Diaspora Indonesia: Nasionalisme dari Negeri Seberang


diaspora
Sebagian Diaspora Indonesia di Australia bertemu di KJRI Sydney

Dunia kini adalah sebuah tempat yang berbeda dibandingkan satu atau dua dekade lalu. Kita hidup di era media sosial, yang dengannya kita bisa bertegur sapa dengan seorang kawan di Russia sekaligus bergurau dengan sahabat di Afrika Selatan di menit yang sama. Kita bisa menghibur seorang sahabat di New York yang sedang sedih sambil tetap mengawasi anak yang sedang membuat PR di Jogja tanpa beranjak dari sofa kita di Sydney. Persepsi kita tentang ruang dan waktu begitu berbeda. Kita hidup di masa ketika ‘passport’ dengan jumlah pemilik terbanyak adalah akun Facebook dan tempat ngerumpi paling asik bukan lagi cafe tetapi Twitter. Rupanya inilah yang dimaksud dengan “borderless world” oleh Kenichi Omahe atau “the world is flat” oleh Thomas Friedman.

Perpindahan orang dan barang kini jauh lebih mudah dari sebelumnya. Ketersebaran manusia benar-benar nyaris tanpa batas dan percampuran budaya adalah keniscayaan. Sangat mudah menemukan orang yang mengaku dirinya keturunan India di Amerika atau orang Asia di Australia. Jika terbiasa bepergian lintasnegara, tidak sulit menjumpai orang dengan wajah dan penampilan Jawa mengenalkan dirinya sebagai orang Jerman. Kita tahu, Pierre Coffin, sutradara Despicable Me 2 ternyata adalah putra dari NH Dini, novelis ternama Indonesia. Serupa dengan itu, Russel Peters, komik ternama dari Kanada, ternyata adalah keturunan India.

Orang Indonesia kini juga tersebar di seluruh penjuru dunia. Konon, ada sekitar lima sampai delapan juta orang Indonesia atau keturunan Indonesia yang kini berada di luar Indonesia. Kita boleh terperanjat karena kasir sebuah rumah makan di Antwerpen, Belgia ternyata orang Semarang atau professor terkemuka sebuah perguruan tinggi di Amerika berasal dari Sumatera. Dan bersiap-siaplah menerima kenyataan kalau ternyata dosen favorit Anda ketika mengikuti kursus di Belanda ternyata berasal dari sebuah desa terpencil di pedalaman Bali.

Australia termasuk negara tujuan utama orang Indonesia karena lokasi geografisnya yang tidak terlalu jauh dan harapan ekonomi yang dijanjikannya. Cobalah berkunjung ke Sydney, Australia maka mendengar Bahasa Indonesia diucapkan di tempat umum bukanlah pengalaman aneh. Jika Anda sekolah S3 di sebuah universitas ternama di Australia, jangan kaget kalau pembimbing Anda orang Surabaya. Dari Sensus di Australia 2011, ada sekitar 87.807 orang Indonesia di Australia seperti disampaikan oleh Muhidin dan Pardosi dalam penelitiannya tahun 2012. Angka ini menunjukkan jumlah yang begitu besar.

Belakangan muncul ide Diaspora Indonesia. Menurut Dino Patti Djalal, Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat, Diaspora Indonesia “mencakup setiap orang Indonesia yang berada di luar negeri, baik yang berdarah maupun yang berjiwa Indonesia, apa pun status hukum, bidang pekerjaan, latar belakang etnis dan kesukuannya dan tidak membedakan antara pribumi maupun non-pribumi.” Dengan pengertian ini, jangankan mereka yang keturunan Indonesia, seorang bule yang mencintai Indonesia pun bisa dimasukkan dalam kategori Diaspora Indonesia. Tahun 2012 lalu, untuk pertama kalinya dilakukan sebuah kongres untuk mengumpulkan orang-orang keturunan Indonesia di seluruh dunia untuk berbagi gagasan di Los Angeles, AS. Banyak yang mengatakan itu adalah langkah progresif dan dianggap satu titik penting sejarah Indonesia terkait perhatiannya terhadap para perantau. Intinya, pemerintah Indonesia memberikan perhatian yang lebih besar kepada para perantau dan pencinta Indonesia di luar negeri dan ingin merangkul mereka. Usaha ini untuk menjawab dua pertanyan: bagaimana negara memberi perhatian kepada mereka dan bagaimana mereka bisa difasilitasi dalam mewujudkan kepedulian kepada Indonesia.

Perantau dan pencinta Indonesia di Australia menyambut gagasan Diaspora Indonesia ini dengan antusias. Minat ini bahkan sudah ditunjukkan dengan mengambil langkah-langkah kongkrit untuk membentuk jejaring Indonesian Diaspora Network of Australia (IDN Australia) pada tingkat negara bagian maupun federal. Komunikasi para diaspora ini berjalan cukup baik dan bahkan sudah pernah diadakan semacam konsolidasi nasional, berupa Forum Diaspora Indonesia di Australia, pada 6 Juli 2013 lalu di Sydney. Hal ini dilakukan terutama untuk menyambut acara kongres Diaspora Indonesia ke-2 (CID2) di Jakarta dengan tema “Pulang Kampung”. Berbagai gagasan baik muncul dan semangat untuk berbuat sesuatu bagi Diaspora Indonesia dan Indonesia secara umum terasa gegap gempita. Meski demikian, harus diakui bahwa gagasan Diaspora Indonesia ini belum sepenuhnya meyakinkan semua pihak sehingga masih ada pihak yang bersikap “menunggu dan melihat” sebelum memutuskan.

Ada dua gagasan penting yang muncul dalam interaksi IDN Australia. Pertama tentang diaspora itu sendiri dan kedua terkait strategi pasca CID2. Tentang Diaspora Indonesia, perlu adanya sebuah jaringan global yang menghubungkan simpul-simpul di seluruh dunia berupa IDN Global. Untuk hal ini, perlu adanya satu acuan universal dan model komunikasi yang efektif untuk menyamakan pemahaman dan persepsi tentang Diaspora Indonesia. IDN Global harus independen, tidak berada di bawah struktur pemerintah, tidak juga menjadi kepanjangan tangan pihak-pihak tertentu secara politik. Idealnya jaringan ini tumbuh dari bawah (bottom-up), bukan dirancang dari atas (top-down) sehingga benar-benar mencerminkan kepentingan dan kebutuhan Diaspora Indonesia di tingkat akar rumput yang berbeda antar satu kawasan dengan kawasan lainnya. Selain itu, penting adanya rasa memiliki (ownership) dari para Diaspora sendiri, agar ke depan benar-benar memberikan manfaat (benefit) bagi para Diaspora, dan pada gilirannya berperan lebih besar bagi tanah airnya.

Untuk memfasilitasi ini maka sebanyak mungkin jalur formal dan informal harus dibuka. Artinya, peran Diaspora Indonesia di seluruh dunia, tidak hanya dibatasi pada bidang-bidang tertentu seperti yang sudah ditetapkan secara formal. Selain itu, pada akhirnya nanti IDN ini harus dikelola secara professional, bukan hanya bersifat tambahan (ad hoc) sehingga keberlanjutannya bisa dijamin. Perlu ada orang yang bertanggung jawab dan bekerja khusus untuk IDN dan berkantor di suatu tempat dan menjadi simpul utama pergerakan IDN ini. Perlu manajemen yang professional untuk menjalankannya, tidak bergantung pada kebiasaan sukarela (volunteerism) seperti kebanyakan organisasi/komunitas Indonesia selama ini.

Gagasan kedua terkait strategi pasca CID2. Bisa dibayangkan akan ada banyak sekali ide bermunculan. Para perantau dan pencinta Indonesia yang ingin berbuat sesuatu untuk Indonesia pasti banyak sekali dan beragam modelnya. Pemerintah sebaiknya menyambut ini dengan memberi ruang yang lebih luas bagi IDN untuk berperan bagi Indonesia dan dimudahkan prosesnya tanpa melanggar ketentuan-ketentuan hukum. Akan tidak elok jika semangat berperan yang kini gegap gempita akhirnya rontok hanya gara-gara proses administrasi dan birokrasi yang berbelit, misalnya.

Di sisi lain, perlu dipahami bahwa kerumitan birokrasi dan administrasi ini mungkin tetap terjadi. Hal ini harus disadari oleh Diaspora Indonesia di seluruh dunia bahwa Indonesia sedang bebenah dan semua itu memerlukan proses. Yang terpenting adalah menjaga semangat berkontribusi pada Indonesia terutama ketika dihadapkan pada birokrasi yang rumit dan bebelit. Menyumbangkan materi mungkin bukan hal sulit bagi sebagian besar Diaspora Indonesia di perantauan tetapi pada akhirnya, sumbangan yang paling besar dampaknya adalah yang bisa mengubah sikap dan perilaku. Selain itu, dengan luasnya jejaring (networking) yang dimilikinya, para Diaspora Indonesia di perantauan bisa membawa potensi dan sumberdaya (resources) dari Indonesia untuk mendunia. Mengutip seorang motivator ternama, Krishnamuti, Diaspora Indonesia bisa berperan untuk mendunia dengan tetap mencintai nilai-nilai lokal. Go global, love local.

Tentu saja ini bukanlah hal yang mudah maka memerlukan tekad dan semangat. Para diaspora tentu saja bisa memilih untuk menyerah tetapi tentu bukan itu yang kita harapkan. Dalam kegelapan, kita selalu tergoda untuk mengutuk dan marah, tetapi nyala lilin yang sesungguhnya akan menjadi solusi. Saatnya membuktikan kebenaran teori Kenichi Omahe dan Thomas Friedman bahwa kita hidup di dunia yang “datar” dan “tanpa batas”. Bahwa berkontribusi bagi Indonesia bisa dari mana saja. Selamat berkongres Diaspora Indonesia dan selamat ‘pulang kampung’ merayakan kemerdekaan Indonesia ke-68 di tanah air tercinta.

PS. Tulisan ini hasil kolaboarasi Frans Simarmata (Presiden IDN Australia) dan I Made Andi Arsana, disiapkan untuk menyambut CID2 di Jakarta.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

2 thoughts on “Diaspora Indonesia: Nasionalisme dari Negeri Seberang”

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s