Melihat Anies Baswedan di Mata Najwa, berbagai talk show di TV, atau di koran tentu biasa. Melihat Anies Baswedan hadir di Ruang Kuliah III.4 Teknik Geodesi UGM tentu bukan hal yang biasa. Mungkin ada yang bertanya, sejak kapan Mas Anies mengajar pemetaan? Sejak kapan beliau menekuni remote sensing atau GPS? Ternyata tidak demikian pasalnya. Mas Anies Baswedan hadir di kampus Teknik Geodesi UGM untuk berbicara tentang kepemimpinan. Acara itu bernama βLeadership Talk bersama Anies Baswedanβ yang digagas dan diselenggarakan oleh Keluarga Mahasiswa Teknik Geodesi (KMTG) bersama Geodetic English Club (GEC). Pagi itu, Teknik Geodesi heboh sejadinya. Banyak yang mengakui, acara itu adalah satu dari sedikit hal tak lazim dalam sejarah perjalanan Teknik Geodesi UGM.
Kami belum apa-apa. Tak layak menegakkan dagu apalagi menepuk dada jumawa. Tapi hati kami masih diliputi sombong maka kadang-kadang kami berpuas diri, berhenti sejenak dari lari. Karena kami makhluk biasa maka kami berhenti tak saja untuk istirahat tetapi untuk menikmati butir-butir kecemerlangan yang kami artikan sendiri. Di penggal perjalanan ini, telah berpelukan antara duka nestapa dan sumringah gembira, maka susah kami bedakan keduanya. Kami berusaha sangat untuk memelihara keterkejutan dan memanen pelajaran dari keterpurukan meski perasaan datar kadang mampir menghinggapi. Datar karena kami mulai terbiasa dengan sedu sedan duka dan tawa riang bahagia yang tak henti saling merangkul.
Januari hampir berakhir di tahun 2004, musim panas masih segar, belum ada tanda-tanda berakhir. Ketika itu saya memulai kuliah S2 di University of New South Wales (UNSW) di Sydney, Australia. Pagi itu saya mendapat email dari supervisor, Clive, untuk mengajak saya bertemu. Menariknya, di bagian akhir email itu dia menyampaikan βtapi kalau kamu sibuk, tidak apa-apa. Kita bisa bertemu lain kali.β Saya yang memang masih sibuk lalu menjelakan bahwa saya masih mengikuti kelas persiapan kuliah dan sedang mencari tempat tinggal permanen. Balasannya menenangkan hati, βbaiklah, tidak apa-apa. Kamu pasti lagi repot nyari tempat tinggal dan nanti mengisi perabotan. Kamu pasti perlu alat-alat dapur juga. Silakan bereskan semua urusan, setelah itu kita bertemuβ
Jika Anda pernah bepergian dengan pesawat, mungkin Anda setuju dengan saya bahwa setelah penerbangan lebih dari tiga kali maka perhatian kita terhadap instruksi keselamatan penerbangan mengalami penurunan yang serius. Petunjuk mengenakan sabuk pengaman, pemakaian baju pelampung dan masker oksigen menjadi tidak menarik lagi jika Anda sudah terbiasa naik pesawat. Sering saya perhatikan, pramugari yang memeragakan instruksi itu juga setengah hati melakukan peragaan dan penumpang juga acuh tak acuh. Intinya, semua ritual itu seperti formalitas basa-basi, tidak lebih tidak kurang. Singkat kata, membosankan.
Anggapan saya berubah saat naik Air Asia dari Kuala Lumpur ke Singapura tanggal 26 Juni 2013 lalu. Karena lelah setelah mengikuti konferensi di Kuala Lumpur, saya hampir tertidur bahkan sebelum pesawat tinggal landas. Di sela kantuk dan kegamangan itu saya dikejutkan oleh berisik penonton yang tertawa seperti dikomando. Ternyata penumpang tertawa mendengarkan instruksi keselamatan yang yang dibawakan dengan cara lucu oleh pilot atau ko-pilot (saya tidak tahu persis).
Setelah saya perhatikan, ternyata instruksi keselamatan disampaikan secara langsung oleh seorang lelaki dari ruang kendali sambil diperagakan oleh beberapa orang pramugari. Yang membuatnya tidak biasa adalah cara penyampaianya yang lucu. Seringkali lelaki itu berbicara dengan gaya bergema (echo) yang dibuat-buat. Dia juga menyampaikan komentar-komentar konyol seperti βbaju pelampung ini memiliki dua pipa tiup, bukan pipa sedotβ yang disambut gelak tawa penumpang. Di saat lain, lelaki itu mengatakan βif you cannot find your seatbelt, you might sit on itβ. Singkat kata, penumpang dibuatnya riuh rendah tertawa dan penuh perhatian.
Ini video dari Youtube, bukan video yang saya rekam sendiri
Ini adalah contoh kreativitas. Sesuatu yang tadinya biasa dan cenderung membosankan bisa menarik lagi dan menjadi pusat perhatian. Yang diperlukan hanya satu hal: keberanian berpikir dan berbuat di luar kebiasaan. Tentu ada risikonya tetapi jika tidak dicoba, maka ritual instruksi keselamatan di pesawat akan menjadi βbarang kunoβ padahal sesungguhnya penting tetapi diabaikan sebagian besar orang. Alangkah berbahayanya jika kita abai akan hal-hal yang penting, hanya gara-gara penyampaiannya tidak menarik dan membosankan.
Dalam banyak hal, kreativitas adalah kunci. Tanpa itu, kita akan mati dengan segera. Mati karena terlindas roda zaman yang berlari kencang dan menjadi korban mengenaskan dalam kompetisi yang kian sengit. Jadi pilihannya jelas, kreatif atau mati.
Saya sudah mengajar agak lama. Setiap kali mengajar saya merasakan pengalaman berbeda meskipun membawakan materi yang sama dengan kesiapan yang sama juga. Ternyata perbedaan kualitas penampilan saya sangat dipengaruhi oleh situasi peserta kuliah yang menyimak. Dari sekian pengalaman, saya percaya bahwa energi saya sesungguhnya tidak hanya berasal dari persiapan dan penguasaan materi yang prima tetapi juga dari respon mahasiswa.
Saya dengan mudah bisa tahu jika mahasiswa saya antusias dan antusias ini memancarkan energi positif yang luar biasa besarnya. Energi ini membuat saya menjadi semakin baik. Pancaran energi positif itu menguatkan dan membuat saya menampilkan hal terbaik dari diri saya. Waktu mengajar jadi terasa singkat jika hal ini terjadi. Dua jam berlalu dengan cepat dan tiba-tiba kelas harus berakhir.
Di kesempatan lain saya bisa merasakan jika ada satu atau dua mahasiswa yang sengaja ataupun tidak memancarkan energi negatif saat di kelas. Percayalah, saya tidak pernah masuk kelas dengan satu niat buruk. Saya tidak pernah masuk kelas dengan satu niat untuk membuat mahasiswa jadi tidak suka sama saya. Saya tidak pernah masuk kelas dengan niat mempermalukan atau membuat satu atau dua mahasiswa marah atau tidak nyaman. Namun hal ini kadang terjadi, entah apa pasalnya. Mahasiswa seperti ini biasanya memasang tampang tidak tertarik atau wajah tidak senang. Percayalah, itu sangat amat mengganggu niat baik dan konsentrasi.
Sebelumnya saya tidak pernah menyatakan dengan terang-terangan bahwa saya mengistimewakan seorang sahabat lebih dari sahabat lainnya. Saya lama meyakini bahwa sahabat seharusnya kita perlakukan sama. Namun seiring berjalannya waktu, saya tidak bisa memungkiri bahwa saya memiliki seorang sahabat istimewa. Lebih istimewa dari lainnya. Kami mungkin memang tidak seperti sahabat karib karena tidak begitu sering menyapa di media sosial tetapi saya telah menghabiskan banyak sekali waktu untuk memerhatikan sahabat saya ini. Kami tidak sering bertegur sapa di wall ataupun lewat inbox FB tetapi saya sesungguhnya memerhatikannya. Selalu saya ikuti gerak-geriknya di media sosial itu.
Mengawali April tahun ini, saat kejujuran harusnya diutamakan, saya ingin menceritakannya pada pembaca semua. Dia adalah sahabat terbaik saya. Biarlah semua pembaca dan dunia tahu, saya tidak perlu menutupinya lagi. Semoga sahabat saya ini merasakannya meskipun tidak pernah saya ungkapkan secara langsung kepadanya. Setiaknya, sejak hari ini, 1 April 2014, kekaguman saya terhadapnya bukan rahasia lagi. Silakan kunjungiΒ sahabat saya di sini. Tolong sampaikan padanya betapa istimewanya dia bagi saya.
Inilah daftar penerima Beasiswa Australia Awards Scholarship (AAS) atau yang sebelumnya dikenal dengan Australian Development Scholarship (ADS) untuk keberangkatan 2014 dan 2015.
Ketika mononton video tentang Mas Anies Baswedan di masa-masa hidupnya sebagai pemimpin gerakan mahasiswa, saya mengingat tulisan saya tahun 2010. Saya membuat catatan tentang gerakan mahasiswa di Australia dan membandingkannya dengan gerakan mahasiswa di Indonesia. Lebih jauh, saya bernostalgia mengenang gegap gempita gerakan mahasiswa di tahun 1990an yang berbeda dengan kini.
Tanpa menghakimi mana yang lebih bagus, gerakan mahasiswa di tahun 1990an memiliki agenda yang nampaknya lebih besar. Jika harus turun ke jalan, mahasiswa menentang tirani kekuasaan negara. Jika harus berorasi, mahasiswa tidak meminta penurunan SPP tetapi penuruhan presiden yang otoriter. Jika harus berteriak di gelanggang mahasiswa, mahasiswa tidak mempertanyakan dekannya yang korupsi anggaran tetapi keculasan keluarga istana yang tebal muka mendominasi program mobil nasional. Urusannya memang beda. Dan yang lebih penting, aktivis mahasiswa menjunjung tinggi kata mahasiswa maka dari itu mereka mendasarkan akvitisme dengan tradisi berpikir dan pergulatan gagasan.
Mahasiswa masa kini mungkin memang tidak perlu turun ke jalan menurunkan presiden karena presidennya mungkin baik-baik saja. Mahasiswa sekarang mungkin tidak perlu menentang tirani penguasa karena rejim yang berkuasa saat ini mungkin baik-baik saja. Tapi mahasiswa tidak boleh lupa kebesaran dirinya. Bahwa urusannya bukan sekedar konflik antarangkatan yang remeh temeh tetapi sengketa teritorial antarbangsa. Bahwa urusannya tak sekedar bisa beli pulsa HP tetapi mengingatkan penyelenggara negeri tak mematikan rakyat dengan korupsi. Bahwa urusannya tak melulu soal deretan angka bagus di transkrip tetapi soal membangun karekter.
Menyimak video Mas Anies ini, saya dihadapkan seorang pemimpin yang kritis sejak muda dan berani sejak lama. Lebih jauh, saya mengambil pelajaran bahwa kita tidak bisa berharap orang lain akan datang menyelesaikan masalah kita. Seperti kata Gandhi, kita yang harus menjadi perubahan yang ingin kita saksikan. Atau dalam bahasa Obama, kitalah perubahan yang sudah kita tunggu sejak lama.
Saya pernah menjadi moderator untuk berbagai forum yang menghadirkan berbagai jenis orang. Mulai dari mahasiswa hingga professor, mulai dari pejabat hingga diplomat, mulai dari akademisi hingga pengusaha. Saya pernah menjadi moderator diskusi bersama Prof. Mahfud MD (Ketua MK) di Sydney, Bima Arya (kini Walikota Bogor) di Perth, Havas Oegroseno (Dubes RI untuk Belgia, Luksemburg dan Uni Eropa) di Jogja dan forum ilmiah di Bali. Menjadi moderator itu pekerjaan yang menarik. Tidak menjadi bintang utama dalam diskusi karena bukan pembicara tetapi vital perannya karena dia menentukan jalannya diskusi. Menjadi moderator itu soal seni dan ilmu menjadi pengendali komunikasi.
Saya merasa nyaman menjadi moderator diskusi. Soal baik atau buruk, tentu bukan saya yang berhak menilai. Saya masih terus belajar. Untuk mencatat pelajaran menjadi seorang moderator saya mengumpulkan sepuluh tips.
Teknologi pengolahan citra digital membantu kita melakukan banyak hal. Di sisi lain, dia bisa mengubah persepsi kita tentang kecantikan karena dia membantu kita untuk ‘menipu’ secara dramatis. Coba lihat video ini.
Warning: Video ini menampilkan ketelanjangan. Tidak sesuai untuk mereka yang belum berpikir dewasa.