Perfect strangers


http://upload.wikimedia.org/

Setengah penggal Maret 2013 saya menghabiskan cukup banyak waktu di pesawat. Saya bertemu dan duduk dengan banyak orang asing di pesawat. Mari kita sebut mereka “perfect strangers”, orang yang bener-benar tidak saya kenal sebelumnya. Saya yakin, kita semua pernah mengalami situasi demikian meskipun lokasi dan konteksnya berbeda. Apa yang Anda lakukan ketika duduk dengan orang asing di kereta atau bus atau pesawat atau sekedar halte? Pilihannya tentu beragam. Yang paling umum adalah diam, tidak menyapa dan tidak mengganggu. Orang yang memilih cara ini mungkin tidak ingin megganggu dan diganggu. Biasanya saya memilih untuk berinteraksi. Bisa jadi ini tidak baik bagi sebagian orang, bagi saya ini lebih menyenangkan.

Memang tidak selalu mudah memulai percakapan, terlebih jika orang yang di samping kita cenderung diam dan tenang. Selain itu, memang kita mudah dihinggapi perasaan rendah diri atau malu, terutama ketika orang yang duduk di samping kita terlihat perlente penampilannya. Selain itu, tidak sulit untuk mencurigai orang yang ada di samping kita sombong. Dalam perjalanan, saya kadang terbang belasan jam. Sangat mudah untuk tampil kucel dan tidak meyakinkan. Ini menambah kerumitan jika harus memulai percakapan.

Dalam perjalanan dari Singapura ke London, saya duduk dengan seorang cewek Australia yang akan bekerja di Brussels. Tidak sulit bercakap-cakap dengannya karena orangnya memang ramah. Dia sudah tersenyum hangat ketika saya datang ke kursi tempat kami duduk. Kalimat yang tepat diucapkan adalah “it’s gonna be a very long flight” dan langsung dijawab “yes, I know” sambil memainkan wajah dan matanya pertanda akan mengalami kebosanan. Tanpa sadar saya sudah belajar banyak bagaimana dia bisa bekerja di organisasi internasional di Brussels dan pengalaman sekolahnya yang mengantarkan dia mencapai semua itu. Sapaan yang tepat di awal menjadi pintu pembuka untuk menimba ilmu.

Dalam perjalanan dari London ke Berlin, di samping saya ada seorang lelaki muda. Kelihatannya orang yang suka bepergian. Dia cool dan tidak ada tanda-tanda menyapa duluan. Ini hal biasa. Di belahan dunia manapu, ada model yang begini. Sekali lagi, ini bukan soal baik tidak baik atau jahat tidak jahat. Orang diam mungkin karena menghargai dan tidak ingin mengganggu. Dalam situasi seperti ini biasanya saya tunjukkan niat baik bahwa saya terbuka untuk diajak ngobrol. Jika kemudian dia memilih untuk tidak mau melayani, ini cerita lain. Saya hanya tidak ingin kami berdua keluar dari pesawat lalu dalam hati sama-sama bergumam “untung tadi aku nggak nyapa, kelihatannya orangnya memang sombong dan tidak mau diajak bicara”. Celakalah dunia!

Are you stopping in Berlin too or continue?” tanya saya sopan. Dia ternyata jadi ramah ketika ditanya seperti ini dan menjawab dengan antusias. Perlu juga kita tahu, tampang Asia seperti saya kadang disangka tidak bisa Bahasa Inggris sehingga mereka tidak memulai komunikasi. Alasannya mulia, mereka tidak ingin merepotkan. Lagi-lagi ini bukan penghinaan tapi penghargaan. Rupanya ini yang terjadi pada lelaki itu. Setelah dia tahu saya bisa Bahasa Inggris, dia ngobrol dengan santainya bahkan baik hati memberitahu tempat-tempat wisata di Berlin. Perjalanan singkat itu jadi menyenangkan.

Saat penerbangan dari Singapura ke Jakarta, saya duduk di samping sepasang suami istri muda. Dari dandanannya terlihat berada, profesional dan terdidik. Samar-samar saya dengar topik-topik kelas tinggi. Tidak berniat menguping tetapi tidak bisa dihindari. Kedua orang ini tidak ada tanda-tanda akan menyapa. Saya tadi bahkan melewati mereka sehingga mereka harus berdiri dulu karena saya duduk di dekat jendela. Saya yang sudah 20an jam terbang merasa sedikit risih. Kondisi badan kucel dan belum mandi bisa saja membuat mereka yang bersih cantik tampan itu terganggu. Di saat seperti ini sesungguhnya mudah sekali merasa rendah diri dan enggan menyapa. Mudah curiga “kalau aku sapa dan dia tidak membalas, malu hati dong“. Saya yakin, sebagian pembaca pernah mengalami ini.

Sang perempuan yang di samping saya tidak menyapa juga, bahkan tidak meunjukkan niat untuk menyapa. Lagi-lagi mungkin beliau tidak ingin mengganggu. Tapi toh saya tetap pada prinsip semula, saya ingin membuka ruang komunikasi. Jika dia tidak mau, itu adalah cerita lain. Setelah memasang sabuk pengaman, saya mulai menyapa “ke Jakarta juga mbak?” sambil tersenyum seramah mungkin. Sang perempuan menoleh, suaminya juga. Saya tersenyum pada keduanya. Yang perempuan menjawab ramah dan seketika tersenyum. Ia membenarkan, sementara suaminya meneruskan membaca koran tapi wajahnya jadi bersahabat.

Karena disapa duluan, yang perempuan balik bertanya “masnya juga?” Dan saya benarkan sambil menambak “saya langsung ke Jogja”. Pertanyaan klasik selanjutnya adalah, “tinggal di Jakarta atau liburan saja?” Pertanyaan model begini cukup aman, akrab tapj tidak terlalu pribadi. Ternyata mereka tinggal di Singapura, tapi asli Jakarta. “Kata orang enak ya tinggal di Singapura” saya memberi pernyataan yang mengundang komentar. Tanpa saya sadari, kami sudah bercakap-cakap. Beliau adalah seorang dokter yang sedang sekolah di Singapura. Saya jadi tahu bagaimana dokter Indonesia bisa bekerja di Singapura, ujian apa saja yang harus dilalui dan seterusnya. Meski saya tidak paham semua istilah yang dikemukakan saya jadi punya gambaran yang cukup bagus. Tentu saja dia juga bertanya tentang perjalanan saya. Dalam waktu singkat itu saya sudah memberi kuliah hukum laut, terutama batas maritim Indonesia-Malaysia. Tidak sulit membayangkan mengapa akhirnya bisa sampai di sana. Perjalanan Singapura-Jakarta jadi terasa cepat. Tambah ilmu tambah teman.

Dalam perjalanan dari Jakarta ke Jogja suatu malam, saya duduk di dekat seorang lelaki senior. Sang Bapak datang belakangan dan ternyata duduk dekat saya. Beliau memggunakan batik yang sudah agak tua, celana kain model lama dan alas kaki sepatu sendal kulit yang rupanya sudah tidak baru. Maafkan, saya tidak biasanya perhatian dengan penampilan seperti ini tetapi kali itu benar-benar saya tidak bisa mengabaikan. Beliau menjinjing tas, wajah sederhananya menyungging senyum saat mencari-cari tempat menaruh tas yang dijinjingnya. Tidak dapat tempat, akhirnya beliau duduk dengan tas yang masih dibawa. Dia tersenyum sejenak ketika saya persilahkan duduk di samping saya. Beliau seperti berkata sendiri, harusnya tas itu tidak boleh dia bawa atau taruh di bawah kursi di depannya karena itu pintu darurat. Beliau mengatakan ini seakan mengantisipasi sebelum ditegur. Beliau melanjutkan “harusnya ndak boleh tapi ndak ada tempat di atas. Biar pramugarinya yang nanti mencarikan”.

Diam-diam saya bertanya-tanya, siapa gerangan Bapak ini. Sejujurnya saya juga kadang tertipu penampilan sesorang. Meskipun berusaha keras, sekali waktu saya masih mengaitkan penampilan seseorang dengan intelektualitasnya. Untunglah, seingat saya, itu hanya ada dalam hati, tidak muncul sebagai tindakan, terutama ketika bertemu orang asing. Kalau diperlakukan kurang baik karena penampilan saya yang kurang meyakinkan, rasanya sudah sering dan saya terbiasa *senyum*.

Saya mulai menyapa lelaki asing yang cukup eksentrik di samping saya. Pertanyaan saya standar, “Bapak liburan atau pulang ke Jogja?”. Ternyata beliau pulang ke Jogja dan katanya ada tugas di Jakarta. Obroloanpun berjalan baik dan kini saya yakin, beliau orang yang terdidik. Setelah obrolan agak lama, saya yakin sdh waktunya bertanya pekerjaan “Bapak ngasto di mana nggih?” dan dengan kalem beliau jawab di UGM. Rupanya beliau senior saya di lain fakultas. Ketika saya tanya nama, saya mendengar nama yang tidak asing. Wajar saja karena beliau pernah jadi dekan delapan tahun di sebuah fakultas besar. Sayapun takzim menyimak cerita dan pelajaran yang mengalir deras dari ucapannya. Itulah manfaatnya menyapa orang asing. Menyapa orang asing tentu bukan sekedar tanda sopan santun. Dia bisa jadi pertanda keberhasilan menekan ego atau memenangkan perasaan rendah diri atau menjinakkan kesombongan diri yang kadang-kadang terpantul dari wajah orang lain. Even a perfect stranger can give you invaluable lessons. You only need to say hello.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

10 thoughts on “Perfect strangers”

  1. Seperti pertemuan kita dulu juga mas Andi dlm perjalanan dari cengkareng ke bekasi menggunakan damri… Anda memang friendly, easy going. …Pokoknya menyenangkan diajak ngobrolnya hehehe.. Sukses selalu mas..

  2. Saya pernah punya pengalaman duduk bersebelahan di bus dengan orang yang lumpuh kakinya, Pak Andi. Dan ketika kami mengobrol, ternyata beliaunya adalah seorang aktifis yang memperjuangkan kemuliaan hidup orang-orang yang memperoleh anugerah tersendiri. Pada waktu itu saya takjub dengan cerita-cerita beliau tentang bagaimana beliau dan teman2 beliau berjuang mengatasi hidup mereka. Belaiu juga menceritakan usaha beliau berjualan tas buatan sendiri, yang terkadang diperlakukan orang-orang dengan sebelah mata. Bahkan ada yang sampai hati memberikan uang receh ke beliau karena dikira hanya mau mengemis saja. Benar-benar pelajaran hidup yang luar biasa yang saya dapatkan dengan hanya mengatakan “mau ke jogja, Pak?”

  3. membaca tulisan pak Andi, untuk pertama kali membuat saya tertarik untuk belajar berinteraksi dengan orang yang ada di dekat Saya, dan dari situlah Setiap hari saya menantikan posting posting Bapak, berharap mendapatkan ilmu ilmu yang bermanfaat lagi. trimakasih Bapak And..

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s