Bulan Maret lalu, saya mengunjungi sebuah negara, sekitar 5000 kilometer dari tempat tinggal saya. Negara ini sudah lama saya kenal namanya tetapi rupanya saya tidak akrab dengan data obyektif tentangnya selama ini. Di penghujung 1990an silam, negara ini berhasil membebaskan diri dari tirani kekuasaan rejim otoriter karena rakyatnya bersatu padu. Mahasiswa satu suara dan para pekerja memberi dukungan sehingga perubahan terjadi. Dalam kesibukan berbenah untuk peralihan kekuasaan, banyak hal yang terjadi. Ada tiga orang presiden yang menjabat selama lima tahun sebelum akhirnya berhasil menjadi sebuah demokrasi. Untuk pertama kalinya, presiden dipilih langsung oleh rakyat pada tahun 2004.
Ketika saya mengunjungi negara itu, dia sedang menikmati pertumbuhan ekonomi di atas enam persen. Kebebasan pers kini terjamin, setiap orang bebas bersuara menyampaikan gagasannya. Presiden bisa dijadikan bahan debat tidak saja di kedai-kedai kopi tetapi juga di forum ilmiah yang serius. Demokrasi memberi ruang ekspresi politik sehingga partai tumbuh subur, memberi ruang yang lebih luas bagi partisipasi publik.
Pada tahun 2009, untuk pertama kalinya dalam sejarah bangsa ini, presiden menghakhiri masa jabatannya dengan wajar. Presiden pertama yang dipilih secara demokratis ini memulai dan menghakhiri masa jabatannya sesuai dengan ketentuan hukum. Hal ini berbeda dengan presiden sebelumnya yang dikudeta, diturunkan oleh rakyat, diangkat di tengah jalan untuk menggantikan presiden sah, atau diturunkan oleh lembaga legislatif. Bangsa ini layak tersenyum dengan kemajuan politik itu.
TALOS edisi 5 sudah bisa diunduh dalam bentuk draft di sini dan animasi saya melengkapi ilustrasi masing-masing bab (chapter) seperti yang ada di bawah ini.
Saya akan menjadi layaknya komentator sepak bola yang bisa memuji maupun mengkritik tetapi belum tentu (atau pasti tidak) bisa melakukan. Komentator sepak bola yang canggih umumnya tidak bisa main sepak bola. Jika saya punya kemampuan untuk memperbaiki presentasi saya maka ada hal-hal yang ingin saya perbaiki bercermin pada presentasi Agus Yudhoyono seperti yang ada di video berikut:
Tahun lalu saya membuat beberapa video tips pengisian formulir beasiswa Australia Development Scholarship (ADS). Tahun ini, nama beasiswanya berubah menjadi Australia Award Scholarship (AAS) dan formulirnyapun mengalami sedikit perubahan. Meski demikian, pada prinsipnya masih sama sehingga video ini saya rasa masih relevan. Silakan disimak untuk mendapatkan bahan perbandingan. Semoga lamaran Anda tahun ini berhasil dengan baik. Selamat menyaksikan.
Di tangah malam itu, tiba-tiba Asti, isteri saya, keluar dari kamar, menemui saya yang masih di depan komputer. Di tangannya ada iPad yang pada layarnya ada Lita yang sedang bicara lewat Skype. Menyusul di belakangnya ada Mbak Dyah dan Sita, dua teman serumah, sesama pejuang Indonesia di Australia. Ada kue cantik dan tiga lilin yang menyala. Terharu sekali, kejutan kecil itu begitu menyentuh. Memang bukan pesta mewah atau kue mahal dan hingar bingar perayaan. Malam itu istimewa karena penuh dengan sentuhan pribadi.
Lita turut menyanyi lewat Skype dan membantu saya meniup lilin ketika lagu ulang tahun selesai dikumandangkan. Saya masih ternyanyut dalam haru. Adalah perayaan kecil sederhana yang dibalut dengan sentuhan pribadi ini yang membuat ulang tahun saya yang ke-35 jadi istimewa. Semua mengulurkan tangan. Sita dengan sigap mengabadikan gambar dan seperti biasa mengupload foto lebih cepat dari saya memotong kue. Sementara itu Mbak Dyah sibuk di dapur membuat cocktail yang istimewa. Di tengah malam itu kami membuat satu pesta kecil yang begitu berkesan.
Bahan kuliah dalam bentuk animasi Flash. Klik untuk melihat.
Salah satu kemewahan sekolah S3 di negara maju adalah kesempatan untuk menjalankan peran-peran professor/pembimbing. Salah satu kesempatan itu adalah mengajar. Tidak jarang mahasiswa S3 diberi kesempatan mengajar S1 atau bahkan S2 oleh supervisornya. Ini kesempatan baik dan bisa mendatangkan uang. Saya punya beberapa pengalaman serupa tetapi yang saya ceritakan kali ini agak berbeda.
Ingin punya radio dan bisa didengarkan di seluruh dunia? Gampang. Luangkan waktu satu jam maka Anda sudah akan punya radio online dan siap siaran dari mana saja sepanjang ada koneksi internet. Saya sudah membuat beberapa radio online dalam waktu sebulan terakhir. Berikut langkahnya.
Tidak biasanya, aku kesulitan memulai sebuah ujar-ujar tentang keindahan. Aku ditikam kecantikan yang beku dan misterius. Kota Praha, dinginnya menawan dan menyandera hati yang terkejut penuh seluruh. Aku akan ceritakan sebuah perjalanan. Perjalanan yang tiba-tiba dan sekedar mengekor naluri yang terpengaruh oleh hingar bingar perdebatan di suatu senja yang bernas. Aku berjalan menuju satu kota, mengharap bisa menyingkap misteri yang tak pernah kugantungkan terlalu tinggi.
Praha mengejutkanku, Kawan! Aku mencoba-coba merangkai kata, menggambarkan pesona yang tertumpah lewat dingin yang menggigit atau semburat sinar yang ragu-ragu di balik kolom-kolom gedung tua. Pesona yang berpendar lewat batu-batu yang menjulang tinggi, tersusun rapi merenda ukiran-ukiran berwibawa. Pesona yang memancar dari pucuk-pucuk menara di kastil-kastil tua yang bijaksana atau sungai yang membelah kota dengan tenang dan percaya diri. Tapi aku tak kuasa. Keindahan ini di luar kuasa kata-kata maka aku ingin mengajakmu menikmatinya.
Kita akan susuri pagi musim dingin yang menggigil, menanjak dari rumah tinggal kita menuju stasiun kereta di sebelah rumah. Maka nikmatilah kepulan asap dari mulutku dan tertawalah melihatku bersidekap merintih-rintih menahan dingin. Atau ketika aku menenggelamkan kedua telapak tangan di saku celana dan bersikeras menarik kepala ke dalam dada. Maklumilah, aku putera katulistiwa yang bermewah-mewah dengan hangatnya matahari sepanjang tahun. Maka dingin ini memberi nuansa baru, gigil yang mengundang gelisah.
Di dalam kereta listrik itu kita menikmati perjalanan. Ular besi ini melintas tenang pada alur-alur baja yang menjaga lintasannya. Nikmatilah gerit roda yang mendesing-desing membawa kita ke sebuah tempat yang kita tak tahu. Tengoklah ke belakang dari kaca jendela, alur baja itu membentang jauh kita tinggalkan tetapi seperti tak habis dan ujungnya tak kunjung kita temui. Lihatlah aku yang bersandar di belakang, mencoba merayu seorang gadis cantik yang malu-malu ketika disapa. Anak dara itu tersenyum simpul ketika kupuji perihal tutur bahasa asingnya yang memukau. Dia memerah wajahnya kawan, sambil dipatut-patutkannya sikapnya untuk mengembalikan pujiannya padaku. Aku tergelak dalam hati. Tak usah kau curiga karena aku tak tertawan senyumnya tapi pada ubin-ubin batu yang berbaris rapi menopang alur-alur baja yang dilintasi ular besi ini. Aku terpesona pada misteri peradaban tua yang mengkilat bercahaya dalam wibawa yang rentanya.
Mari kita turun. Lalu berlari sambill bersenda gurau menuju lorong bawah tanah. Kita tunggangi naga besi lainnya yang rupanya tak suka matahari dan mendekam sehari-hari di lorong-lorong yang dalam. Rasakanlah tangga yang melaju deras membawa kita menuju sarangnya di bawah sana. Dia akan membawa kita pada satu istana. Di sepanjang jalan, mari kita kisahkan tentang negeri ini. Tentang perpisahannya dengan kerabat dekatnya dan tentang pergantian namanya dari Cekoslovakia menjadi Ceko karena harus membiarkan kerabat dekatnya, Slovakia, berjalan sendiri. Konon mereka berpisah tanpa perang, kawan! Orang-orang bijak menyebutnya disolusi damai yang akhirnya membagi kecantikan alam menjadi dua. Aku duga, senyum gadis di Slovakia tak kalah berseri dengan wajah yang tadi kurayu di dalam kereta.
Mari kita takjub, membiarkan mulut kita terngaga dan hati berdecak kagum menyaksikan kesempurnaan. Sama sepertimu, aku tak pernah menduga kota ini menyimpan pesona begitu cemerlang. Aku menuduhnya renta dan tak berwibawa karena kemelaratan yang menghimpitnya. Aku salah kawan. Aku salah, seperti kamu juga yang pasti salah. Praha menyimpan rapi keelokan paras kota dan rumitnya peradaban panjang yang menyejarah. Rasakanlah pesona itu terpancar dari gedung-gedung tua berwibawa atau dari ukiran-ukiran kastil yang menjulang. Dengarkanlah mereka bercerita tidak saja tentang raja-raja Eropa dan sejarah panjangnya tetapi juga tentang sepak bola yang mereka menangkan. Maka Slovakia tak akan pernah bisa dipisakan dari Ceko karena nama keduanya pernah bersanding menjadi satu tatkala tropi Piala Eropa disematkan pada para pahlawan sepakbola di tahun 1976. Tapi kita bukan pemuja bola kawan. Kita adalah pemuja desiran angin yang dingin, pemuja hembusan kabut yang mengepul dari mulut-mulut para pejalan kaki yang berseteru dengan gigil musim dingin. Kita adala pemuja lorong-lorong sempit diantara gedung-gedung tua yang dibangun dengan segala kebanggaan berabad silam.
Lalu kita akan berhenti di sebuah jembatan tua. Jembatan ini memastikan kehagatan dari dua sisi kota tetap terjaga atau beku musim salju tidak hanya menyengsarakan satu ujung belaka. Jembatan ni adalah cerita tentang ikhtiar mengatasi keterpisahan. Mari kita berhenti sejenak, lalu saksikanlah sebuah museum di kejauhan yang nampak mungil namun berwibawa. Di pinggir sungai itu, dia mempertontonkan sebuah kebanggaan yang kiranya memang layak disombongkan. Pada sebuah papan batu di kejauhan itu, tertulis Kafka Museum. Dialah kebanggaan bangsa Ceko, Kawan! Dialah penulis ternama yang namanya dicatat dengan tinta emas dalam daftar yang mewarnai wajah dunia lewat tradisi berpikirnya.
Mari kita duduk sejenak di taman kota setelah seharian menikmati keindahan yang dibalut sejarah panjang. Berkelakarlah kita tentang Nusantara di belahan bumi utara. Dulu Sang Proklamator kita, konon, melihat Cekoslovakia sebagai sahabat. Lihatlah sepatu Batta yang sejatinya berasal dari sini dan dijadikan tradisi alas kaki di negeri kita. Dan jika kamu masih tidak paham mengapa leluhur kita menyebut odol untuk pasta gigi, di kota ini kita temukan jawabannya. Mereka bahkan masih menggunakannya hingga hari ini. Di sudut-sudut toko yang berjejal di Praha, kita bahkan temukan petunjuk-petunjuk jitu tentang rasa penasaran kecil kita tentang Nusantara. Dan nikmatilah salam sapa seorang pemuda tampan yang berdiri angkuh bersandar di sebuah kereta besi masa silam yang berkilat-kilat. Terkejutlah kamu karena dari mulutnya tercurah bahasa ibu kita yang tak asing di telinga. Pemuda itu adalah ceceran tanda persahabatan satu bangsa di garis katulistiwa dan satu peradaban di belahan bumi utara.
Lelahkah kamu mengikutiku? Aku tahu, sejarah panjang ini tak kan habis dinikmati sehari. Tapi hari telah senja, Kawan. Mari kita beranjak pulang. Perjalanan kita masih jauh dan kita harus melintasi bangsa-bangsa menuju peradaban lain. Tubuh-tubuh kita harus melesat pergi meski hati berat untuk beranjak. Hati kita tersandera, Kawan. Tersandera pesona Praha.
This video is part of my lecture at RSIS, NTU, Singapore on 14 March 2013. I was invited to Singapore to gave a lecture to students and government official regarding maritime boundaries.