jelajahi kota-kota berikut dan sebarkan mawar di jantungnya” yang dilanjutkan dengan nama kota-kota yang sebagian besar aku kenal. Aku membaca dengan seksama nama-nama kota itu dan ternyata sebagian besar tidak di Australia. Tadinya aku berharap nama-nama kota di Australia karena aku menduga ancaman terhadap presiden disebar di semua kota yang dikunjungi kali ini. Satu yang aku yakini, kata mawar ini pasti tidak bermakna sesungguhnya. Kami bertiga hening. Suasana tegang masih menyelimuti dan tidak ada satupun yang berbicara. Aku marasa diamati dan ditunggu dengan harap-harap cemas.

“Apakah pihak intelijen paspampres memiliki dugaan Pak? Aku mencoba bertanya, sekaliguas mencairkan suasana.
“Kami yakin, mawar ini adalah ancaman yang dimaksud.” Berarti dugaanku tidak jauh meleset.
“Terus?” aku mencoba melanjutkan diskusi sambil berpikir sendiri.
“Kami memang memiliki data adanya kelompok rahasia yang beroperasi di kota-kota yang disebut di sini. Kami menduga operasi ini melibatkan agen rahasia dari kota-kota tersebut tetapi belum final.” Aku merenung dan suasana semakin tegang karena kulihat komandan sibuk melihat jam tangannya.
“Data ini apa maknanya Pak?” aku menanyakan angka-angka yang tersebar acak di bagian bawah layar.
“Ini residu.”
“Residu itu apa Pak?” aku bertanya polos dan dia menatapku tajam. Ada ketidakpercayaan dalam wajahnya.
“Bung Andi, kita tidak punya waktu bermain-main. Kita sedang berusaha menyelamatkan seorang Presiden Indonesia” lelaki itu menatapku tajam.
“Saya tahu, residu itu sisa, tapi sisa apa?” aku berusaha mengimbangi, padahal benar-benar tidak mengerti.
“Kita tidak usah fokus pada data itu. Ini hasil olahan intelijen kami dan ini data sisa yang tidak perlu kita hiraukan. Silakan fokus pada nama-nama kota yang ada dan pikirkan jalan keluar.” Tiba-tiba aku seperti merasakan ada pijar lampu di sudut kanan atas kepalaku.
“Ada laptop Pak?” aku bertanya dan dalam hitungan kurang dari 30 detik sang komandan yang dari tadi diam sudah menyodorkan laptop yang siap digunakan.
“Kirim berkas itu ke email saya, Pak” aku meminta pada lelaki itu.
“Untuk apa?”
“Pak, jika Bapak ingin presiden selamat dan benar-benar percaya pada saya, lakukan apa yang saya minta!” aku sudah tidak punya pilihan lain. Nothing to lose. Jikapun laki-laki ini marah, dia tidak akan lebih menakutkan dibandingkan ujung pistol yang siap memuntahkan pelurunya ke tenggorokanku tadi.
Dengan wajah agak ragu lelaki itu mengirimkan berkas ke email yang aku berikan. Dalam sekejap akupun menerimanya di laptop dan segera membukanya. Berkas itu masuk dalam batang tubuh emailku berupa susunan nama kota dan dibawahnya ada angka yang terlihat acak. Nama yang tertera di email itu Puteri Jayagiri. Tentu saja ini bukan nama sebenarnya, tapi aku tidak punya waktu membahasnya. Dengan cepat aku menyalin angka-angka acak itu dan memindahkannya ke berkas notepad. Terlihatlah barisan angka-angka yang sepertinya berpola. Ada tiga kelompok yang terdiri dari tiga, dua atau satu digit yang terpisah spasi. Naluri geospasialku muncul. Koordinat! Aku menduga angka-angka itu adalah koordinat lintang dan bujur yang berpasang-pasangan tanpa simbol derajat, menit atau detik.

“Ini koordinat Pak!” aku berteriak.
“Bung Andi, intelijen kami sudah menyatakan itu residu. Kita fokus pada daftar kota itu.”
“Pak, dalam situasi tidak normal maka kita harus berpikir di luar kebiasaan. Biarkan saya berpikir abnormal dan menyelesaikan tugas saya atau Bapak habisi nyawa saya sekarang. Saya tahu saya tidak punya pilihan.” Digertak seperti itu, rupanya si lelaki dan komandan itu berpikir dua kali. Aku lihat sang komandan memberi kode pada lelaki itu untuk membiarkanku meneruskan apa yang aku kerjakan.

Aku segara menyimpan angka-angka yang aku duga koordinat itu ke dalam berkas teks di notepad. Sejurus kemudian aku buka Excel dan membukanya dengan “space delimited” sehingga deretan kelompok angka itu terpisah dalam kolom-kolom berbeda. Dalam sekejap aku melihat deretan koordinat berpasangan lintang dan bujur. Setidaknya aku menduganya begitu. Aku gemetar karena seperti menemukan satu petunjuk penting dalam tugas yang menegangkan itu. Aku menduga-duga sebentar, teringat keisengan membuat garis-garis di Google Earth dengan koordinat.

“Punya Google Earth Pak?” aku bertanya kepada komandan dan dia menatapku dengan pandangan kosong entah apa maknanya. Akupun segera memeriksa laptop itu dan tidak ada Google Earth. Dalam sekejap aku sudah mengunduh Google Earth yang memang gratis dari situs resminya http://earth.google.com. Seraya menunggu, aku kembali berkutat dengan data-data di Excel. Aku segera mengkonversi data koordinat derajat, menit dan detik itu menjadi derajat desimal. Aku tahu yang aku lakukan, sementara dua lelaki di sampingku nampak tidak yakin dengan apa yang terjadi.

Satu per satu aku periksa koordinat itu, semua sudah berubah menjadi derajat desimal. Berpindah ke window lain, aku lihat berkas program Google Earth sudah terunduh. Akupun memasangnya dengan segera. Proses pemasangan itu terasa berjalan sangat lambat. Aku gelisah, demikain juga dua lelaki itu.
“Untuk apa Bung instal program Google Earth ini?” lelaki itu bertanya tetapi tidak aku jawab. Aku hanya memandangnya sesaat memberi kode agar dia membiarkan saja apa yang aku lakukan.

“Boleh tanya Pak?” aku membuka pembicaraan sambil menunggu pemasangan Google Earth.
“Ya” kata lelaki di sebelahku.
“Jika tahu presiden dalam bahaya, mengapa tidak dilarikan saja pulang ke tanah air dan batalkan semua kunjungan kerja Pak? Bukankah lebih aman begitu?”
“Intelijen kami menemukan indikasi bahwa ada ancaman dan ancaman itu tidak jelas lokasinya. Berpindah tempat bukan tidakan penyelamatan. Siapa yang menjamin kalau pesawat kenegaraan aman dari ancaman bom di saat seperti ini?” Aku tidak berani melanjutkan, sadar betapa dangkalnya analisisku itu. Tiba-tiba aku mendengar telepon berdering.

“Ya?!” komandan bercakap-cakap di telepon. Aku tidak tahu topiknya.
“Pastikan pengawalan lebih ketat. Tidak ada satu detikpun toleransi dan tambah personil. Ya … ya … ya… Sterilkan lokasi konferensi pers malam ini. Tunda 15 menit untuk memastikan tempatnya seteril. Periksa lagi setiap wartawan. Ya, semuanya. Semuanya, tanpa kecuali.” Aku tidak paham makna percakapan itu, hanya bisa menduga-duga.
“Jam berapa konferensi pers Komandan?” lelaki di sebelahku bertanya.
“Aku minta diundur jadi jam 21.15” kata lelaki itu sambil melihat jam tangannya. Akupun ikut melihat jam di laptop di depanku, 40 menit dari sekarang. Aku tiba-tiba tegang dan panik. Entah mengapa.

Aku lihat Google Earth sudah terpasang dengan baik. Aku segera membuka dan mengunjungi berapa tempat. Dan memutar-mutar bola dunia seakan memainkan kelereng. Setiap kali aku bermain dengan Google Earth, aku merasa sakti, merasa berkuasa karena dunia dalam genggaman. Aku segera membuat poligon terbuka sembarang di Google Earth dan menyimpannya. Berkas poligon itu aku simpan ulang menjadi berkas Keyhole Markup Language (KML) di desktop. Lelaki di sebelahku tidak paham yang aku lakukan. Dan sepertinya tidak sabar.

“Bung Andi, saya berhak tahu apa yang Anda lakukan!” tiba-tiba lelaki itu memecah konsentrasiku. Aku menatapnya dan menimbang-nimbang. Jika aku biarkan lelaki ini penasaran, bisa runyam akibatnya.
“Saya menduga, daftar koordinat ini menunjukkan satu bentuk tertentu. Jika titik-titik ini saya tampilkan di Google Earth dan hubungkan dengan garis, mungkin dia akan menjadi satu bentuk yang bisa memberi kita petunjuk. Bisa jadi dia akan berupa gambar gedung yang kita kenal atau berupa titik lokasi yang menunjukkan tempat ancaman atau bentuk lain yang mengarahkan kita pada kesimpulan. Saya belum tahu tapi feeling saya kuat Pak.” Aku mencoba menjelaskan. Dia terdiam tanda membiarkan aku bereksperimen.

Aku membuka berkas KML itu di notepad lalu mengganti koordinat yang ada dengan koordinat yang tadi aku olah dengan Excel. Aku menyalin dan menempel kumpulan koordinat itu di notepad dan menyimpan ulang berakas KML itu. Dalam detik berikutnya aku kembali ke Google Earth dan membuka berkas KML itu sehingga munculah garis-garis di bola bumi yang nampak tidak teratur. Garis-garis itu melingkupi sebagian permukaan bumi dan harus memutar-mutar bola bumi untuk bisa melihat semua garis. Ada yang menarik, semua garis itu memenui belahan utara bumi, semuanya di sebelah utara katulistiwa. Aku mulai berpikir tentang lintang utara, selatan serta bujur timur atau barat. Data itu tidak memuat tanda timur, barat, selatan atau utara. Aku berasumsi semua koordinat itu ada di lintang utara dan bujur timur. Ini yang menyebabkan garis itu hanya memenuhi seperempat dari keseluruhan bumi. Atau datanya memang demikian? Aku amati lagi, bentuk itu tidak menunjukkan pola apa-apa yang bisa kukenal.

“Apakah Bapak bisa mengenali bentuk ini? Aku bertanya pada lelaki di sampingku. Dia menggeleng tetapi matanya sibuk memperhatikan data angka-angka yang ada di layar iPadnya. Meski tadi tidak yakin bahwa data itu berguna, rupanya dia kini penasaran.
“Apa makna tudung dan underscore ini Bung?” si lelaki menunjuk layar iPadnya. Aku melihat memang ada tanda kecil berupa tudung (^) dan underscore (_) di samping setiap kelompok angka yang tadi aku abaikan. Aku merenung dan tiba-tiba ada pijar bola lampu kedua di atas kepalaku.
“Aha! Itu tanda positif dan negatif Pak. Itu membedakan Lintang utara selatan dan bujur timur barat. Terima kasih Pak! You are brilliant!” sementara lelaki itu masih bengong.

Aku segera bekerja lagi, mengolah ulang koordinat itu, kini dengan memasukkan unsur positif dan negatif dalam perhitungan. Dalam sekejap aku ganti daftar koordinat di berkas KML dengan hasil koordinat baru, dan abra kadabra, munculah satu pola baru di permukaan bumi di Google Earth. Kini melingkupi hampir semua permukaan bumi. Aku gemetar, siap-siap menerima petunjuk misterius itu. Lama aku amati, aku tidak berhasil menemukan apa-apa. Aku melihat lelaki di sebelahku juga tidak menemukan sesuatu. Aku membiarkannya memutar-mutar bola Bumi di Google Earth sehingga bisa melihat semua garis.

“Sulit melihat polanya Bung karena melingkupi seluruh permukaan bumi. Adakah caranya agar bumi ini kita datarkan sehingga kita bisa lihat seluruh permukaannya dalam satu tayangan? Dengan begitu kita akan melihat polanya dengan lebih mudah.” Pertanyaan lelaki itu menyentakku.
“Proyeksi! Ya proyeksi! Kita harus proyeksikan garis-garis di bidang lengkung ini sehingga muncul pada bidang datar yang bisa kita lihat dalam satu lembar tayang.” Lelaki itu nampak kurang paham maksudku.
“Kita harus munculkan garis ini dalam peta Pak! Google Earth ini bidang lengkung dan peta adalah pendataran dari bidang lengkung tersebut…” aku sudah bersiap-siap menjelaskan apa itu proyeksi peta dan bagaimana rumusnya, tetapi aku urungkan niat. Tidak ada gunanya. Aku lihat lelaki itu diam menunggu setengah ragu tetapi terlihat mulai paham.

Aku segera membuka browser internet dan mengunjungi Google Maps. Tanpa menunggu aku masuk dengan akun Gmail sehingga bisa melihat “My Places” dan aku segera membuat peta dengan “Create Map”. Tanpa menunggu lama aku impor berkas KML baru itu ke dalam Google Maps sehingga terpampanglah satu bentuk yang kini sedikit lebih jelas. Ada satu garis yang bermula dari Ottawa, Kanada lalu ke Edmonton, Kanada untuk seterusnya mengarah ke selatan ke Sacramento California, US lalu ke Santiago di Chile. Garis itu kemudian berbelok ke timur lalu ke atas dan seterusnya. Tiba-tiba aku sadar, nama-nama kota yang dilakui garis itu begitu mirip dengan daftar nama kota yang yang tadi diserahkan oleh lelaki ini, meskipun susunannya berbeda.

“Kem” tiba-tiba lelaki di sebelahku berteriak. Sementara aku masih bingung.
“Kem apa Pak?”
It’s cam for camera” kata lelaki itu yang ternyata fasih berbahasa Inggris meskipun dengan logat Jawa. Tiba-tiba komandan yang dari tadi diam mengangkat alat komunikasinya. Dan mulai berbicara hal-hal yang tidak sepenuhnya aku mengerti.
“Amankan kamera… Amankan kamera wartawan. Siap-siap semua, pantau setiap kamera di ruang konferensi pers!” sang komandan memberi instruksi dan aku masih gelagapan.
“Bung, coba lihat ujung akhir kaki kanan huruf M. Ada di mana?” lelaki di sebelahku bertanya. Aku memperbesar peta dan mencoba mengamati kaki kanan yang memang kini nampak seperti huruf M itu. Aku memperbesar hingga zoom maksimal dan ternyata ada di Sydney, Australia.
“Sydney Pak.”
“Anda hafal daerah ini?”
“Lumayan Pak. Saya sudah enam tahun mengenal kota ini.”
“Coba zoom hingga lokasi jalan atau blok bangunan!” katanya, kini terdengar seperti perintah dan aku lakukan.
“Martin Place Pak.” Aku setengah berteriak.
“Apakah itu dekat dengan hotel Le Meridien ini?” Aku segera mengecek dengan fasilitas direction di Google Maps.
“Sebelas menit jalan kaki, sekitar 800 meter Pak” aku menjawab cepat. Lelaki itu merenung mencoba menganalisa. Tiba-tiba aku melihat sesuatu di peta itu.
“Sebentar Pak. Sepertinya ujung kaki kanan M ini tepat berhenti di sebuah stasiun TV Pak.”
“Coba cek stasiun TVnya Bung!” Aku kemudian melihat label yang tersamar di Google Maps sambil melirik jam di layar komputer yang menunjukkan 21.09.
“Ini Channel Seven Pak!” aku menjawab dengan yakin. Tiba-tiba suasana ruangan jadi gaduh. Sang komandan yang dari tadi tidak berkata apa-apa kembali berbicara di alat komunikasinya sambil bergerak. Aku tidak tahu persis. Yang aku dengar hanya beberapa kata.

“Kamera channel seven! Amankan kamera wartawan channel seven. Mawar ada di kamera Channel Seven!”

Sang komandan berlari ke luar ruangan diikuti lelaki yang dari tadi bekerja sama denganku. Aku bahkan tidak sempat mengenal nama kedua orang ini. Sementara aku sendiri di ruangan itu dan mencoba berlari menyusul mereka. Aku keluar dari ruangan dan tiba-tiba langkahku dicegat oleh Serka Suryadi dan Serka Abidin. Rupanya keduanya menunggu di luar kamar hotel.

“Maaf Bapak Andi. Bapak tidak diperkenankan ke ruang konferensi pers. Suasana tidak kondusif. Paspamres sedang mengamankan ruangan. Tim penjinak bom dan senjata api sedang bergerak.
“Apakah presiden sudah di ruangan?” aku bertanya waswas.
“Kurang tahu Bung. Kemungkinan baru tiba di ruangan, sekarang sudah jam 21. 12. Namun kami harap Presiden bisa dilindungi. Di saat dialog menegangkan itu, tiba-tiba kami mendengar ada teriakan gaduh dari ruang konferensi yang tidak jauh dari tempatku berdiri. Teriakan itu sepertinya berasal dari kumpulan wartawan yang sedang menunggu konferensi pers presiden. Aku hanya bisa membayangkan apa yang terjadi sambil menahan rasa penasaran yang teramat sangat. Aku tidak tahan dan mencoba berlari ke arah kegaduhan itu. Serka Suryadi dengan sigap meraih bahuku dan menahanku dengan kuat. Sejenak kemudian aku mendengar suara.

“Mas.. Mas.. Mas.. Mas Andi, bangun Mas. Mau lihat konferensi pers presiden nggak?” Seorang lelaki menepuk-nepuk pundakku. Sambil berusaha menguasai diri, aku mencoba membuka mata. Hal pertama yang aku lihat adalah keranjang buah yang masih sama, bertuliskan “Kamar Presiden”.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

29 thoughts on “Rahasia Pembunuhan Presiden”

  1. Waduh, sempat saya mengikuti adegan yang ternyata mimpi..Waduh, salut dengan imajinasi mas Andi..Cocok banget jadi sutradara Hollywood mas ya…

  2. Having read the article, put me in a such tense situation. The details are like in a real situation. However, a smile comes up in the end of the story.
    You are a great writer, bli Andi. I like to read your posts. 🙂

  3. hehehehehe..tak berubah sama sekali!..100% bertambah tajem pak Andi..dengan begitu sempurnanya pak Andi mengkomfersi bawah sadar ke dalam tulisan yang aku yakin semua pasti akan tercengang dengan isinya !!..tapiiii..begitu liat tulisan bawah!? hahahahaha…ma’ pen’k..!..huuuuu MIMPI!! hahahahahahaha…..

  4. mantap bli Andi…jadi terbawa emosi baca ceritanya. Pengen cepat lihat versi filmnya..hehe. sayang resolusi videonya rendah jadi ngga jelas step-step nya….andai bisa dapet yg resolusi lebih tinggi….:)

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s