Merawat benih kebaikan


Borobudur - 17 Desember 2013
Borobudur – 17 Desember 2013

Kami sedang ada di kawasan Candi Borobudur, mengantar dua sahabat dari Filipina yang berkunjung ke Indonesia. Dalam perjalanan pulang, kami melewati banyak pedagang asongan yang menjajakan berbagai barang dagangan. Tidak sedikit dari mereka nenek-nenek yang sudah lanjut usia dan mungkin semestinya sudah tidak bekerja lagi. Jika tidak terlalu sering datang ke tempat seperti itu, pemandangan itu kadang membuat terenyuh, meskipun kenyataannya ada saja orang yang dengan sengaja memanfaatkan situasi untuk kepentingan ekonomi.

Rasa yang menyentuh itu rupanya terjadi pada Lita, anak saya, yang bersama kami saat itu. Dia mendekati saya dan memegang tangan saya lalu berkata “Yah.. yah..” sambil menggoyangkan tangan saya lalu meminta saya berhenti. “Look at the old lady, Ayah. She is selling salak” kata Lita memberitahu. Saya tentu bisa melihatnya dan saya tahu Lita bicara begitu dengan maksud lain. Saya berhenti dan melihat nenek itu. Jalannya tertatih-tatih bungkuk dan begitu pelan. Dari mulutnya keluar Bahasa Jawa menawarkan salak dan memanggil orag-orang dengan sebutan Den. Sebagai orang dewasa, ada kecurigaan kalau semua itu adalah bagian dari strategi berjualan. Memanfaatkan perasaan halus dan rasa kasihan manusia adalah salah satu cara paling klasik untuk persuasi. Selain itu, saya tidak membutuhkan salak.

Yah, we should buy the salak from her” kata Lita seperti mengingatkan saya dari berbagai analisis dalam lamunan. Itu dia lakukan sambil memegang tangan saya dan memandang penuh iba pada nenek renta itu. Anak kecil memiliki perasaan halus dan relatif bersih tanpa kontaminasi. Lita, beda dengan saya, tidak punya rasa curiga. Tanpa pikir panjang saya mendekati nenek itu dan membeli salaknya. Dua paket seharga Rp 15.000. Satu dari dua sahabat Filipina kami yang melihat kejadian itu mendekati Lita dan berkata “you have a golden heart. Stay like that and don’t change.” Lita tersenyum simpul. Saya tidak membayar salak tetapi membayar ongkos merawat benih kebaikan pada diri Lita, anak saya.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

12 thoughts on “Merawat benih kebaikan”

  1. Baru menemukan blog pak Andy hari ini saat mencari info beasiswa AAS. Saya sempat berpikir,, kenapa ga dari dulu nemunya hehehe Anyway, suka banget dengan kalimat terakhir ttg kebaikan ini.. Salam 🙂

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s