Mengingat 2013


Selamat tahun baru 2014
Selamat tahun baru 2014

Ada satu resolusi yang saya sampaikan saat menghakhiri tahun 2012 yaitu menyelesaikan PhD. Perjalanan panjang itu akhirnya sampai di penggal terakhir dan saya berhasil menyelesaikan thesis di akhir tahun 2013. Meskipun masih harus menunggu hasil final, saya bersyukur ada hal yang telah terselesaikan. Saya mencatat ini sebagai sebuah titik terpenting dalam hidup saya di tahun 2013 ini. Seperti tahun-tahun sebelumnya, saya ingin menuliskan ingatan saya tentang tahun 2013.

Januari
Saya pindah dari Wollongong untuk tinggal di Sydney. Ini istimewa karena alasan kepindahan ini adalah Asti yang memulai sekolah S2nya di UNSW, Sydney dengan beasiswa Australia Awards Scholarship (AAS). Kembalinya saya ke Sydney seperti pulang ke rumah lama karena saya kembali ke suburb yang saya tinggali tahun 2004-2006 silam. Secara akademik, Januari menjadi awal yang baik bagi kolaborasi saya dengan S. Rajaratnam School of International Studies (RSIS), Nanyang Technology University (NTU) Singapura karena saya diundang untuk terlibat dalam penelitian. Selain itu saya juga dilibatkan dalam rencana publikasi bekerjasama dengan ANU, Australia.

Februari
Undangan untuk presentasi di ANU, Canberra menjadi salah satu yang istimewa di bulan Februari 2013. Presentasinya adalah tentang batas maritim Indonesia dan juga usaha Indonesia untuk menetapkan alur laut kepulauan. Undangan ini sekaligus sebagai tindak lanjut kerjasama dengan ANU dan RSIS, NTU, Singapura. Dr. Leonard Sebastian berbaik hati mengajak saya menulis sebuah makalah untuk dipresentasikan dan akhirnya diterbitkan sebagai buku. Februari adalah tentang menguatkan jejaring melalui kerjasama nyata. Berbagai kesempatan lain muncul setelah acara di Canberra itu.

Maret
Saya berkunjung ke Berlin untuk pertama kali guna mempresentasikan sebuah makalah di symposium Earth Resilience yang diselenggarakan atas kerjasama PPI Eropa, KBRI Jerman, Diaspora Indonesia Eropa dan Surya University. Selain presentasi saya juga bertemu Presiden SBY dalam sebuah acara ramah tamah. Perjalalan ini cukup unik karena penyandang dananya tidak seperti biasa. Kalau biasanya saya didanai pembimbing S3 atau pemberi beasiswa, kali ini didanai sebagian oleh Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Sydney dengan kompensasi saya harus membuat kajian tentang aktivitas lintas batas. Ini adalah pendekatan baru dalam mencari dana untuk konferensi. Saya juga sempatkan berkunjung ke Praha, Czech dalam rangka kunjungan ke Berlin. Praha, di luar dugaan saya ternyata sangat amat cantik. Kota ini menempati urutan pertama dalam hal keindahan dibandingkan kota-kota lain yang saya kunjungi di Eropa dan negara lain.

Hal penting lain yang terjadi di bulan Maret 2013 adalah saya diundang untuk mengajar di RSIS, NTU, Singapura. Undangan ini datang dari Dr. Leonard Sebastian yang meminta saya berbicara di sebuah kelas yang terbuka, tidak saja untuk mahasiswa RSIS tetapi juga untuk kalangan pemerintah dan masyarakat umum. Bagi saya, kuliah itu berkesan dan penting. Berkesempatan mengajar di NTU tentu bukan hal yang didapat oleh semua orang. Untuk itu saya bersyukur dan berterima kasih.

April
Hal terpenting selama bulan April adalah terbitnya buku “Berguru ke Negeri Kangguru” yang berisi tips dan trik meraih beasiswa Australia, terutama Australia Awards Scholarship. Buku ini sebenarnya modifikasi dan pemutakhiran dari kumpuan tulisan saya yang sudah tayang di blog sejak tahun 2005. Saya berharap, penerbitan buku ini akan meluaskan jangkauan pembaca sehingga lebih banyak orang yang mendapatkan informasi. Buku ini diterbitkan oleh Pandu Aksara, Jakarta.

Mei
Saya berusia 35 tahun di bulan Mei ini. Di usia yang ke-35 ini, saya diberi kesempatan mengajar di Akademi Perikanan Indonesia, Sorong di Papua lewat Skype. Ini adalah kali pertama saya menerapkan metode mengajar Jarak jauh yang murah untuk kawasan Papua. Dukungan dari seorang doktor muda di Sorong bernama Kadarusman jadi penentu keberhasilan proses mengajar itu. Di luar dugaan, perkuliahan berjalan sangat lancar dan kendala teknis dan konenksi internet bisa diatas dengan sangat baik. Ini membuktikan bahwa niat yang didukung kreativitas bisa ‘meniadakan’ Jarak antara Papua dan tempat lain tidak saja di Indonesia tetapi juga duna. Tulisan saya tentang kuliah ini sempat dibaca Presiden SBY dan mendapat komentar lewat Twitter yang akhirnya mendongkrak jumlah followers saya di Twitter.

Juni
Saya diundang bicara di sebuah konferensi yang diselenggarakan oleh Maritime Institute of Malaysia (MIMA) di Kuala Lumpur tentang batas maritim di Selat Malaka. MIMA berbaik hati membayar tiket dan akomodasi saya selama kegiatan itu. Dari Malaysia saya melanjutkan perjalanan ke Singapura untuk memberi kuliah di ReCAAP, sebuah organisasi regional terkait keamanan laut. Selain memberi kuliah, saya juga menjadi peserta diskusi meja bundar yang diselenggarakan oleh Fakultas ukum National University of Singapore (NUS). Dalam diskusi itu hadir tokoh-tokoh dunia di bidang kelautan dan hukum laut, mulai dari duta besar, professor hingga hakim internasional. Dari Singapura saya bertolak ke Bali untuk memberi materi di Akademi Berbagi Bali. Di akhir Juni itu, saya melakukan hal menarik yaitu sarapan di Singapura, makan siang di Malaysia dan makan malam di Indonesia dalam sehari. Tentu bukan hal sehari-hari.

Juli
Asti berusia 34 tahun dan saya masih berjuang dengan tesis. Di saat seharusnya fokus pada penyelesaian tesis, saya masih menyempatkan diri mengikuti pemilihan ketua PPIA dari jarak dekat. Saya dengan sukarela menjadi campaign strategist seorang kawan, Dudy, yang maju sebagai calon ketua. Meskipun akhirnya tidak berhasil menjadi ketua tetapi kali itu kami berhasil membuat suara New South Wales solid dan berhasil menjadi peserta pemilu yang serius. Ini tidak sering terjadi di NSW dalam pemilihan ketua PPIA Pusat. Tulisan saya tentang Dudy dibaca dan disebarkan oleh banyak orang. Hal lain di bulan Juli adalah untuk kesekian kalinya bertemu Pak Marty Natalegawa dan memberikan hadiah buku bagi beliau. Juli lalu saya bertemu Pak Marty dalam rangka penganugerahan doktor honoris kausa oleh Macquarie University, Sydney.

Agustus
Buku “Anak Dusun keliling Dunia” terbit setelah proses yang cukup panjang. Akhirnya buku ini diterbitkan oleh Jogja Bangkit, anak dari Galang Press di Yogyakarta. Buku ini berisi catatan saya mendatangi berbagai negara, terutama untuk presentasi dan melihat hal-hal unik.

September
Saya berkunjung ke Belanda untuk mengikuti lomba penulisan yang diselenggarakan oleh PPI Belanda bekerjasama dengan KBRI Belanda dan BNI London. Saya beruntung mendapat juara dua dalam lomba itu. Yang menarik, ini adalah kali pertama perjalanan saya didanai oleh pihak industri karena berhasil meyakinkan mereka akan manfaat lomba ini. Perusahaan yang mendanai perjalanan saya adalah Almega (Pak Busroni), Yayasan Nabil, Eroksa, IDP Malang, Alpha Cartography, Plaza GPS dan Multi Konsultindo Jaya. Dana yang dikumpulkan sekitar 23 juta sehingga cukup untuk tiket dan akomodasi. Selain itu, kemenangan itu juga membuat saya berhak atas seribu euro sebagai hadiah.

Perjalanan saya ke Eropa di bulan September juga saya manfaatkan untuk berkunjung ke Jenewa, Swiss untuk melihat kantor PBB dan jalan-jalan. Mardy dan Mas Farid adalah dua kawan yang baik hati membantu saya, termasuk menyediakan akomodasi gratis. Saya menikmati Swiss, terutama saat kunjungan ke perbatasan Swiss-Prancis.

Oktober
Bulan Oktober 2013 menjadi salah satu masa paling penting. Saya diminta menjadi penasihat presiden Somalia untuk perihal kelautan. Ceritanya agak panjang dan juga mengejutkan dan mungkin akan saya tulis khusus dalam buku atau setidaknya artikel. Intinya, itu adalah kali pertama saya menginjakkan kaki di tanah Afrika. Banyak hal menarik dan menegangkan terjadi. Duduk dan diskusi hangat dalam satu ruangan dengan presiden, perdana menteri dan speaker of the house tentu bukan hal sehari-hari yang dilakukan oleh seorang mahasiswa S3 seperti saya. Maka dari itu saya bersyukur atas kesempatan itu.

November
Saya diundang oleh University of Brunei Darussalam untuk bicara soal Laut China Selatan. itu adalah kunjungan saya yang pertama ke Brunei dan menjadi negara ke-28 yang saya kunjungi selama hidup. Tidak saja berbicara di forum internasional itu, saya juga bertemu Pak Dubes Indonesia untuk Brunei dan diundang oleh komunitas diskusi Ocean Paradigm Study Group yang dimotori oleh masyarakat Indonesia di Brunei. Diskusinya seru dan sambutan makan malam khas Indonesia begitu istimewa. Dari Brunei saya bergerak ke Jogja untuk berbagi dalam forum Australia Day tentang beasiswa yang diselenggarakan oleh Hubungan Internasional, Fisipol UGM. Selanjutnya dari Jogja saya terbang ke Jakarta untuk bicara di forum ASEAN-Uni Eropa, diminta berbicara tentang isu-isu kelautan (terutama batas maritim di ASEAN) terkait dengan pengelolaan sumberdaya alam laut. November jadi bulan sibuk dan penuh dengan kegiatan berbagi.

Desember
Yang utama tentu saja keberhasilan saya menyelesaikan tesis dan menyerahkannya ke universitas untuk dinilai oleh penguji eksternal. Di bulan yang sama saya diundang oleh asosiasi ahli Malaysia dan Singapura di Sydney University untuk bicara soal Ambalat. Pada tanggal 12 Desember 2013 saya kembali ke tanah air setelah begitu lama meninggalkan Indonesia. Saya memulai hidup baru, melanjutkan profesi menjadi pengajar yang sebenarnya belum pernah saya tekuni dengan baik selama ini. Saya sempatkan menulis satu artikel di The Jakarta Post setelah sekian lama secara sengaja tidak saya lakukan. Tahun 2013 saya tutup dengan berbagi untuk mahasiswa Universitas Udayana dan Uiversitas Hindu Indonesia di Bali.

Selain beberapa keberhasilan, tahun 2013 juga berhiaskan kegagalan yang menjadi pelajaran. Saya mencatat kegagalan itu untuk menjaga kaki tetap menginjak bumi. Selamat menuntaskan tahun 2013 dan menyambut 2014 dengan karya-karya bermakna. Selamat tahun baru!

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

5 thoughts on “Mengingat 2013”

  1. Tak banyak dosen yang punya kesempatan mengunjungi 28 negara dan menuliskan catatannya di dalam blog seperti mas Andi. Semoga suatu saat kalau ke Jogja, saya bisa ketemu mas Andi..

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s