Menjadi Mandela


Nelson Madela telah tiada. Dunia melepas kepergian salah satu simbol kepemimpinan luhur yang pernah dimiliki peradaban manusia. Sulit menemukan orang yang memiliki ketertarikan terhadap kepemimpinan dan sejarah peradaban manusia yang tidak mengenal sosok Mandela. Dia luar biasa dan, bagi saya, dia melampaui kata-kata. Bersusah payah menjelaskan Mandela dengan kata-kata, saya khawatir, justru hanya akan mengurangi kemuliaannya.

Sore tadi saya membaca sebuah artikel menarik yang sedikit berbeda tentang Mandela. Artikel ini mengingatkan, berduka cita atas kematian Mandela tidaklah cukup. Kita harus menjadi Mandela, demikian tutur penulis itu. Saya membaca artikel itu ketika naik bus dari Sydney University menuju Kingsford. Beberapa jam lalu saya diundang untuk presentasi di Simposium Malaysia and Singapore Society of Australia (MASSA) di Sydney University. Hari yang melelahkan dan artikel tentang Mandela itu menghadirkan semangat.

Saat tengah membaca, seorang ibu muda naik bus membawa anaknya dengan kereta dorong. Begitu dia tiba di lorong di antara kursi, dia diam sebentar dan melihat sekeliling. Semua kursi penuh termasuk kursi-kursi khusus bagi orang tua, ibu dengan kereta dorong bayi atau perempuan hamil. Tidak ada kursi bagi penumpang baru itu. Sementara saya duduk agak jauh di belakang, melihat drama itu penuh harap. Tidak lebih dari semenit, tiga orang tua yang duduk di kursi khusus itu berdiri sigap mengosongkan kursinya. Salah satu dari ketiganya, seorang lelaki tua, segera mempersilakan perempuan itu menempati kursinya. Tidak hanya itu, dia melipat kursi itu agar kereta dorong bayi bisa diparkir dengan nyaman. Seorang nenek yang sudah sangat sepuh tersenyum mempersilakan perempuan itu duduk dan dia sendiri memilih berdiri.

Melihat drama itu, seorang lelaki muda yang duduk di dekat kursi khusus itu berdiri, demikian juga dua gadis lainnya. Mereka mempersilakan tiga orang tua yang kini berdiri itu menempati kursi mereka masing-masing. Saya memilih untuk berhenti membaca. Tiba-tiba saja isi artikel itu seperti masuk ke dalam bus dan mengejawantah menjadi perilaku orang-orang itu. Seorang ibu muda dengan bayi ditolong oleh tiga orang tua dengan penuh gairah dan senyum. Berikutnya ada tiga anak muda yang merelakan kursinya untuk ketiga orang tua itu. Alangkah indahnya hidup di tengah-tengah masyarakat dengan perilaku seperti itu.

Ketika saya lanjutkan membaca artikel itu, ada berbagai makna baru yang tadinya tidak muncul. Saya berpikir sejenak. Tiba-tiba saja terngiang penggalan puisi invictus yang menginspirasi hidup Mandela saat mendekam di balik jeruji besi. Dia sering membacakannya lagi “I am the master of my fate, I am the captain of my soul.” Mandela membuat perubahan terhadap peradaban manusia karena dia berhasil menjadi nakhoda bagi jiwanya sendiri. Dia memutuskan dengan sadar untuk melakukan sesuatu yang tidak dilakukan orang lain. Dan perubahan itu mungkin tidak harus mengguncang dunia. Bisa jadi ‘sekedar’ mengurangi ketenggelaman di layar HP saat di bus kota agar bisa mempersilakan seorang perempuan hamil atau orang tua yang lebih membutuhkan kursi. Seperti kata penulis itu, mengagumi Madela atau sekedar berduka karena kepergiannya tidaklah cukup. Kita perlu menjadi Mandela, katanya.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

4 thoughts on “Menjadi Mandela”

  1. Ya.. benar sekali. Kita perlu mengerti bahwa kita perlu menjadi Mandela… Ada berjuta cara, tetapi yang jelas sama sekali bukan dg cara mengegokan diri sendiri dalam banyak hal…

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s