LDR: Long Distant Relationship


keluarga

Keluarga kecil kami terpencar-pencar anggotanya. Sejak tahun 2007, kami terbiasa berpisah. Waktu itu Asti, isteri saya, bekerja di WHO di Jakarta, saya sendiri harus melakukan tugas di Australia dan Amerika. Lita, anak saya, bersama ibunya. Tahun 2010, perpisahan terjadi lagi setelah sempat bersama tahun 2008 dan 2009. Asti dan Lita kembali ke Indonesia dan saya masih meneruskan perjuangan di Australia. Sebuah drama kehidupan yang sebenarnya tidak menjadi cita-cita. Meski demikian, kami selalu berhasil menemukan alasan perpisahan yang kadang menyedihkan itu.

Mulai tahun 2013, model keterpencaran ini lebih dramatis lagi. Saya dan Asti berkumpul di Sydney, Lita tertinggal di Jogja. Saya pernah menulis perpisahan yang mengharu biru ketika Asti meninggalkan Lita di Jogja. Apa yang sesungguhnya kami cari? Mungkin banyak yang bertanya. Mengapa tega meninggalkan anak di Jogja hanya diurus oleh neneknya? Pasti ada yang bertanya demikian. Kami tidak punya jawaban muluk-muluk saat ini. Kami adalah orang-orang biasa yang berusaha mengejar kesempatan dan kemudian rela bersakit-sakit menjalani hidup ketika kesempatan itu tiba. Alasan mulianya adalah membuat pikiran terbuka dengan gagasan beragam, jiwa yang rela memahami berbagai perbedaan dan hati yang tidak mudah goncang dengan berbagai sudut pandang. Siapa yang menjamin semua itu akan berhasil? Tidak seorangpun. Maka kami menjalani saja dengan segala keterbatasan dan kelemahan, mengurangi sebanyak mungkin kesalahan karena kesempurnaan itu jelas bukan milik kami.

Bagaimana caranya menjaga interaksi keluarga? Syukurlah kita dikelilingi oleh teknologi. Komunikasi bukan lagi barang mahal. Kita tidak lagi hidup di zaman sahabat pena saat menunggu surat yang datang sebulan sekali membawa debaran hati yang tak terkira. Kita hidup di zaman digital dan real time ketika Whatsapp tidak dibalas dua menit saja orang bisa marah karena kesal menunggu. Kemudahan itulah yang membuat interaksi keluarga kami menjadi mungkin saat jarak mendikte dan hampir saja menjadi tirani.

Saat Lita sulit dinasihati, saya kadang membuat cerita untuk dia baca. Lita tidak bisa didikte, dia belajar dari cerita dan ketokohan menjadi penting baginya. Saat Lita tidak mengikuti aturan main yang sudah ditetapkan orang tua dan mbahnya, saya nasihati lewat Skype atau telepon. Tidak selalu berhasil, karena kami adalah orang-orang biasa saja yang penuh kekurangan. Kami hanya berdoa dan berusaha saja, saat gagal, tidak putus asa sehingga esok hari bisa mencoba lagi. Saya tidak selalu berhasil menjadi teladan yang didengarkan oleh Lita, seperti juga tidak selalu berhasil menjadi kepala keluarga yang baik, terlebih saat jarak ada diantara anggota keluarga. Dari kegagalan dan keberhasilan itu, saya merekam berbagai peristiwa yang kelak akan menjadi kenangan dan bahkan pelajaran. Apakah kami akan berhasil? Tuhan akan menjawab seiring berjalannya waktu. Satu hal yang kami percaya bahwa cara terbaik untuk memprediksi masa depan adalah dengan cara membuatnya.

Berikut adalah beberapa rekaman interaksi kami dengan Skype atau media lain.

Lita mencoba menambahkan Skype ID, saya ajari dari jauh.

Konferensi segitiga. Saya di Australia, Lita di Jogja, Asti di Bali.

Lita membacakan puisi karyanya, saat berada di Bali dan saya menonton dari Australia

Lita mendoakan ibunya saat akan tes IELTS di Bali. Saya bersamanya di Jogja

Lita menjelaskan sebuah project baru: membuat kompor listrik

Lita membuat drama pendek tentang Animal Farm. Saya berperan sebagai Laptop Animal 🙂

Dengan imajinasinya Lita membuat laptop 🙂

Dengan segala keterbatasan, Lita belajar perkalian.

Selingan saat belajar. Selalu saja ada karena Lita tidak termasuk orang yang betah belajar serius 🙂

Lita membaca cerita dalam Bahasa Inggris

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

11 thoughts on “LDR: Long Distant Relationship”

  1. Jarak bukan lagi alasan tidak harmonisnya dan jauhnya hubungan antara ortu dan anak ya Pak. Saya suka tulisan ini Pak, semakin memantapkan mimpi saja rasanya :))

  2. So awesome, as always! Keterbukaan mas Andi, dari segala sikap yang ada mulai dari “nggumun” (jawa), sungguh-sungguh, dan nora yang kesemuanya adalah sangat manusiawi membuat saya berani mengambil sikap untuk memulai segala sesuatu yang sebelumnya tidak mungkin dalam benak saya. Saya ingat sekali bagaimana mas Andi mengungkapkan kesenangannya ketika pertama kali tulisannya di muat di JP, dari sana saya juga mulai menulis, dan bertekad untuk bisa kesana. Buat saya, mas Andi adalah contoh nyata seorang pejuang yang bisa saya ikuti perjalanannya dari suka, duka, dan nora nya. Mas Andi juga meyakinkan saya bahwa orang luar biasa ternyata juga orang biasa. Sehingga tidak ada alasan bagi saya untuk menjadi luar biasa ketika menganggap diri saya biasa-biasa saja. I wish I could see you someday in person, my inspirational man 🙂

    1. Mas Idham,
      Komentar ini sangat menyanjung. Saya tentu saja tidak sebaik yang Anda katakan ini. Tapi sungguh terima kasih atas dukungannya berupa apresiasi. Saya akan senang sekali bisa bertemu Anda suatu saat kelak.

  3. “Kami adalah orang-orang biasa yang berusaha mengejar kesempatan dan kemudian rela bersakit-sakit menjalani hidup ketika kesempatan itu tiba. Alasan mulianya adalah membuat pikiran terbuka dengan gagasan beragam, jiwa yang rela memahami berbagai perbedaan dan hati yang tidak mudah goncang dengan berbagai sudut pandang. Siapa yang menjamin semua itu akan berhasil? Tidak seorangpun. Maka kami menjalani saja dengan segala keterbatasan dan kelemahan, mengurangi sebanyak mungkin kesalahan karena kesempurnaan itu jelas bukan milik kami.”
    kalimat di atas sangat menginspirasi saya, pak..
    Saat ini saya sedang berjibaku untuk persiapan toefl pertama saya, jika nilai toefl saya memenuhi syarat, maka langkah berikutnya adalah mencari supervisor.
    Terimakasih untuk blog yang sangat menginspirasi ini.. Sukses terus untuk bapak dan keluarga bapak.. 😀

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s