Ngepel Lantai


hambaallah92.wordpress.com

Saat SD, saya sering mendapat tugas ngepel lantai rumah. Kakak dan ibu saya yang biasanya mengajari saya melakukan pekerjaan seperti itu dengan baik. Untuk hal seperti ini, ibu saya termasuk ‘kejam’ dalam mengajari saya. Hasilnya, saya mengikuti prosedur dan tatacara ngepel lantai yang beliau ajarkan.

Langkah pertama adalah menyapu lantai dengan sapu ijuk agar sampah-sampah besar sirna dari lantai. Berikutnya, lantai diperciki air berisi pembersih lantai secara keseluruhan, disusul dengan menggosok lantai menggunakan lap yang juga dibasahi dengan air berisi pembersih lantai itu. Kami tidak memiliki alat pel, semua itu dilakukan manual dengan tangan. Yang paling saya ingat, saya harus jongkok dan bergerak mundur, memastikan tidak menginjak lantai yang sudah digosok. Hal ini kadang dilakukan secara berulang jika lantai kotor sekali. Tahap akhir adalah mengeringkan lantai agar benar-benar bersih.

Karena satu alasan, kadang saya harus mengulangi atau mendatangi bagian-bagian tertentu yang terlewati. Di saat itulah saya menginjak lantai yang sudah dipel tadi dan selalu merasa lantai itu masih kotor. Setiap bagian lantai yang saya injak terasa kotor oleh reman-remah pasir atau debu dan masih licin tidak kesat. Saya terpaksa mengulangi langkah terakhir yaitu mengeringkan bagian yang saya injak itu. Ini bisa berlangsung berulang sampai saya merasa lantai benar-benar bersih. Sering kali mengalami hal serupa, saya amati satu hal. Lantai akan terasa bersih jika kaki saya sudah kering dari sisa-sisa air licin untuk ngepel itu. Jika kaki saya masih basah oleh air yang bercampur pembersih lantai maka setiap bagian lantai yang saya injak akan terasa kotor dan licin. Yang kotor rupanya bukan lantainya tetapi kaki saya.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

14 thoughts on “Ngepel Lantai”

  1. Hal yang sama terjadi waktu saya kecil..sejak SD dampai SMA rutinitas ‘ngepel’ lantai menjadi ‘sarapan’ pagi sebelum berangkat sekolah..Hal ini akhirnya menjadi suatu aktifitas yg secara tidak sadar terbawa sampai sekarang..selalu merasa tidak nyaman dengan kondisi yg berantakan..
    Terima kasih Mas Andi telah me-remind kembali masa-masa kecil yg waktu itu dianggap sangat melelahkan, tetapi sekarang itu adalah masa indah yg pernah sy torehkan dalam keluarga saya..semoga bisa diulang oleh anak-anak saya dan semua..Aminnn

  2. Wah kalau saya waktu SD tidak pernah ngepel bli Andi. Lantai rumah saya masih rabatan. Pas sudah ada yang akan dipel (pake keramik pecahan dari proyek yang sudah tidak bisa dipakai oleh bos bapak saya), saya malah sudah tinggal di Denpasar.

    Tapi pesannya masuk! Kalau kata mas-mas yang sering jalan-jalan sambil nunjukin dirinya lagi makan, ” Top Markotop” bli.

  3. Salam..
    Di atas tertulis:
    “Karena satu alasan, kadang saya harus mengulangi atau mendatangi bagian-bagian tertentu yang terlewati. Di saat itulah saya menginjak lantai yang sudah dipel tadi dan selalu merasa lantai itu masih kotor.”

    Dalam penggalan kalimat ini, bli Andi menyisipkan pesan yang sangat mendidik. Dimana ketika kita merasa ada sesuatu yang sangat kurang dalam usaha yang kita lakukan, maka kita diharapkan untuk memperhatikannya lebih seksama, melihat apakah masih ada kekurangan di dalamnya. Jika ada, kita harus berusaha untuk mengoreksinya dan mengulangi usaha tersebut. Not give up to reach the goal..

    Super sekali.
    Maturnuwun bli Andi.

    Salam hangat,

    Tendy Chaskey

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s