Berkah di Hari Valentine

http://media.viva.co.id/

Hello Kawan,

Kamu pasti sudah mendengar berita baik ini. Kami semua bersykur, setelah lama menunggu, akhirnya Tuhan mengabulkan doa kami. Tuhan mencintai kami penuh seluruh dengan menurunkan berkah di hari Valentine ini. DiberikanNya pada kami apa yang sudah bertahun-tahun kami idam-idamkan dan rindukan. Kami dikirimi bahan makanan berlimpah. Keluarga bersuka cita menyambut berkah itu. Anak-anak bersenandung bermain di halaman dan berdansa menikmati guyuran nikmat yang tiada tara. Berkah itu akan membuat generasi penerus kami hidup tenang selama bertahun-tahun di masa depan.

Continue reading “Berkah di Hari Valentine”

Kereta Terakhir

http://adventureamigos.net/

Aku melesat meninggalkan loket tiket di stasiun Pondok Cina, bergegas mendekati kereta yang sebentar lagi berlalu. Hampir setengah sebelas malam, ini adalah kereta terakhir yang akan membawa penumpang ke arah Bogor. Aku tidak punya pilihan lain, aku tidak boleh terlambat jika tidak ingin tertinggal. Hari telah larut, aku tidak begitu paham pilihan transportasi dari kawasan Depok ke Bogor selain kereta.

Kurang dari semenit setelah aku menginjakkan kaki di gerbong paling belakang, kereta perlahan melaju. Aku lega, aku berhasil memasuki kereta terakhir malam itu. Dengan nafas masih terengah, aku meraihh pegangan yang berjuntai di atasku. Tidak ada tempat duduk yang kosong, akupun berdiri. Sambil mengatur nafas, aku perhatikan sekeliling. Di satu sudut, ada seorag perempuan muda yang asyik dengan HPnya, sekali-sekali melirik ke arahku yang baru datang dan masih tersengal. Tidak lama, dia kembali tenggelam di layar HPnya tetapi seperti ada senyum yang tersungging di bibirnya. Ada getaran yang berbeda dari senyum itu. Entahlah.

Continue reading “Kereta Terakhir”

Radius Siaga Gunung Kelud

Seberapa jauh tempat tinggal Anda dari puncak Gunung Kelud?

Gunakan:
[+] untuk memperbesar tampilan peta (zoom in)
[-] untuk memperkecil tampilan peta (zoom out)
[tanpa panah] untuk menggeser tampilan peta
Klik pada tiap lingkaran untuk melihat keterangan radius (5 – 85 kilometer dari Gunung Kelud)

Untuk Pengguna Google Earth, silakan unduh file KML di sini.

Jika ingin melihat peta dengan ukuran lebih besar, silakan klik di sini

PS. Informasi ini hanya menunjukkan jarak dari puncak Gunung Kelud dan tidak mewakili status kesiagaan resmi yang dikeluarkan oleh pemerintah. Selain itu, meskipun radius yang ada di peta ini hanya sampai 85 kilometer, kawasan di luar itu juga tetap harus waspada. Di Jogja, misalnya, hujan abu cukup parah dan masyarakat sebaiknya menggunakan masker. Semoga semua selamat.

Turun Tangan Menjadi Guru SD

Mengajar

Handy Bunawan namanya. Dia kawan baik saya ketika bekerja di Astra lebih dari sepuluh tahun silam. Kami bercakap-cakap di ruang makan kantor di suatu siang. Dia mengatakan kepada saya “De, kalau memang niat jadi pendidik, sekalian ikuti gaya Romo Mangun aja.” Dia sedang mengomentari rencana saya keluar dari Astra untuk menjadi dosen di UGM. Pilihan ini tentu tidak begitu lazim bagi teman-teman saya ketika itu. Memutuskan pindah dari Astra untuk jadi guru di kampus tentu bukan pilihan yang mudah diterima akal konvensional. Tentu saja alasan finansial yang menjadikan pilihan itu tidak menarik.

“Cobalah sekali-sekali mengajar anak SD di sela-sela memberi kuliah De” kata Handy memberi sumbangan ide. Ketika mendengar gagasan itu, saya tidak banyak menanggapi. Ide untuk pindah ke UGM dari Astra sudah terasa cukup aneh ketika itu karena gaji yang ditawarkan sepersekiannya. Keanehan itu kini ditambahi gagasan yang juga tidak lazim. Handy menyarankan saya untuk menjadi guru SD selain menjadi dosen di UGM. Lebih parah lagi, Handy menyarankan saya jadi guru bagi anak-anak tidak mampu sebagai bentuk pengabdian saya pada pendidkan. Saya tidak mengiyakan, sekaligus tidak membantah. Saya mengerti, Handy tentu tidak melihat alasan finansial/materi yang melatarbelakangi kepindahan saya dari Astra ke UGM. Rupanya dia melihat ada idealisme di balik keputusan itu sehingga dia kemudian dengan tanpa beban mengusulkan gagasan idealis dengan menjadi guru SD pada saya.

Continue reading “Turun Tangan Menjadi Guru SD”

Jika sudah S2, bolehkah mendaftar S2 lagi lewat Beasiswa AAS?

Sering ada pertanyaan seperti pada judul tulisan ini yang saya terima dari para pejuang beasiswa Australia Awards Scholarship – AAS (dulu disebut Australian Development Scholarship, ADS). Jika pertanyaan ini dilayangkan sebelum 1 Februari 2014 jawaban saya biasanya seperti ini:

Secara formal tidak boleh. Meski demikian, kenyataannya ada orang yang sudah S2 lalu mendaftar AAS/ADS untuk sekolah S2 dan ternyata diterima. Saat mendaftar, dia rupanya dengan sengaja menyembunyikan statusnya yang sudah S2 dan hanya menggunakan ijazah S1. Saya tidak ada dalam posisi menyarankan atau melarang orang lain melakukan itu. Yang pasti, ada unsur ketidakjujuran dan pelanggaran di situ. Saya yakin Anda bisa memutuskan dengan bijaksana.

Continue reading “Jika sudah S2, bolehkah mendaftar S2 lagi lewat Beasiswa AAS?”

Memahami Beasiswa AAS Bagi Orang Biasa

Catatan: Tulisan ini adalah modifikasi dari salah satu bab dari buku saya “Berguru ke Negeri Kangguru” [Beli di sini].

Suatu hari saya mendapat email dari seseorang perihal beasiswa Australia Awards Scholarship (AAS) – dulu Australian Development Scholarship atau ADS. Dia adalah satu dari sekian banyak yang berkirim email untuk perihal yang sama. Saya merasa terkejut, meskipun rasanya saya sudah menulis cukup banyak tentang beasiswa AAS di blog saya, pengirim email ini “tidak tahu harus mulai dari mana”. Kalimat ini saya kutip langsung dari email-nya. Saya menduga bahwa kawan kita ini tidak sendirian mengalami kebingungan seperti itu. Maka, saya menulis dan memperbarui artikel ini khusus dipersembahkan bagi mereka yang ingin mendaftar beasiswa AAS tetapi “tidak tahu harus mulai dari mana”.

Continue reading “Memahami Beasiswa AAS Bagi Orang Biasa”

Lupakan Soal Beasiswa, Kamu Pejuang Malas!

Tentu saja tulisan ini bukan untuk Anda, pembaca yang budiman. Tulisan ini adalah untuk orang yang tidak Anda kenal. Orang yang memiliki keinginan untuk mendapatkan beasiswa luar negeri tetapi tidak sadar kalau dirinya menderita kemalasan stadium tinggi. Saya menyebutnya pejuang malas dengan ciri-ciri seperti ini:

  1. Menanyakan hal-hal yang sebenarnya ada di website atau buku panduan beasiswa. Mereka malas membaca.
  2. Selalu mengatakan ‘tes TOEFL/IELTS mahal banget’ tapi malas menabung dan tetap rajin nongkrong di cafe 😉
  3. Sibuk berpikir caranya lolos beasiswa meskipun tidak memenuhi syarat. Mereka tidak fokus berusaha agar bisa memenuhi syarat. Anehnya, dengan begitu mereka merasa kreatif.
  4. Mudah bertanya “syarat beasiswanya apa saja?” Seakan itu satu rahasia yang tidak ada di website atau buku panduan (terutama jika ditanyakan lewat email ketika penanya memiliki akses internet yang memadai).
  5. Bertanya “jurusan yg cocok buat saya apa ya?” seakan orang lain lebih paham tentang dirinya. Untuk menggali bakat dan minat sendiri saja mereka malas.
  6. Bahkan bertanya “berkas lamaran dikirim ke mana ya?” Seakan itu sandi rahasia yg tabu ditulis di buku panduan.
  7. Menyangka topik penelitian didapat dengan bertanya “tema tesis yg bagus apa ya?” bukan dari membaca penelitian yang sudah ada.
  8. Latihan essay IELTS 250 kata malas sekali tetapi ngetwit nyinyir pada orang bisa dari sore sampe subuh @dipataruno.
  9. Lupa satu hal penting: jika beasiswa bisa didapat dengan cara yang dipakai mereka, berarti semua orang bisa dapat beasiswa.
  10. Lupa pertanyaan renungan pejuang beasiswa: “Apa bedanya perjuangan saya dengan pejuang lain dan mengapa saya yang harus terpilih?”
  11. Merasa kursus TOEFL dua juta mahal banget tapi selalu semangat ganti HP baru.
  12. Merasa buku IELTS/TOEFL mahal dan lebih baik pinjem sementara tetap kenceng merokok atau rajin ke salon.
  13. Semangat gonta ganti lensa kamera tapi selalu berharap dapat buku petunjuk beasiswa tanpa membeli.
  14. Bangga membeli tas baru bermerek tapi tidak merasa bersalah membaca buku TOEFL hasil fotokopian.
  15. Malu pakai jam tangan imitasi tapi merasa keren bisa download buku TOEFL/IELTS secara ilegal.

Anda tentu tidak memenuhi kriteria di atas karena Anda adalah pejuang hebat. Jika ada orang yang seperti demikian, katakan pada mereka “lupakan soal beasiswa luar negeri karena kamu pejuang malas!”

Catatan: Tips beasiswa lengkap ada di buku saya “Berguru ke Negeri Kangguru” [Beli di sini].

Tips Skripsi

http://blogsafitricahkebumen.blogspot.com

Jika Anda bukan mahasiswa kebanyakan, mungkin tulisan ini tidak banyak manfaatnya. Meski demikian, bukan berarti Anda tidak boleh membacanya. Yang jelas, tips ini saya buat untuk dibaca dan dipahami oleh mahasiswa kebanyakan. Ini adalah tips untuk orang kebanyakan dari orang kebanyakan sehingga harapannya lebih mudah dimengerti 🙂 Tulisan ini adalah rangkuman twit saya dengan topik #TipsSkripsi sehingga mungkin ada penulisannya yang tidak sesuai EYD. Mohon dipahami dan silakan fokus pada isi dan pesannya.

Continue reading “Tips Skripsi”

Indonesia Kehilangan 4000 Pulau?

Berbagai pemberitaan beberapa tahun ini menegaskan bahwa jumlah pulau di Indonesia berkurang secara signifikan. Sebelumnya, selama beberapa dekade terakhir kita percaya bahwa jumlah pulau di Indonesia adalah 17.508 tetapi berita terakhir menyebutkan angka 13.466. Sekilas berita ini terdengar seperti berita bohong atau hoax namun sepertinya tidak demikian adanya. Tidak kurang dari Dr. Asep Karsidi, ketua Badan Informasi Geospasial (BIG) hingga akhir 2014, otoritas tertinggi pemetaan tanah air, turut menegaskan berita mengejutkan ini (National Geographic Indonesia, 3 Feb 2012). ‘Kehilangan’ sekitar 4000 pulau tentu bukan berita main-main. Bagaimana duduk perkaranya?

Continue reading “Indonesia Kehilangan 4000 Pulau?”

Berdiri membela

Pada tahun 2007 silam, Barack Obama, berdiri di depan beberapa pendukungnya di acara Konvensi Demokrat di musim gugur. Dia mulai pidatonya dengan mengatakan:

Satu-satunya alasan mengapa saya bisa berdiri di sini malam ini adalah karena ada seseorang di suatu tempat memberi dukungan pada saya. Orang itu berdiri memberi kepercayaan pada saya, meskipun sesungguhnya pilihannya sangat berisiko. Dia berdiri memberi dukungan di saat-saat yang begitu berat. Dia berdiri mendukung di saat pilihan mendukung itu benar-benar tidak populer. Dan karena ada satu orang yang berdiri mendukung, maka beberapa orang lainnya pun mengikuti. Lalu beberapa ribu orang berdiri mengikuti. Lalu beberapa juta orang ambil bagian. Dan akhirnya mereka berdiri, tidak lagi dengan keraguan tetapi dengan keyakinan, dengan semangat dan tujuan yang jelas. Mereka percaya bahwa mereka mampu mengubah dunia.

Continue reading “Berdiri membela”