Sebuah Quadcopter Intai Teknik @GeodesiUGM

Ini bukan cerita inteligen atau tragedi. Sebuah Quadcopter memang tadi pagi terbang memantau Teknik Geodesi UGM untuk mengabadikan pelaksanaan Kick-off (pembukaan) Ulang Tahun kampus ke-55. Berikut hasil video-nya 🙂

Menolak Lupa 1998

http://ismaielcreativity.blogspot.com

Beberapa kawan menjemput saya di kos di Blunyah Gede. Sore masih belia, hari belum gelap ketika kami berdiskusi serius di kamar sederhana itu. Tak lama berselang, kami sudah berada di kampus dan bersiap merencanakan aksi esok hari. Hari telah gelap, kami berkumpul di sebuah ruang yang biasa digunakan oleh BEM Teknik UGM untuk rapat dan berkegiatan. Saya memegang kuas, memandang penuh gelisah kain putih di depan kami. Semua nampak tegang, belum sepenuhnya yakin dengan keputusan kami. “Tulis saja, Ndi, masa’ kita nggak berani?!” kata seorang kawan memberi semangat.

Saya celupkan ujung kuas pada kaleng cat yang sudah terbuka sejak tadi. Dengan tangan yang agak bergetar, saya sentuhkan ujung kuas yang berlumur cat itu ke kain yang putih bersih. Teman-teman saya seperti bersorak dalam hati tetapi tidak satupun berani bicara. Satu persatu huruf tertulis di atas kain itu sampai akhirnya terangkai satu frase “TURUNKAN SOEHARTO”. Saya merasa telah melewati satu lorong sempit yang gelap dan bernafas lega. Menuliskan frase itu seperti dihimpit batu besar dan sulit bernafas. Maka tak heran, kami lega setelah frase itu tertulis dan tak mungkin dihapus lagi. Saya tersenyum, teman-teman merasa lega dan saling menyemangati. Itu adalah kali pertama kami menuliskan frase yang ketika itu terasa bergitu menakutkan dan mengancam hidup.

Continue reading “Menolak Lupa 1998”

Bangkit itu …

Ada beberapa tulisan saya tentang Indonesia dan kebangkitan nasional yang mungkin menarik dibaca lagi:

  1. Menera ulang nasionalisme
  2. Nasional is me
  3. Bangkit
  4. Mengenal Indonesi dari Sabang sampai Merauke
  5. Kartu Nama Pak Dino
  6. Membaca Indonesia
  7. Membela Indonesia dalam lima menit
  8. Kalau saja Indonesia punya akun Twitter
  9. Diaspora Indonesia: Nasionalisme dari Negeri Seberang
  10. Belajar dari Anies Baswedan tentang Indonesia Mengajar

Selamat membaca …

Sekuntum mawar, tanpa alasan

Seorang perempuan muda yang menjajakan mawar di perempatan depan Gramedia Jalan Solo, Jogja mungkin tidak menduga saya akan membeli sekuntum mawar yang ditawarkannya dengan ragu sore tadi. Saya buka jendela dan dia mendekat ragu. “Berapa satu tangkai?” tanya saya dan dijawabnya semangat “sepuluh ribu Bapak”. Meluncur selembar berwarna merah ungu dan bertukar menjadi setangkai mawar merah.

Untuk apa saya membeli bunga mawar? Untuk Asti yang menunggu di rumah. Untuk Lita yang kadang sudah tertidur pulas saat saya membuka pintu depan rumah. Mengapa hari ini? Apa istimewanya? Tidak selalu butuh hari istimewa untuk membeli sekuntum mawar. Saya membelinya tanpa alasan karena demikianlah cinta: tanpa alasan.

Citra

http://stat.ks.kidsklik.com/

“Aku di Jogja ni. Ketemu yuk” demikian bunyi pesan di whatsap yang baru saja aku baca. Citra, kawan lama, teman seangkatan kuliah dulu berkabar. “Eh, kapan tiba?” tanyaku membalas pesannya. “Baru saja kemarin pagi. Nanti malam makan yuk. Aku kangen makan di Jogja.” Kami bersepakat makan di sebuah warung PKL di Jetis, jalan Monumen Jogja Kembali dekat dengan STM. Tempat itu bersejarah bagi kami. Ingatanku melayang ke penggal terakhir dekade 1990an silam. Jogja adalah tempat yang begitu berbeda.

Continue reading “Citra”

Video Anies Baswedan di Geodesi UGM

Tanggal 25 April 2014, Anies Baswedan memberikan kuliah umum tentang kepemimpinan di Teknik Geodesi UGM. Berikut ini adalah video-video yang diabadikan oleh Keluarga Mahasiswa Teknik Geodesi.

 

Berjejaring: Sebuah Keputusan Sadar

Mendiskusikn buku
Mendiskusikan buku dengan Pak Marty

Seorang anak SMA di Banyumas menghubungi saya lewat komentar di blog. Fajri, demikian namanya, bukan orang pertama yang berkomentar di blog tetapi dia termasuk yang istimewa. Fajri adalah satu dari sedikit yang mengemukakan keinginannya secara langsung untuk bertemu saya. Berawal dari membaca buku saya, menelusuri blog dan akhirnya berujung pada ketertarikan Fajri pada gagasan-gagasan saya. Singkat kata, dia merasa perlu bertemu. Tujuannya sederhana saja, ingin bertemu dan meminta tandan tangan. Saya respon positif keinginan itu dan kami akhirnya bertemu di kantin Fakultas Teknik UGM.

Gedung PBB di New York, penghujung tahun 2007

Saya melihat lelaki berwibawa itu berdiri di samping saya, hanya sekitar dua meter. Saya tahu orang itu. Dia tak lain dan tak bukan adalah Marty Natalegawa. Saya diam, tercekat tidak bisa bicara dan dirundung ragu yang teramat sangat. Satu sisi diri saya mengatakan “ayo, sapa dia. Kapan lagi bisa menyapa Duta Besar Indonesia untuk PBB kalau tidak sekarang. Ini kesempatanmu.” Sementara itu, sisi lain dari diri saya berbisik “eh, kamu itu siapa?! Sadar diri dong! Kamu anak desa, orang tua tidak rampung pendidikan dasar, dan tidak kaya. Kamu tidak selevel dengan Marty Natalegawa. Paling-paling kamu dicuekin kalau menyapa. Malu kan?! Sudahlah, tidak usah menyapa. Lebih baik diam, cari aman. Kamu terhindar dari ancaman rasa malu dan tengsin.” Dua imajinasi ekstrim itu menguasai saya, muncul silih bergandi dan adu kuat.

Continue reading “Berjejaring: Sebuah Keputusan Sadar”

Menjaga Kewarasan Alumni Luar Negeri

i4talksposter

Ketika hampir menyelesaikan pendidikan di luar negeri, dia mendapat suatu pelatihan yang menurutnya aneh. Pelatihan itu bertema persiapan pulang kampung. Dia tidak habis pikir, mengapa untuk pulang kampung saja harus menyiapkan diri. Jika persiapan sebelum berangkat ke luar negeri dulu dilakukan begitu serius, dia paham karena akan datang ke tempat baru. Namun persiapan serius untuk pulang ke rumah sendiri ini terasa agak berlebihan. Akibatnya dia tidak mengikuti pelatihan itu dengan serius. Baginya tidak begitu penting. Dia tidak merasa perlu diajari bersikap di rumah sendiri, di negeri sendiri. Tidak akan ada yang mengejutkan di lingkungan budaya yang dia kenal sejak lahir. Itulah keyakinannya.

Continue reading “Menjaga Kewarasan Alumni Luar Negeri”

Apakah Anda Suka Berbagi?

http://understandquran.com/

Hidup di era teknologi informasi dan komunikasi jauh lebih mudah dibandingkan masa-masa sebelumnya. Informasi begitu gampang diperoleh, tentang apa saja. Mesin pencari Google menjadi penunjuk jalan paling sakti bagi siapa saja. Apapun yang Anda cari nyaris ada informasinya. Meski begitu, kadang kita tidak menemukan apa yang kita cari. Artinya, belum ada orang yang berbagi informasi itu? Di saat seperti ini kita kadang sedih atau bahkan kesal, menyayangkan mengapa tidak ada orang yang menuliskan informasi yang kita cari. Pernahkan Anda demikian?

Continue reading “Apakah Anda Suka Berbagi?”

Nasionalisme Usil

Merah Putih
Merah Putih

Celoteh usil tapi sok serem ingin mengingatkan orang tentang nasionalisme atau patriotisme.

  1. Kamu tidak bangga sama Indonesia? Indonesia bangga kok sama kamu, meskipun kamu tahu, kamu tidak layak dibanggakan!
  2. Malu jadi orang Indonesia? Indonesia tidak akan malu punya kamu, meskipun kamu nyaris tidak ada gunanya buat dia.
  3. Nggak ada yang bener di Indonesia ini, semua kacau | Betul! Dengan melihatmu saja, semua orang akan setuju dengan pernyataan itu.
  4. Aku capek hidup di Indonesia, semua amburadul! | Istirahatlah, memang jadi penonton dan tukang komentarpun bisa capek.
  5. Aku mau cabut dari Indonesia. Gak tahan sama semua kebobrokan | Kamu mengambil keputusan tepat karena saat ini Indonesia hanya membutuhkan orang-orang kuat.
  6. Mahasiswa: Payah! Presiden INA takut sama Presiden Amerika | INA: Beda sama kamu, para mahasiwa, yang lebih pinter dari mahasiswa Amerika.
  7. Sampai kapan Indonesia seperti ini? Lelah aku! | Indonesia: Istirahatlah, hanya diam sambil nonton tv dan baca berita online memang melelahkan.
  8. Lama2 aku mau tinggal di luar negeri saja kalau Indonesia tetap begini! | Persiapkan dengan baik dan pergilah. Indonesia melepasmu dengan rela.
  9. Kapan ya Indonesia jadi negara maju? | Ina: Jangan berharap. Aku tidak akan pernah maju kalau kamu hanya mengeluh sambil tidur.
  10. Entah kapan Indonesia akan membaik. Kaya’nya tidak akan! | Ina: Sekarang kamu tahu, pekerjaan menunggu tanpa melakukan apa-apa memang membosankan.

Tidak setuju? Berarti Anda tidak termasuk yang tertuduh. Santai saja Sob dan teruskan perjuangan 🙂