Summer kali ini begitu panas. Saatnya aku bergabung dengan teman-teman, mengungsi ke suatu tempat yang menawarkan keteduhan. Kami sering mengunjungi tempat itu di saat summer. Tidak saja tempatnya yang nyaman, makanan juga berlimpah. Kami mendapatkannya dengan gratis dan seakan tidak bisa habis. Hanya satu yang membuat kami resah, di situ ada bahaya. Aku pernah mendengar selentingan kabar, ada kekuatan yang maha besar kadang muncul dan mengancam. Situasi yang biasanya nyaman bisa menjadi begitu berbeda jika kekuatan itu muncul. Kenyamanan terancam. Konon pernah ada korban jiwa di tempat itu. Kekuatan besar yang entah apa namanya tidak saja menebarkan ketakutan, dia bisa merenggut nyawa.
Sudah cukup lama saya menulis tips beasiswa di blog ini dan ternyata cukup banyak yang merasakan manfaat dari tulisan-tulisan saya. Setelah mempertimbangkan agak lama, akhirnya saya putuskan untuk menerbitkan sebagian besar tips beasiswa yang ada di blog ini dalam bentuk buku. Ide ini sebenarnya sudah muncul agak lama dari berbagai pihak. Meski demikian, berbagai pertimbangan membuat niat itu baru terlaksana saat ini.
Buku yang rencananya akan terbit Bulan Maret 2013 ini adalah modifikasi dari tulisan-tulisan saya yang ada di blog ini. Ada sebagian tulisan baru tetapi sebagian besar masih bisa dinikmati di blog ini secara cuma-cuma. Semangat berbagi secara cuma-cuma tetap saya pegang teguh dalam menulis sehingga blog ini akan tetap dirawat dengan baik dengan berbagai informasi baru. Meski demikian, tidak bisa dipungkiri bahwa banyak diantara kita yang memilih membaca buku secara konvensional. Ada berbagai macam alasan, mulai dari tidak memiliki akses internet dalam waktu lama, masalah alasan kesehatan sehingga tidak kuat membaca dari layar komputer atau pirantik elektronik lainnya, hingga persoalan psikologis tentang perasaan membaca buku. Untuk pembaca yang demikian, tips beasiswa di blog ini akan hadir dalam bentuk buku. Karena penerbitan buku melibatkan bahan, proses dan tenaga kerja, tentu saja pembaca harus membelinya dengan harga wajar.
Di sebuah perjamuan makan malam di Canberra selepas konferensi, anak muda itu berkisah. Dia lahir di Malaysia, besar di Singapura dan mengenyam pendidikan tinggi di Australia. Seorang pemuda berwawasan global dan terekspos oleh geliat internasional. Dia cakap berbahasa Inggris, itu sudah pasti. Menariknya, saya bisa menyimak dengan jelas, cengkok Singlish terdengar cukup sering dari celotehnya.
Saya pernah membahas qiblat di blog ini dilengkapi dengan video. Kali ini ini saya sampaikan cara menentukan qiblat secara sederhana menggunakan Google Earth. Berikut video dan urutan langkahnya.
Adalah Radio PPI Dunia yang punya ide cerdas, mewawancarai Ahok, Wakil Gubernur DKI Jakarta secara langsung terkait penanganan banjir Jakarta. Yang membuatnya istimewa ada dua. Pertama, wawancara ini bersifat interaktif sehingga memungkinkan partisipasi dari siapa saja di seluruh dunia. Kedua, wawancara ini tidak saja disiarkan dalam bentuk audio tetapi juga video menggunakan Google Hangout. Jika saya tidak salah amati, Ahok adalah wakil kepala daerah pertama di Indonesia yang menyampaikan gagasannya lewat Google Hangout sehingga bisa disimak secara langsung oleh siapa saja di seluruh dunia yang memiliki internet yang cukup. Google Hangout sudah digunakan oleh Obama dan Julia Gillard untuk berkomunikasi dengan rakyatnya. Radio PPIA Dunia melakukan sebuah terobosan yang luar biasa.
Video yang Anda saksikan berikut adalah hasil rekaman dari proses dialog ini. Ketika ini berlangsung live, video ini disiarkan di youtube. Sambil disiarkan, video ini direkam Youtube dan kini bisa Anda nikmati sebagai arsip seperti halnya video lainnya. Dari video di bawah kita bisa lihat bahwa ini benar-benar natural tanpa editing dan kini bisa dinikmati sebagai arsip apa adanya. Yang belum pernah menggunakan Google Hangout, silakan baca tulisan saya yang pernah terbit di Suara Merdeka.
Saya menghabiskan banyak waktu untuk membuat bahan presentasi dan kuliah yang semenarik mungkin. Kali ini saya ingin berbagi ‘rahasia’ membuat gerakan melingkar yang meninggalkan jejak menggunakan power point. Silakan simak video berikut.
Keluarga kecil kami terpencar-pencar anggotanya. Sejak tahun 2007, kami terbiasa berpisah. Waktu itu Asti, isteri saya, bekerja di WHO di Jakarta, saya sendiri harus melakukan tugas di Australia dan Amerika. Lita, anak saya, bersama ibunya. Tahun 2010, perpisahan terjadi lagi setelah sempat bersama tahun 2008 dan 2009. Asti dan Lita kembali ke Indonesia dan saya masih meneruskan perjuangan di Australia. Sebuah drama kehidupan yang sebenarnya tidak menjadi cita-cita. Meski demikian, kami selalu berhasil menemukan alasan perpisahan yang kadang menyedihkan itu.
Saya yakin, pasti banyak yang senang dan ada juga yang kecewa melihat pengumuman hasil seleksi beasiswa Australian Development Scholarship (ADS) tahun 2013 ini. Kepada yang berhasil, saya sampaikan selamat. Kepada yang belum berhasil, saya tidak akan menasihati banyak. Jika Anda serius, Anda berhak untuk sedih tetapi jangan lupa masih ada waktu tahun ini jika memang masih tertarik. Anda sudah jelas-jelas memenuhi syarat tetapi memang mereka tidak mungkin memilih semuanya. Menyeleksi penerima ADS tidak berbeda dengan membeli buah pir di pasar, Anda tahu itu.
Silakan unduh pengumumanya dari website resmi ADS Indonesia atau tengok versi HTML sehingga lebih mudah dinikmati di website saya. Selamat meneruskan perjuangan, Kawan!
Pemilu masih sangat jauh, tapi desas-desus soal partai mulai terdengar. Made Kondang yang sebenarnya apolitis tidak terhindar dari deru politik yang mulai menggeliat. Meski tidak begitu paham akan ideologi, Kondang memiliki pilihan politik sendiri. Dipilihnya sebuah partai bukan karena telah dipahami segala ideology, visi, misi dan programnya tetapi semata-mata karena nenek moyangnya telah menunjukkan kesetiaan pada partai yang sama sejak waktu yang tidak bisa diingat lagi. Singkat kata, Kondang berpartai karena keturunan. Kondang tidak pernah mempertanyakan pilihan partainya hingga suatu hari:
Genjo tertunduk lesu, dia sedang mendengarkan ceramah seorang senior. Sejak bersekolah di luar negeri Genjo kerap mendapat nasihat ini dan itu dari kawan-kawan seniornya yang baik dan peduli.
“Kamu tidak pantes melakukan itu, Genjo. Apa kata orang nanti!?” Genjo takzim mendengarkan tanpa membantah sedikitpun. Dia paham, tidak ada gunanya menjelaskan, apalagi membantah.
“Kita ini orang timur, nggak pantes melakukan hal-hal demikian. Kamu jangan ulangi lagi ya, bisa heboh orang Indonesia yang ada di sini kalau kamu tetap seperti itu.” Genjo masih diam, dia tekun menyimak.