Berlin 2013: Menganimasikan Ancaman atas Kedaulatan

Cerita ini bagian dari Berlin 2013

Saya menjadi pembicara pertama pada symposium “Earth Resilience” yang berlangsung di KBRI Berlin. Sebelum itu tentu saja ada sambutan-sambutan dari Bapak Duta Besar Dr. Eddy Pratomo dan Bapak Atase Pendidikan, Prof. Dr. Agus Rubiyanto. Saya sudah mendengar nama dan kiprah Pak Dubes selaku anggota tim perunding batas maritim Indonesia namun belum pernah bertemu sebelumnya. Sesungguhnya ada rasa gentar berbicara soal hukum laut di depan seorang penyandang gelar doktor di bidang hukum dan merupakan anggota tim delegasi Indonesia untuk Batas Maritim. Meski begitu, saya tidak ada pilihan lain kecuali terus maju.

Continue reading “Berlin 2013: Menganimasikan Ancaman atas Kedaulatan”

Berlin 2013: Sebuah perjalanan panjang

Cerita ini bagian dari Berlin 2013

Saya memesan tiket pesawat dari Our World Travel, langganan saya di Wollongong. Meskipun sudah menggunakannya sejak empat tahun lalu, saya belum tahu di mana lokasi kantornya dan tidak pernah bertemu sekalipun dengan orang-orang di sana. Saya hanya berkomunikasi lewat email dan telepon. Semua beres dengan telekomunikasi. Sayapun meminta informasi tiket Sydney – Berlin – Jakarta – Sydney. Saya memang berencana mampir ke Jogja untuk nengok Lita dan mbahnya. Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Artinya? Sakti mandraguna. Saya mendapat tawaran tiket seharga AUD 2200, tidak jauh beda dibandingkan penerbangan langsung ke Sydney tanpa mampir Indonesia. Sayapun memutuskan untuk mengambil tawaran itu. Begitu visa dinyatakan disetujui, saya membayar tiket tersebut dengan kartu kredit saya karena belum ada satu pihakpun yang memberikan uangnya ke saya meskipun komitmennya sudah jelas. Di saat seperti inilah kartu kredit itu diperlukan.

Continue reading “Berlin 2013: Sebuah perjalanan panjang”

Berlin 2013: Mencari dana perjalanan

Cerita ini bagian dari Berlin 2013

Seperti halnya konferensi dan symposium lainnya, partisipasi di Earth Resilience ini tidak didanai panitia. Peserta yang diundang berbicara wajib mengusahakan dana sendiri untuk partisipasinya. Banyak kawan yang kadang bertanya mengapa tidak didanai panitia padahal diundang. Harus dibedakan antara symposium atau konferensi dengan seminar. Dalam seminar, biasanya pembicaranya hanya sedikit 2-4 orang dengan topik khusus. Untuk seminar, panitia biasanya membayar segala kebutuhan pemb icara karena punya kepentingan menjual satu topik tertentu. Sementara konferensi atau symposium pada dasarnya adalah sebuah forum yang memberi kesempatan pada para peneliti untuk menyampaikan/menjual/menguji gagasannya di depan para ahli lainnya yang diharapkan akan memberi masukan. Dengan katan lain, dalam konferensi dan symposium, penelitilah yang memiliki kepentingan lebih besar. Wajar jika mereka harus membayar sendiri ongkos partisipasinya.

Continue reading “Berlin 2013: Mencari dana perjalanan”

Berlin 2013: The Visa

Cerita ini bagian dari Berlin 2013

Visa selalu menjadi urusan penting bagi orang Indonesia jika harus bepergian lintas negara. Kunjungan ke Berlin inipun tidak berbeda. Saya harus mendapatkan visa schengen yaitu visa yang memungkinkan saya memasuki Jerman dan beberapa negara lain yang tergabung dalam penjanjian Schengen dan Uni Eropa. Dengan mendapatkan Visa Schengen ini saya akan bebas berkeliaran di beberapa negara di Eropa tanpa perlu secara khusus mendapatkan visa dari masing-masing negara. Oleh karena itu juga, persetujuan Visa Schengen memerlukan waktu cukup lama karena tidak hanya berasal dari satu negara. Karena sedang di Australia, saya harus mendapatkan visa schengen dari perwakilan yang tepat di Australia.

Continue reading “Berlin 2013: The Visa”

Berlin 2013: The Invitation

Cerita ini bagian dari Berlin 2013

undanganberlin

Kedatangan saya ke Berlin tahun 2013 ini berawal dari sebuah undangan untuk berpatisipasi dalam symposium ketahanan bumi atau Earth Resilience yang kedua. Intinya, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Berlin berniat mengumpulkan pemikiran dan gagasan dari orang-orang Indonesia yang tersebar di seluruh dunia terkait dengan ketahanan bumi. Maka diadakanlah sebuah forum yang memungkinkan para ilmuwan Indonesia untuk betemu dan bercurah gagasan. Simposium Ketahanan Bumi ini berfungsi demikian.

Continue reading “Berlin 2013: The Invitation”

My lecture at RSIS, NTU, Singapore

Harus diakui, saya senang luar biasa ketika mendapat undangan untuk memberi kuliah di S. Rajaratnam School of International Studies (RSIS), Nanyang Technological University (NTU) di Singapura. Saya selalu melihat NTU adalah tempat berkumpulnya orang-orang hebat yang kepada mereka saya banyak belajar. Diminta memberi kuliah di sana tentu saja membuat saya senang dan bahagia. Saya menyiapkannya dengan baik, sebaik-baiknya yang saya bisa. Saya tidak akan mengklaim bahwa kuliah ini sukses atau tidak tetapi setidaknya saya merasa lega dan senang telah menyelesaikanya. Semoga teman-teman bisa mendapat manfaat dari vidoe kuliah yang direkam oleh pihak RSIS ini. Selamat menikmati.

Mengenal Indonesia dari Sabang sampai Merauke

@SabangMeraukeID
@SabangMeraukeID

Ada satu pertanyaan penting yang belum bisa saya jawab dengan baik “bagaimana mewakili Indonesia di pentas dunia?” Jika harus mewakili Indonesia dengan sepotong baju, baju apa yang paling layak mencirikan Indonesia? Ini bukan sesuatu yang mudah dilakukan dengan ratusan suku bangsa dan sekian banyak pakaian daerah di Indonesia. Ketika menjadi Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia (PPIA) University of Wollongong, saya selalu mengalami kesulitan ketika harus mengikuti pameran budaya antarbangsa. Kesulitan pertama adalah ketika ingin menampilkan PPIA agar tampil khas diantara organisasi pelajar dari berbagai negara. Memang tidak mudah menyajikan atribut yang menarik, khas dan gampang diingat karena keindahannya. Bendera Merah Putih tentu saja khas tetapi rasanya tidak cukup untuk meghadirkan semarak pesta antarbangsa yang menuntut kemeriahan lebih dari kibaran Sang Saka Merah Putih. Akhirnya, pilihan lebih sering jatuh pada atribut Bali yang memang sudah dikenal di Australia. Namun Bali bukanlah Indonesia. Bali, dengan segala keunikan dan keindahannya sesungguhnya tidak pernah bisa mewakili Indonesia secara utuh. Tidak heran jika seorang petugas bank Commonwealth di Wollongong bertanya polos tanpa dosa kepada kawan saya yang dari Bali ketika membuat rekening “are you actually from Bali or Indonesia?

Continue reading “Mengenal Indonesia dari Sabang sampai Merauke”

Pendaftaran Beasiswa ADS atau AAS 2014 sudah dibuka!

PreOrder: info@indolearning.com
PreOrder: info@indolearning.com

Pejuang sekalian,

Pendaftaran Beasiswa yang dulu dikenal dengan nama ADS atau Australian Development Scholarship dan sekarang berganti nama menjadi Australian Awards Scholarship (AAS) sudah dibuka. Pendafataran AAS dibuka tanggal 4 Maret hingga 19 Juli 2013, menurut informasi di website resminya. Selain membaca website resminya, silakan baca kumpulan tulisan saya di halaman Beasiswa ADS. Ada ratusan pertanyaan yang sudah dijawab di sana. Selamat berjuang!

Timbul Hari

photoNamanya Timbul Hari, setidaknya begitu saya dengar dalam percakapan singkat yang dilakukan sambil lalu. Saya bertemu Mas Timbul saat berkunjung ke Kebun Binatang Gembira Loka di Jogja bersama Lita. Mas Timbul adalah pawang onta yang ditunggangi pengunjung dalam suatu atraksi. Saya dan Lita tidak ketinggalan menunggang seekor onta dalam satu putaran yang tidak lebih dari 5 menit.

Sejak sebelum naik onta, saya sudah memperhatikan Mas Timbul dari kejauhan. Berbaju kaos lengan panjang dan celana pendek serta sepatu boot, dia dengan sabar menuntun onta yang ditunggangi satu atau dua orang pengunjung. Tak satupun kata keluar dari mulutnya dan memang tak satu orangpun mengajaknya bicara. Dari gelagat mereka, sepertinya pengunjung dan penunggang onta itu bahkan tidak menyadari kehadiran Mas Timbul. Perannya memang seakan tidak penting, tidak berinteraksi langsung dengan pengunjung, berbeda dengan petugas lain yang menjual tiket atau membantu penunggang menaiki onta. Setidaknya petugas yang demikian sempat berdialog singkat atau sekedar tersenyum kepada pengunjung. Mas Timbul tidak demikian. Dia tidak ada, kehadirannya tidak diperhatikan. Dia terlupakan.

Continue reading “Timbul Hari”

Presentasi di Berlin – Tenggelamnya Kedaulatan?

Saya mengawali tahun 2013 ini dengan sebuah presentasi di Berlin tentang dampak perubahan iklim, dalam hal ini, kenaikan muka air laut, terhadap kewenangan negara atas kawasan maritim. Dalam presentasi ini saya membahas, akankah kenaikan muka air laut bisa menyebabkan tenggelamnya kedaulatan atau hak berdaulat. Silakan simak video berikut.

Presentasi ini saya bawakan di acara Simposium Ketahanan Bumi atau “Earth Resilience” yang diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Jerman di Berlin bekerjasama dengan Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I4), Surya University, Diaspora Indonesia, dan Perhimpunan Pelajar Indonesia di Eropa. Presentasi saya dalam bentuk animasi bisa dilihat di http://madeandi.staff.ugm.ac.id.