
Saya hanya tersenyum-senyum, mendengarkan kisah sang nenek. Tentu saja beliau tidak perlu mengingatkan karena saya tidak akan pernah melupakannya. “Masih ingatkah kamu”, katanya memulai, “dulu waktu kamu kecil, bapak dan ibumu sering membawamu ke rumahku di pondok dangin. Kalian datang untuk sepiring nasi. Masih ingatkah kamu?” Saya tercenung. Tentu saja masih ingat cerita itu. Ingatan saya melambung ke awal tahun 1980an silam.
Lebih dari sekali dalam seminggu kami sekeluarga, ibu, bapak, kakak saya dan saya sendiri berkunjung ke tempat nenek dan kakek di pondok dangin. Disebut pondok karena lokasinya yang jauh dari pemukiman banjar. Nenek dan kakek tinggal di sebuah rumah di tegalan, jauh dari perkampungan, karena mendapat tugas menjaga tegalan. Meskipun jauh dari peradaban, secara ekonomi mereka jauh lebih mampu dari keluarga kami. Itulah sebabnya kami sering kali datang, semata-mata untuk sepiring nasi. Kisahnya dramatis jika diceritakan saat ini tetapi percayalah, kami tidak merasa menderita di kala itu. Hidup begitu sederhana, yang ada hanya memenuhi perut hari ini, selain itu tidak ada dalam agenda sehingga tidak pernah meresahkan.





