Tips Seleksi Beasiswa AAS/ADS dari Tim Seleksi

Video ini menjelaskan secara gamblang bagaimana seorang pejuang Beasiswa Australia Awards Scholarship (AAS) atau Australian Development Scholarship (ADS) berhasil diterima. Patut disimak dengan seksama. Video ini diambil dari website resmi Beasiswa AAS/ADS www.australiaawardsindo.or.id

Perfect strangers

http://upload.wikimedia.org/

Setengah penggal Maret 2013 saya menghabiskan cukup banyak waktu di pesawat. Saya bertemu dan duduk dengan banyak orang asing di pesawat. Mari kita sebut mereka “perfect strangers”, orang yang bener-benar tidak saya kenal sebelumnya. Saya yakin, kita semua pernah mengalami situasi demikian meskipun lokasi dan konteksnya berbeda. Apa yang Anda lakukan ketika duduk dengan orang asing di kereta atau bus atau pesawat atau sekedar halte? Pilihannya tentu beragam. Yang paling umum adalah diam, tidak menyapa dan tidak mengganggu. Orang yang memilih cara ini mungkin tidak ingin megganggu dan diganggu. Biasanya saya memilih untuk berinteraksi. Bisa jadi ini tidak baik bagi sebagian orang, bagi saya ini lebih menyenangkan.

Memang tidak selalu mudah memulai percakapan, terlebih jika orang yang di samping kita cenderung diam dan tenang. Selain itu, memang kita mudah dihinggapi perasaan rendah diri atau malu, terutama ketika orang yang duduk di samping kita terlihat perlente penampilannya. Selain itu, tidak sulit untuk mencurigai orang yang ada di samping kita sombong. Dalam perjalanan, saya kadang terbang belasan jam. Sangat mudah untuk tampil kucel dan tidak meyakinkan. Ini menambah kerumitan jika harus memulai percakapan.

Continue reading “Perfect strangers”

Cerita dari Berlin

berlinEntahlah apa yang Anda pikirkan ketika membaca ini. Berlin bisa mengingatkan banyak hal berbeda pada masing-masing orang. Dulu, di awal tahun 1990an, saya teringat mendiang Farid Hardja ketika mendengar kata Berlin. Pasalnya, dia meyanyikan lagu tentang runtuhnya Tembok Berlin. Di Belakang hari saya mengingat Berlin sebagai suatu tempat yang pernah menunjukkan bentuk paling nyata sebuah perbatasan antarnegara. Berlin juga mengingatkan saya pada seorang kawan di Jakarta yang bernama Berlina karena lahir di Berlin ketika ayahnya menjadi diplomat. Anda boleh mengingat apa saja soal Berlin tetapi kali ini saya akan mengingat sebuah perjalanan.

Jerman adalah kunjungan luar negeri pertama saya tahun 2013 ini. Kunjungan ke Berlin istimewa karena saya berbicara di sebuah acara yang penting, setidaknya menurut saya: Simposium Ketahan Bumi atau Earth Resilience. Tidak hanya itu, ini adalah kunjungan saya yang pertama ke ibukota Jerman itu, meskipun sebelumnya sudah pernah ke Heidelberg, Munich dan Frankfurt.

Continue reading “Cerita dari Berlin”

Berlin 2013: telur setengah matang

Cerita ini bagian dari Berlin 2013

Tanggal 7 Maret saya meninggalkan Berlin menuju tanah air. Siang menjelang sore itu saya mengajak Ayu makan siang terakhir. Meskipun hampir seminggu tinggal bersama, kami jarang sekali bertemu karena kesibukan masing-masing. Saya ingin menyampaikan terima kasih saya yang tulus di hari terakhir. Saya sudah berjanji mengajak Ayu makan siang dan kali ini saya yang akan mentraktir. Dibandingkan segala kebaikan Ayu yang telah menyediakan tempat tinggal dan sarapan sehat setiap hari, traktiran itu adalah hal minimal yang bisa saya lakukan. Kami makan di sebuah restoran sushi.

Continue reading “Berlin 2013: telur setengah matang”

Berlin 2013: Anna

Cerita ini bagian dari Berlin 2013

Selama di Jerman saya tinggal bersama Ayu, adik dari seorang kawan lama. Ayu tinggal di sebuah apartemen yang pemiliknya bernama Anna. Mungkin juga saya salah menuliskan namanya tetapi demikianlah yang saya dengar. Anna sudah cukup berumur, mungkin di atas 60 tahun. Meski sudah berumur masih terlihat sehat dan cekatan. Anna orang yang ramah, meskipun Bahasa Inggrisnya kadang terbata. Yang pasti, jauh lebih bagus dari Bahasa Jerman saya yang bisanya hanya Ich liebe dich. Dalam sekejap saya bisa meyakini Anna adalah orang yang menghargai tamu dengan baik. Ketika saya sampaikan permohonan maaf karena tidak bisa berbahasa Jerman, dengan serta merta dia menjawab bahwa diapun tidak bisa berbahasa Indonesia. Begitulah caranya menegaskan bahwa tidak ada bahasa yang lebih terhormat di dunia ini. Semua bahasa sama saja dan orang tidak harus bisa berbahasa asing untuk menunjukkan dia seorang yang baik. Mungkin itu pelajaran yang bisa saya tangkap dari perkataan Anna.

Continue reading “Berlin 2013: Anna”

Berlin 2013: Bertemu Presiden

Cerita ini bagian dari Berlin 2013

photo

Ketika berjalan-jalan di Berlin tanggal 4 Maret, kami menyaksikan kedatangan Presiden SBY di kota itu. Beliau tinggal di Adlon Hotel Berlin, hotel yang sama dengan tempat menginap Michael Jackson saat dia melakukan tindakan berhaya menunjukkan anaknya kepada wartawan. Masih ingatkah Anda dengan kejadian itu? Jika tidak coba cari di Google. Dari kejauhan kami melihat rombongan presiden yang menarik perhatian masyarakat lokal dan internasional. Sementara di sekitarnya terlihat pasukan pengawal presiden dan diplomat Indonesia yang memastikan kunjungan itu berjalan lancer. Suasana cukup tegang, seperti halnya kunjungan kepala negara lainnya. Keamanan tentu saja menjadi salah satu perhatian dan perlu mendapatkan jaminan.

Continue reading “Berlin 2013: Bertemu Presiden”

Berlin 2013: Ibu Ani Yudoyono

Cerita ini bagian dari Berlin 2013

Penjelajahan Berlin lebih banyak kami lakukan dengan berjalan kaki. Salah satu target kunjungan adalah Gereja Katedral di Berlin yang terkenal itu. Saya bukan seorang kurator tempat wisata atau bangunan bersejarah. Maka saya sudah merasa senang bisa melihatnya dari dekat dan mengambil satu atau dua foto. Seperti orang biasa lainnya, berkunjung ke sebuah tempat lebih utama untuk memenuhi naluri narsis. Jika ingin belajar sejarah, sangat banyak buku dan artikel terpercaya yang bisa dibaca. Maka kunjungan ini jelas bukan untuk mempelajari sejarah tetapi untuk menikmati suasana yang tidak bisa diperoleh dengan membaca buku.

Continue reading “Berlin 2013: Ibu Ani Yudoyono”

Berlin 2013: Napak Tilas Kisah Tembok Berlin

Cerita ini bagian dari Berlin 2013

[youtube http://youtu.be/43TDXoXITgU]

Pagi itu, tanggal 4 Maret saya sudah termangu-mangu di kereta yang membawa saya ke Posdamer Platz. Hari itu kami, beberapa peserta Earth Resilience Simposium sepakat untuk jalan-jalan menjelajahi Berlin. Dian dan Faisal bertindak sebagai tour guide, sementara pesertanya adalah saya, Kang Ade, Vivi, Wiene, Adhitya dan Tiara. Sementara yang lain sepertinya punya agenda penjelajahan sendiri. Sebagai orang yang mempelajari perbatasan, target utama saya adalah Tembok Berlin sebagai wujud paling nyata perbatasan yang memisahkan Jerman Barat dan Timur di masa lalu. Sudah lama saya jadikan Tembok Berlin sebagai ilustrasi awal saat mengajar perbatasan. Saya jadikan ilustrasi bahwa batas antarnegara bisa saja lenyap karena bersatunya dua negara menjadi satu. Saat itulah, untuk pertama kalinya, Kenichi Omahe mempopulerkan istilah baru “borderless world”.

Continue reading “Berlin 2013: Napak Tilas Kisah Tembok Berlin”

Berlin 2013: Suatu Malam di Restoran Halal

Cerita ini bagian dari Berlin 2013

restoranberlinTanggal 3 Maret 2013, acara symposium berlangsung begitu seru. Pembicara bersemangat, pesertapun begitu antusias. Semua tertarik menyatakan pendapatnya dan diskusi berlangsung begitu menarik. Yang mengharukan, para peneliti senior seperti Bapak Sanusi Satar, dr. Tik Tan dan Dr. Desy Irawaty, mengikuti acara dengan sabar dan tekun. Sebagai senior, bahkan merelakan waktunya untuk tetap bersama anak-anak muda yang masih blingsatan mencari jati diri dan meneguhkan perannya di pentas akademik. Hari itu diakhiri dengan penyusunan rekomendasi yang berjalan setengah berkelakar tetapi efektif menelorkan hal-hal penting.

Malam telah gelap saat winter masih segar di Berlin ketika semua acara symposium telah kelar. Sebagian besar peserta masih tidak beranjak karena tidak mau melewatkan kesempatan bercakap-cakap santai dengan teman baru dan lama dari berbagai negara. Beberapa orang akan segera bertolak ke negara masing-masing sehingga sayang jika harus dilewatkan begitu saja. Beberapa orang setengah berkelakar minta diajari cara membuat animasi dengan power point. Wiene, salah seorang kawan dari Wina, Austria salah satu yang tertarik. Sempat juga saya peragakan beberapa tips sederhana membuat animasi dengan power point. Sementara itu, sebagian lain masih tidak percaya bahwa animasi itu dibuat dengan power point. Sebagian lain yakin kalau saya membuatnya dengan flash padahal saya sama sekali tidak bisa flash. Saya tegaskan lagi di sini, semua itu dengan power point saja, tidak lebih tidak kurang.

Continue reading “Berlin 2013: Suatu Malam di Restoran Halal”

Berlin 2013: Sepuluh hal yang ‘merusak’ presentasi

Cerita ini bagian dari Berlin 2013

andiERSelain belajar ilmunya, saya selalu mengamati gaya presentasi orang-orang di setiap forum yang saya ikuti. Di Berlin, saya juga sempatkan mengamati setiap presenter, berharap bisa belajar dari mereka semua. Tidak disangkal, yang hadir di sana adalah orang-orang terpilih sehingga tidak sulit mencari hal yang bisa dijadikan pelajaran. Secara umum presentasi mereka sangat bagus, dengan bahan yang berkualitas baik dan penyampaian yang menarik. Meski demikian, pelajaran tidak saja bisa diambil dari kebaikan tapi juga dari kelemahan. Saya mencatat sepuluh hal yang semestinya tidak dilakukan oleh seorang presenter saat memaparkan gagasannya. Hal ini juga masih terjadi saat presentasi di Berlin.

  1. Ngobrol dengan layar. Banyak presenter yang terjebak lebih sering melihat layar daripada hadirin. Di Berlin, tata panggung memaksa presenter untuk melihat ke layar lebih sering karena memang tidak ada komputer di depan presenter yang bisa dijadikan media monitor. Saya sebenarnya berharap presenter menghadapi laptopnya sendiri di depannya sehingga tidak perlu sering melihat ke belakang dan ngobrol bersama layar besar dan ‘melupakan’ hadirin. Setelah mengamati video saya, ternyata saya juga cukup sering melakukan ini. Ini harus dikoreksi.
    Continue reading “Berlin 2013: Sepuluh hal yang ‘merusak’ presentasi”