Pagi itu saya berangkat ke kampus di University of Wollongong dengan mengendari bus. Sebelumnya saya mampir di ALDI, sebuah tempat belanja, untuk membeli beberapa biji buah pir. Saya terbiasa ngemil kelau sedang bekerja.
Karena sudah jelas apa yang dicari, dalam waktu singkat saya sudah menjinjing satu kotak buah pir dan siap antri di depan kasir. Di depan saya ada sekitar empat orang yang sedang antri dan satu orang sedang dilayani. Tepat di depan saya ada seorang ibu-ibu yang sudah cukup berumur. Saya tersenyum ketika dia menoleh ke belakang. Diapun tersenyum lalu memerhatikan barang belanjaan saya yang hanya satu bungkus. Sementara itu, belanjaannya sangat banyak, demikian pula orang-orang yang antri di depannya. Semuanya berbelanja dengan troli besar dengan belanjaan beragam. Continue reading “Kebaikan yang Menyentuh”
Sahabat saya, Sony Kusumasondjaja, tiba-tiba menyapa saya di twitter ketika saya berada di tanah air untuk beberapa lama bulan Maret lalu. Sony, katanya, akan mengirimkan sesuatu untuk saya. Sesuatu itu ternyata adalah sebuah buku berjudul River’s Note. Dari judulnya, sekilas terdengar seperti sebuah novel roman. Itu juga yang diduga oleh seorang kawan saya di Sydney ketika melihat novel itu tergeletak di meja.
River’s Note tidak bergenre roman. Mungkin tidak bisa juga dikatakan sebuah novel. Seperti namanya, River’s Note adalah kumpulan catatan. Ini adalah catatan seorang bapak kepada anaknya. River adalah nama anak yang dibicarakan atau menjadi penerima pesan itu. Itulah rupanya yang menjadi alasan pemilihan judul itu. River’s note adalah sebuah buku non fiksi, tulisan seorang ayah atau calon ayah yang merupakan pesan cinta kepada anak atau calon anaknya.
Saya menerima buku itu di rumah di Jogja, disaksikan oleh Lita, anak saya. Rasa ingin tahunya tentu saja tidak terbendung. Lita membuka buku itu bahkan sebelum saya. “Lita pernah membaca buku ini Yah” katanya, “tapi belum selesai” sambil mencari-cari halaman terakhir yang dia baca. Lita baru kelas dua SD dan tidak memiliki kegemaran membaca, saya tahu itu. Bisa jadi yang dikatakannya benar, tapi saya tidak mendapat jawaban yang memuaskan ketika bertanya tentang apa buku itu. Dia sibuk membolak balik halaman buku lalu menyampaikan informasi yang berubah-ubah terkait halaman terakhir yang dibacanya. Sungguh tidak meyakinkan.
Duta Besar Australia untuk Indonesia, Greg Moriarty, menyampaikan sebuah pernyataan yang mengejutkan sekaligus menyenangkan bagi pelamar beasiswa Australia Awards Scholarship (AAS) yang dulu disebut Australian Development Scholarship (ADS). Dalam pernyataannya yang dilansir Antara di Jakarta pada tanggal 1 April 2013, Dubes Moriarty menegaskan bahwa SEMUA palamar AAS yang menyerahkan berkas sebelum 1 Mei 2013 akan otomatis DITERIMA. Semua pelamar sebelum tanggal 1 Mei tidak akan diseleksi tetapi langsung diberi beasiswa untuk sekolah S2 atau S3 di perguruan tinggi terkemuka Australia sesuai pilihan mereka.
Ketika ditanya soal kuota penerima beasiswa AAS, Dubes Moriarty menegaskan bahwa untuk periode ini, tidak ada batasan kuota. Semua pelamar yang menyerahkan berkas sebelum 1 Mei pasti diterima. Dikatakan bahwa tidak akan ada seleksi IP dan Bahasa Inggris (TOEFL atau IELTS). Australia juga sudah menyiapkan dana tambahan karena yakin bahwa pelamar tahun ini akan membengkak jumlahnya karena kebijakan baru ini. “Berapa pun jumlah pelamar sebelum tanggal 1 Mei pasti kami terima”, kata Dubes Moriarty menjawab pertanyaan wartawan yang seakan meragukan kebijakan ini. Menurut Dubes Moriarty, pengumuman ini sengaja diberikan pada tanggal 1 APRIL untuk memberikan kesempatan kepada pelamar menyiapkan berkas lamarannya selama satu bulan penuh.
Pelamar Beasiswa AAS yang mendaftar sebelum tanggal 1 Mei tidak akan perlu untuk tes TOEFL atau IELTS, tidak juga harus tinggi IPnya. Mereka tidak harus repot-repot mempelajari tips wawancara beasiswa, tidak juga perlu untuk menghubungi calon supervisor bagi pelamar Master by Research dan PhD. Mereka tidak diwajibkan kontak dengan calon universitasnya di Australia karena surat penerimaan itu tidak diperlukan. Kelompok yang diterima ini juga akan dicarikan universitas, termasuk dibantu soal akomodasi selain beasiswa rutin yang jumlahnya dua kali lipat dari sebelumnya.
Dubes Moriarty menegaskan bahwa ada banyak sekali anak muda di Indonesia yang bermimpi sekolah ke luar negeri termasuk Australia sehingga bisa mengenyam kehidupan yang nyaman. Dubes juga menyadari ada banyak dari mereka yang punya keinginan tetapi tidak mau berusaha keras menggapainya. Pengumuman tanggal 1 April 2013 ini memang ditujukan khusus bagi orang-orang yang demikian. Orang yang menginginkan kesenangan tetapi tidak bersedia berjuang. Mereka juga tidak perlu membaca jurnal akademik sebelum sekolah ke Australia karena saat bersekolah di Australia nanti mereka lebih banyak berwisata melihat-lihat tempat yang ikonik tanpa perlu membuat tugas makalah ribuan kata.
Singkat kata, beasiswa AAS atau ADS tahun ini ditujukan buat siapa saja, terutama mereka yang tidak mau membaca buku panduan beasiswa yang tebal itu. Buku panduan itu tidak perlu karena dijamin semua pelamar sebelum tanggal 1 Mei akan diterima, betapapun buruk kualitas akademik dan Bahasa Inggris mereka. Para pelamar disarankan segera menyiapkan berkas lamarannya agar bisa menyerahkan sebelum tanggal 1 Mei. Untuk melihat sendiri pengumuman Dubes Moriarty, silakan klik tautan berikut.
PS. Jika ingin mengetahui Beasiswa AAS/ADS lebih lanjut, silakan baca buku terbaru saya “Berguru ke Negeri Kangguru“
Seorang kepala negara menjabat sebagai ketua umum sebuah partai itu bukan sesuatu yang luar biasa, bukan pula pelanggaran hukum. Di Australia, misalnya, ketua partai bahkan ‘otomatis’ menjadi perdana menteri. Makanya, jika partai mengalami gonjang ganjing dan terjadi pergantian ketua maka itu berarti terjadi pergantian perdana menteri. Inilah yang terjadi di Australia ketika Julia Gillard menjadi perdana menteri menggantikan Kevin Rudd. Di berbagai negara lain juga terjadi, pembaca bisa menelusuri informasinya.
Meski fenomena kepala negara menjadi ketua partai ini bukan pelanggaran hukum, Presiden SBY yang menjadi ketua umum Partai Demokrat (PD) ini menarik perhatian saya. Saya bukan orang politik, tidak juga belajar ilmu politik. Sekali dua kali, saya mungkin hanya korban politik saja karena ketidakpahaman. Saya tidak akan berteori tinggi-tinggi tetapi mencoba mengingat beberapa kejadian terakhir terkait Indonessia dan Presiden SBY.
Sebenarnya ini bukan berita baru. Saya baru tertarik menuliskannya di blog ini untuk dokumentasi dan untuk Anda yang belum tahu. Kini kita bisa berkunjug ke banyak museum di seluruh dunia dan menikmati koleksinya secara virtual. Kita bisa seakan-akan masuk ke museum dan menjelajahi setiap sudut museum dan menikmati maha karya seni di dalamnya tanpa terganggu siapapun, tanpa perlu antri dan tanpa risau museum sebentar lagi akan tutup.
Pernahkan Anda membayangkan datang ke sebuah museum impian Anda dan menjadi satu-satunya pengunjung dengan waktu tak terbatas untuk menikmati setiap koleksi? Pernahkan membayangkan mengamati setiap lukisan atau patung atau benda seni bersejarah lainnya dari dekat seakan-akan Anda membawa kaca pembesar? Pernahkan membayangkan Anda menelusuri lorong-lorong museum sendirian dan berdiam diri selama mungkin tanpa ada yang mengganggu? Kini, semua itu bukan hanya angan-angan. Google Art Project telah membuat semua itu menjadi nyata. Google telah mengumpulkan koleksi puluhan jika tidak ratusan museum dan menyajikannya dengan pendekatan geospasial menggunakan teknologi yang sama dengan Google Street View. Anda bisa berkunjung ke sebuah museum dan merasakan pengalaman menikmati koleksinya seakan itu hal nyata. Berikut adalah contoh sebuah museum di Sydney: Art Gallery of New South Wales. Semua bisa dilihat di Google Art Project.
Tanggal 27 Maret 2013, umat Hindu merayakan Galungan. Definisi yang saya percaya sejak SD, Galungan adalah peringatan atas kemenangan Dharma (kebaikan) atas Adharma (kejahatan). Galungan diperingati setiap 210 hari sekali setiap Rabu, Kliwon, Dungulan. Demikianlah kalender yang dijadikan pedoman oleh umat Hindu di Indonesia dan akan cukup panjang kalau dijelaskan di sini.
Dalam suasana Galungan begini saya selalu mengenang masa kecil saat ada di Bali. Galungan identik dengan masa bersenang-senang karena saat inilah ada kemungkinan punya baju baru, meskipun tidak selalu. Di saat Galungan pula, kami, anak-anak kecil, dibolehkah bangun subuh-subuhh lalu menonton para orang tua yang menyembelih babi sehari sebelum Galungan. Yang tidak terlupakan adalah saat berebut kantung kemih babi untuk dijadikan bola atau balon untuk bermain di hari-hari berikutnya. Anak-anak kecil tidak dibebani apapun terkait ritual agama, tidak juga ada kewajiban membaca sloka-sloka Bhagavadgita dalam menyambut Galungan. Yang ada hanya satu: kegembiraan tanpa syarat.
Banyak review yang mengatakan film Taken 2 terlalu mengada-ada. Harus diakui beberapa adegan memang tidak masuk akal. Yang paling menonjol adalah keterlibatan Kim dalam operasi penyelamatan korban penculikan orang tuanya. Kim adalah seorang gadis usia belasan yang tidak pernah mendapat pelatihan operasi sejenis. Mengejutkan jika dia begitu terampil dan berani. Meski begitu, demikianlah film. Film memang menampilkan hal-hal menipu, bukan? Jika saja dia menyajikan hal-hal yang sama dengan kejadian sehari-hari mungkin kita tidak semangat menontonnya. Tulisan ini tidak akan membahas kualitas film Taken 2 secara umum tetapi menyoroti adegan geospasial di dalamnya. Adegan yang melibatkan peta.
Video ini menjelaskan secara gamblang bagaimana seorang pejuang Beasiswa Australia Awards Scholarship (AAS) atau Australian Development Scholarship (ADS) berhasil diterima. Patut disimak dengan seksama. Video ini diambil dari website resmi Beasiswa AAS/ADS www.australiaawardsindo.or.id
Setengah penggal Maret 2013 saya menghabiskan cukup banyak waktu di pesawat. Saya bertemu dan duduk dengan banyak orang asing di pesawat. Mari kita sebut mereka “perfect strangers”, orang yang bener-benar tidak saya kenal sebelumnya. Saya yakin, kita semua pernah mengalami situasi demikian meskipun lokasi dan konteksnya berbeda. Apa yang Anda lakukan ketika duduk dengan orang asing di kereta atau bus atau pesawat atau sekedar halte? Pilihannya tentu beragam. Yang paling umum adalah diam, tidak menyapa dan tidak mengganggu. Orang yang memilih cara ini mungkin tidak ingin megganggu dan diganggu. Biasanya saya memilih untuk berinteraksi. Bisa jadi ini tidak baik bagi sebagian orang, bagi saya ini lebih menyenangkan.
Memang tidak selalu mudah memulai percakapan, terlebih jika orang yang di samping kita cenderung diam dan tenang. Selain itu, memang kita mudah dihinggapi perasaan rendah diri atau malu, terutama ketika orang yang duduk di samping kita terlihat perlente penampilannya. Selain itu, tidak sulit untuk mencurigai orang yang ada di samping kita sombong. Dalam perjalanan, saya kadang terbang belasan jam. Sangat mudah untuk tampil kucel dan tidak meyakinkan. Ini menambah kerumitan jika harus memulai percakapan.
Entahlah apa yang Anda pikirkan ketika membaca ini. Berlin bisa mengingatkan banyak hal berbeda pada masing-masing orang. Dulu, di awal tahun 1990an, saya teringat mendiang Farid Hardja ketika mendengar kata Berlin. Pasalnya, dia meyanyikan lagu tentang runtuhnya Tembok Berlin. Di Belakang hari saya mengingat Berlin sebagai suatu tempat yang pernah menunjukkan bentuk paling nyata sebuah perbatasan antarnegara. Berlin juga mengingatkan saya pada seorang kawan di Jakarta yang bernama Berlina karena lahir di Berlin ketika ayahnya menjadi diplomat. Anda boleh mengingat apa saja soal Berlin tetapi kali ini saya akan mengingat sebuah perjalanan.
Jerman adalah kunjungan luar negeri pertama saya tahun 2013 ini. Kunjungan ke Berlin istimewa karena saya berbicara di sebuah acara yang penting, setidaknya menurut saya: Simposium Ketahan Bumi atau Earth Resilience. Tidak hanya itu, ini adalah kunjungan saya yang pertama ke ibukota Jerman itu, meskipun sebelumnya sudah pernah ke Heidelberg, Munich dan Frankfurt.