Pesan Anak Penambang Padas


Kita tidak tahu ke mana hendak melangkah jika lupa dari mana kita berasal
Kita tidak tahu ke mana hendak melangkah jika lupa dari mana kita berasal

Aku kembali ke Desa Tegaljadi, tempat segala sesuatunya bermula. Di awal tahun 1980, aku adalah seorang anak kecil yang terbaring di sebuah sudut penambangan batu padas. Masih jelas terngiang di telinga suara dentuman palu yang menghantam besi yang diayunkan oleh Bapak dan Ibuku. Mereka adalah penambang padas. Aku ada di sana menemani mereka karena kami tentu saja tidak punya pembantu untuk merawatku. Bongkahan batu padas itulah yang kami tukar dengan bahan makanan di desa tetangga.

Apa pentingnya aku kisahkan masa keciku? Kisah itu menjadi penting karena sekarang aku diberi kesempatan oleh Tuhan untuk menghirup udara di lima benua. Aku yakin ada tangan Tuhan yang bekerja maha sempurna melalui kelancanganku bermimpi dan keberanian untuk keluar dari selimut nyamanku. Meski tidak terdidik secara formal, aku beruntung Ibuku memiliki kesadaran yang tinggi akan makna pendidikan. Beliau membiarkan aku bertumbuh, mendukung aku mengenal dunia sehingga akhirnya aku sadar betapa dunia itu lebih dari sekedar Desa Tegaljadi. Pendidikan itu membuka mata bahwa ada banyak tempat dan peradaban di luar sana yang menyimpan misteri untuk diungkap.

Aku mulai mengenal peta dengan serius ketika kuliah di Teknik Geodesi UGM tahun 1996. Peta itu memukau. Aku tidak saja belajar membuat peta tetapi juga terbius oleh pesona dunia yang tergambar di atas peta itu. Tiba-tiba saja aku merasa kecil dan terjebak di satu sudut dunia. Aku mulai perhatikan titik di atas peta dari mana aku berasal dan ada begitu banyak ruang di muka bumi yang belum aku kenal. Saat itulah aku mulai bermimpi, Sebagai seorang surveyor geodesi, aku bertugas memetakan dunia. Aku yakin, cara terbaik memetakan dunia adalah dengan menjelajahinya. Aku percaya, jika ada niat baik dan usaha yang sungguh-sungguh maka jagat raya akan bersekongkol untuk mewujudkan mimpiku.

Kawan, tengoklah peta dunia dan pasang satu titik di sana tempat kamu berada saat ini. Perhatikanlah betapa luasnya dunia dan betapa banyaknya hal yang belum kita kunjungi. Berdiam diri di kampung halaman memang membawa kenyamanan. Tapi banyangkanlah dirimu menembus kabut pagi di Antwerpen Belgia, beringsut menuju stasiun kereta yang akan membawamu ke Luxembourg. Atau bayangkanlah sensasi memandang laut utara di Oslo Opera House di musim panas yang terang hingga jam 11 malam. Tidakkah kamu ingin nikmati kenakalan burung camar yang mencoba mencuri-curi penganan yang kamu makan sambil menikmati keindahan senja di Darling Harbour Sydney, Australia?

Bisakah kamu capai semua itu? Jawabannya adalah TIDAK. TIDAK, jika kamu hanya bernyaman-nyaman di kampung halaman dan mengartikan cinta sebagai keengganan untuk beranjak ke dunia luar. TIDAK, jika kamu menerjemahkan cinta pada ibu dengan tidak berani meninggalkannya untuk mencari ilmu. TIDAK, jika pikiranmu telah tertutup dan hanya merasa diri paling hebat dan tidak perlu belajar dari siapapun. TIDAK, jika kamu adalah seorang penakut yang gentar bertegur sapa dengan orang baru yang asing. TIDAK, jika kamu merasa bahwa kamu adalah pelengkap penderita di dunia yang tidak akan bisa berbuat apa-apa untuk dunia.

Tapi aku yakin, kamu tidak seperti itu. Kamu adalah putra Gadjah Mada yang memeluk Nusantara dalam semangatnya untuk menyatukan. Kamu adalah keturunan Bala Putra Dewa yang mengarungi samudera luas dengan berani. Kamu pengikut para nabi yang gemar berjalan jauh untuk sebuah kebaikan. Kamu adalah para pencinta tanah kelahiran yang berani menginggalkannya untuk tujuan yang lebih besar. Seperti kata Mark Twain, hidup itu singkat, kadang kita harus melampuai adat yang mengekang dan tidak menyesali apapun yang telah membuat kita tersenyum. Yakinlah, katanya, duapuluh tahun lagi, kita akan lebih banyak menyesal karena apa yang tidak sempat kita lakukan, bukan karena apa yang kita lakukan. Maka dari itu, lepaskan tali kekang, berlayarlah menjauhi dermaga yang membuai-buai. Tuailah badai yang menerpa layarmu untuk mengantarkanmu melaju. Maka menjelajahlah, bermimpi dan temukan jati diri. Karena yang membatasimu hanya satu, yaitu keberanianmu berimajinasi dan bermimpi.

Desa Tegaljadi, 1 Januari 2014

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

9 thoughts on “Pesan Anak Penambang Padas”

  1. Sungguh menginspirasi. Tulisannya memuat pemilihan kata yg sangat baik sehingga membangkitkan semangat berani bermimpi. terima kasih bli Andi.

  2. baru haru ini saya baca blog pak andy, sangat inspiratif …sangat menarik sekali , alhamdulilah menemukan blog ini

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s