Sekali-sekali, mahasiswa memang perlu digampar!


Ini cara saya menggampar mahasiswa saya πŸ™‚

  1. http://i.qkme.me/3r92uq.jpg

    Kamu ingin dapat beasiswa S2 ke luar negeri nanti? Pastikan IP di atas 3 dan TOEFL di atas 500! Merasa tidak pinter? BELAJAR!

  2. Empat atau lima tahun lagi kamu bisa sekolah S2 di luar negeri dengan beasiswa. Itu kalau kamu tidak cuma twitteran saja sampai lulus nanti.
  3. Kamu tidak akan bisa S2 di luar negeri karena akan ditolak profesor kalau nulis email formal saja tidak bisa. Alay itu tidak keren, tidak usah bangga!
  4. Tidak usah tanya tips cara menghubungi professor di luar negeri kalau kirim email ke dosen sendiri saja kamu belum bisa. Hey, ganti dulu akun niennna_catique@gmail.com itu!
  5. Tidak usah ikut meledek Vicky, kamu saja tidak tahu kapan harus pakai tanda tanya, tanda seru, tanda titik, spasi, huruf besar, huruf kecil di email kok!
  6. Mana bisa diterima di perusahaan multinasional biarpun IP tinggi kalau nulis email saja lupa salam pembuka dan penutup πŸ™‚
  7. Sok mengkritik kebijakan UN segala, dari cara menulis email saja kelihatannya kamu tidak lulus Bahasa Indonesia kok. Tidak usah gaya!
  8. Bayangkan kalau kamu harus menulis email ke pimpinan sebuah perusahaan besar. Apa gaya bahasa email kamu yang sekarang itu sudah sesuai? Jangan-jangan bosnya tertawa!
  9. Apapun bidang ilmu kamu, akhirnya kamu akan berhubungan dg MANUSIA yang beda umur dan latar belakangnya. Belajar komunikasi yang baik. Jangan bangga jadi alay!
  10. Bangga bisa software dan gunakan alat-alat canggih? Suatu saat kamu harus yakinkan MANUSIA akan skill itu. Belajar komunikasi dengan bahasa manusia biasa!
  11. Kamu orang teknik dan hanya peduli skil teknis? Kamu salah besar! Nanti kamu akan jual skil itu pada MANUSIA, bukan pada mesin!
  12. Kamu kira orang teknik hanya ngobrol sama mesin dan alat? Kamu harus yakinkan pengambil kebijakan suatu saat nanti dan mereka itu manusia. Belajar ngomong sama manusia!
  13. Malas basa-basi sama orang yang tidak dikenal? Enam tahun lagi kamu diutus kantor untuk presentasi sama klien yang tidak kamu kenal. Belajar!
  14. Malas belajar bikin presentasi? Lima thn lagi bos kamu datang dengan segepok bahan, “saya tunggu file presentasinya besok!”
  15. Kamu orang sosial dan malas belajar hal-hal kecil di komputer? Lima tahun lagi bos kamu datang bertanya “cara membesarkan huruf di Ms Word dengan shortcut gimana ya?’ Mau nyengir?
  16. Mahasiswa senior, jangan bangga bisa membully Mahasiswa baru, tujuh tahun lagi kamu diinterview sama dia saat pindah kerja ke perusahaan yang lebih bagus πŸ™‚
  17. Mahasiswa senior, keren rasanya ditakutiΒ Mahasiswa baru? JANGAN! Urusan kalian nanti bersaing sama orang-orang ASEAN dan Dunia. Bisa bikin mereka takut tidak?
  18. Bangga bisa demo untuk mengundurkan jadwal ujian karena kamu tidak siap? Kamu itu mahasiswa negara ekonomi terbesar di Asia Tenggara, masa’ urusannya cetekcetek begitu sih?!
  19. Tidak usah lah sok hebat demo nyuruh SBY berani sama Amerika kalau kamu diskusi sama mahasiswa Singapura saja tergagap-gagap πŸ™‚
  20. Tidak perlu lah teriak-teriak “jangan tergantung pada barat” jika kamu belum bisa tidur kalau tidak ada BB dekat bantal πŸ™‚
  21. Tentara kita tidak takut sama tentara Malaysia kalau kamu bisa kalahkan mahasiswa Malaysia debat ilmiah dlm forum di Amerika!
  22. Tidak perlu beretorika menentang korupsi kalau kamu masih nitip absen sama teman saat demo antikorupsi!
  23. Boleh kampanye “jangan tergantung pada barat” tapi jangan kampanye di Twitter, Facebook, BBM, Path dan Email! Memangnya itu buatan Madiun?!
  24. Kalau file laporan praktikum masih ngopi dari kakak kelas dan hanya ganti tanggal, tidak usah teriak anti korupsi ya Boss!
  25. Minder karena merasa dari kampung, tidak kaya, tidak gaul? Lima tahun lagi kamu bisa S2 di negara maju karena IP, TOEFL dan kemampuan kepemimpinan. Bukan karena kaya dan gaul!
  26. Pejabat kadang membuat kebijakan tanpa riset serius. Sama seperti mahasiswa yang membuat tugas dalam semalam hanya modal Wikipedia πŸ™‚
  27. DPR kadang studi banding untuk jalan-jalan doang. Sama seperti mahasiswa yang tidak serius saat kunjungan ke industri lalu nyontek laporan sama temannya πŸ™‚
  28. Pejabat kadang menggelapkan uang rakyat. Sama seperti mahasiswa yang melihat bahan di internet lalu disalin di papernya tanpa menyebutkan sumbernya.
  29. Alah, pakai mengkritik kebijakan pemerintah segala, bikin paper saja ngopi file dari senior dan ubah judul, pendahuluan sama font-nya πŸ˜€
  30. Gimana mau membela kedaulatan bangsa kalau waktu menerima kunjungan mahasiswa asing saja kamu tidak bisa ngomong saat diskusi. Mau pakai bambu runcing? πŸ™‚
  31. Kalau kamu berteriak β€œjangan mau ditindas oleh asing”, coba buktikan. Ikuti forum ASEAN atau Dunia dan buktikan di situ kamu bisa bersuara dan didengar!

NB. Kata-kata saya di atas memang SADIS. Maafkan jika ada yang tersinggung. FYI, saya juga banyak kesalahan saat mahasiswa. Pesan ini sebuah refleksi, sebagian dari pengalaman nyata dan berharap mahasiswa saya tidak mengulangi kesalahan yang sama. Matur nuwun πŸ™‚

PS. Kalau Anda suka tulisan ini, mungkin Anda juga suka Twit untuk Mahasiswa.

Catatan tambahan (20 Oktober 2013)

  1. Tulisan ini dimodifikasi dari twit saya sehingga gaya penulisannya tidak baku dan ada beberapa singkatan. Jika dinilai dari EYD, tulisan ini mengandung banyak kesalahan. Setelah mendapat masukan dari pembaca, saya sudah coba perbaiki. Meski tidak baku, semoga pembaca tetap bisa mengambil intisarinya. Terima kasih kepada semua yang mengkritik dan memberi masukan.
  2. Semua komentar saya setujui (approve) meskipun memang saya moderasi untuk menghindari spam yang terlalu banyak. Saya terbuka untuk diskusi. Kepada yang mendukung, terima kasih saya yang tulus kepada Anda. Kepada yang mengkritik dan mencaci, saya terima dengan baik. Kalau boleh berharap, mohon isi identitas yang semestinya agar hubungan kita jadi lebih akrab sehingga diskusi jadi lebih nyaman.
  3. Segelintir orang merasa tulisan ini bernada negatif. Maafkan saya jika demikian tetapi ini adalah pilihan sadar saya untuk menggunakan bahasa sarkastik. Mahasiswa yang baik tentu tidak akan tergampar oleh tulisan ini. Tetaplah baik dan menjadi semakin baik.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

881 thoughts on “Sekali-sekali, mahasiswa memang perlu digampar!”

      1. clear, tegas, landasannya kepedulian dan kasih sayang, mantap pak πŸ™‚ kemarin saya beli buku Anak Dusun Keliling Dunia, ah saya belum apa-apa rasanya.. harus banyak belajar lagi, terima kasih pak.

    1. Yth. Bapak I Made Andi Arsana.
      Bersama ini saya tuliskan komentar dari artikel yang Bapak Posting.
      Saya sangat setuju dengan intisari dari artikel yang bapak tulis.
      Terima kasih
      Salam

      NB : cm belajar balas komentar dengan EYD dan standar bahasa email resmi,
      hahhahaha..

      suksma

      1. setuju banget pak, gamparan yang membangun itu akan lebih berdampak positif daripada gamparan yang mematikan, πŸ˜€

    1. keren pak, cocok buat saya yang masih berstatus mahasiswa dan msh berpikiran labil.. hehe kadang2 pengen bner sendiri..

  1. betul mas,,,,memang semuanya harus “biso rumongso” bukan rumongso biso..heheheh…..sy mulai belajar apa yg anda tulis,,,

  2. wah wah ini cerminan hidup mahasiswa jaman sekarang banget :)) saya perlu digampar berkali-kali nih kayaknya hehehe

  3. Terima kasih Pak I Made Andi Arsana. Ini gamparan yang sangat mencerdaskan anak bangsa, baik bagi hidup saya di masa depan.

    I start to learn English again and read carefully information about study abroad. Focus! I decide to change better life, not wait till die.

    Goals : IELTS 8, Running social entrepreneurship “school of fish”, GPA 3.3, internship in Unilever and than applying for Erasmus Mundus – amin.

    Victory Love Preparation – GRACIAS

  4. saya merasa ter-gampar gampar pak, biarpun sudah bkn mahasiswa..

    anyway, yg masalah email itu setuju banget saya. Saat sudah kerja sperti ini kerasa sekali dg masalah email-meng-email banyak orang, terutama client..
    walaupun anak teknik, hubungannya ya tetap sama manusia…

  5. Maaf Pak Andi, aturan Bapak tidak berlaku untuk Bill Gates & Steve Jobs. Ga usah mengkritik mahasiswa Anda, siapa tahu suatu saat nanti dia menyuruh Anda presentasi. Perjalanan hidup seseorang tidak linier. Terima kasih.

    1. Terima kasih masukannya. Memang tidak semua merasa tergampar oleh tulisan ini. Terima kasih telah membaca dan memberi masukan ya πŸ™‚ Btw, saya pernah ketemu Bill Gates di Sydney. Dia keren!

      1. Hello Lisa, terima kasih telah membaca dan mengapresiasi tulisan ini. Yang penting kita bisa menarik pelajaran dari ketidaksempurnaan karena memang kesempurnaan itu bukan milik manusia. Ayo tetap semangat dan maju terus.

    2. Maaf Boboho, anda sandiri apakah tipe Bill Gates dan Steve Job? Ini realita mahasiswa yang saat ini yang hanya bisa bersuara tanpa tindakan nyata.

    3. @Boboho, anda kurang menangkap intisari tulisan bapak Andi. Memang benar kalau pendidikan tinggi tidak menjamin kesuksesan atau keberhasilan seseorang. Yang lebih menentukan adalah kemauan/kesiapan seseorang untuk terus menerus belajar dan mengembangkan diri tanpa henti. Merasa tidak bisa bisa PC dan Software? Sediakan waktu untuk mempelajari dan menguasainya. Kurang di Softskills (Kepemimpinan, kerjasama kelompok, presentasi, kontak sosial, dll)? Cobalah berbaur sehingga lebih bisa mengenal sesama manusia. Merasa kurang teratur? Ambil disiplin dan manajemen waktu dan hiduplah bersamanya. Dan lain sebagainya. Dimana ada kemauan, disitu ada jalan.
      Tokoh-tokoh yang anda sebutkan pun, Mr. Gates dan almarhum Mr. Jobs menonjol bukan karena kepintaran mereka namun lebih karena kedisiplinan diri dan kemampuan mereka untuk tidak lekas berpuas diri serta sifat kritis untuk menanyakan diri sendiri apa yang harus dipelajari/ditingkatkan agar saya/produk saya lebih bagus lagi. Sepengetahuan saya, mereka pun bukan jenis manusia yang seakan-akan ‘tenggelam/hilang’ bila di tangan mereka ada Gadget (BB, HP, Smartphone, Tabs, dsb). Mereka lebih menyukai kontak secara langsung dan menghargai sosok manusia yang ada di hadapannya.
      Tentu saja ‘pesan’ dari tulisan bapak Andi sangat sulit diterima sebagian kalangan generasi muda di Indonesia yang ‘terpolakan’ untuk termasuk dalam kalangan: di tangan kiri BB, di tangan kanan Smartphone, kamu2 di depan saya sebagai makhluk hidup tolong diam dulu saja sebagai statis atau lebih bagus lagi kalau minggir karena saya sedang sibuk berat dengan 2 alat di tangan kanan kiri dan saya tidak ada minat untuk berbicara dengan anda (atau saya tidak perlu anda sama sekali).
      @bapak Andi, tulisan yang bagus, peka dan mencerminkan keadaan serta fenomena sosial generasi baru kita. Komplimen. Ditunggu pak tulisan-tulisan berikutnya.

      1. Mas Rayno,
        Ulasan Anda sangat baik. Sebuah pengamatan dan perenungan yg cernat atas tulisan saya yg tentu tidak sempurna. Ulasan Anda tentang fenomena di sekitar juga ciamik. Terima kasih telah berbagi pandangan yang positif.

  6. Hello Pak! Sejak saya mahasiswa saya sangat setuju dgn apa yg bapak tulis! Mahasiswa ingin perubahan, tetapi lupa bahwa perubahan dimulai dari diri sendiri! Ingin menjadi pempimpin masa depan dgn cara mengkritik kepemimpinan, hanya saja sikap mrk tdk mencerminkan nilai kepemimpinan. Misal : membuat laporan & ujian masih saja menyontek! hanya saja dahulu waktu sy mahasiswa, saya lbh suka menjadi pengamat dan baru bisa berbicara disini! Thanks for those things Pak! Hv a blessed life!

  7. manteb pak nggamparnya. bacanya sambil geli juga, tapi isinya mak jleb banget. semoga mahasiswanya langsung sadar ya, kecuali mahasiswa peak yg ngga peka. hehehe… πŸ˜€

  8. Terima kasih Pak Andy sudah mengijinkan saya bergabung..
    Saya merasa tergampar oleh poin 25..Tapi itu dulu,sekarang sudah bisa lebih percaya diri..Btw saya sedang menunggu hasil seleksi berkas beasiswa ADS pertengahan Desember nanti…
    Terima kasih ya pak untuk sharenya…Keren abis…

  9. luar biasa sekali πŸ˜€
    memang sejatinya kita harus mampu belajar dari hal-hal kecil,belajar nulis dengan baik dan benar, belajar komunikasi yang baik, dan yg jelas ga boleh alay πŸ˜€
    mantappppp (y)

  10. Sangat menggambarkan mahasiswa sekarang Pak, saya waktu jadi mahasiswa kadang melakukan hal ini juga ….. semoga kedepannya kita bisa membenahi diri sendiri untuk menuju Indonesia yang lebih baik, amien ….

  11. terkadang email sudah ditulis dan dikirimkan dengan sedemikian rupa menggunakan takah dan format yang formal juga, masih saja terjadi mis
    apalagi dengan tulisan yang ngga bisa dimengerti,
    kalau itu interaksi dosen-mahasiswa, terpaksa dosennya kerja keras untuk meng copy ke format yang sebenarnya, karena kasian sama mahasiswanya yang emailnya di reply tapi tidak bergeming

  12. “Malas basa-basi sama orang yang tidak dikenal? 6 thn lagi kamu diutus kantor untuk presentasi sama klien yang tidak kamu kenal. Belajar!” ->merasa sedikit tertampar Pak, untungnya sudah belajar ngobrol sama orang yg tidak dikenal dan temen2 di kelas internasional, juga mencoba menyesuaikan penggunaan bahasa formal-informal

    “Malas belajar bikin presentasi? 5 thn lagi bos kamu datang dgn segepok bahan, β€˜saya tunggu file presentasinya besok!’ ” -> Jadi merasa bersyukur sering dikasih tugas presentasi yang mem’bludak’ sama dosen πŸ™‚

  13. Selamat siang, bapak. Sebagai seorang mahasiswa terkadang saya masih melakukan beberapa poin bahkan banyak poin dari beberapa hal di atas. Semoga gamparan tersebut bisa menjadikan saya sebagai individu yang lebih baik. Terima kasih. πŸ™‚

  14. sangat menyentuh mas…..khususnya poin titip absen……kejujuran harus dimulai dr yg paling kecil d ringan….trima ksh banyak mas…..sangat inspiratif….

  15. Anda cari sensasi saja,
    Padahal hidup ini simple..
    Anda sama saja seperti Pejabat,
    urusan yang mudah dibuat susah.

      1. Mungkin yang dimaksud simpel sama Saudara yg nama akun wordpress “My Name at My Old Picture at FB” adalah buatlah nama akun yang panjang dan supaya pembaca capek bacanya, karena kalo pake nama asli itu terlalu sederhana dan terlalu simpel πŸ˜€

  16. Luar biasa Bapak! Keren semua kata-katanya nya. Refleksi kehidupan mahasiswa saya, yang banyak sia-sianya. Membacanya jadi ingat pesan-pesan dosen pembimbing kesayangan saya. Dan saya harus banyak lagi belajar jika ingin mendapat beasiswa ke luar negeri. Terimakasih banyak sudah mengingatkan saya. Mohon bimbingannya. (Ohh ya, saya mencoba menuliskan komentar ini dengan sopan dan sesuai EYD. Mohon maaf jika masih terdapat kesalahan)

      1. πŸ™‚
        ohh ya, tamparan bapak luar biasa kuatnya, benar-benar memukul saya telak, dan anehnya bukannya tersungkur jatuh, leher saya malah semakin tegak, mata saya terbuka lebar dan tujuan saya semakin jelas. Lagi-lagi terimakasih banyak. :bow:

  17. Jangan terlalu kaku gitu lah pak. Gak selalu mahasiswa bandel itu goblok lho. Justru sebenarnya kebandelan itu seringkali cuma label yg diberikan orang2 akademisi yang kaku bagi tindakan2 mahasiswa yg justru seringkali kreatif.

    1. Terma kasih masukannya Alfin. Istilah ‘bandel’ dan ‘goblok’ itu Anda yang sampaikan. Saya tidak gunakan kata2 itu meskipun memang sadis πŸ™‚
      Setuju dengan Anda. Kreatif adalah kuncinya. Maka dari itu, TUNJUKKAN dan tamparlah saya πŸ™‚

  18. Bagus sekali Pak, fenomena Vicky memang sebenarnya cuma versi “akut” dari kemampuan berbahasa Indonesia yang dimliki manusia Indonesia kebanyakan.
    Mungkin istilah “luar negeri” dan “negara maju” dihilangkan, kesannya kita masih minder dan terbelakang.
    Keren!

    1. Terima kasih Mas Abas πŸ™‚ Masukannya saya perhatikan. Kita risih mendengar negara maju dan luar negeri justru karena merasa minder dan terkebelakang. Yg percaya diri akan mendengar istilah “luar negeri” sama dengan “luar kota” πŸ™‚

      1. Ya wajar kalau Anda PNS…bukan karena prestasi Anda tapi karena Anda PNS…tidak perlu terlalu berbangga diri….

      2. Jangan sembarangan, anda telah membuat saya marah, jadi PNS itu bukan kemauan saya, tapi karena patuh dengan ibu saya…

        so saya berjuang dari bawah mencari celah S2, karena saya tau cibiran miring terhadap PNS..

        kayaknya anda yang perlu digampar

      3. πŸ™‚ Saya menghargai kebebasan berpendapat. Sebaliknya saya berharap pembaca menghargai kenyamanan pembaca lainnya. Terima kasih telah mampir dan berkomentar ya Salim πŸ˜‰

      4. begitu anda bilang anda pns itu bagai ikan “bangga bisa berenang”,maaf ini pengalaman bung salim,,jgn naif πŸ˜€

    1. secara umum kalau mau keluar negeri IP itu memang harus diatas 3. kalau ada yang dibawah 3 berarti itu keberuntungan dan hanya sedikit saja orang yang biss seperti itu.. yasudah bersyukur saja kalau gitu.. btw universitas apa di Jepang? kalau TODAY university saya enggak yakin mau nerima IP dibawah 3.. selamat ya udah lulus beasiswa

  19. Sebagai mahasiswa pula, Saya sadar jika terlanjur tenggelam di dalam zona nyaman itu sangat berpengaruh akan gaya hidup Saya sendiri.

    Persaingan di luar negeri itu berat sekali, belum harus memenuhi syarat-syarat dari universitasnya sendiri yang jelas membutuhkan kerja keras dan ikhlas. Alhamdulillah, Saya tinggal selangkah lagi. πŸ™‚

    Terima kasih atas artikel “shock therapy”-nya. πŸ™‚

  20. makasih bli. keren keren πŸ˜€ *ga tau mo muji apalg*
    klo aku biasanya gampar dg bilang gini: halah, kalian ini udah pake kata “MAHA” di depan kata “Siswa” tapi mental msh kyk siswa SD πŸ˜€

    tp kykx mmg benner, bli. mental adik2 mhsswi skr lbh suka yg instan2, apa krn zaman mrk dibesarkan adl zaman yg pnuh fasilitas instan yaa? *wondering*

  21. Nice post Mas Andi. Ijin share ke junior-junior ya. Sebenarnya dengan sedikit modifikasi ini gak hanya berlaku buat mahasiswa aja kok. Bahkan untuk junior-junior saya di kantor juga perlu digampar macam beginian :))

  22. Terkadang laku dan pikiran kita seringkali paradoks ya Pak. πŸ˜€

    Mengkritisi orang lain, tapi seringkali lupa tidak berkaca dengan diri sendiri. Heu.

    Matur sembah nuwun, Pak Made untuk ‘gamparan’nya.

  23. anak-anak jaman sekarang yg disebut Generasi Strawberi itu memang karakternya seperti yang Mas Andi bilang itu. Memang tidak mudah membuat mereka mau kerja keras, karena sejak lahir, semuanya sudah tersedia.

    1. Sebenarnya saya yakin banyak anak sekarang yang bagus dan berprestasi. Seperti halya banyak juga anak zaman dulu yang lemah dan manja. Cara media mengekspos juga berpengaruh, sehingga hal2 ‘aneh’ dan ‘buruk’ lebih cepat mengemuka. TV lebih suka menayangkan perceraian artis dibandingkan kisah anak2 yang mendapat juara olimpiade fisika. Atau jangan-jangan karena media tahu, penonton juga lebih suka menikmati berita perceraian itu πŸ™‚
      Intinya saya sepakat, tidak semestinya kemudahan itu menjadikan kita manja ya πŸ™‚

    1. Terima kasih Mas/Mbak Dosen.
      Saya tidak berhak membantah atau menyiayakan bahwa saya killer atau tidak. Mahasiswa saya yang berhak menilai saya πŸ™‚ Terima kasih sudah mampir dan memberi perspektif yang seimbang πŸ™‚

      1. Saya dulu mahasiswanya Pak Andi dan sama sekali tidak menemukan ke-killeran beliau. Justru inspirasi positif lah yang saya dapat πŸ™‚
        Salam hangat.

  24. Tidak perlu lah teriak-teriak β€œjangan tergantung pada barat” kalau kamu blm bisa tidur kalau tidak ada BB deket bantal πŸ™‚

    heee? bb? 18 oktober 2013 gini masih ada yang pake bb? 😈

  25. Wah,bisa diprint terus ditempel dimeja belajar πŸ˜€ biar tiap saat termotivasi untuk membangun Indonesia! Keren!! Salam mahasiswa dari Korea Selatan ^^

  26. Meskipun saat ini saya sedang mengejar mimpi di negeri orang, membaca tulisan ini kembali membuat saya tersadar bahwa selama masih tergagap di negeri orang, masih harus terus semangat belajar. Terima kasih telah mengingatkan kembali.

  27. luar biasa mas postingannya, semoga bisa mnjadi modal besar buat diri qt sendiri dan mhasiswa2 qt dlm membangun peradaban bangsa ini yg semakin lama semakin amburadul biar enggk terjajah oleh NATO+ no action talking only!!!!hehehe…LANJUTKAN

  28. Kenapa analogi: Jangan A kalau belum bisa B, tidak usah C jika tidak ada D, dst, dst. Seperti mesin. Infinite loop, muter2 terus. Menurut saya tak perlu mempertentangkan idealisme vs pragmatisme. Orang besar adalah orang yang mampu keluar dari kaidah mesin. Nyleneh dikit gitu looh pak. Tentang pesan moral untuk tidak korupsi, saya sangat apresiasi. Terima kasih.

  29. Jadi inget waktu perama kali dapet projekan pas mahasiswa, disemprot klien gara2 ngirim email attachment doang, haha..
    Alhamdulillah beberapa tamparannya sudah bisa saya tangkis sekarang πŸ˜€
    Thanks Pak!

  30. Pak andiiiii,, saya sekarang bekerja di perusahaan besar, email dan surat makanan saya tiap hari, untunglah ketika mahasiswa dulu saya tidak alay hehe

  31. Saya baca ini sambil setengah mau menangis. 😦
    Kenapa saya ga baca ini pas kuliah dulu??

    Saya tidak termasuk mahasiswi yang hobi demo sih, juga tidak sering melakukan aksi copas (:D), tapi kenangan kalau dulu saya tidak bisa memberikan upaya terbaik untuk mengerjakan setiap tugas, itu yang membuat saya menyesal. Hiks. *curcol*

    Saya akan mengubek-ubek blog ini. Berharap menemukan postingan lain yang membuat saya percaya bahwa masih ada cara untuk memperbaiki diri, untuk menebus kesalahan saya tempo doeloe πŸ™‚

    Matur suksma, Pak Made πŸ™‚

    1. Mbak Sofi,
      Terima kasih telah menyampaikan hal penting ini. Saya yakin banyak yang mengalami ini tetapi tidak selalu bisa mengatakannya πŸ™‚
      Silakan baca tulisan2 saya, semoga tidak mengecewakan. Sebagian besar hasil gumaman saja. Refleksi pribadi yang menurut saya penting tetapi belum tentu bagi Mbak Sofi dan pembaca lainnya. Satu clue dari saya: Saya pernah punya IP 1,2 saat semester 5 πŸ™‚ I hope this helps you to know the context of my writings.

  32. Nice post pak Andi… Kalau ini dibaca oleh mahasiswa apa mereka merasa kegampar tidak yah ? Soalnya kalau kita yang sudah alumni membaca jadi merasa kena semua tuh gamparannya.. (Pengalaman waktu jadi mhs sering titip absen)

    1. Terus terang, saya banyak kesalahan juga saat mahasiswa. Sebagian tulisan ini mengingatkan agar mahasiswa sekarang tidak perlu mengulangi kesalahan yang sama πŸ™‚ Terima kasih Mas Alimuddin sudah mampir dan berkomentar.

    1. Memang lebih baik kalau punya domain sediri tapi domain gratis juga ga apa2 yang penting isinya bagus. Kadang malah lebih praktis, tidak repot soal maintenance dan terutama tidak berat di kantong mahasiswa. Makasih Pejuang45.

  33. Benar-benar merasa digampar pak.
    Gamparannya masih membekas dan semoga bekasnya tidak hilang dimakan oleh waktu.

    Terima kasih pak.

    1. Terima kasih Mas/Mbak Anonim.
      Saya masih jauh dari oke makanya saya beri catatan di bagian bawah tulisan itu. Saya belum membuktikan banyak hal tapi sudah berusaha keras berbuat sesuatu meskipun kecil. Silakan baca-baca cerita saya, buku dan paper saya juga. Dari situ kita bisa dikusi lebih lanjut. Terima kasih masukannya ya πŸ™‚

  34. Assallamualaikum…..

    Whuahahahaha, ulasan yang menarik pak..
    Saya jadi teringat kuliah saya dulu di Utrecht, apalagi point yang ke dua..
    Terima kasih banyak sudah mengingatkan saya kembali, mengingatkan perjuangan mengejar Oma Profesor itu..

  35. boleh minta contoh motivation letter anda waktu apply beasiswa LN gak,, trus cara ngubungi prof luar negri itu gimana,,terimakasih

  36. Saya sudah meninggalkan bangku kuliah 3 tahun yang lalu (lulus lho pak bukan DO, hehe..) tetap saja tuh tergampar. Nice slap Pak Andi, well done!!

  37. Tdk ada org yg sempurna,, itulah knp pentingnya mengingatkan. Mksi uda mengingatkan sy lagi pd hal2 kecil yg biasa dilakukan manusia, tp mrk lupa dirinya sndiri. Smg bangsa ini *manusia, bisa lebih bijak dan dewasa di hari mendatang.

    1. Terima kasih atas kata-kata bijaknya Mas Dani. Saya setuju. Mari saling mengingatkan. Yang menasihatipun belum tentu karena merasa sempurna. Semata-mata karena peduli πŸ™‚

  38. Well, unfortunately not even one lecturer could do this to me, & below are the reasons why.

    1. Bachelor degree GPA = 3.56, TOEFL score = 555 (beautiful number by the way, ain’t it?), New HSK Level 5 = 271
    2. I don’t have any Twitter account. Don’t believe it? Go Google ‘Restu Sandika Kamaruddin’
    3. Not only do I KNOW how to type an e-mail in English, but I also happen to KNOW how to type an e-mail in MANDARIN. (BOOM!)
    4. my Gmail account is = RestuSandikaKamaruddin@gmail.com
    5. Don’t start talking to me about correct punctuation, though. You’ll BURN.
    6. & I never mistype even a BBM or WA message.
    7. My ‘Tata Tulis Karya Ilmiah’ subject got a big, fat A.
    8. You’re KIDDING me, right? On of my former job was to send e-mails to foreign embassies. SIT DOWN.
    9. I once held a ‘Study in China’ seminar. Out of 16 parents who attended it, 8 of them enrolled in the program. The one that can’t communicate to people is YOU. (& maybe ONLY YOU, for that matter.)
    10. Back to no. 9. Need I say more, though?
    11. I’m not a f*****g engineer.
    12. Please don’t stay long-winding & redundant anymore, would you please?
    13. You think you know how to pitch an idea to a client? You have NO IDEA.
    14. Been there, done that.
    15. Apparently, I don’t have any boss. My boss is my own self.
    16. I never have nor have I ever been, bullied.
    17. & no, I ain’t afraid of ’em. BRING IT ON.
    18. I never postponed my mid-term or end-term test.
    19. Just Singapore? Girl, you have to do better than that when you’re talking to ME.
    20. My BB isn’t active anymore.
    21. Girl, Malaysian, really? When I studied in Beijing, I once dragged a Thainese, Vietnamese, & Mongolian SO HARD in a debate program.
    22. I NEVER cheated in attending my class. BEWP!
    23. Other than this, I don’t say things on social media. That’s coward. I say things to people ON THEIR FACES.
    24. I NEVER copied my senior’s research report. Hell, they weren’t even that good.
    25. Hey now, don’t blame me if I am fashionably-fabulous & still am brilliantly-intelligent at the same time. STAY SEETHING, girl.
    26. Wikipedia is whack. In fact, I typed my own 9-page of an essay of an art film BY MYSELF. NEVER even once I looked for that piece of s**t.
    27. I have said that I’m not a f*****g engineer, haven’t I? Then why would I feel the need to be wanting to visit an industrial ground anyway?
    28. Girl, I’m not like you, I gave credits when they’re due.
    29. NOPE. I NEVER copied my senior’s essay paper. There you go, girl.
    30. My former job was also a liaison officer at an agency for studying abroad, though.
    31. I never complained about the so-called Westernization that y’all guys complain about, Hey, the person that I look up to the most is CHRISTINA AGUILERA.

    So, there you go lecturers. I’m sexy, I’m smart, I’m everything you’re not. Seething now? Well, stay seething.

    1. Dear Kam,

      Thank you very much for the list. You apparently are very good. I should and will learn from you. I am sure the readers of this blog should also do the same. I know you did not write particularly for me as this is universally, in my humble opinion, applicable to everybody πŸ™‚ Thanks again and good luck with your journey. I like the way you responded to my slap πŸ™‚

    2. kalo kacanya sama diri sendiri ya anda gagal juga, saya bukan fans yang nulis blog ini, tapi at least kacanya beliau adalah kehidupan sosial masyarakat, tidak sehina anda (di mata sayadoang kok, bukan siapa2 jadi gak usah marah)

    3. Dear Kam,
      6. & I never mistype even a BBM or WA message.
      8. You’re KIDDING me, right? On of my former job was to send e-mails to foreign embassies. SIT DOWN.
      Hmmm… Never mistype anything? Are you sure? πŸ™‚

      Mas Andi..tulisan yang mencerahkan..seperti biasa.. Trims.. πŸ™‚

  39. HHHMMM… Manusia tak ada yg sempurna, saling mengingatkan untuk hal kebaikan. Ya…intinya Kita bercermin pada pribadi kita dulu sebelum menghujat sifat & pemikiran orang lain. Lebih baik memberi kritikan & saran yg menjadi solusi dalam konflik & krisis sosial di Indonesia.

  40. Bapak Andi yang terhormat. Meski sdh lulus sbg mahasiswa tp saya rasa tulisan Bapak masih mengena di semua lini. Sebagai pribadi, saya sdh tertohok terkencing-kencing πŸ˜€
    Tp kalo kita kembalikan ke realita saat ini dalam kehidupan sosial “orang INDONESIA” Idealis yg Bapak coba tularkan ini sulit terjabarkan (bkn tidak bs) karena racun sdh tersebar dr tataran atas sampe bawah.
    Semua kembali ke pribadi masing-masing..
    Terima kasih berkenan berbagi, tulisan Bapak benar-benar memaksa pribadi seseorang untuk mampu mengangkat kaca di mukanya sendiri.

    1. Mas Firman,
      Terima kasih atas respon positifnya. Betul, memang tidak mudah. Masing-masing punya peran meskipun tidak selalu besar. Saya lakukan hal kecil yang saya bisa, dan Mas Firman juga tentu demikian. Mudah2an itu memperbaiki, atau setidaknya tidak memperburuk situasi. Terima kasih kebijaksanaannya πŸ™‚

  41. “Tidak usah lah”? “Tidak perlu lah”?
    Jangan sok mengkritik penggunaan Bahasa Indonesia orang lain, kalau Anda sendiri masih salah dalam menggunakan partikel -lah.
    πŸ˜€

  42. banyak yg ngangguk2 aja baca tulisan ini, kalo blh ambil kata2 om sadino : bnyk dr mahsiswa yg pola pikir udah di set sudah lulus kuliha nanti mau mencari kerja, belajar yg rajin biar dpt nilai bagus biar nanti di terima kerja,dan ttp aja jd karyawan,
    buat file persentasi,kirim email,udah pinter semuanya ttp saja karyawan :d
    hmmm…setiap kata2 ada pro kontra ya pak πŸ™‚ dan saya termasuk orang yg kontra

    CMIIW

    1. Terima kasih Mas Dedi. Pandangan yang cerdas. Saya setuju. Tulisan saya ini tidak komprehensi menggambarkan pemikiran saya. Mungkin akan menarik jika dikombinasikan dengan tulisan lain soal twit untuk mahasiswa baru. Ada link-nya di atas. Di sana saya juga bahas soal kewirausahaan. Terima kasih telah dengan tagas menyatakan ketidaksetujuan dengan jelas dan bertanggung jawab. Indonesia membuatuhkan anak2 muda yang demikian. Good luck dan terima kasih sekali lagi.

  43. Wowww…

    Terkesima saya membacanya hahaha… Memang mereka harus digitukan. Saya sering mengatakan kalimat ini kalau pas mengajar “Ingat, orang tua kalian bisa meninggal dunia kapanpun, kalau Anda tidak menyiapkan diri dari sekarang bukan tidak mungkin Anda akan ikut meninggal”.

    Salam kenal Bli.

  44. Gak semua tergampar pak, mahasiswa yang mau jadi pegusaha atau sudah jadi pengusaha pola pikirnya tidak akan seperti itu, walaupun secara akademik nilainya bagus. Mereka justru berpikir akan mempekerjakan orang-orang yang pikirannya (mohon maaf) seperti bapak dan orang-orang yang merasa tergampar lainnya.

    Seorang calon pengusaha belajar saat mahasiswa tentang apa yang dibutuhkannya nanti setelah lulus, bukan apa yang kira2 orang lain butuhkan buat dikerjakan. Ini suatu hal yang berbeda, walaupun dia pada awalnya akan bekerja untuk orang lain (tidak lansung jadi pengusaha) tapi suatu saat nanti dia akan memulai sendiri bisnisnya ketika pengetahuan dan pengalamannya sudah cukup.

    Sekian.

    1. Rekan HM Assajidi, pandangan Anda sangat baik. Saya setuju.
      Beberapa hal terkait kewirausahaan pernah saya bahas di tulisan sebelumnya soal twit untuk mahasiswa baru. Ada link-nya di atas. Silakan dibaca jika berkenan πŸ™‚

  45. Agree for all but the email part (with the exception of no. 5). Saya sendiri tidak pernah mengalami masalah karena alamat email atau lupa salam dan saya pun menerapkan hal yang sama terhadap siapapun yang meng-email saya. Content jauh lebih penting dari itu semua.

    Alamat email sudah jarang diketik manual, big chance email client akan melakukan masking dengan nama pemilik email yang cenderung lebih kita hafal. Kecuali Anda termasuk hardcore user dan masih menggunakan program console untuk mengirim email :p. Satu hal lagi, saya kerja di mana2 dengan alamat email yang mungkin menurut orang ‘alay’ (walaupun tidak menurut saya, karena saya masih menggunakan huruf sebagai huruf dan angka sebagai angka), tidak ada masalah baik di perusahaan level nasional maupun multinasional. Mereka lebih butuh dan menghargai hard skill saya ketimbang alamat email. Seriously? Would any sane company deny a skillful person because of his/her email? Ridiculous!

    Salam bisa menunjukkan penghormatan, tapi buat saya orang yang mengharapkan setiap email yang diterimanya mengandung salam itu berarti gila hormat. Buat saya lebih baik tidak ada salam dengan isi yang straightforward daripada ngalor-ngidul atau bahkan tidak jelas apa yang mau ditanyakan/diberitahukan.

    Memang hal ini (dan hampir semua hal berbau sosial lainnya) bisa dibilang preferensi pribadi dan gamparan Anda merupakan suatu bentuk generalisasi, mungkin berdasarkan pengalaman pribadi, atau doktrin yang pernah Anda dapatkan entah dari mana (kuliah dulu, organisasi, kerja, whatever). Silakan saja, tapi saya cenderung liberal untuk hal ini.

    1. Mario,

      Terima kasih atas pandangan Anda yg menarik dan kritis. Saya simak dan pahami. Yang lebih penting lagi, saya hormati. Saya yakin pembaca blog ini akan mendapat pelajaran dari pandangan yang baik ini. Thanks again, mate!

  46. Miris dg mahasiswa jaman sekarang,pak. Sy punya 1 mahasiswa bimbingan magang saja sudah bikin darah tinggi. Statusnya mahasiswa dr Univ swasta di Jogja dg IP 4.00, tp bikin laporan magang strukturnya kacau balau. Hasil dan pembahasan isinya copy paste textbook. Mau asistensi laporan, laporannya ditinggal di pagar rumah sy, dg sms ” maaf,mb. sy buru2 ada agenda. laporan sy taruh pagar”
    Lhoalah…etikanya dimanaaaa…???

    1. Ikal, di Laskar Pelangi, berkesimpulan setelah mendengar cerita Pak Harfan “kalau malas sholat, belajarlah berenang” πŸ™‚ Pak Harfan punya niat sendiri ketika bercerita tetapi adalah para murid itu yang berhak mengambil pelajaran πŸ™‚ Aditya, Anda mengambil satu pelajaran yang menarik πŸ™‚

      1. dan cerita (gamparan) pak Andi ini membuat saya berkesimpulan “kalau malas jadi mahasiswa (dgn gamparan2 itu), belajarlah sendiri dan buat caramu”,
        yang mungkin disimpulkan sama oleh Nikola Tesla, Isaac Newton, Bill Gates, Steve Jobs, Larry Ellison, Mark Zuckerberg, dan bbrp org hebat dunia lainnya memilih berhenti jadi mahasiswa. πŸ™‚

      2. dan cerita (gamparan) pak Andi ini membuat saya berkesimpulan “kalau malas jadi mahasiswa (dgn gamparan2 itu), belajarlah sendiri dan buat caramu”,
        yang mungkin disimpulkan sama oleh Nikola Tesla, Isaac Newton, Thomas Alfa Edison, Albert Einstein, J.D.Rockefeller, Walt Disney, Bill Gates, Steve Jobs, Larry Ellison, Mark Zuckerberg, dan bbrp org hebat dunia lainnya memilih berhenti jadi mahasiswa. πŸ™‚

  47. naif sekali tulisannya..kelakuan saya pas kuliah nggak beda jauh ko..
    nggak pernah punya catatan kuliah,copas tugas temen,rekayasa data pengujian buat tugas akhir,titip absen,dll

    tapi saya ttp bisa di terima di perusahaan multinasional,bisa bersaing sama tenaga kerja dari cina,india sama eropa
    toh perusahaan multinasional itu bukan perusahaan yang suci tanpa dosa juga kok,mereka semua pasti ada konkalingkong sama government,atau pake cara” kotor buat menjatuhkan kompetitornya

    yang penting itu harus cerdas dalam mengatasi masalah,nggak terpaku dengan hitam/putih,baik/buruk..toh di dunia ini semuanya abu abu kok gak ada yang mutlak

    satu-satunya yang saya setujui dari tulisan di atas itu hanya di bagian bahasa Inggris dan komunikasi lisan/tulisan,kalau punya bahasa inggris dan skill komunikasi diatas rata”, value kita pasti akan meningkat dan karirpun lancar

    1. Silakan mengkritik. Saran saya, jika mau mengkritik siapkan kritik dengan baik. Saya pro demokrasi. Saya juga menghormati mereka yang tidak setuju dengan saya πŸ™‚ Terimakasih Mas Zanu, sudah berkenan membaca πŸ™‚

      1. Insya allah pak, kalau Ane mengkritik biasanya gak pernah mencaci maki… πŸ™‚ Kalau kritikan Ane dirasa kurang sopan Ane mohon maaf pak… πŸ™‚ Beberapa point tidak setuju… tapi banyak point Ane terima sebagai gamparan…

  48. TOEFL? Twitter? FB? Path? Email? BB? wikipedia? paste? copy?

    bukankah yg trjadi skrg sebab dari sebelum kita,
    yg trjadi ditahun 2000an sebab perilaku manusia ditahun 90an,80an,70an.
    Pak Habibie? lulusan luar negeri? beasiswa? berkomunikasi dgn baik?
    Timor Leste???

    orng bisu ??
    orng cacat ?? gimana nasib mreka??

    Hidup adalah pilihan,
    belajar adalah pilihan
    menjadi lbh baik adalah pilihan

    “jika kita tidak bisa menjadi orang yg pintar, kita masih bisa menjadi orang yg baik”
    ujar seorang yg berumur 20tahun penjual koran di persimpangan kepada teman-temannya yg berusia belasan tahun dan mereka hidup, belajar, mnjdi lbh baik di Jalanan itu pilihan

    1. Setuju, hidup adalah pilihan. Memilih untuk berbagi, menerima, setuju dan tidak setuju. Saling menghormati.
      Tulisan saya tentu saja tidak mewakili semua pemikiran saya tapi semoga bisa jadi bahan pemikiran orang-orang yang memang pada situasi yang tepat. Sebagian lain mungkin tidak melihat ini sebagai satu masukan. Kepada mereka saya menaruh hormat dan masukannya saya perhatikan dengan baik.

  49. Salam kenal Pak Andi, waaaah keren nih ‘gamparannya’. Perlu banget, Pak, mahasiswa diberitahu seperti itu. Kayaknya ada senyam-senyum nih. Saya memang gatal dengan kemampuan komunikasi makhluk setingkat ‘mahasiswa’ hihihi

  50. Sebenarnya saya sudah terkena gamparan selama saya masuk ke dalam perusahaan bidang industri (tuntutan profesi sarjana teknik). Kalau dari bapak, ini yang kedua kalinya. Tulisan bapak sangat keras, tapi sangat sangat menggugah. Yang tadinya ngantuk, saat-saat ini mulai terbelalak, serasa terbangun karena mendengar suara petir (kaget).
    Lebih baik digampar secara tertulis, daripada digampar beneran. Terima kasih.

  51. Wah menarik nih pak dosen buat dijadikan bahan pelajaran ke depannya. Tapi maaf ga akan saya terapkan semua ya pak. Saya ga mau terlalu kaku jadi mahasiswa, disuruh dosen ini itu hanya ngangguk2 saja.

    Juga kalau boleh kasih saran, tolong jangan terlalu mengeneralisasi mahasiswa kaya gitu semua ya pak. Jangan sampai orang2 yang punya keterbatasan ikut kegampar juga.

    Terima kasih πŸ™‚

  52. mahasiswa yang punya target jadi pengusaha setelah lulus, ga akan setuju dengan tulisan ini Pak,
    saya pun tidak setuju dan sedih membaca ini, bahwa ada seorang yang sangat pintar seperti Bapak, masih berpikiran bahwa sukses adalah ketika setelah kuliah, lantas bekerja di perusahaan multinasional.
    kalimat, “bos kamu”, “diutus kantor”, itu merendahkan sekali, Pak.
    menurut saya, sebagai sarjana, terlebih sampai gelarnya memanjang di belakang nama, apalagi dari luar negeri dan sampai keliling dunia, ga sepantasnya cuma jadi “kuli” diperusahaan orang, apalagi perusahaan asing.
    dan menurut saya, alangkah baiknya, jika Bapak lebih memotivasi agar sarjana-sarjana muda negeri ini punya impian, punya target untuk dapat membangun perusahaannya sendiri, menjadi pengusaha kecil-kecilan, lalu berkembang, dan menjadi orang besar.
    Bukan mempertahankan mindset orang-orang lama: kuliah-kerja-nikah seperti ini.

    satu kalimat penutup dari tanggapan saya Pak,
    “Indonesia butuh pengusaha-pengusaha kreatif, bukan anak-anak muda yang justru memajukan perusahaan asing”

    Thanks.

    1. Mas Naufak, silakan baca pandangan saya soal kewirausahaan di twitt untuk mahasiswa baru. Terima kasih atas masukannya.

      Saya percaya satu kata2 bijak “kata2 tak melukaiku, kecuali jika aku mengizinkannya” πŸ™‚

  53. Terima Kasih,
    sudah menyuarakan jerit hati kami, dosen kecil yang ingin Indonesia maju …

    dan terima kasih, sudah memberi teguran membangun … karena sebaga dosen, saya juga adalah “mahasiswa” (baca pembelajar) seumur hidup (y)

  54. Kalo boleh jujur selama jadi mahasiswa saya sangat anti dengan yg namanya titip absen. pernah saya lakukan dan sangat menyesal sekali. Alhamdulillah setelah itu saya ga pernah walau resikonya harus dimusuhi teman sekelas.

  55. Assalamualaikum..
    Salam kenal pa saya mahasiswa Teknik Petambangan Universitas Islam Bandung..
    Terimakasih pa sudah sharing disini.. Saya sebagai mahasiswa sangat terasa ditegur dan harus menjadi lebih baik lagi..
    Terima Kasih banyak pa..
    Semoga saya bisa menjadi lebih baik lagi..

    Salam Hormat saya..
    Kessa Krisnan Puja Rama

  56. saya malu bacanya πŸ™‚
    aduh, mulai sekarang harus ganti nama email. dulu dibikin pas masih ababil alay sih

    memang mahasiswa perlu digampar biar sadar…

  57. Ini gamparan buat kita semua yang seringnya pinter ngomong tapi pada saat yang bersamaan jarang merefleksikan apa yang kita omongkan. Poin nomer 25 persis sekali seperti pengalaman saya. Saya dulu sering minder karena hanya anak desa yang tidak punya apa-apa tapi punya mimpi untuk sekolah di Amerika. Dan saya membuktikan sendiri kalau “kaya” dan “gaul” tidak ada hubungannya dengan kesempatan sekolah di Amerika, ya walaupun belum melalui penelitian yang ilmiah sih hehehe. Intinya mimpi saya sekolah di Amerika menjadi kenyataan.

    1. Mas M. Nazil,
      Terima kasih telah berbagi pengalaman. Saya senang membaca ini. Selamat melanjutkan pendidikan dan semoga berhasil melewati tangangan dengan baik sehingga selesai dengan keberhasilan yang menyenangkan.

  58. Love it!
    Ijin share ya pak.

    Untuk orang2 yang bilang ini nggak berlaku untuk mahasiswa yang ingin jadi pengusaha, jangan lupa bahwa konsumen kalian, klien kalian, itulah bos kalian.
    Jangan cuma terpukau dengan euforia enterpreneurship lalu lupa bahwa prinsip dasar bisnis pun sebetulnya untuk melayani kebutuhan konsumennya.

  59. Teringat sahabat saya yang membungkam deputy Hillary Clinton tahun lalu saat diskusi terbuka. Kebetulan dosen kami sering beri nasehat seperti di atas, jangan kalah sama mereka katanya. Kami selalu tertantang setiap ada delegasi asing. Terima kasih nasehatny pak

  60. Pak Andri,

    Saya pribadi merasakan seperti digampar bolak-balik di muka.
    Ini bakal menjadi tolak ukur untuk perubahan buat Saya.
    Terima kasih Pak, atas “GAMPARAN” kerasnya.

    Salam

    Rangga Pratama

  61. Maaf gan, tapi dengan toefl 500 itu tidak mungkin bisa daoat beasiswa untuk belajar diluar negri

    Sedangkan di tempat saya belajar nilai toefl yang sangat rendah harus 550 (dengan ssubject management)

    Dan subject yang saya belajar sekarang membutuhkan ielts dengan rata2 6

    1. Steven, untuk daftar beasiswa AAS (Australia), syarat TOEFL 500. Silakan lihat website resminya australiaawardsindo.or.id. Saya peraih beaiswa ini. Btw, untuk mengantisipasi persaingan, saya katakan ‘di atas 500’. Thanks sdh memberi informasi tambahan soal sekolah di luar negeri.

  62. hehehe mantap pak !
    Saya juga suka emosi dan kecewa liat mahasiswa2 tawuran antar fakultas, demo2 ga jelas sampe bolos kuliah, apalagi mahasiswa/i yg ngekost, pacaran layaknya “suami istri”. Liat aja hukum karma berlaku pd anak2 mereka nantinya !
    Apa mereka2 ga ingat dan kasihan sama orangtua mereka yg bersimbah keringat kerja seharian dan berhemat demi uang kuliah mereka ?
    Yg komen songong, dimaklumi aja pak karena umur2 segitu ego dan hawa nafsu mengalahkan logika dan nurani…

  63. Msh mending anda yg tampar pak,,gmn klau suatu saat mereka “ditampar” org lain diluar sana? Setelah lulus kuliah dan kemudian bekerja, cari uang itu ternyata penuh perjuangan dan pengorbanan,, itu yg sdg sya alami skrg hehehe,,,salam sukses pak

  64. wis artikel bapak jadi hot thread di forum kaskus, hebat pak! (y)
    jadi pengen buru-buru buat jadi mahasiswa yang di idam-idamkan bapak. πŸ˜€
    kalau bapak berkenan kasih info tentang dunia mahasiswa dan cara menjadi mahasiswa terbaik ke email saya pak πŸ˜€

      1. hmmm jadi pemahamannya harus seperti itu , kasian juga orang awam seperti saya, menolak kebijakan UN tapi belum bisa nulis di email dengan benar, miris

      2. Bahasa saya sarkastik. Intinya saya berharap masing-masing (termasuk saya) harus melihat ke dalam sebelum mengkritik karena seringkali kita melakukan kesalahan yang sama dalam tingkat dan konteks berbeda. Silakan mengkritik UN, tidak ada masalah. Bebas berpendapat kok. Salurkan pendapat Anda dengan baik. Saya dukung kebebasan perpendapat πŸ™‚

  65. Bagus pak tulisannya. Sebenernya itu sebuah fakta mahasiswa di Indonesia Pak.
    Tapi tidak sedikit juga Dosen / staff yang bekerja di bidang pendidikan lebih baik dari Mahasiswa Pak.

    Semoga ini bisa jadi Bahan pelajaran bagi Kami Mahasiswa dan Bahan Introspeksi bagi para pengajar dan staff di bidang pendidikan.

    Salam Mahasiswa…!!

  66. Saya tahu artikel in karena ada yang share di Kaskus. Brilian Pak, karena sy rasakan fenomena ini sejak sy menjadi mahasiswa sampai sekarang menjadi pengajar mahasiswa. Tentu saja saat sekolah saya juga punya kemanjaan yang sama, dan menjadi masalah ketika mahasiswa melakukannya.

    Kita bisa menjadi pengajar yang tak peduli. Hanya transfer pengetahuan, kasih soal dan nilai. Namun kita juga bisa jadi pengajar yang ingin anak didiknya mandiri dan bisa mencapai kemajuan.

    Dan untuk inilah artikel Bapak berasal. Senang sekali ada yang bisa mengungkapkannya dengan baik, dan salam kenal dari saya ^_^

    1. Mbak Idri,
      Terima kasih telah membaca dan mengapresiasi tulisan ini. Betul, ini adalah pilihan kita sebagai dosen untuk peduli dan tidak. Saya meninggalkan perusahaan besar seperti Unilever dan Astra untuk menjadi dosen. Saya tidak punya alasan lain kecuali ‘passion’. Saya mencoba peduli. Salam kenal Mbak Indri. Keep in touch πŸ™‚

  67. Walau saya tidak pernah kuliah, saya juga merasa tergampar dengan tulisan anda pak.. Dan mengingatkan saya pada adik-adik saya yang sedang menyelesaikan pendidikan mereka..

    Ijinkan saya untuk share tulisan bapak ..
    Terimakasih

  68. Ironis sekali artikel ini ya. πŸ˜€

    Sok idealis sekali.

    mengajari & menyuruh orang pakai tanda baca & menulis yang benar.

    Menulis blog saja tanda baca masih simpang siur. Titik di mana, koma di mana, petik di mana. Parahnya singkatan juga ada di sana sini. πŸ˜€

    kapitalisasi huruf juga banyak yang tidak jelas (menyisipkan kata kata yang kapital semua maksudnya apa? biar kelihatan lebih jelas begitu. Seperti anak SD).

    Maksudnya meletakkan hashtag di sini & di situ buat apa? Anda kira ini twitter? Atau anda kira hashtag tersebut akan dibaca & dimasukkan ke twitter? Bodoh sekali sih.

    Berikut saya kutip beberapa baris dari artikel ini:

    “Bangga bisa software & gunakan alat2 canggih?”
    “Kamu orang sosial & malas belajar hal2 kecil di komputer?”
    “DPR kadang studi banding untuk jalan2 doang.”

    alat2? hal2? jalan2?

    Serasa membaca koran di era sebelum disempurnakannya EYD. Geli ya? πŸ˜€

    Berusaha mengajari orang ini & itu, dirinya sendiri tidak konsisten.

    “tapi ini kan blog”

    Justru dari blog juga tulisan anda akan diperhatikan. Kalau belum bisa konsisten menulis bahasa Indonesia yang baik & benar tidak perlu sok sok-an lah…

    Sebelum mengajari orang, harap bercermin dulu, bung..! πŸ˜€

    Malas rasanya berdebat dengan orang sok formal seperti ini. Menulis ID email pun dipermasalahkan. Orang ini tidak sadar ada banyak sekali orang sukses di segala bidang yang memiliki ID email & twitter yang alay/norak bahkan kepribadiannya pun juga norak & alay. Masing masing orang ada kekurangan dan kelebihan. Anda kira yang namanya alay cuma ada di Indonesia? Buka mata anda bung ! Anda kira cuma orang Indonesia yang tidak bisa menulis email? Anda kira cuma orang Indonesia yang tidak bisa berbahasa Inggris? Anda kira cuma orang Indonesia yang tidak bisa berdiskusi?

    Buka mata anda bung ! Mahasiswa dan pemuda yang cerdas juga banyak di Indonesia ! Anda saja yang tidak menyadarinya, karena anda menulis blog tanpa referensi jelas cuma dari opini pribadi anda yang secara sempit menalar tidak ada juntrungannya.

    Ketika perusahaan perusahaan besar sekelas Google, General Motors, Lockheed Martin, Microsoft, Boeing, Apple & sistem sistem pendidikan mulai berusaha menembus batas batas formalitas, ini orang malah sok-sok-an dengan formalitasnya, menulis blog saja masih acak-acakan. πŸ˜€

    1. “Anda kira yang namanya alay cuma ada di Indonesia? Buka mata anda bung ! Anda kira cuma orang Indonesia yang tidak bisa menulis email? Anda kira cuma orang Indonesia yang tidak bisa berbahasa Inggris? Anda kira cuma orang Indonesia yang tidak bisa berdiskusi?”

      Lantas itu wajar jika orang Indonesia tidak bisa? Apa salahnya jika orang Indonesia bisa lebih baik?

      Saya rasa penulis menulis tulisan ini bukan untuk menjelek-jelekan mahasiswa. Jika anda cerdas, pikiran anda akan lebih terbuka. Bukan malah berpikir selalu berpikir negatif.

      Bisa tunjukan bagaimana perusahaan-perusahaan yang anda sebutkan menembus batas formalitas? Mereka menembus batas itu hanya disaat promosi kepada publik, tapi untuk melakukan presentasi, mengirim e-mail dengan atasan, saya rasa mereka masih berlaku formal.

      Sebelum berkomentar, harap berfikir dulu, bung..! πŸ˜€

    2. Kelihatan banget kalo si “Rahasia” orang yang bodoh, dari tulisanya pun sangat terlihat bodoh dan kurang kerjaan ha ha ha

      1. Makasih Mas Afwan. Mari kita bergerak maju dan mencurahkan energi untuk hal-hal baik. Terima ksih sudah membaca dan dukungan Mas Afwan sangat berarti bagi saya.

  69. Anda takut dikritik? Komentar saja harus anda moderasi?

    Ironis sekali artikel ini ya. πŸ˜€

    Sok idealis sekali.

    mengajari & menyuruh orang pakai tanda baca & menulis yang benar.

    Menulis blog saja tanda baca masih simpang siur. Titik di mana, koma di mana, petik di mana. Parahnya singkatan juga ada di sana sini. πŸ˜€

    kapitalisasi huruf juga banyak yang tidak jelas (menyisipkan kata kata yang kapital semua maksudnya apa? biar kelihatan lebih jelas begitu. Seperti anak SD).

    Maksudnya meletakkan hashtag di sini & di situ buat apa? Anda kira ini twitter? Atau anda kira hashtag tersebut akan dibaca & dimasukkan ke twitter? Bodoh sekali sih.

    Berikut saya kutip beberapa baris dari artikel ini:

    “Bangga bisa software & gunakan alat2 canggih?”
    “Kamu orang sosial & malas belajar hal2 kecil di komputer?”
    “DPR kadang studi banding untuk jalan2 doang.”

    alat2? hal2? jalan2?

    Serasa membaca koran di era sebelum disempurnakannya EYD. Geli ya? πŸ˜€

    Berusaha mengajari orang ini & itu, dirinya sendiri tidak konsisten.

    “tapi ini kan blog”

    Justru dari blog juga tulisan anda akan diperhatikan. Kalau belum bisa konsisten menulis bahasa Indonesia yang baik & benar tidak perlu sok sok-an lah…

    Sebelum mengajari orang, harap bercermin dulu, bung..! πŸ˜€

    Malas rasanya berdebat dengan orang sok formal seperti ini. Menulis ID email pun dipermasalahkan. Orang ini tidak sadar ada banyak sekali orang sukses di segala bidang yang memiliki ID email & twitter yang alay/norak bahkan kepribadiannya pun juga norak & alay. Masing masing orang ada kekurangan dan kelebihan. Anda kira yang namanya alay cuma ada di Indonesia? Buka mata anda bung ! Anda kira cuma orang Indonesia yang tidak bisa menulis email? Anda kira cuma orang Indonesia yang tidak bisa berbahasa Inggris? Anda kira cuma orang Indonesia yang tidak bisa berdiskusi?

    Buka mata anda bung ! Mahasiswa dan pemuda yang cerdas juga banyak di Indonesia ! Anda saja yang tidak menyadarinya, karena anda menulis blog tanpa referensi jelas cuma dari opini pribadi anda yang secara sempit menalar tidak ada juntrungannya.

    Ketika perusahaan perusahaan besar sekelas Google, General Motors, Lockheed Martin, Microsoft, Boeing, Apple & sistem sistem pendidikan mulai berusaha menembus batas batas formalitas, ini orang malah sok-sok-an dengan formalitasnya, menulis blog saja masih acak-acakan. πŸ˜€

  70. Terimakasih atas tulisannya yg sangat bermanfaat dan dapat lebih membuka pikiran saya pak.
    Saya adalah murid SMA di Bandung. Saya ingin bertanya pak ;
    1. Saya bukan lah siswa unggulan, tidak pernah masuk 10 besar. Tapi saya rasa saya memiliki keunggulan di bidang berorganisasi dan bersosialisasi. bagaimana menurut bapak cara untuk menyeimbangkan organisasi dan akademis?
    2. Terkadang saya sering merasa pesimis, bagaimana cara mengatasinya?

    sekian dan terimakasih

    1. 1. Orang yang bagus di organisasi sesungguhnya punya potensi untuk mengorganisasi dirinya sendiri. Ayo temukan itu.
      2. Lakukan hal-hal kecil yang membut Anda senang dan bangga karena telah berbuat sesuatu. Lakukan kebaikan kecil setiap hari sehingga Anda bisa tidur dengan senyum. Jika ini dilakukan setiap hari, percaya diri akan muncul, optimisme akan tumbuh.

  71. Halo pak, buat saya pribadi sebagai mahasiswa tingkat dua ini jadi bahan refleksi & jadi semangat dalam menghadapi tantangan masa depan untuk mengurangi penggangguran terdidik. Saya kira teman-teman saya juga musti liat ini, maka dari itu saya mau izin share dan rencananya saya berniat bikin video-nya kalo diizinkan. Terimakasih. Salam, Taufik NH

  72. Kenapa ?
    Tidak bisa membalas ?

    Internet itu tempat yang kejam bung !
    Anda menulis artikel seperti ini apa anda tidak sadar ada berapa banyak orang yang ikut tersakiti karena anda melakukan generalisasi buta? Ibarat anda mengayun ayun pedang tanpa peduli siapa yang kena. Tapi anda tidak memberi solusi terhadap generalisasi yang anda lakukan.

    Anda hanya menulis daftar tulisan tersebut tapi arahnya tidak jelas ke mana, ke anak alay, ke mahasiswa atau ke orang umum? Parahnya anda hanya menulisnya berdasarkan opini dan pandangan pribadi anda. Di mana wibawa anda sebagai seorang dosen yang seharusnya membawa paparan dan kajian ilmiah? Opini anda pun seharusnya dilandasi dengan data dan fakta yang valid !

    Anda tidak perlu tahu siapa saya, apa prestasi saya, apa pekerjaan saya, di mana saya tinggal. Ini internet bung ! Kalaupun anda tahu, untuk apa? Mau apa?

    Apa anda bisa jamin semua orang yang komentar di blog anda 100% pakai identitas dan foto asli ? Jangan naif bung, 60% ID twitter itu palsu, 85% ID email itu palsu, 60% ID facebook itu palsu !

    Satu hal yang anda perlu tahu, saya bukan orang Indonesia, tapi saya bisa berbahasa Indonesia dan saya tinggal dan bekerja sebagai HRD di perusahaan multinasional besar di Indonesia selama 7 tahun dan saya yakin generalisasi yang anda lakukan sudah salah kaprah… !

    Apakah saya pernah memaksakan mereka pakai bahasa Inggris? Tidak, saya justru lebih fasih berbahasa Indonesia dibanding bahasa Ibu saya ! Itu karena saya bekerja di Indonesia, dan bahasa Indonesia digunakan di sini ! Tidak perlu sok English dan formalis ! Di negara saya sudah tidak terpakai yang seperti itu.

    Saya menemukan banyak pemuda pemuda cerdas di negara ini. Saya tahu banyak diantara mereka yang alay bahkan ketika presentasi pun mereka gugup, menulis email pun mereka ala kadarnya. Tapi mereka cerdas, kreatif dan bahkan banyak yang lebih bisa menyelesaikan masalah secara berkualitas dibandingkan pemuda pemuda dari negara saya yang notabene merupakan negara maju.

    Tulisan anda hanya menurunkan semangat mereka, bukannya memoles dan memberikan kata kata positif dan sugestif, anda justru memberikan kata kata yang destruktif dan mencela !

    Mungkin anda saja yang terlalu kejam terhadap mahasiswa mahasiswa anda, sehingga di mata anda mereka sudah terpatri sebagai mahasiswa dengan kesan yang seperti anda mau dan paksakan ! Anda berusaha mengubah citra mereka sesuai dengan kehendak kacamata anda sendiri sehingga hasilnya di mata anda, mereka itu pemalas, alay dan tidak akan sukses. Saya berkali kali menemukan dosen dan guru seperti anda ini. Dan pemikiran dosen dan guru seperti ini yang buruk bagi sistem pendidikan di negara kami !

    Anda mungkin saja mencela mahasiswa yang punya IPK dan nilai TOEFL kurang, karena bisa jadi dia adalah anak dari tukang asongan yang buat beli buku dan akses internet saja sulit ! Untuk bisa masuk kampus pun perjuangan bagi mereka cukup sulit baik dari segi finansial maupun mental ! Lebih baik anda mengkritisi kualitas dosen dan pengajar ! Karena kalau mahasiswanya demikian, bukankah itu adalah cerminan langsung dari dosen dan pengajarnya ! Buka mata bung ! Apa yang salah dengan dosen dan pengajarnya ? Bagaimana bisa kampus sebagai lembaga pendidikan formal menghasilkan mahasiswa seperti yang anda kritisi ?

    “Guru kencing berdiri, Murid kencing berlari”

    Mahasiswa itu output yang ada di level paling hilir. Sebelum anda menulis seperti ini, ada baiknya ada mengkritisi kualitas, sertifikasi dan kinerja dosen terlebih dahulu ! Lebih baik anda mengkritisi kualitas kampusnya itu sendiri ! Lebih baik anda mengkritisi dahulu kualitas sistem pendidikannya ! Lebih baik anda mengkritisi dahulu kualitas akreditasinya !

    Anda tidak perlu bicara beasiswa ini dan itu, yang anda perlu tahu saya memberi beasiswa kepada puluhan mahasiswa tahun ini, tapi tidak perlu saya meminta mereka terlalu formal atau macam macam ! Oleh karena itu tidak perlu saya menulis nama saya di sini, karena saya tidak perlu mencari muka !

    Anda tidak tahu kehidupan mahasiswa / murid di luar kampus / sekolah, faktor ekonomi mereka bagaimana, keadaan keluarga mereka bagaimana, ketika mereka di rumah / mess / asrama / kos atau kegiatan lain di luar kuliah yang menjadi faktor penentu kualitas mereka belajar dan mengikuti kuliah, jadi menurut saya, lebih baik …

    ANDA TIDAK USAH TERLALU BEGITU !

    1. rahasia,saya rasa pak Andi memang tak perlu membalas komentar anda yg “tak bertuan”..seperti kata anda bahwa dominan sekian persen orang yg komen disini palsu,lalu bisakah dipertanggung jawabkan “Satu hal yang anda perlu tahu, saya bukan orang Indonesia, tapi saya bisa berbahasa Indonesia dan saya tinggal dan bekerja sebagai HRD di perusahaan multinasional besar di Indonesia selama 7 tahun dan saya yakin generalisasi yang anda lakukan sudah salah kaprah… !” ? bukanny itu palsu seperti yg anda bilang? πŸ˜€

  73. Reblogged this on indri hapsari and commented:
    Bicara, memang paling gampang. Apalagi kalau kita di luar sistem, tambah gampang lagi. Kalau ada perlawanan, langsung sembunyi, tidak bisa mempertanggungjawabkan.

    Terkait dengan hal tersebut, mahasiswa terkadang jadi mahluk manja yang mau enaknya saja. Banyak hal deh, secara saya juga pernah jadi mahasiswa, dan melakukannya. Ternyata, bisa jadi masalah di masa depan kita.

    Kami, para pengajar, memang bisa hanya transfer ilmu, lalu beri soal, kasih nilai, selesai. Namun pembentukan karakter juga kami pedulikan, karena kami sayang.

    Jadi, ngga usah marah kalau ‘digampar’ dengan tulisan Bapak Dosen ini. Semoga semua pihak bisa mengambil hikmahnya ^_^

  74. Sadarkah anda, ada berapa pengunjung artikel ini? Coba anda buka dashboard blog anda, dan cari tahu !

    Ada berapa yang komentar?

    Pengunjung artikel dikurangi jumlah yang komentar adalah mereka yang sudah anda buat down, yang sudah anda “gampar” tersebut dan mungkin di hati mereka sakit tapi mereka tak bisa membalas !

    Anda perlu belajar dulu bagaimana cara mengajar tanpa mencela seperti ini. Anda perlu belajar bagaimana memberikan nasehat dengan pendekatan persuasif, bukan pendekatan destruktif seperti ini !

    Yang ada justru mahasiswa begitu melihat anda langsung antipati terlebih dahulu dan malas mengikuti kuliah anda ! Bagaimana saya mau belajar, kalau anda sudah terlebih dahulu mencela ?!

  75. Selamat malam mas Andi. Saya baru saja membaca tulisan mas di Kaskus. Saya tertarik dengan judulnya, tadinya saya berpikir mungkin isinya tentang sebuah kasus yang sedang terjadi antara mahasiswa dengan orang-orang disekitarnya, tapi ternyata isinya tentang cara seorang dosen mendidik mahasiswa melalui tulisan. Setelah membaca dan menyimak setiap tulisan mas diatas, saya sependapat dengan isi tulisan itu tapi isi dari tulisan tersebut tidak bisa mewakili keadaan mahasiswa secara menyeluruh karena bagi mahasiswa yang sungguh-sungguh menjalankan studinya dengan baik pasti akan merasa keberatan. Sebagai refleksi dan cerminan bagi generasi berikutnya untuk menjadi lebih baik serta semakin bisa berkompetisi dalam hal-hal yang positif, tulisan ini sangat bagus. Kalau melihat tayangan di televisi tentang demo anti korupsi dan lain-lain yang dilakukan mahasiswa, saya teringat tentang “analogi jari tangan” (satu jari menunjuk pada orang lain tapi tiga jari lainnya menunjuk pada diri sendiri). Saya berpikir jika nanti orang-orang itu sudah lulus dan menempati posisi yang sama seperti orang-orang yang mereka demo saat ini, apakah mereka bisa menghindari korupsi dan lain-lain? apalagi mereka sudah menempat posisi wuenaak dan “basah”. Apakah negara ini nantinya akan menjadi lebih baik ketika mereka yang menggantikan posisi para pemimpin saat ini?? Saya salut dengan cara mas Andi membalas kritikan yang tidak sependapat dengan tulisan ini, tapi menurut saya itu hanya segelintir orang yang merasa tertampar tapi tidak mau mengakuinya dan tidak bisa dikritik. Saya mohon ijin share tulisan ini ya mas, mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi banyak orang. Kalau boleh usul, mungkin kritikan tentang pola penulisan seperti “hal2, jalan2” dan yang lainnya bisa diperbaiki agar tulisan diblog mas lebih mantab lagi. Saya tunggu tulisan mas yang lain yang lebih “greget” lagi. Terima kasih mas. Salam.

    1. Bang Hendry yang baik,
      Terima kasih atas masukannya yang baik, berisi dan disampaikan dengan bahasa yang santun. Saya menghargai masukan Bang Hendry. Saya sudah sunting beberapa bagian tulisan di atas agar tidak mengandung terlalu banyak ‘kesalahan’. Meski demikian, ini adalah pilihan sadar saya untuk menggunakan bahasa sarkastik. Saya harap pembaca justru akan lebih cepat menangkap maksudnya.

      Terima kasih atas apresiasi dan masukannya. Silakan dibagikan ke siapa saja. Saya dengan senang hati melayani kritik dan berterima kasih karena itu yang membuat saya menjadi lebih baik. Meski demikian, saya ingin mencurahkan energi saya lebih banyak kepada mereka yang mendukung dan merasa mendapat manfaat dari tulisan ini. Sukses selalu Bang Hendry πŸ™‚

  76. Syukur saya tidak mendapat tamparan ini :D! Semoga saya tetap dijalur yang benar. Post bapak ini sangat mencerminkan mahasiswa Indonesia saat ini. Semoga banyak mahasiswa yang ikut membaca post ini agar mereka cepat sadar. Tamparan yang didapat ketika membaca post ini mungkin sakit namun setimpal :D.

  77. Begitu hebat GAMPARAN bapak buat mahasiswa Indonesia. Begitu banyak mahasiswa sekarang yang sok-sok mikir politik, namun tugas mereka sebagai mahasiswa dilupakan. Ijin share pak.

      1. Nah pemahaman baik itu yang perlu di kembangkan pak. Semoga bisa memberikan kontribusi pada Bangsa ini. Tidak hanya berbicara dengan kritikan, namun juga dapat memberikan solusi. πŸ˜€

  78. Gamparan yang cukup kena ke hampir semua generasi muda saat ini menurut saya, bukan hanya para mahasiswa. Dan para pejabat yang korupsi dan tidak benar itu dulunya mahasiswa juga, jadi sebisa mungkin mahasiswa sekarang (generasi muda pada umumnya) merubah kebiasaan-kebiasaan buruk ini.
    Menurut saya “gamparan” bapak baik dan semoga niat bapak lebih baik lagi. Setiap orang punya cara penyampaian yang berbeda-beda.
    Semoga yang merasa tergampar tidak turun mental-nya dan bisa jadi bahan introspeksi, untuk masa depan yang lebih baik.

    Salam dari Bandung, pak Andi.

  79. Terimakasih banyak pak :’-) itu menjadi modal semangat untuk saya
    dan suatu ironi ketika banyak yang pendemo pencemooh tetapi dirisendiri
    belum banyak dibenahi. suatu bahan perenungan πŸ™‚ dan kita harus banyak melakukan improvisasi serta koreksi diri sendiri untuk membangun kearah yang lebih baik. thx pak πŸ˜€

  80. assalamualaikum,,
    waduh baca “ilmu gamparan” pak andi malam malam bgini,,bikin mata jadi melek,,sambil senyum sndiri mngingat masa lampau,,smoga ilmunya bisa saya ingat,,dan saya terapkan untuk saya dan anak saya.(mulai dr balita ,mungkin bisa dicoba kan πŸ˜›
    Terima kasih.

  81. terimkasih mas andi, karena anda telah menggampar saya dan membuat saya sadar.. hewhewheww..

    mohon ijin pak untuk mencetak tulisan ini mau saya pasang di mading kampus saya, agar teman2 yang lain juga ikut kegampar.. tapi bukan gam[aran biasa, tapi gamparan yang mendidik.. hehe

  82. true that πŸ™‚ Mau kuliah di luar negeri mulai dri SMA atau S1 pun bisa kok ga perlu kaya ga perlu gaya
    Semangat semua!

  83. Saya selaku mahasiswa pemalas merasa tergampar sekali pak
    Terima kasih atas peringatannya membuat saya sadar.

    Tapi saya heran terhadap komentar-komentar negatif di artikel ini,
    Ini realita bung
    Kalau kalian memang civitas akademika yang dapat berpikir, seharusnya jangan jadikan tulisan ini sebagai ajang menjelek-jelekan mahasiswa, justru jadikan sebagai tolak ukur untuk lebih baik lagi. Terima kasih.

    Sering-sering ya pak membuat tulisan tentang mahasiswa, biar mahasiswa Indonesia makin sadar akan realita saat ini ^^.

    1. Mas Faisal, terima kasih telah menjadikan tulisan ini sebagai pelajaran baik. Apapun yang kita lakukan pasti ada dua reaksi, suka atau tidak. Saya tidak masalah dengan komentar negatif itu. Komentar negatif membuat kita tetap menjejak bumi. Tulisan ini dibaca oleh 50ribu orang lebih dengan ratusan komentar positif. Komentar negatif tetap saya perhatikan tetapi saya tidak akan habiskan energi untuk itu dan mencurahkan lebih banyak perhatian pada mereka yang merasa artikel ini bermanfaat agar saya bisa memberi lebih banyak manfaat. Sekali lagi terima kasih Mas Faisal, mari kita bergerak πŸ™‚ Tunggu tulisan lainnya ya.

  84. Saya mahasiswa teknik pak. Jujur selama di kampus, saya hanya dijejali dengan hitungan, analisis, metode, dan sebagainya sampai akhirnya saya tergugah dengan tulisan bapak ini dan menyadari betapa pentingnya komunikasi yang selama ini saya abaikan. Terima kasih pak, saya jadi terdorong agar lebih bisa berkomunikasi dengan baik dan menempatkan cara berbahasa yang tepat pada tiap orang yag tentunya mempunyai karakter yang berbeda-beda πŸ™‚

  85. Saya mahasiswa tingkat 3 merasa tertampar bgt dengan beberapa bagian pak :).
    Saya mau bertanya pak, sebenernya mahasiswa kuliah itu buat apa ya pak?
    Soalnya ini soalnya kegalauan saya di tahun ketiga pak. Apakah kuliah cuman tujuan hanya untuk bekerja? Karena menurut saya perjuangan kuliah 4 tahun apalagi di engineering itu rasanya berat dan kalau menurut saya kalau cuman tujuan kuliah hanya untuk bekerja rasanya menurut saya agak sia sia aja karena perjuangan kuliah yg panjang hanya terbayar dengan kerja dan mendapat materi . Sebenernya tujuan utamanya mahasiswa itu apa ya pak? Mungkin ini pendapat saya pribadi karena ketika saya mencari jawaban itu melalui proses mengikuti organisasi, konferensi, dan sebagainya, saya merasa masih belum dapat jawaban yg cocok.
    Matur nuwun pak πŸ™‚
    mohon maaf kalo ada kata kata yg salah
    karena saya hanya seorang mahasiswa yg sedang mencari arti hidup yg hakiki πŸ™‚
    maaf juga pak kalo OOT πŸ™‚

    1. Dear Mas Chairil,
      Terima kasih sudah menyampaikan pertanyaan filosofis di blog ini. Saya tidak akan berpura-pura jadi orang yang tahu segalanya dan bijaksana. Seujurnya, sayapun masih terus mencari dan mencari. Saya percaya apa yang dikatakan oleh Steve Jobs, tetaplah merasa bodoh dan tetaplah lapar. Saya memaknai ini sebagai suatu kesadaran bahwa apa yang kita capai saat ini bukanlah akhir dari segalanya. Bukan karena kita tidak pernah puas, tetapi justru karena selalu melihat ruang perbaikan yang harus dipenuhi.

      Bagi saya, ‘pencapaian’ terbaik dari seseorang adalah ketika dengan sadar bisa melakukan apa yang menjadi ‘passion’nya. Indikator sederhana adalah ketika bangun di pagi hari maka kita merasa bahagia karena akan melakukan apa yang kita senangi dan menjadi passion kita. Sekedar bercerita, saya kerja di Unilever ketika lulus dari UGM. Banyak yang setuju bahwa itu adalah pencapaian yang baik karena persaingan yang ketat dan imbalan finansial yang bagus. Setelah menjalani, saya tidak menemukan passion saya di sana. Meski begitu saya berusaha menarik pelajaran dari setiap kejadian selama bekerja sampai akhirnya saya melakukan pilihan sadar bahwa saya harus keluar. Saya pindah ke Astra di Jakarta meskipun ketika itu gajinya tidak lebih besar. Ada alasan lain untuk pindah yaitu demi keterpenuhan ‘passion’ saya terhadap pekerjaan. Saya menikmati kerja di Astra karena lingkungan yang baik dan teman-teman yang membuat kaya secara bathin. Setelah berjalan beberapa lama, saya kembali bertanya ‘apa yang ingin saya lakukan di masa depan?’ ‘puaskan saya dengan bekerja di dunia industri?’. Ada hal mendasar yang mengusik saya sampai akhirnya saya mengingat cita-cita saya ketika kecil. Cita-cita seorang anak desa yang ibu dan ayahnya tidak sekolah. Saya ingin berbuat hal kecil untuk pendidikan. Terdengar begitu klise, tetapi ketika itu, tidak bagi saya. Saat ada lowongan jadi dosen di Teknik Geodesi UGM, saya memutuskan untuk melamar dan diterima. Meskipun diliputi berbagai keraguan akan pilihan itu, saya coba mantapkan. Passion saya adalah berbagi. Itu saya yakini. Dengan menjadi dosen dan penulis saya merasa passion itu tersalurkan dengan baik.

      Kita perlu uang. Itu pasti dan kita harus serius memikirkan itu. Tapi di luar itu, ada hal-hal lain yang juga penting. Jika kita diberi kesempatan oleh Tuhan untuk melakukan apa yang kita minati dan apa yang membuat kita semangat bangun di pagi hari sekaligus bisa memenuhi kebutuhan wajar kita secara meterial, maka itulah menurut saya yang patut disyukuri. Saya belum bisa jadi dosen yang baik karena selama ini masih lebih banyak di luar kampus karena harus belajar. Tapi saya niatkan untuk kembali dan pada akhirnya mencurahkan perhatian kepada tugas saya. Saya tidak hanya ingin mengajar tetapi belajar bersama bahkan dari mahasiswa. Inilah passion saya.

      Banyak orang bijaksana mengatakan bahwa akhirnya gelar bukanlah sesuatu yang akan meningkatkan derajat dan kebijaksanaan kita. Saya setuju, memang bukan gelar tetapi proses pendidikan itu sendiri. Kita perlu menjamin kebebasan berpikir dan berimajinasi. Pertanyaannya, bisakah kita menjamin keterdidikan tanpa memperhatikan aturan administratif proses pendidikan itu sendiri? Saya adalah orang biasa yang tidak memiliki kemampuan folosofis memadai. Saya tetap percaya bahwa proses yang diatur sedemikian rupa tetaplah penting sambil menjaga pikiran tetap ‘liar’ termasuk untuk memikirkan apa yang mungkin tidak dipikirkan orang lain. Pada akhirnya menjadi sarjana adalah menjadi tahu apa yang tidak kita tahu dan tahu apa yang sudah kita tahu sehingga kita tidak berhenti belajar. Bahwa terminal yang kita rasa sebuah tempat perhentian tearkhir, sesungguhnya adalah persinggahan. Perjalaan kita masih jauh. Tetaplah merasa bodoh dan tetaplah lapar.

      Silakan baca beberapa tulisan saya:
      https://madeandi.com/2008/10/19/lentera-jiwa/
      https://madeandi.com/2006/07/20/opera-padas-2/
      https://madeandi.com/2009/07/03/she-is-nobody/

      Maafkan jika terdengar menggurui. Tidak ada maksud demikian. Jika terdengar begitu, pastilah karena kekurangmampuan saya mengeskpresikan maksud dengan baik.
      Terima kasih πŸ™‚

      1. Terima kasih Pak Dosen πŸ™‚ sangat menginspirasi
        Kebetulan saya juga mhs UGM hehe
        Sukses selalu untuk bapak πŸ™‚

  86. Gak baca sampai habis sih, haha, penyakit kalo ketemu bacaan yang awalnya sepertinya menarik tapi setelah berapa baris ternyata membosankan, tapi kesimpulan awal saya sih, standar suksesnya di tulisan ini itu: bisa kuliah beasiswa ke luar negeri πŸ˜›

  87. Terima Kasih pak. Bapak telah menyadarkan saya tentang hidup ini ternyata sangatlah keras. Dan harus bisa bertahan hidup. Terima kasih pak !

      1. Tuh kan, mau bilang spell checker saja sudah keliru tiang..

        Tiang bangga kepada Bli Andi. Semoga semakin banyak orang Bali yang sukses dan intelek seperti Bli. Semoga saya bisa termasuk.

        Selamat merayakan hari raya

      1. Bos saya adalah Bos anda juga…ga usah lewat saya salamnya pak…..tengadahkan saja tangan anda ke atas dan berdialoglah langsung dengan-NYA….tapi bos anda belum tentu bos saya

  88. gamparan yg Bapak sampaikan adalah renungan saya setiap saat dari awal saya masuk perkuliahan sampai sekarang ada di smster 5 jenjang S1, saya belum bisa apa-apa hanya saja saya selalu berusaha mencoba untuk bisa walaupun tidak sempurna.

    1. salam kenal mas Andi,

      betul-betul pesan yang menggampar !
      status saya juga masih belajar (sampai mati). dan tulisan mas andi betul-betul inspiratif dan kental dengan kondisi nyata kita saat ini.

      saya seringkali membahas masalah ini bersama beberapa kawan.

      saat ini meski saya masih belajar, saya juga membantu berbagi ilmu dengan mahasiswa (kalau boleh tidak disebut mengajar, toh dosen pun seringkali belajar dari mahasiswa)

      apa yang mas sampaikan sampai detik ini masih terasa di sebagian besar mahasiswa dan golongan pelajar. makin lama kita semakin malas. hampir semua copy paste, tidak mau bersusah payah.

      tata bahasa pun sangat sangat rusak. saya seringkali tersinggung dengan bahasa alay yg dikirim oleh mahasiswa (dan lucunya kadang mahasiswa tersebut sudah berstatus pegawai, karyawan, ataupun pekerja, apakah mereka melakukan hal tersebut kepada pimpinannya ?)

      apa yang ditempa selama proses belajar (khususnya dari SD s.d kuliah), akan dibawa ke kondisi kehidupan nyata nantinya. semisal, kita lihat sekarang kualitas pelayanan PNS negeri kita, sebagian ada yg sangat buruk, namun dengan dalih “sekali masuk PNS, akan digaji bahkan sampai setelah mati” menjadikan sebagian tersebut bermoral rendah. andaikata negara kita ada “government shutdown” seperti di US, tentunya mereka yang menganggap PNS itu pekerjaan yg aman dan nyaman akan berpikir dua kali.

      banyak lagi contohnya, misal dari segi bisnis, dengan moral yang buruk, banyak orang memulai bisnis dengan niat yg buruk. berbisnis dengan licik, menipu, dsb.

      menurut saya solusinya adalah, mari kita tidak saling menyalahkan. mulai perbaiki diri sendiri, saling menghargai, hindari hidup malas, dan tidak mudah menyerah. selain itu perlunya menanamkan nilai etika dan moral sejak pendidikan dasar, tidak hanya sekedar hapalan………..

      maaf kalau terlalu panjang (sebenarnya ingin lebih panjang lagi, tapi takut mengganggu diskusi di blog anda)

      salam

      1. Mas Indra.
        Terima kasih telah menyampaikan kejujuran sebagai seorang dosen. Silakan kontak saya jika ingin diskusi lebih panjang. Saya senang bisa diskusi lebih jauh.

  89. Salam mas Andi Arsana,

    Sepertinya terjadi kesalahan pada poin nomor 10.

    “Bangga bisa software dan gunakan alat-alat canggih?”

    Berdasarkan tata bahasa, Kalimat diatas sangat ambigu.
    Harusnya: Bangga bisa mengunakan software (perangkat lunak) dan peralatan canggih lainnya?

    Regards,

    1. Terima kasih Mbak/Mas No Name
      Ya Anda memahaminya dengan baik. Memang demikian maksudnya. Pembaca lain juga saya kira memiliki pemahaman yang sama. Next time jangan lupa kasih nama dan email ya. Saya lebih senang bisa kontak dan belajar langsung dari orang2 baik dan peduli seperti Anda. Sayang kalau tidak bisa dikontak. Thanks.

  90. “Tentara kita tidak takut sama tentara Malaysia kalau kamu bisa kalahkan mahasiswa Malaysia debat ilmiah dlm forum di Amerika!”

    masa blom ada siswa – mahasiswa indonesia yang menang debat, olimpiade lawan malaysia????

  91. A good thought indeed.

    Sedikit mau mengomentari para komentator yang mengaitkan ini dengan wirausaha versus pekerja.

    Pekerja itu setara dengan wirausaha, mirip dengan kalimat “percuma memiliki banyak pemimpin, jika tidak ada yang mau dipimpin.” Sebuah tujuan (whether it good or bad) akan bisa dicapai lebih maksimal (entah lebih cepat, lebih menyeluruh, lebih banyak sudut pandang yang terjawab) dengan sebuah tim yang solid dan tepat, yang tentu saja terdiri dari pemimpin dan yang dipimpin.

    Seorang wirausaha yang sukses juga memiliki wadah/aturan yang meregulasi (dengan sudut pandang yang berbeda “memimpin”). Do Steve Jobs could succeed alone? I honestly doubt that. Sebelum walt disney membangun kesuksesannya, dia juga sempat bekerja kok. πŸ™‚

    Perlu diperhatikan bahwa Self Employed – Worker – Investor – Entrepreneur semuanya punya peran masing-masing untuk kebaikan bersama.

    Negara harus punya rakyat yang mau berkontribusi (“bekerja”) untuk negara, bukan berarti rakyat itu kecil, sebuah kontribusi yang kecil dari seorang rakyat bisa bermakna besar untuk negara, jika dilakukan di koridor yang tepat dengan maksud dan waktu yang tepat.

    Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi.
    (In a multitude of words transgression is not lacking, but he who restrains his lips is prudent.)

    Warm Regards,
    CB

  92. keren om
    yg jelas tak cuma dari sisi akademis, juga dari sisi moral dan religiusnya
    karena toh moral juga berperan paling besar dalam pembentukan individu selain terus mengasah skill dan kemampuan untuk terus berkembang
    tapi itu semua poin di atas, terimakasih bagus untuk ngaca sama-sama πŸ™‚

  93. Saya merasa tertampar dan sadar klo saya ini adalah mahasiswa yang masuk golongan yang dimaksudkan diatas.

    Tapi saya ada komentar tentang post bapak.

    Pertama, mutu dan kualitas universitas dan kampus di Indonesia masih kurang bisa di ‘adu’ dengan (misal) yang di negara Singapur/Malaysia;

    Kedua, sistem edukasi di negara ini sudah dapat dipertanyakan dan tidak seperti dulu (cth: mencontek, beli skripsi, dll);

    Ketiga, banyak orang2 pintar jadi underachiever karena prinsipnya tidak cocok untuk negara ini, seperti dosen yang main favorit, tugas yang tidak jelas maksudnya dari aslab/asdos, atau dikucilkan karena menolak melakukan tindakan terlarang yang diajak koleganya, dan masih banyak lagi yang satu2nya cara untuk fit di masyarakat itu mengorbankan moral dan ‘sanity’nya.

    Kalo saya, saya kabur dengan membuat/menulis karya seni lalu ikut berkompetisi dengan seniman2 di dunia melalui internet.

    Saya sadar saya salah, tapi ya inilah yang saya pikirkan.

    Oh iya, video seorang Valedictorian ini mungkin bisa jadi bahan renungan.

  94. Saya merasa tertampar dan sadar klo saya ini adalah mahasiswa yang masuk golongan yang dimaksudkan diatas.

    Tapi saya ada komentar tentang post bapak.

    Pertama, mutu dan kualitas universitas dan kampus di Indonesia masih kurang bisa di ‘adu’ dengan (misal) yang di negara Singapur/Malaysia;

    Kedua, sistem edukasi di negara ini sudah dapat dipertanyakan dan tidak seperti dulu (cth: mencontek, beli skripsi, dll);

    Ketiga, banyak orang2 pintar jadi underachiever karena prinsipnya tidak cocok untuk negara ini, seperti dosen yang main favorit, tugas yang tidak jelas maksudnya dari aslab/asdos, atau dikucilkan karena menolak melakukan tindakan terlarang yang diajak koleganya, dan masih banyak lagi yang satu2nya cara untuk fit di masyarakat itu mengorbankan moral dan ‘sanity’nya.

    Kalo saya, saya kabur dengan membuat/menulis karya seni lalu ikut berkompetisi dengan seniman2 di dunia melalui internet. Karena saat ditengah periode perkuliahan saya, saya sadar saya mempunyai passion di seni dan ingin bekerja di bidang industri kreatif.

    Saya sadar saya salah, tapi ya inilah yang saya pikirkan.

    Oh iya, video seorang Valedictorian ini mungkin bisa jadi bahan renungan.

    1. Dear Rekan Nerevars,

      Terima kasih atas pandangannya yang begitu bernas. Apa yang Anda sampaikan adalah PR untuk saya dan mereka yang bergerak di dunia pendidikan. Tidak mudah menjadi waras sendiri di tengah ketidakwarasan karene sesunggunya orang gila adalah mereka yang berbeda dari lingkungannya. Pesan ini akan jadi catatan penting bagi saya dalam menjalankan tugas. Saya tidak janjikan banyak hal tetapi usaha keras untuk tidak memperburuk situasi. Rasanya, di tempat saya mengajar, idealisme itu masih terjaga dengan baik dan teman-teman saya tidak abai dengan kebaikan. Mudah-mudahan mereka akan menjaga saya nantinya.

      Saya kira apa yang Anda lakukan adalah sebuah jalan keluar yang dipilih secara sadar. Saya tidak melihat itu sebagai kesalahan tetapi sebuah pilihan yang pasti ada konsekuensinya. Dia akan menjadi salah jika Anda menyesalinya dan berkeyakinan bahwa ‘seharusnya saya tidak melakukan ini dulu’. Dia tentu saja menjadi benar (meskipun secara relatif) jika itu membuat Anda mampu menemukan dan menjalni hidup dengan passion sendiri. Ini pendapat saya pribadi, tentu sangat subyektif.

      re: video
      Saya menonton video itu beberapa bulan lalu dan terinspirasi. Satu yang saya simpulkan, bahwa untuk bisa menyimpulkan bahwa sekolah itu tidak penting, justru ketika dia telah pernah berproses di sekolah dengan segala macam aturan mainnya. Gede Prama menyimpulkan bahwa dia bisa menerapkan unschooled management ketika sudah meraih gelar manajemen dari institusi terkemuka. Mungkin ada pelajaran yang bisa diambil dari sini. Sekali lagi, terima kasih atas catatann yang baik dan bernas. Selamat bekerja πŸ™‚

  95. Saya setuju dengan sebagian besar “gamparan” yang bapak tulis. Sangat memotivasi. Tapi ada sedikit pertanyaan yang mengganjal dari poin 25, apakah ukuran sukses mahasiswa menurut bapak itu “S2 di negara maju karena IP, TOEFL dan kemampuan kepemimpinan”? Opini saya, mahasiswa yg sukses itu mereka yang menguasai bidangnya dan mampu mengaplikasikannya secara tepat dalam kehidupan masyarakat πŸ™‚ Terima kasih.

    1. Thanks Howey,
      Pendapat Anda cermat sekali. Saya setuju. Apa yang saya sampaikan di poin 25 tidak terkait dengan tujuan akhir pendidikan. Ini untuk mengingatkan mereka (saya pernah ada di posisi itu) bahwa situasi kita sekarang (ekonomi, keluarga, dll) jangan sampai membuat kita bahkan tidak berani bermimpi untuk meraih sesuatu yg lebih tinggi. Dalam hal ini izinkan saya menjadikan contoh sekolah s2 di negara maju dgn beasiswa sebagai sebuah pencapaian yg lebih tinggi. Saya paham, tidak semua setuju dengan itu tapi saya jg tah, ada ribuan orang setuju dg saya karena situasi mereka memang demikian.

      Kembali ke intinya, pada dasarnya saya setuju dg Anda jika terkait dg tujuan pendidikan πŸ™‚ Terima kasih.

      1. Ah, sekarang saya mengerti. Mahasiswa memang bukan cuma belajar, tapi juga ada pergumulan sosial. Terima kasih untuk reply-nya, membuat saya semakin salut pada tulisan anda yang benar-benar menyentuh kehidupan mahasiswa.

  96. Dulu nilai Bahasa Indonesia saya cuma 6, terbalik dengan Bahasa Inggris yang selalu 9. Tapi toh, Alhamdulillah, saya tidak jadi alay. Saya tetap banyak membaca dan mempelajari Bahasa Indonesia dan EYD dengan cara saya sendiri, yang akhirnya malah sempat membuat saya menghasilkan beberapa prestasi.

    Andai saja anak-anak muda yang sekarang bisa punya inisiatif untuk tidak jadi terlalu alay (oh well, kadang jadi alay perlu buat lucu-lucuan saja, IMO). Atau mereka boleh alay, asal di saat mereka harus serius dan formal, mereka harus bisa.

    Masalahnya, alay ini akan terus terjadi, seperti lingkaran setan. Apalagi dengan watak orang Indonesia yang cenderung mengikuti sekali tren. Malah saya jadi miris dengan (mungkin) anak-anak yang di sekolah dapat nilai 7 atau 8 di Bahasa Indonesia, tetapi di luar mereka justru tidak bisa menerapkan. Korupsi nilai?

    Anyway, poin nomor 1 justru yang paling menampar saya, yang seorang mantan mahasiswa. Karena saya minder saat mencari beasiswa dan saya selalu merasa pesimis terlebih dahulu kalau tentang mengejar beasiswa. Otak saya pas-pasan dan niat saya tidak sebesar orang-orang yang memang berimpian mendapatkan beasiswa. Tapi ini saya rasa dan saya ingat, memang lingkungan saya tidak banyak yang mendukung saya untuk mencari beasiswa, hanya sekedar, “Kenapa ngga nyari beasiswa aja?” Berbicara seperti itu seolah semudah membalik telapak tangan. Memikirkan persaingan beasiswa yang ketat dan persyaratan yang rumit saja saya sudah ciut nyali, apalagi kalau harus mengejar itu tanpa dukungan yang sesuai dari lingkungan?

    Eh, maaf saya jadi curhat terlalu panjang.

    1. Terima kasih Ireth.
      Saya setuju soal alay yg kadang bermanfaat dlm pergaulan. Poin Anda bagus bahwa intinya adalah pemahaman terhadap situasi. Jika formal terus setiap saat, bisa membosankan dan tidak akrab. Sebaliknya jika alay terus di segala situasi tentu bisa bahaya.

      Soal beasiswa, terima kasih telah ‘curhat’. Saya yakin banyak yang mengalami situasi ini dan bisa belajar dr situasi Anda. Good luck!

  97. Jadi teringat banyak hal sepele yang sudah terbiasa dilakukan setelah baca gamparannya.
    Jadinya harus lebih selektif dalam membiasakan sesuatu hal yang baik…
    Terima kasih pak, atas gamparannya yang sangat membangun.