
Handy Bunawan namanya. Dia kawan baik saya ketika bekerja di Astra lebih dari sepuluh tahun silam. Kami bercakap-cakap di ruang makan kantor di suatu siang. Dia mengatakan kepada saya “De, kalau memang niat jadi pendidik, sekalian ikuti gaya Romo Mangun aja.” Dia sedang mengomentari rencana saya keluar dari Astra untuk menjadi dosen di UGM. Pilihan ini tentu tidak begitu lazim bagi teman-teman saya ketika itu. Memutuskan pindah dari Astra untuk jadi guru di kampus tentu bukan pilihan yang mudah diterima akal konvensional. Tentu saja alasan finansial yang menjadikan pilihan itu tidak menarik.
“Cobalah sekali-sekali mengajar anak SD di sela-sela memberi kuliah De” kata Handy memberi sumbangan ide. Ketika mendengar gagasan itu, saya tidak banyak menanggapi. Ide untuk pindah ke UGM dari Astra sudah terasa cukup aneh ketika itu karena gaji yang ditawarkan sepersekiannya. Keanehan itu kini ditambahi gagasan yang juga tidak lazim. Handy menyarankan saya untuk menjadi guru SD selain menjadi dosen di UGM. Lebih parah lagi, Handy menyarankan saya jadi guru bagi anak-anak tidak mampu sebagai bentuk pengabdian saya pada pendidkan. Saya tidak mengiyakan, sekaligus tidak membantah. Saya mengerti, Handy tentu tidak melihat alasan finansial/materi yang melatarbelakangi kepindahan saya dari Astra ke UGM. Rupanya dia melihat ada idealisme di balik keputusan itu sehingga dia kemudian dengan tanpa beban mengusulkan gagasan idealis dengan menjadi guru SD pada saya.



