Turun Tangan Menjadi Guru SD


Mengajar

Handy Bunawan namanya. Dia kawan baik saya ketika bekerja di Astra lebih dari sepuluh tahun silam. Kami bercakap-cakap di ruang makan kantor di suatu siang. Dia mengatakan kepada saya “De, kalau memang niat jadi pendidik, sekalian ikuti gaya Romo Mangun aja.” Dia sedang mengomentari rencana saya keluar dari Astra untuk menjadi dosen di UGM. Pilihan ini tentu tidak begitu lazim bagi teman-teman saya ketika itu. Memutuskan pindah dari Astra untuk jadi guru di kampus tentu bukan pilihan yang mudah diterima akal konvensional. Tentu saja alasan finansial yang menjadikan pilihan itu tidak menarik.

“Cobalah sekali-sekali mengajar anak SD di sela-sela memberi kuliah De” kata Handy memberi sumbangan ide. Ketika mendengar gagasan itu, saya tidak banyak menanggapi. Ide untuk pindah ke UGM dari Astra sudah terasa cukup aneh ketika itu karena gaji yang ditawarkan sepersekiannya. Keanehan itu kini ditambahi gagasan yang juga tidak lazim. Handy menyarankan saya untuk menjadi guru SD selain menjadi dosen di UGM. Lebih parah lagi, Handy menyarankan saya jadi guru bagi anak-anak tidak mampu sebagai bentuk pengabdian saya pada pendidkan. Saya tidak mengiyakan, sekaligus tidak membantah. Saya mengerti, Handy tentu tidak melihat alasan finansial/materi yang melatarbelakangi kepindahan saya dari Astra ke UGM. Rupanya dia melihat ada idealisme di balik keputusan itu sehingga dia kemudian dengan tanpa beban mengusulkan gagasan idealis dengan menjadi guru SD pada saya.

Saya tidak lupakan kata-kata Handy itu meskipun, jujur saja, belum pernah saa usahakan dengan serius. Saya sibuk sendiri dengan segala kewajiban yang sudah harus saya penuhi. Sekolah hingga S3 adalah kegiatan yang paling menyita waktu saya selama ini. ingatan saya akan kata-kata Handy muncul lagi ketika suatu hari ada orang yang menghubungi saya. Erwinton nama orang itu, seorang anak muda mahasiswa FISIPOL UGM. Intinya dia ingin bertemu untuk mendiskusikan satu perihal. Tanpa berpikir panjang sayapun menyanggupi.

Kedai Kopi Jl. Kaliurang, 21 Januari 2014
Erwinton dan beberapa kawannya mengundang saya untuk bertemu berbagi gagasan. Saya langsung tetarik dengan ide mereka. Intinya mereka ingin berbuat sesuatu untuk pendidikan Indonesia dengan melakukan pendidikan lintas daerah. Mereka menyebutnya Pelita. Intinya sederhana. Mereka merencanakan proses pengajaran bagi anak-anak SD di daerah luar Jawa. Untuk meminimalkan faktor jarak yang jauh, mereka merancang pengajaran online. Intinya, saya dimintai pendapat dan diharapkan ikut mendukung. Tanpa basa-basi saya nyatakan siap mendukung dan siap terlibat dengan kapasitas saya. Saat itu pula saya diminta oleh mereka untuk sekaligus menjadi orang pertama yang menjadi guru bagi anak-anak SD yang akan mereka pilih nantinya. Saya mengiyakan. Terbayang wajah Handy, teman saya di Astra dulu. Dia pasti juga setuju jika saya melakukan ini.

Ruang Multimedia Fisipol UGM, 10 Februari 2014.
Saya sudah pernah mengajar jarak jauh dengan Skype bahkan hingga lintas negara. Kali ini berbeda karena saya mengjar anak-anak SD 7 Mataram di Lombok. Ini adalah pertama kalinya mengajar SD dan langsung menggunakan metode non-konvensional: online dengan Skype. Percayalah, ini bukan pekerjaan mudah terutama jika koneksi internet kadang bermasalah. Selain itu, memilih kosakata dan metode penyampaian juga bukan perkara mudah. Setelah terbiasa mengajar mahasiswa dan profesional dewasa, mengajar anak SD menjadi perkara yang tidak sederhana. Meski demikian, saya mencobanya.

Sebelumnya saya sudah kirimkan bahan ajar saya berupa presentasi power point ke Mataram dan di sana ada seorang relawan Pelita, Theo namanya. Theo yang membantu saya menjadi ‘operator’ di Mataram dan memastikan semua berjalan baik. Sementara itu, dengan menggunakan TeamViewer, saya bisa melakukan kendali terhadap laptop yang ada di Mataram dari Jogja. Dengan demikian, saya bisa mengendalikan presentasi power point di Mataram lansung dari Jogja. Saat presentasi, operator tidak diperlukan lagi. Karena file power point ada di komputer lokal di Mataram maka animasi berjalan dengan baik. Intinya, yang saya lakukan adalah men-trigger presentasi itu dari Jogja sehingga presentasi bisa bergerak sesuai yang saya mau. Anak-anak SD di Mataram menyaksikan tayangan itu dan mendengarkan suara saya. Memang hanya itu yang diperlukan untuk mengajar: suara yang jernih untuk menjelaskan dan tayangan presentasi yang terlihat dengan baik.

Pelan-pelan saya bisa menguasai keadaan dan presentasi berjalan dengan baik. Ada rasa haru mendengar respon anak-anak SD itu. Ketika saya mengucapkan “selamat pagi”, mereka menjawab dengan antusias. Saya bisa melihat wajah mereka dari layar karena laptop yang digunakan di Mataram dilengkapi dengan kamera. Wajah-wajah yang antusias itu mengobati kegelisahan. Saya menikmati menjadi guru SD meski hanya satu jam. Saya pastilah tidak membuat mereka pintar dalam satu jam itu tetapi tujuan Pelita memang bukan untuk membuat anak-anak SD pintar secara instan. Tujuannya adalah hadir tidak saja memberi tetapi juga menjadi inspirasi. Seperti semangat Indonesia Mengajar, kehadiran guru lewat layar di kelas mereka adalah visualisasi mimpi bagi anak-anak itu. Bahwa kelak, mereka bisa menjadi atau bahkan melampaui orang yang dilihatnya itu. Saya memang sudah terlalu tua untuk menjadi Pengajar Muda di Indonesia Mengajar tetapi tidak ada orang yang terlalu tua untuk berbuat sedikit kebaikan.

Berfoto setelah mengajar, dengan anak2 SD 7 Mataram yang muncul di layar

Mengapa saya mau melakukan itu semua? Intinya hanya satu. Seperti kata Mas Anies Baswedan, pendidikan adalah tanggung jawab semua orang terdidik. Diam-diam saya berharap, Handy akan ikut tersenyum dan kian meyakini bahwa pilihan saya keluar dari Astra bukanlah keputusan yang tak beralasan.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

11 thoughts on “Turun Tangan Menjadi Guru SD”

  1. Buat mereka kehadiran Bli walau sebatas dgn skype akan terasa sangat LUAR BIASA… Next Time Novi ya yang minta sang kakak tersayang ini untuk berbicara di hadapan anak-anak TK and SD di salah satu kota di yogya…..hehehehehehe…Novi ada beberapa sekolah binaan (di pinggiran kota yogya) nie… Yogya pun membutuhkan sosok pendidik luar biasa kayak bli an…
    Sukses Bli…
    Salam sayang buat Lita and Mbak Ktut…

  2. Tetap berkarya Bli Andi. Inspirasi seperti ini perlu dilakukan agar umat tergerak positif. Nanti tyang akan coba di desa2 kalau pulang 🙂

  3. salam kenal,..saya hani, guru SD di ujung barat pulau jawa tepatnya di daerah serang-Banten,…ketika membaca blog bapak Andy semangat saya untuk mencoba keberuntungan mendapatkan beasiswa ke Australia semakin menggebu-gebu,..namun angan-angan sedikit demi sedikit terkikis ketika sadar, saya hanyalah seorang guru SD..guru SD dg skor Toefl 535.

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s