Ketika mononton video tentang Mas Anies Baswedan di masa-masa hidupnya sebagai pemimpin gerakan mahasiswa, saya mengingat tulisan saya tahun 2010. Saya membuat catatan tentang gerakan mahasiswa di Australia dan membandingkannya dengan gerakan mahasiswa di Indonesia. Lebih jauh, saya bernostalgia mengenang gegap gempita gerakan mahasiswa di tahun 1990an yang berbeda dengan kini.
Tanpa menghakimi mana yang lebih bagus, gerakan mahasiswa di tahun 1990an memiliki agenda yang nampaknya lebih besar. Jika harus turun ke jalan, mahasiswa menentang tirani kekuasaan negara. Jika harus berorasi, mahasiswa tidak meminta penurunan SPP tetapi penuruhan presiden yang otoriter. Jika harus berteriak di gelanggang mahasiswa, mahasiswa tidak mempertanyakan dekannya yang korupsi anggaran tetapi keculasan keluarga istana yang tebal muka mendominasi program mobil nasional. Urusannya memang beda. Dan yang lebih penting, aktivis mahasiswa menjunjung tinggi kata mahasiswa maka dari itu mereka mendasarkan akvitisme dengan tradisi berpikir dan pergulatan gagasan.
Mahasiswa masa kini mungkin memang tidak perlu turun ke jalan menurunkan presiden karena presidennya mungkin baik-baik saja. Mahasiswa sekarang mungkin tidak perlu menentang tirani penguasa karena rejim yang berkuasa saat ini mungkin baik-baik saja. Tapi mahasiswa tidak boleh lupa kebesaran dirinya. Bahwa urusannya bukan sekedar konflik antarangkatan yang remeh temeh tetapi sengketa teritorial antarbangsa. Bahwa urusannya tak sekedar bisa beli pulsa HP tetapi mengingatkan penyelenggara negeri tak mematikan rakyat dengan korupsi. Bahwa urusannya tak melulu soal deretan angka bagus di transkrip tetapi soal membangun karekter.
Menyimak video Mas Anies ini, saya dihadapkan seorang pemimpin yang kritis sejak muda dan berani sejak lama. Lebih jauh, saya mengambil pelajaran bahwa kita tidak bisa berharap orang lain akan datang menyelesaikan masalah kita. Seperti kata Gandhi, kita yang harus menjadi perubahan yang ingin kita saksikan. Atau dalam bahasa Obama, kitalah perubahan yang sudah kita tunggu sejak lama.
Saya pernah menjadi moderator untuk berbagai forum yang menghadirkan berbagai jenis orang. Mulai dari mahasiswa hingga professor, mulai dari pejabat hingga diplomat, mulai dari akademisi hingga pengusaha. Saya pernah menjadi moderator diskusi bersama Prof. Mahfud MD (Ketua MK) di Sydney, Bima Arya (kini Walikota Bogor) di Perth, Havas Oegroseno (Dubes RI untuk Belgia, Luksemburg dan Uni Eropa) di Jogja dan forum ilmiah di Bali. Menjadi moderator itu pekerjaan yang menarik. Tidak menjadi bintang utama dalam diskusi karena bukan pembicara tetapi vital perannya karena dia menentukan jalannya diskusi. Menjadi moderator itu soal seni dan ilmu menjadi pengendali komunikasi.
Saya merasa nyaman menjadi moderator diskusi. Soal baik atau buruk, tentu bukan saya yang berhak menilai. Saya masih terus belajar. Untuk mencatat pelajaran menjadi seorang moderator saya mengumpulkan sepuluh tips.
Teknologi pengolahan citra digital membantu kita melakukan banyak hal. Di sisi lain, dia bisa mengubah persepsi kita tentang kecantikan karena dia membantu kita untuk ‘menipu’ secara dramatis. Coba lihat video ini.
Warning: Video ini menampilkan ketelanjangan. Tidak sesuai untuk mereka yang belum berpikir dewasa.
Perempuan itu menyambut saya dengan ramah, menerima berkas yang mau saya fotocopy. Ada yang tidak biasa pada dirinya tapi sepertinya dia tidak peduli. Seakan tidak terjadi apa-apa dia bergerak sigap menerima berkas saya lalu bergerak menuju mesin fotocopy yang tidak jauh darinya. Toko itu tidak besar, penuh sesak dengan rankaian janur dan lontar yang berwarna-warni. Perempuan Bali ini rupanya juga menjual bebantenan, sesajen yang memang jadi kehidupan sehari-hari masyarakat Bali. Di berbagai sudut tergantung sampian, tamas, ceper, tangkih dan segala rupa bentuk rangkaian janur dan lontar. Aroma khas lontar segar akrab dengan toko sederhana itu.
Saya masih takjub memerhatikan perempuan itu dari belakang. Tangannya bekerja cekatan memindahkan halaman-halaman dokumen yang difotocopy lalu menyusun hasilnya menjadi satu kesatuan dengan stapler. Dia sigap dan cepat. Sementara itu saya masih terpana. Ingin rasanya banyak bertanya tentang situasinya tetapi saya tidak tahu harus mulai dari mana. Ada rasa iba tetapi buru-buru saya tepis karena iba itu bisa-bisa adalah bentuk ‘penghinaan’ dalam kemasan lain. “Ibu memang asli dari sini?” saya akhirnya bertanya. Dijawabnya, “saya asli Gianyar tapi menikah dengan orang sini”. Tidak banyak yang bisa saya tanyakan lagi karena takut tidak tepat. Dalam hati saya membayangkan, pastilah lelaki, suami perempuan ini, baik hatinya.
Pemandangan dari panggung. Ghra Sabha Pramana, UGM
Pukul 5.42 pagi, telepon saya bergetar tanpa suara. Agak lama getaran itu bercampur mimpi dini hari dan membuat saya tidak segera beranjak sampai akhirnya benar-benar tersadar. “Halo, selamat pagi”, kata saya menjawab telepon setelah setengah sadar memperhatikan nomor Jakarta tertera di layarnya. “Halo, Andi ya?” tanya suara di seberang. Ketika saya iyakan, dia mengatakan “ini Adhit, Ndi!” Saya masih setengah sadar, nyawa belum terkumpul semua. “Adhit…?” saya menyebut nama itu ragu. “Adhit yang dulu di Belanda, Ndi” “Oh, Adhit, apa kabar Dhit?” Saya baru tersedar, di Achmad Adhitya kawan saya.
Teater Jakarta masih sepi saat saya tiba di sana sore tanggal 25 Februari 2014. Sementara di halaman terlihat deretan karangan bunga, ucapan Selamat Ulang Tahun untuk Prof. Hasjim Djalal. Malam itu saya menghadiri malam apresiasi untuk Prof. Hasjim Djalal dalam rangka memperingati ulang tahun beliau yang ke-80. Saya beruntung mendapat undangan istimewa itu.
Saya gelisah karena ada satu hal yang belum saya selesaikan. Panitia meminta saya memberikan sambutan yang mewakili murid Pak Hasjim dan saya belum menyelesaikan naskah pidato saya. Tidak biasanya saya tidak mempersiapkan pidato dengan baik jauh-jauh hari sebelumnya. Semua itu karena kesibukan belakangan ini yang gagal saya antisipasi dengan cermat. Pagi hari tadi waktu saya habis untuk menjadi representative University of Wollongong dalam acara Australia Awards Scholarship Information Days di Ritz Carlton, tidak jauh dari Teater Jakarta.
Setiba di Teater Jakarta saya segera menemui Bang Efri, penulis buku “Patriot Negara Kepulauan”, sebuah biografi Prof. Hasjim Djalal. Saya sedikit terlibat dalam proyek penerbitan buku itu, terutama membantu dalam mencarikan penerbit. Ini juga yang menjadi salah satu alasan mengapa saya mendapat undangan ini. selepas berbasa basi, saya segera mencari tempat tenang untuk menyelesaikan naskah pidato. Saya tidak bisa pidato tanpa menyiapkan naskah meskipun akhirnya lebih suka berpidato tanpa naskah.
Jika Anda dosen, mungkin Anda setuju dengan saya bahwa tugas selain mengajar kadang jauh lebih banyak jumlahnya. Selain urusan administrasi seperti BKD, SIPKD, SKP, dan singkatan-singkatan lain yang kadang membingungkan, ada juga tugas lain untuk memikirkan negara. Tidak jarang, seorang dosen diundang satu kementerian untuk dimintai pendapat. Bagi dosen yang berdomisili di luar Jakarta, panggilan-panggilan dan tugas non akademik ini kadang menyita lebih banyak waktu. Perjalanan pulang pergi ke Jakarta dari Jogja, misalnya, akan memakan waktu setidaknya sehari. Akibatnya, tugas mengajar di kampus bisa terabaikan.
Sebenarnya pilihannya bisa sederha yaitu dosen menolak undangan kementerian atau instansi tertentu dan fokus saja mengajar atau meneliti di kampus. Saya yakin ada dosen yang melakukan ini. Tidak demikian dengan saya karena berbagai pertimbangan. Sedapat mungkin undangan itu saya penuhi, terutama yang terkait erat dengan aktivitas berpikir dan melaksanakan kajian. Alasannya sederhana. Saya percaya data, informasi dan pengetahuan itu harus berujung pada kebijakan agar dia memberi manfaat yang lebih besar bagi masyarakat. Terdengar sok idealis? Tentu saja. Seorang yang berani menyebut dirinya guru memang harus idealis. Adakah alasan pragmatis dari kegiatan itu? Tentu saja ada. Dosen mendapat honor dari aktivitas itu. Mungkin ini bukan alasan utama tetapi tidak benar jika tidak saya akui.
Jika terpaksa harus meninggalkan perkuliahan, apa yang bisa dilakukan seorang dosen? Pilihan yang paling mudah adalah mengosongkan kuliah dan menggantinya di hari lain. Saya akui, ini tidak bisa dihindari jika terlalu banyak undangan atau panggilan ke luar kota. Meski demikian, ada pilihan lain yang bisa dicoba yaitu memberikan kuliah secara online. Teknologi informasi dan komunikasi yang sudah sedemikian canggih bisa dimanfaatkan untuk memberi kuliah online ini. Saya baru saja mencobanya.
Saya harus berada di Jakarta dan Bali karena suatu tugas pada tanggal 24-28 Februari 2014. Dalam seminggu itu ada dua kuliah wajib yang harus saya isi yaitu Matematika Geodesi (ya, betul! Anda tidak salah baca) untuk S1 Teknik Geodesi dan Geomatika UGM dan Praktek Basis Data untuk D3 Teknik Geomatika Sekolah Vokasi UGM. Tadinya saya mau mengosongkan saja dan menggantinya di hari lain tapi saya berubah pikiran. Saya memutuskan melakukan kuliah online dengan Skype dibantu oleh Team Viewer. Sebenarnya ini sudah sering saya lakukan dulu ketika masih ada di Australia sehingga secara teknis saya bisa melakukannya tanpa banyak kendala. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah saya akan memiliki akses internet yang memadai ketika ada di Jakarta atau Bali nanti. Jika saya ada di hotel tentu saja tidak masalah tetapi jika saya berada di luar hotel atau benar-benar dalam perjalanan, maka kendala akan muncul.
Kalau ada niat, pasti ada jalan dan kalau tidak ada niat pasti banyak alasan. Saya selalu percaya hal itu. Maka saya mulai mencari cara. Saya kontak asisten saya di Teknik Geodesi dan Geomatika UGM, Sapta Hadi, yang selama ini membantu banyak. Saya ajari dia menggunakan Skype dan Team Viewer untuk kuliah online dan dia antusias. Satu titik terang sudah ada. Tidak ada yang lebih baik dari bekerja dengan orang yang antusias. Singkat cerita saya sudah merasa siap untuk bereksperimen.
Pinjam tempat di IDP/IALF Bali
Kuliah Matematika Geodesi dijadwalkan hari Jumat jam 13.00 WIB dan ketika itu saya berada di Bali dan artinya itu jam 14.00 WITA. Saya harus temukan suatu tempat yang tepat untuk mengajar. Saya kenal dengan Pak Ketut di IDP/IALF Bali dan segera menelpon beliau untuk meminta izin menggunakan salah satu ruangan di IDP/IALF untuk mengajar. Yang saya butuhkan tentu saja sebuah kursi, satu meja dan akses internet. Jika kemudian saya dapat ruang kelas ber-AC, tentu saja itu bonus belaka. Pak Ketut dengan baik hati mengizinkan. Ini terjadi karena sebelumnya saya sudah berinteraksi baik dengan beliau saat saya menjadi perwakilan Universitas Wollongong dalam acara pameran pendidikan yang dikelola IDP. Pertemanan adalah kuncinya.
Ketika selesai kuliah Matematika Geodesi, waktu sudah menunjukkan pukul empat di Bali dan ternyata ruang kuliah yang saya pakai itu akan digunakan. Saya harus mengungsi ke tempat lain untuk memberi kuliah Praktek Basis Data. Akhirnya saya pindah ke ruang dapur/pantry di atas dan mengatakan kepada security bahwa saya adalah tamu dari Pak Ketut. Mereka baik hati mengizinkan saya. Saya menempatkan laptop dan iPad di dekat tempat cuci piring agar bisa di dekat jendela dan pencahayaan jadi lebih bagus. Saat kuliah, sempat juga saya tunjukkan suasana ‘dapur’ itu kepada mahasiswa di Jogja dan mereka tertawa geli menyaksikan dosennya mengajar di dekat tempat cuci piring. Pilihan saya tidak banyak, tempat itupun harus disyukuri.
Belum maksimal tapi awal yang baik
Harus saya akui, perkuliahan oline itu tidak berjalan sempurna. Saat kuliah Matematika Geodesi, ada kendala teknis dengan laptop di Jogja yang microphone-nya tidak berfungsi dengan baik. Ini di luar dugaan karena sebelumnya kami sudah coba dan berhasil baik. Ini satu pelajaran bahwa saya harus mencoba lagi di detik-detik terakhir sebelum kuliah agar hal ini tidak terjadi. Kendala kedua adalah audio yang tidak kami siapkan dengan matang sehingga katanya suara saya kadang turun. Saya duga ini terkait dengan kualitas laptop di Jogja dan juga koneksi internet. Saat itu masih jam 13.00 WIB di Jogja dan pengguna internet masih cukup banyak. Selain itu, koneksi menggunakan WIFI sehingga tidak sebagus jika menggunakan kabel. Lain kali, ini harus kami perhatikan hal ini lebih baik.
Praktek Basis Data di D3 Teknik Geomatika SV UGM
Kendala yang terjadi di Kuliah Matematika Geodesi akhirnya kami jadikan pelajaran dan perbaiki di Kuliah Praktek Basis Data. Hasilnya cemerlang. Hampir tidak ada kendala koneksi dan audio saat kuliah Basis Data itu. Suara jernih, tayangan berjalan baik dan bahkan interaksi bisa dilakukan dengan sangat baik. Mahasiswa bisa memberikan komentar dengan leluasa. Saya bisa mendengar mereka tertawa dan antusias merespon kuliah itu. Saya juga meminta mahasiswa mengirimkan email dan memberi kesan serta masukan. Hasilnya bagus. Secara umum mahasiswa merasa ini pengalaman yang menarik karena ini merupakan pengalaman pertama bagi sebagian besar dari mereka. Tentu saja bukan soal materi tetapi kuliah online ini memberikan pengalaman baru yang segar kepada mahasiswa.
Satu yang mahasiswa dan saya sepakati adalah kuliah online tidak pernah bisa menggantikan kuliah tatap muka secara utuh, setidaknya sampai hari ini. Saya tegaskan kepada mereka, kuliah online ini dilakukan jika dan hanya jika terpaksa. Saya mohon mahasiswa memahami bahwa tugas dosen tidak hanya mengajar meskipun tetap harus mengutamakan itu sebagai tugas pertama. Intinya, dosen dan mahasiswa perlu bekerjasama dengan baik agar semua tugas itu berjalan dengan baik dan tidak ada pihak yang benar-benar dirugikan. Komunikasi yang baik adalah kuncinya.
Saya pribadi merasa senang bisa melakukan kuliah secara online Jumat kemarin. Saya tidak menawarkan sesuatu yang luar biasa dengan kuliah online itu karena semuanya menggunakan teknologi yang begitu sederhana. Tidak ada investasi tambahan, hanya menggunakan apa yang sudah biasa kita pakai sehari-hari. Kuliah ini berbiaya rendah karena tidak ada biaya tambahan dibandingkan kuliah yang biasa dilakukan. Memang tidak sempurna tetapi ini bisa jadi solusi yang mengatasi keterpisahan jarak. Saya berharap pihak lain akan memberikan tanggapan konstruktif karena yang saya tawarkan adalah sebuah niat baik. Itu saja.
Teman-teman sering bertanya “dibayar berapa untuk memberi kuliah umum atau seminar?” Banyak yang tidak percaya kalau saya bilang “saya tidak selalu dibayar”. Memang ada yang membayar saya untuk memberi kuliah tetapi rasanya lebih banyak yang gratis selama ini. mengapa saya mau melakukan itu? Banyak yang heran. Ada mahasiswa yang secara serius bertanya pada saya soal ini. Dia dengan rasional bertanya perihal imbalan materi yang sebenarnya layak saya dapatkan.
Mungkin Anda bermaksud mencari informasi Beasiswa AAS 2016 yang pendaftarannya dilakukan tahun 2015. Pendaftarannya dibuka tanggal 1 Februari 2015. Silakan baca tulisan saya yang ini.
+++++++++++++
Sejak tanggal 1 Februari 2014, pendaftaran beasiswa AAS atau Australia Awards Scholarship sudah dibuka. Dulu beasiswa ini dikenal dengan nama Australian Development Scholarship atau ADS. Kini, beasiswa ini dikelol oleh Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Australia. Intinya, beasiswa ini memungkinkan warga negara Indonesia yang memenuhi persyaratan untuk sekolah S2 atau S3 di Australia dengan biaya dari pemerintah Australia.
Berguru ke Negeri Kangguru
Jika Anda termasuk satu dari sekian banyak orang yang awam dengan beasiswa ini, saya sarankan membaca tulisan saya yang berjudul “Memahami Beasiswa AAS bagi Orang Biasa“. Selain itu, saya sudah kumpulkan tips dan trick sesuai pengalaman sendiri dan teman-teman di halaman khusus di blog ini. Silakan baca semua artikel di sana dan kemungkinan besar pertanyaan Anda sudah terjawab di sana. Saya juga sudah menulis sebuah buku yang lengkap tentang meraih beasiswa Australia ini. Silakan dapatkan di toko buku terdekat atau pesan lewat blog ini. Saya ingatkan, buku itu merupakan kumpulan tulisan di blog ini sehingga Anda tidak harus membelinya. Meski demikian, tentu saja ada penyempurnaan dalam hal isi maupun penampilan.
Setelah membaca tulisan ini, Anda akan tergoda untuk bertanya tentang persyaratan, tentang proses, tentang fasilitas dan lain-lain. Jangan buru-buru bertanya karena semua itu sudah ada di blog ini. Silakan kunjungi halaman khusus ini dan mudah-mudahan rasa penasaran Anda terpuaskan. Selamat berjuang, Kawan!
STOP!
Jangan buru buru bertanya lewat comment di bawah. Sangat amat mungkin pertanyaan Anda itu terjawab dengan mudah jika Anda teliti membaca informasi di link yang saya sampaikan di atas. Good luck!
Kereta yang bergerak dari Bogor ke arah Kota Jakarta itu penuh. Banyak orang harus berdiri karena semua tempat duduk terisi. Saya termasuk yang memilih untuk berdiri meskipun tadinya dapat tempat duduk. Ada beberapa perempuan dan lelaki senior yang lebih membutuhkan. Meskipun sebenarnya saya punya tugas yang harus diselesaikan, saya akhirnya memilih menutup laptop, memasukkan ke tas dan berdiri. Tidak nyaman bekerja di kereta dengan tatapan perempuan atau lelaki tua yang lebih membutuhkan kursi.
Syukurlah baterei HP saya habis sehingga saya tidak tenggelam di dunia maya berakrab-akrab dengan orang jauh dan mengabaikan orang dekat. Saya raih tali pegangan yang berjuntai di atas kepala. Memandang ke luar jendela, saya menikmati suasana sepanjang jalan. Harus diakui, dibandingkan sepuluh tahun silam, kereta di Jabodetabek jauh lebih nyaman kini. Saya tidak ragu mengacungkan jempol untuk siapa saja di PT Kereta Api Indonesia yang menghadirkan kebaikan itu.
Kekaguman saya terganggu begitu melihat seorang gadis cantik yang membuang tisu ke lantai kereta. Terus terang saya terkejut karena tidak berharap perbuatan ‘hina’ itu dilakukan oleh seorang gadis yang kelihatannya terdidik dan bermasa depan itu. Pakaiannya bagus, pada telinganya terselip earphone dengan pandangan mata yang rupanya begitu menikmati diri sendiri. Saya berpikir sejenak, bertanya pada diri sendiri apa yang harus dilakukan.