Berdiri membela


Pada tahun 2007 silam, Barack Obama, berdiri di depan beberapa pendukungnya di acara Konvensi Demokrat di musim gugur. Dia mulai pidatonya dengan mengatakan:

Satu-satunya alasan mengapa saya bisa berdiri di sini malam ini adalah karena ada seseorang di suatu tempat memberi dukungan pada saya. Orang itu berdiri memberi kepercayaan pada saya, meskipun sesungguhnya pilihannya sangat berisiko. Dia berdiri memberi dukungan di saat-saat yang begitu berat. Dia berdiri mendukung di saat pilihan mendukung itu benar-benar tidak populer. Dan karena ada satu orang yang berdiri mendukung, maka beberapa orang lainnya pun mengikuti. Lalu beberapa ribu orang berdiri mengikuti. Lalu beberapa juta orang ambil bagian. Dan akhirnya mereka berdiri, tidak lagi dengan keraguan tetapi dengan keyakinan, dengan semangat dan tujuan yang jelas. Mereka percaya bahwa mereka mampu mengubah dunia.

Saya menangkap satu pesan dari pidato itu bahwa niat baik itu harus dimulai dan kadang hanya dimulai oleh satu orang saja. Satu orang inilah yang mengambil keputusan penting untuk mendukung sesuatu atau seseorang ketika tidak ada satu orang lainpun yang memberi dukungan. Keputusan tidak populer ini adalah kunci yang kemudian menggerakkan orang lain untuk mengambil keputusan. Dalam alam demokrasi, banyaknya orang yang berdiri mendukung itu akhirnya yang membuat orang seperti Obama memenangkan pemilihan presiden. Namun sejatinya, seseorang yang memberanikan diri berdiri tegak menyatakan dukungan di saat pertama itulah pahlawan sesungguhnya. Dialah yang memberi inspirasi. Dialah yang mengalami peperangan paling dasyat dalam menentukan sikap memilih.

Kemarin saya melihat sebuah video yang mengingatkan saya dengan pidato Obama tahun 2007 silam. Video itu melukiskan sebuah kejadian menarik di bus kota Jakarta yang intinya menggambarkan keberanian seseorang untuk berdiri membela seorang penumpang yang diganggu oleh preman jalanan. Orang itu melakukan pilihan berisiko dan bahaya mengancamnya setiap saat. Karena keberaniannya itu, beberapa penumpang lain mengikutinya berdiri dan menunjukkan pembelaan. Akhirnya hampir semua penumpang berdiri dengan dengan yakin menunjukkan pembelaan mereka. Tiba-tiba saja, preman jalanan itu menjadi minoritas di bus itu dan memilih untuk menyerah.

Video ini memang bukan kejadian sebenarnya tetapi dia memberi inspirasi bahwa pilihan untuk membela hal-hal yang seharusnya dibela memang tidaklah mudah. Meski demikian, kadang diperlukan hanya satu orang kuat yang menjadi contoh dan berani mengambil risiko lalu semangat kebaikan itu bisa menular hebat. Jika saja orang-orang lain tidak menunjukkan pembelaan dan dukungan mereka, satu orang baik ini tentu akan menjadi korban. Namun, dia menjadi korban sesungguhnya bukan karena kekuatan preman jalanan tetapi karena orang-orang baik di sekitarnya diam dan mendiamkan. Menonton video itu, saya ingat kata-kata Mas Anies Baswedan, “Syarat orang baik kalah adalah orang-orang baik lainnya mendiamkan.” Dalam keseharian, kita sering dihadapkan pada pilihan-pilihan serupa. Apakah kita akan menjadi orang yang berdiri membela atau yang pura-pura tidak mengetahui apa yang terjadi? Itu adalah soal pilihan.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

4 thoughts on “Berdiri membela”

  1. Cerita ini kok mirip dengan apa yang diberitakan koran di Bali beberapa hari kemarin, tentang seorang preman yang ngebut di jalanan di Pemogan, Denpasar. Ada seorang warga yang memberanikan diri menegur, si preman pun marah dan mengamuk, endingnya malah si preman yang bonyok dijahar warga.

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s