Mengingat Wollongong


http://img32.imageshack.us/

Aku ingin datang lagi ke kota kecil itu. Kota yang dijaga sekelompok mercusuar di pantainya yang menawan. Mercusuar yang terlalu berwibawa untuk ditundukkan angin dan terlalu angkuh untuk menyerah pada godaan desah burung camar yang manja. Aku ingin datang ke kota kecil itu lagi, untuk mengenang lagi debar-debar saat menyelesaikan tugas kuliah dari para guru yang bijaksana. Aku ingin mengajakmu, seperti dulu saat kita luluh lantak tertimbun bahan bacaan yang menggunung lalu melarikan diri sesaat mengintip camar yang bermesraan di taman dekat pantai. Aku ingin mengajakmu berteduh di bawah bayangan mercusuar sambil membaca berlembar-lembar pustaka yang seakan tak habis.

Setelah lepas penat, aku ingin kembali ke perguruan dan berjalan di tepi danau buatan, bersenda gurau dengan bebek dan burung jambul merah yang setia bersembunyi di semak di sekitarnya. Aku ingin menyentuh air yang dingin agar jari-jariku diciumi belut dan ikan yang jinak berebut makan dari belas kasihan para murid di perguruan itu. Sorenya kita hangatkan suasana dengan membakar lempengan daging di kompor yang bertengger jinak, siap digunakan tanpa keluh dan kesah.

Esok hari, aku ingin melompat ke dalam bus hijau itu yang akan membawa kita berputar-putar mengelilingi kota tanpa harus membayar satu centpun. Ingatkah kamu, wajah Pak Sopir yang selalu tersenyum. Kita akan turun di depan rumah sakit, lalu berjalan menuju parkir mobil dan berkendara ke Mount Keira, titik tertinggi di kota itu. Dari atas akan kita saksikan kota yang terbentang. Rumah-rumah berderet rapi, kecil dan tak berdaya, tergeletak nun jauh di bawah sana. Di kejauhan kita saksikan cerobong-cerobong asap yang mengepul tak berhenti. Cerobong asap itulah penanda kehidupan kota yang denyut nadinya dari industri batu bara. Kita akan layangkan pandang ke bawah, kita saksikan jalan-jalan meliuk menembus pemukiman dan di sekitarnya terhampar pepohonan hijau. Di sebelah kanan jauh itu, kita lihat kerlip air memantulkan cahaya matahari senja. Lake Illawara menawarkan pesona, berpendar dan hendak menceritakan sejarah yang panjang.

Kita akan tertegun di atas bukit itu lalu memandang gembok-gembok yang bergelantungan. Gembok itu mengikat cinta berpasang kekasih yang percaya, keabadian itu harus disimbolkan. Bahwa cinta itu harus diikat dan kadang dipaksa. Mungkin karena mereka tahu, kebebasan kadang menghadirkan petaka dan bencana jika tidak diselimuti tanggung jawab. Maka mereka membiarkan diri mereka tertawan.

Inginkah kamu menemaniku mengikuti pengajian yang dihadiri umat semua agama itu? Rasakanlah indahnya pertemuan orang-orang yang berbeda keyakinannya tetapi satu tujuan hidupnya. Nikmatilah sate lilit karya seorang umat Hindu yang disajikan dengan gembira oleh pemeluk nasrani untuk para pengikut Nabi Muhammad di sebuah pengajian yang khusu’. Lalu terimalah kebaikan para sahabat pemuja Budha yang dengan tekun menyimak, tersenyum dan tidak mengganggu. Adakah keindahan yang lebih nikmat dari kebersamaan di kota kecil itu?

Di hari Minggu, akan aku bangunkan kamu saat subuh, kerena ini saatnya kita berbelanja di pasar minggu di Dapto. Aku selalu senang melihatmu berdebat ulet dengan pedagang dari Timur Tengah atau Daratan Tiongkok saat menawar sebuah guci bekas yang cantik atau selembar baju yang sudah tidak baru lagi tetapi masih menawan. Kita akan bertarung untuk harga yang berbeda hanya beberapa cent karena demikianlah seninya berbelanja di pasar minggu. Kita nikmati setiap penawaran dan kemudian tertawa, menertawakan kekonyolan sendiri. Pasar minggu ini menjadi bagian dari kisah kita. Karena ini pastilah bukan semata soal uang dan gulungan dollar.

Ingatkah kamu kebiasaanku dulu? Aku akan bangun di pagi buta lalu mengayuh sepeda menuju Illawarra League Club saat gelap dan dingin winter masih berkuasa. Aku bekerja membersihkan remah remah di lantai gedung itu dan menyapu dengan seksama abu dan puntung rokok yang berserakan. Aku dengan tekun membersihkan mesin-mesih permainan itu dengan lap yang dibasahi cairan kimia. Aku menggosoknya dengan sepenuh hati, seakan dia kekasih hati yang lama pergi. Aku melakukannya untuk menggenapkan tunggakan pembayaran rumah, atau untuk menebalkan tabungan untuk nanti pulang dan berjaya di tanah air.

Di suatu sore, kita akan mengunjungi kerabat di College Place bersama segerombolan kisanak yang mendiami graduate house. Kita bangsa Melayu suka berkumpul. Kita kuasai wilayah, sampai bahasa Indonesia menjadi bahasa wajib dan sama sekali tidak terdengar asing di Tanah Kangguru ini. Kita akan tunjukkan rasa cinta pada bangsa dengan hidup sesama bangsa, makan sesama bangsa, bekerja sesama bangsa dan bermain sesama bangsa. Pernah juga terpikir kalau tujuan berguru ke negeri kangguru ini kadang tidak tercapai karena tidak terjadi akulturasi budaya. Tapi sudahlah, kita sudah terlalu banyak beban dan kesusahan, tidak pantas dibebani oleh pemikiran-pemikiran rumit dan ruwet seperti itu. Maka kamu nikmati saja, seperti dulu kita menikmatinya.

Ingatkah kamu saat kita memilih tak bertemu karena salah satu dari kita tenggelam menyelesaikan makalah untuk disajikan di pentas dunia? Angin dingin menghadirkan sepi saat tenggat waktu membawa ketakutan. Seakan tidak ada hal lebih penting di dunia dari sekedar pemikiran yang terpintal dalam ayat-ayat makalah itu. Tak jarang kuhabiskan waktu merangkai pikir dalam lembar-lembar tayang untuk memukau para pesohor di tanah seberang. Aku selesaikan semua itu, dari kota kecil ini. Kota kecil yang diajaga sekelompok mercusuar di pantainya. Telah kujelajahi lima benua dan puluhan negeri, berbekal santunan ilmu yang dijajakan di perpustakaan mentereng di dekat danau buatan itu.

Kini aku pulang. Diam-diam aku berharap kelakar dan senda gurau sopir Shuttle Bus 55A masih bisa aku nikmati dari pengemudi Trans Jogja. Harapanku sederhana. Aku tidak bermimpi mengubah dunia setelah menuai ilmu di kota kecil itu. Aku hanya berharap, perjalanan ilmiah itu tidak membuatku lemah yang mudah binasa hanya gara-gara panas, macet dan klakson yang kadang berkumandang tanpa alasan. Doaku sederhana, semoga tidak terkejut dan tidak gegar budaya sendiri. Karena suatu saat aku ingin kembali ke kota itu, bukan karena negeriku tak bersahabat. Aku kembali untuk mengabarkan, senyum pedagang buah di Pasar Sambilegi, tak kalah cerah dengan senyum kisanak di Leisure Coast Fruit & Deli.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

20 thoughts on “Mengingat Wollongong”

  1. Aku ingin pulang, menikmati indahnya semburat lukisan Mu di penghujung pagi dan petang di Mercusuar itu, disela-sela keasyikanku menyimak lembaran-lembaran kertas dan merangkai goresan pena yang kian tak berhujung. Aku ingin kembali menikmati kekerdilanku di hadapanMu di sepanjang Mercusuar itu, sambil menikmati ayunan langkah-langkah kecil kaki ini dan menyambut senyuman tulus dari wajah-wajah asing yang tak satupun ku kenal sambil menyapa “good morning/good afternoon”. Masih ingatkah kamu, buliran-buliran air mata di pipi dan kata “subhanallah” menjadi saksi menyaksikan ketulusan dan kesabaran seorang driver yang tengah menuntun seorang penumpang tua renta yang tak berdaya dengan kedua tongkat sandaran hidupnya. Akh…terlalu banyak ingatan manis ketika mengingatmu, yang mejadi “ibroh” berharga dalam mengarungi bahtera dan menggapai impian-impianku, semoga.

  2. Saya berharap rindu saya kepada kota Wollongong akan terobati dgn tulisan ini. Nyatanya tidak, justru semakin menjadi-jadi. Mas Andi memang paling bisa menyihir pembaca tulisannya.

    “Nikmatilah sate lilit karya seorang umat Hindu yang disajikan dengan gembira oleh pemeluk nasrani untuk para pengikut Nabi Muhammad di sebuah pengajian yang khusu’” – Saya masih ingat moment ini, bahkan rasa sate lilit itu hingga kini πŸ™‚

    Terimakasih Mas Andi, salam sukses.

    1. Mas Taat, terima kasih telah membaca. Jika rindu, artinya perjalanan ke Wollongong berhasil Mas he he.
      Sampai jumpa nanti, mudah2an kita akan ketemu di Jakarta atau Jogja. Kabari saya kalau mampir.

  3. Sekarang sudah resmi kembali ke Yogya ya Pak?? Selamat datang lagi dan selamat beraktivitas lagi di kampus… senengnya Lita ya, salah satu orang tuanya sudah ada di sampingnya lagi… ^_^

  4. beli, gimana dgn kondisi mutakhir sekarang hubungan indonesia dengan australia..? apa berpengaruh juga dgn sikap rakyat atau akademisi australia?

  5. Lagi, membacanya seperti mengajak pembaca untuk merasakannya. Welcome to Indonesia Dr. Andi Arsana. Kabari kalau sedang main ke BIG.

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s