Sepiring nasi dari masa lalu

masa kini di masa lalu
masa kini di masa lalu

Saya hanya tersenyum-senyum, mendengarkan kisah sang nenek. Tentu saja beliau tidak perlu mengingatkan karena saya tidak akan pernah melupakannya. “Masih ingatkah kamu”, katanya memulai, “dulu waktu kamu kecil, bapak dan ibumu sering membawamu ke rumahku di pondok dangin. Kalian datang untuk sepiring nasi. Masih ingatkah kamu?” Saya tercenung. Tentu saja masih ingat cerita itu. Ingatan saya melambung ke awal tahun 1980an silam.

Lebih dari sekali dalam seminggu kami sekeluarga, ibu, bapak, kakak saya dan saya sendiri berkunjung ke tempat nenek dan kakek di pondok dangin. Disebut pondok karena lokasinya yang jauh dari pemukiman banjar. Nenek dan kakek tinggal di sebuah rumah di tegalan, jauh dari perkampungan, karena mendapat tugas menjaga tegalan. Meskipun jauh dari peradaban, secara ekonomi mereka jauh lebih mampu dari keluarga kami. Itulah sebabnya kami sering kali datang, semata-mata untuk sepiring nasi. Kisahnya dramatis jika diceritakan saat ini tetapi percayalah, kami tidak merasa menderita di kala itu. Hidup begitu sederhana, yang ada hanya memenuhi perut hari ini, selain itu tidak ada dalam agenda sehingga tidak pernah meresahkan.

Continue reading “Sepiring nasi dari masa lalu”

Spiderman tidak berasal dari Tabanan

http://fc09.deviantart.net/

Kerap ada pertanyaan bagaimana saya menemukan ide untuk menulis dalam jumlah yang cukup banyak. Menjawab pertanyaan demikian, saya pernah bertanya balik apakah pernah menonton film Spiderman. Hampir semua mengatakan pernah dan begitu saya tanya berapa kali dan berapa judul film tentang Spideman yang pernah ditonton, hampir semua menyatakan lebih dari satu. Film Spiderman, seperti halnya film super hero lainnya, memang hadir dalam berbagai versi. Seakan-akan kisahnya baru, film Spiderman versi apapun selalu berhasil menarik minat orang untuk menonton.

Continue reading “Spiderman tidak berasal dari Tabanan”

Pesan Anak Penambang Padas

Kita tidak tahu ke mana hendak melangkah jika lupa dari mana kita berasal
Kita tidak tahu ke mana hendak melangkah jika lupa dari mana kita berasal

Aku kembali ke Desa Tegaljadi, tempat segala sesuatunya bermula. Di awal tahun 1980, aku adalah seorang anak kecil yang terbaring di sebuah sudut penambangan batu padas. Masih jelas terngiang di telinga suara dentuman palu yang menghantam besi yang diayunkan oleh Bapak dan Ibuku. Mereka adalah penambang padas. Aku ada di sana menemani mereka karena kami tentu saja tidak punya pembantu untuk merawatku. Bongkahan batu padas itulah yang kami tukar dengan bahan makanan di desa tetangga.

Continue reading “Pesan Anak Penambang Padas”

Mengingat 2013

Selamat tahun baru 2014
Selamat tahun baru 2014

Ada satu resolusi yang saya sampaikan saat menghakhiri tahun 2012 yaitu menyelesaikan PhD. Perjalanan panjang itu akhirnya sampai di penggal terakhir dan saya berhasil menyelesaikan thesis di akhir tahun 2013. Meskipun masih harus menunggu hasil final, saya bersyukur ada hal yang telah terselesaikan. Saya mencatat ini sebagai sebuah titik terpenting dalam hidup saya di tahun 2013 ini. Seperti tahun-tahun sebelumnya, saya ingin menuliskan ingatan saya tentang tahun 2013.

Januari
Saya pindah dari Wollongong untuk tinggal di Sydney. Ini istimewa karena alasan kepindahan ini adalah Asti yang memulai sekolah S2nya di UNSW, Sydney dengan beasiswa Australia Awards Scholarship (AAS). Kembalinya saya ke Sydney seperti pulang ke rumah lama karena saya kembali ke suburb yang saya tinggali tahun 2004-2006 silam. Secara akademik, Januari menjadi awal yang baik bagi kolaborasi saya dengan S. Rajaratnam School of International Studies (RSIS), Nanyang Technology University (NTU) Singapura karena saya diundang untuk terlibat dalam penelitian. Selain itu saya juga dilibatkan dalam rencana publikasi bekerjasama dengan ANU, Australia.

Continue reading “Mengingat 2013”

Serpihan kebaikan

Jujur saja, saya sering terjebak membanding-bandingkan Indonesia dengan negara maju lainnya. Kadang muncul ucapan atau sekedar kelakar untuk mengagungkan bangsa lain dan meremehkan banga sendiri. Kebaikan orang-orang sering menjadi bahan pembicaraan. Saya tahu, sikap seperti ini tidak baik dan harus dikurangi. Mungkin ini bisa jadi resolusi tahun 2014. Membandingkan boleh tetapi sebaiknya hanya untuk tujuan perbaikan bangsa sendiri, bukan sekedar mencari-cari kelemahannya lalu menertawakannya tanpa berbuat apa-apa.

Continue reading “Serpihan kebaikan”

Merawat benih kebaikan

Borobudur - 17 Desember 2013
Borobudur – 17 Desember 2013

Kami sedang ada di kawasan Candi Borobudur, mengantar dua sahabat dari Filipina yang berkunjung ke Indonesia. Dalam perjalanan pulang, kami melewati banyak pedagang asongan yang menjajakan berbagai barang dagangan. Tidak sedikit dari mereka nenek-nenek yang sudah lanjut usia dan mungkin semestinya sudah tidak bekerja lagi. Jika tidak terlalu sering datang ke tempat seperti itu, pemandangan itu kadang membuat terenyuh, meskipun kenyataannya ada saja orang yang dengan sengaja memanfaatkan situasi untuk kepentingan ekonomi.

Continue reading “Merawat benih kebaikan”

Mengingat Wollongong

http://img32.imageshack.us/

Aku ingin datang lagi ke kota kecil itu. Kota yang dijaga sekelompok mercusuar di pantainya yang menawan. Mercusuar yang terlalu berwibawa untuk ditundukkan angin dan terlalu angkuh untuk menyerah pada godaan desah burung camar yang manja. Aku ingin datang ke kota kecil itu lagi, untuk mengenang lagi debar-debar saat menyelesaikan tugas kuliah dari para guru yang bijaksana. Aku ingin mengajakmu, seperti dulu saat kita luluh lantak tertimbun bahan bacaan yang menggunung lalu melarikan diri sesaat mengintip camar yang bermesraan di taman dekat pantai. Aku ingin mengajakmu berteduh di bawah bayangan mercusuar sambil membaca berlembar-lembar pustaka yang seakan tak habis.

Continue reading “Mengingat Wollongong”

Menjadi Mandela

Nelson Madela telah tiada. Dunia melepas kepergian salah satu simbol kepemimpinan luhur yang pernah dimiliki peradaban manusia. Sulit menemukan orang yang memiliki ketertarikan terhadap kepemimpinan dan sejarah peradaban manusia yang tidak mengenal sosok Mandela. Dia luar biasa dan, bagi saya, dia melampaui kata-kata. Bersusah payah menjelaskan Mandela dengan kata-kata, saya khawatir, justru hanya akan mengurangi kemuliaannya.

Continue reading “Menjadi Mandela”

Guru Sederhana

http://guru.or.id/

Subuh-subuh dia sudah harus bangun. Meskipun tidak salat, dia harus menyiapkan segala sesuatunya untuk kedua anak lelakinya yang masih bocah. Harus disediakannya makan dan minum untuk sarapan mereka. Di rumah mereka hanya ada empat orang. Pekerjaan lelaki itu membuatnya tidak mampu membayar pembantu. Dia dan istrinya harus mengerjakan semuanya sendiri.

Selepas mencuci piring dan gelas yang kotor, dia harus mengangkat kantong sampah dan membawanya ke tempat penampungan di dekat rumahnya yang sepi dan dingin. Sementara itu istrinya menyiapkan bekal untuk makan siangnya nanti. Kedua anak-anak itu akan diantar ke sekolah dan tempat penitipan anak karena istrinyapun harus bekerja untuk mencukupi kebutuhan mereka.

Continue reading “Guru Sederhana”

Alumni universitas swasta yang tidak terkenalpun bisa dapat beasiswa ke luar negeri

Pernahkah Anda mendengar nama “Universitas Katolik Widya Mandira” ? Jika Anda tidak berasal dari NTT dan kurang gaul seperti saya, mungkin jawabannya adalah “tidak”. Terus terang saya belum pernah mendengar nama universitas ini sampai akhirnya saya bertemu Cilla. Nama lengkapnya Priscilla Maria Assis Hornay. Just in case you are wondering, YES, there is an ‘a’ between ‘n’ and ‘y’ in her last name, so shut it and let’s get down to business! 🙂

Pertemuan saya dengan Cilla di Sydney mengingatkan saya pada banyak pertanyaan yang saya terima perihal beasiswa luar negeri, terutama beasiswa Australia Awards Scholarship (AAS) atau yang dulu disebut Australian Development Scholarship (ADS). Pertanyaan itu adalah “bisakah alumni dari universitas swasta yang tidak terkenal mendapatkan beasiswa untuk S2 atau S3 di luar negeri?” Jawabannya tentu saja “bisa” dan pertemuan saya dengan Cilla menegaskan itu.

Continue reading “Alumni universitas swasta yang tidak terkenalpun bisa dapat beasiswa ke luar negeri”