Bédog

cockfight by Affandi – http://www.artvalue.com/

Lelaki itu bernama Bédog, tentu saja tidak penting apakah dia punya surname atau tidak dan apakah Bédog itu itu nama asli atau bukan. Bédog jelas tidak punya paspor dan sangat mungkin tidak punya KTP. Lelaki sederhana itu tidak sempurna tubuhnya, kulitnya penuh benjolan. Anak-anak kecil yang melihatnya bisa lari karena takut. Kulit hitamnya yang legam, wajahnya yang tidak bersahabat dan benjolan di sekujur tubuhnya menyempurnakan nestapa itu.

Meski buruk rupa, Bédog disukai para bobotoh penyabung ayam di desa kami. Pasalnya, dia bisa diperintah untuk melakukan apa saja tanpa mengeluh dan tanpa pernah menolak. Bédog tidak pernah bernegosiasi soal upah kerja. Para bobotoh di desa kami menjadikan Bédog orang kepercayaan untuk membersihkan ayam pecundang yang binasa dalam sebuah pertempuran. Bédog terampil mencabuti bulu ayam malang itu dan membersihkan isi perutnya. Dalam pagelaran sabung ayam yang ramai, Bédog harus merampungkan pekerjaan untuk lebih dari lima ekor ayam. Karena dikerjakan sendiri, dia nampak sibuk dan kerap kelebihan beban. Meski begitu, tidak ada yang membantunya. Bédog bekerja sendiri.

Continue reading “Bédog”

Kembali ke Le Meridien

Hotel Le Meridien, Suatu ketika tahun 2002,
eu-aseanSaya seperti orang hilang di tengah kerumunan itu. Ada rasa sepi menghinggapi di tengah hiruk pikuk suasana. Setiap orang nampak antusias berkeliling melihat-lihat stand pameran siang itu. Tidak sedikit yang terlibat percakapan dengan penunggu stand pameran, bersemangat bertanya ini dan itu, menunjukkan gairah mereka untuk mengetahui lebih jauh dan lebih dalam. Lelaki dan perempuan usia 30an tahun nampak penuh perhatian memberikan informasi kepada pengunjung yang mendekat ke stand masing-masing. Keramahan dan pengetahuan yang mumpuni nampak berpadu dengan apik pada wajah dan senyum mereka. Sementara itu, saya memandang dari satu sudut yang agak jauh, terkesima melihat geliat orang-orang yang antusias melapangkan jalan menimba ilmu. Siang itu saya sedang menghadiri sebuah pameran pendidikan luar negeri di Hotel Le Meridien Jakarta.

Ada rasa ragu ketika berjalan mendekati beberapa stand pameran dan melihat nama-nama universitas terpandang yang terpampang di setiap stand. Beberapa nama universitas itu sudah pernah saya dengar dan sebagian lain nampak asing. Meski tertarik, tidak mudah untuk memulai percakapan dengan penunggu stand pameran karena ada keraguan. Perihal apa yang paling tepat ditanyakan, saya tidak tahu. Maka saya memilih untuk mengamati saja. Di berbagai titik terlihat anak-anak muda berpenampilan mentereng, kadang ditemani ayah ibunya. Mereka bertanya penuh selidik, melapangkan jalan bersekolah di luar negeri. Sejujurnya, ada perasaan malu kalau harus datang ke sebuah stand dan bertanya “apakah universitas ini menyediakan beasiswa bagi yang tidak punya uang seperti saya?”

Continue reading “Kembali ke Le Meridien”

Ember kosong

http://farm8.staticflickr.com/7386/8987835795_824d2bf147.jpg

Ember hitam kosong di depan saya sedang dikucuri air. Karena ingin agar embernya cepat penuh, saya buka keran air dengan maksimal. Akibatnya, kucuran air dari keran begitu deras menghujam dasar ember plastik yang kosong. Airnya menghambur keluar, sesaat setelah menghujam dasar ember yang kosong. Akibatnya, air itu muncrat mengenai saya. Dari kucuran air keran yang deras itu, sebagian besar air menghambur ke luar ember dan hanya sebagian kecil yang bertahan di dalam ember. Setidaknya ada dua kerugian. Pertama, kebanyakan air terbuang percuma karena justru tumpah di luar ember dan kedua, air itu membasahi pakaian saya yang berdiri tidak jauh dari ember kosong itu.

Setelah agak lama, cipratan air itu mulai berkurang seiring bertambahnya volume air yang mengisi ember yang tadinya kosong. Semakin banyak isi ember itu, semakin sedikit air yang terpercik/muncrat ke luar ember. Rupanya pertambahan air pada ember itu berhasil membuat air yang mengucur dari kran tidak muncrat ke luar karena kucuran air tidak menghantam dasar ember yang kosong seperti tadi.

Saya mengambil satu pelajaran. Jika hendak mengisi ember kosong dengan air, sebaiknya diisi pelan-pelan. Kerannya tidak perlu dibuka penuh sehingga kucuran airnya tidak begitu deras sehingga tidak ada air yang terbuang ke luar ember ketika menghujam dasar ember yang kosong. Mungkin lebih baik jika kerannya dibuka pelan-pelan, mulai dari kecil sehingga kucuran air yang kecil itu benar-benar mengisi dasar ember tanpa ada yang terbuang percuma. Setelah dasar ember terisi air dengan kedalaman tertentu, keran bisa dibuka lebih besar dan kini air bisa mengucur deras tanpa terbuang karena dasar ember kini tidak lagi kosong. Ternyata mengisi ember kosong itu memang tidak mudah. Ambisi untuk mengisi ember kosong dengan cepat justru akan membuat banyak air terbuang percuma. Yang lebih penting, cipratan air itu bisa membahasi pakaian sang pengisi air itu.

Mari Berburu Beasiswa Luar Negeri

Saya diundang oleh Berita Satu TV untuk dialog soal meraih beasiswa luar negeri. Silakan simak siaran ulangnya lewat Youtube berikut ini.

Program Beasiswa Pasca Sarjana AusAID Ditiadakan

Beberapa hari terakhir ini, dunia persilatan para pejuang beasiswa Australia Awards Scholarship (AAS) atau yang dulu disebut Australia Development Scholarship (ADS) dihebohkan oleh satu berita mengejutkan. Seperti yang saya tulis sebagai judul tulisan ini, ada satu berita yang mengatakan bahwa “Program Beasiswa Pasca Sarjana AusAID Ditiadakan“. Kontan berita ini meresahkan para pejuang yang tengah siap-siap berjuang tahun depan. Ternyata, setelah diselidiki, berita itu salah dan kesalahan terjadi pada proses penerjemahan berita dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia. Berita berbahasa Inggris mengatakan “DFAT confirms offers for next year’s AusAID graduate program revoked“. Berita aslinya mengacu pada penghentikan penerimaan sarjana baru sebagai pekerja, bukan penghentian pemberian beasiswa pascasarjana.

Kesalahan penerjamahan ini cukup fatal dan meresahkan, membuat dunia twitter dan facebook jadi sangat ramai. Untunglah, berita itu salah dan faktanya adalah beasiswa AAS atau ADS tetap ada seperti tahun-tahun sebelumnya. Hal ini juga disampaikan dalam revisi berita yang mengatakan “AusAID Hentikan Penerimaan Staf Sarjana Baru” Hanya saja, mesti diperhatikan, memang ada pengetatan dana sehingga mungkin akan ada penurunan jumlah. Persaingan mungkin akan sedikit lebih ketat.

Ngepel Lantai

hambaallah92.wordpress.com

Saat SD, saya sering mendapat tugas ngepel lantai rumah. Kakak dan ibu saya yang biasanya mengajari saya melakukan pekerjaan seperti itu dengan baik. Untuk hal seperti ini, ibu saya termasuk ‘kejam’ dalam mengajari saya. Hasilnya, saya mengikuti prosedur dan tatacara ngepel lantai yang beliau ajarkan.

Langkah pertama adalah menyapu lantai dengan sapu ijuk agar sampah-sampah besar sirna dari lantai. Berikutnya, lantai diperciki air berisi pembersih lantai secara keseluruhan, disusul dengan menggosok lantai menggunakan lap yang juga dibasahi dengan air berisi pembersih lantai itu. Kami tidak memiliki alat pel, semua itu dilakukan manual dengan tangan. Yang paling saya ingat, saya harus jongkok dan bergerak mundur, memastikan tidak menginjak lantai yang sudah digosok. Hal ini kadang dilakukan secara berulang jika lantai kotor sekali. Tahap akhir adalah mengeringkan lantai agar benar-benar bersih.

Karena satu alasan, kadang saya harus mengulangi atau mendatangi bagian-bagian tertentu yang terlewati. Di saat itulah saya menginjak lantai yang sudah dipel tadi dan selalu merasa lantai itu masih kotor. Setiap bagian lantai yang saya injak terasa kotor oleh reman-remah pasir atau debu dan masih licin tidak kesat. Saya terpaksa mengulangi langkah terakhir yaitu mengeringkan bagian yang saya injak itu. Ini bisa berlangsung berulang sampai saya merasa lantai benar-benar bersih. Sering kali mengalami hal serupa, saya amati satu hal. Lantai akan terasa bersih jika kaki saya sudah kering dari sisa-sisa air licin untuk ngepel itu. Jika kaki saya masih basah oleh air yang bercampur pembersih lantai maka setiap bagian lantai yang saya injak akan terasa kotor dan licin. Yang kotor rupanya bukan lantainya tetapi kaki saya.

Salihi, Surveyor Penjaga Kedaulatan Somalia

G. Washington, the surveyor!

Di tanah Afrika, saya bertemu lelaki ini. Dia seorang surveyor seperti saya. Dia kelahiran Somalia, seorang lelaki berkulit hitam layaknya orang Afrika yang saya pahami. Perawakannya tinggi langsing, lelaki ini sudah matang dalam usia. Dia adalah satu dari hanya dua orang sarjana geodesi di negeri itu. Dua surveyor itu menamatkan pendidikan sarjana geodesi di Polandia hingga jenjang magister. Bertemu Salihi, demikian namanya, adalah bertemu dengan makhluk langka di negeri Somalia.

Somalia telah lama menderita, porak poranda dilanda perang saudara. Kini negeri ini bangkit perlahan, geliat kehidupan mulai nampak di Kota Mogadishu ketika saya berkunjung ke sana. Pembangunan nampak berjalan meski tidak cepat, reruntuhan akibat perang mulai berganti rumah-rumah yang bermunculan. Di sela-sela puing kendaraan atau bangunan yang runtuh dibinasakan kejamnya perang saudara, kini mulai muncul gedung-gedung yang akan mengakomodasi geliat bisnis. Investasi mulai datang, para penanam modal melirik Somalia penuh gairah.

Di negeri yang mulai bangkit itu, ada persoalan kedaulatan dan wilayah yang rumit dan pelik. Tak jelas hingga di mana kedaulatannya. Territori dan yurisdiksi menjadi misteri. Di tengah ketidakpastian itulah sang presiden memerlukan panduan. Presiden perlu garis yang tegas untuk menerjemahkan rasa nasionalisme yang diperiharanya sejak lama. Tuan presiden adalah pemimpin konsititusional pertama sejak lebih dari dua dekade. Dia merupakan presiden yang diakui dunia termasuk Amerika Serikat dan rakyat menaruh harapan padanya.

Continue reading “Salihi, Surveyor Penjaga Kedaulatan Somalia”

Penjor Galungan

galungan

Pak Wayan Sukantra, guru Agama Hindu kami saat SD, pernah bercerita. Jangan memperlakukan orang seperti penjor, katanya. Penjor itu, bagian lurusnya kita tanam tenggelamkan, bagian bengkoknya kita umbar pamerkan. Katanya, itu artinya kita lebih memerhatikan keburukan orang lain dan cenderung mengabaikan kebaikannya. Saya masih SD, usia belum genap duabelas tahun sehingga belum mampu memahami apa yang dimaksud Pak Wayan Sukantra. Bagi saya, cerita itu mengganggu karena selama ini penjor menjadi simbol kemeriahan hari raya. Penjor selalu ditemukan di jalanan di Bali ketika hari raya, terutama saat Galungan dan Kuningan. Ingatan di masa kecil tentang penjor salah satu yang membuat saya selalu rindu pulang.

Continue reading “Penjor Galungan”

Peta Krisis Google untuk Bencana Kebakaran di NSW, Australia

Sebenarnya kebakaran bukanlah sesuatu yang baru di Australia. Kehidupan mereka memang akrab dengan kebakaran hutan/semak. Kebakaran bagi Australia, mungkin mirip dengan gempa bumi bagi Indonesia. Kebakaran adalah sesuatu yang terjadi berulang kali, terutama pada musim panas seperti sekarang ini. Karena sudah sering terjadi, pemerintah sepertinya cukup siap menghadapi bencana ini. Peringatan kepada warga dan penyebaran informasi dilakukan dengan sangat baik. Meski demikian, tidak bisa dipungkiri bahwa bencana kebakaran ini masih kadang menelan korban. Kadang bencana kebakaran juga lebih besar dari yang diantisipasi. Saat ini, giliran New South Wales yang mengalami bencana itu dan pemerintah berusaha keras menganggulangi.

Sementara itu, Google membantu menyediakan peta krisis dengan data yang diperoleh dari sumber resmi yakni NSW Rural Fire Service. Berikut adalah Peta Krisis Google untuk Bencana Kebakaran di NSW, Australia. (Peta interaktif ada di sini)
nsw

Sekali-sekali, mahasiswa memang perlu digampar!

Ini cara saya menggampar mahasiswa saya 🙂

  1. http://i.qkme.me/3r92uq.jpg

    Kamu ingin dapat beasiswa S2 ke luar negeri nanti? Pastikan IP di atas 3 dan TOEFL di atas 500! Merasa tidak pinter? BELAJAR!

  2. Empat atau lima tahun lagi kamu bisa sekolah S2 di luar negeri dengan beasiswa. Itu kalau kamu tidak cuma twitteran saja sampai lulus nanti.
  3. Kamu tidak akan bisa S2 di luar negeri karena akan ditolak profesor kalau nulis email formal saja tidak bisa. Alay itu tidak keren, tidak usah bangga!
  4. Tidak usah tanya tips cara menghubungi professor di luar negeri kalau kirim email ke dosen sendiri saja kamu belum bisa. Hey, ganti dulu akun niennna_catique@gmail.com itu!
  5. Tidak usah ikut meledek Vicky, kamu saja tidak tahu kapan harus pakai tanda tanya, tanda seru, tanda titik, spasi, huruf besar, huruf kecil di email kok!
  6. Mana bisa diterima di perusahaan multinasional biarpun IP tinggi kalau nulis email saja lupa salam pembuka dan penutup 🙂
  7. Sok mengkritik kebijakan UN segala, dari cara menulis email saja kelihatannya kamu tidak lulus Bahasa Indonesia kok. Tidak usah gaya!
  8. Bayangkan kalau kamu harus menulis email ke pimpinan sebuah perusahaan besar. Apa gaya bahasa email kamu yang sekarang itu sudah sesuai? Jangan-jangan bosnya tertawa!
  9. Apapun bidang ilmu kamu, akhirnya kamu akan berhubungan dg MANUSIA yang beda umur dan latar belakangnya. Belajar komunikasi yang baik. Jangan bangga jadi alay!
  10. Bangga bisa software dan gunakan alat-alat canggih? Suatu saat kamu harus yakinkan MANUSIA akan skill itu. Belajar komunikasi dengan bahasa manusia biasa!
  11. Kamu orang teknik dan hanya peduli skil teknis? Kamu salah besar! Nanti kamu akan jual skil itu pada MANUSIA, bukan pada mesin!
  12. Kamu kira orang teknik hanya ngobrol sama mesin dan alat? Kamu harus yakinkan pengambil kebijakan suatu saat nanti dan mereka itu manusia. Belajar ngomong sama manusia!
  13. Malas basa-basi sama orang yang tidak dikenal? Enam tahun lagi kamu diutus kantor untuk presentasi sama klien yang tidak kamu kenal. Belajar!
  14. Malas belajar bikin presentasi? Lima thn lagi bos kamu datang dengan segepok bahan, “saya tunggu file presentasinya besok!”
  15. Kamu orang sosial dan malas belajar hal-hal kecil di komputer? Lima tahun lagi bos kamu datang bertanya “cara membesarkan huruf di Ms Word dengan shortcut gimana ya?’ Mau nyengir?
  16. Mahasiswa senior, jangan bangga bisa membully Mahasiswa baru, tujuh tahun lagi kamu diinterview sama dia saat pindah kerja ke perusahaan yang lebih bagus 🙂
  17. Mahasiswa senior, keren rasanya ditakuti Mahasiswa baru? JANGAN! Urusan kalian nanti bersaing sama orang-orang ASEAN dan Dunia. Bisa bikin mereka takut tidak?
  18. Bangga bisa demo untuk mengundurkan jadwal ujian karena kamu tidak siap? Kamu itu mahasiswa negara ekonomi terbesar di Asia Tenggara, masa’ urusannya cetekcetek begitu sih?!
  19. Tidak usah lah sok hebat demo nyuruh SBY berani sama Amerika kalau kamu diskusi sama mahasiswa Singapura saja tergagap-gagap 🙂
  20. Tidak perlu lah teriak-teriak “jangan tergantung pada barat” jika kamu belum bisa tidur kalau tidak ada BB dekat bantal 🙂
  21. Tentara kita tidak takut sama tentara Malaysia kalau kamu bisa kalahkan mahasiswa Malaysia debat ilmiah dlm forum di Amerika!
  22. Tidak perlu beretorika menentang korupsi kalau kamu masih nitip absen sama teman saat demo antikorupsi!
  23. Boleh kampanye “jangan tergantung pada barat” tapi jangan kampanye di Twitter, Facebook, BBM, Path dan Email! Memangnya itu buatan Madiun?!
  24. Kalau file laporan praktikum masih ngopi dari kakak kelas dan hanya ganti tanggal, tidak usah teriak anti korupsi ya Boss!
  25. Minder karena merasa dari kampung, tidak kaya, tidak gaul? Lima tahun lagi kamu bisa S2 di negara maju karena IP, TOEFL dan kemampuan kepemimpinan. Bukan karena kaya dan gaul!
  26. Pejabat kadang membuat kebijakan tanpa riset serius. Sama seperti mahasiswa yang membuat tugas dalam semalam hanya modal Wikipedia 🙂
  27. DPR kadang studi banding untuk jalan-jalan doang. Sama seperti mahasiswa yang tidak serius saat kunjungan ke industri lalu nyontek laporan sama temannya 🙂
  28. Pejabat kadang menggelapkan uang rakyat. Sama seperti mahasiswa yang melihat bahan di internet lalu disalin di papernya tanpa menyebutkan sumbernya.
  29. Alah, pakai mengkritik kebijakan pemerintah segala, bikin paper saja ngopi file dari senior dan ubah judul, pendahuluan sama font-nya 😀
  30. Gimana mau membela kedaulatan bangsa kalau waktu menerima kunjungan mahasiswa asing saja kamu tidak bisa ngomong saat diskusi. Mau pakai bambu runcing? 🙂
  31. Kalau kamu berteriak “jangan mau ditindas oleh asing”, coba buktikan. Ikuti forum ASEAN atau Dunia dan buktikan di situ kamu bisa bersuara dan didengar!

NB. Kata-kata saya di atas memang SADIS. Maafkan jika ada yang tersinggung. FYI, saya juga banyak kesalahan saat mahasiswa. Pesan ini sebuah refleksi, sebagian dari pengalaman nyata dan berharap mahasiswa saya tidak mengulangi kesalahan yang sama. Matur nuwun 🙂

PS. Kalau Anda suka tulisan ini, mungkin Anda juga suka Twit untuk Mahasiswa.

Catatan tambahan (20 Oktober 2013)

  1. Tulisan ini dimodifikasi dari twit saya sehingga gaya penulisannya tidak baku dan ada beberapa singkatan. Jika dinilai dari EYD, tulisan ini mengandung banyak kesalahan. Setelah mendapat masukan dari pembaca, saya sudah coba perbaiki. Meski tidak baku, semoga pembaca tetap bisa mengambil intisarinya. Terima kasih kepada semua yang mengkritik dan memberi masukan.
  2. Semua komentar saya setujui (approve) meskipun memang saya moderasi untuk menghindari spam yang terlalu banyak. Saya terbuka untuk diskusi. Kepada yang mendukung, terima kasih saya yang tulus kepada Anda. Kepada yang mengkritik dan mencaci, saya terima dengan baik. Kalau boleh berharap, mohon isi identitas yang semestinya agar hubungan kita jadi lebih akrab sehingga diskusi jadi lebih nyaman.
  3. Segelintir orang merasa tulisan ini bernada negatif. Maafkan saya jika demikian tetapi ini adalah pilihan sadar saya untuk menggunakan bahasa sarkastik. Mahasiswa yang baik tentu tidak akan tergampar oleh tulisan ini. Tetaplah baik dan menjadi semakin baik.