Membela Indonesia dalam Lima Menit


Saya sedang bersama Asti ketika bertemu seseorang di lift UNSW, Sydney. Perilaku lift yang sedikit aneh membuat kami ngobrol ‘menertawakan’ situasi. Memang agak aneh, seringkali manusia jadi akrab dengan orang asing jika ada kejadian yang tidak lazim. Kelar dari lift, kami bercakap-cakap. Perempuan itu imigran keturunan India dan sudah 20an tahun di Australia. Logatnya sudah begitu Australia. Kami bercerita tentang studi dan keluarga.

http://tribunnews.com/

Ketika saya bilang sedang belajar hukum laut dan batas maritim dia sedikit terperangah. Memang tidak mudah menemukan mahasiswa internasional belajar hukum di Australia. Saya jelaskan bahwa hukum laut bagian dari Hukum Internasional sehingga berlaku lintas negara. Diskusipun mengalir dari satu topik ke topik lainnya. Dia mengatakan di negara maju seperti Amerika dan Australia, hukum begitu penting dan dijunjung tinggi, “I am not sure, about Indonesia” katanya. Dia terdengar sopan tetapi sesungguhnya dia mengatakan bahwa hukum tidak dijunjung tinggi di Indonesia. Saya paham apa maksudnya.

Pembicaraan sampai pada rencana saya untuk pulang ke tanah air. Dia sedikit heran mengapa saya ingin kembali. “I am not sure how you are going to use your legal expertise in Indonesia” katanya. Dia lalu mengatakan pemahamannya betapa pelanggaran hukum banyak sekali di Indonesia. Dia juga membahas penyalahgunaan obat-obat terlarang di Indonesia yang tidak disentuh hukum. Harusnya hukum digunakan untuk menangani kasus-kasus seperti itu. Dia juga sebutkan korupsi yang merajalela. Rupanya dia memang membaca berita dan seperti umumnya, bad news is good news bagi media. Berita yang menarik adalah berita buruk. Ini berlaku di hampir seluruh dunia. Saya paham. Sementara itu saya hanya tersenyum saja. Saya tidak tertarik untuk menanggapi karena perjalanan kami hanya singkat, sebentar lagi harus berpisah. Perlu waktu yang lebih panjang untuk berdiskusi tentang Indonesia. Selain itu, apa yang dikatakannya tidak sepenuhnya salah.

So do you think you can contribute or survive in Indonesia?” perempuan itu bertanya dengan nada sedikit menuduh. Atau mungkin itu hanya perasaan saya saja. Mendapat ‘rangsangan’ seperti itu saya merasa perlu bicara. Meski demikian saya perlu memastikan bahwa diskusi ini tidak boleh emosional dan saya tidak punya banyak waktu. Jika saya ingin memberikan kesan yang baik tentang Indonesia maka saya harus menjadi ‘a living testimony’ bagi perempuan itu. Tidak ada gunanya melakukan pembelaan apalagi memaksanya untuk percaya bahwa Indonesia tidak seburuk yang dia kira. Bukti paling efektif untuk menunjukkan bahwa Indonesia bangsa terhormat adalah sikap warga negaranya yang layak dihormati.

Dengan pelan dan nada yang berusaha diyakin-yakinkan saya menjawab “I understand where you came from with the question. You are correct that there are a lot of things that we need to improve in Indonesia.” Perempuan itu mengangkat bahu dan memainkan alisnya seperti mau bilang ‘there you go‘. Saya lanjutkan “But we have to remember that Indonesia is a young nation as a democracy. We elected our president for the first time in 2004 and since then we have been doing quite a lot. I believe we are in the right track and we are heading to a right destination.” Mendengar itu, rupanya dia sedikit ‘tersentuh’. Semata-mata karena mungkin tidak mengharapkan respon yang agak serius. “Do you think so?” tanyanya penasaran. “Yes, I do. It is not fair to judge Indonesia this early. In 1998 we had a terrible time when we changed our system from an authoritarianism into a functioning democracy. I believe you are aware that nobody was optimist about Indonesia back then. Many even predicted that Indonesia would be Balkanised but we proved the opposite. Indonesia is now stronger. We have changed a lot in a short period of time. We have press freedom and our economy is growing.”

But economic growth does not always guarantee welfare” dia tetap menyampaikan kritik tetapi dengan cara yang cerdas. Saya bukan orang ekonomi tetapi di saat seperti ini terasa manfaatnya sering menonton pidato Dino Djalal, Gita Wirjawan dan Anies Baswedan. Saya tersenyum sopan membenarkan pendapatnya. “Yes, I agree. Economic growth without equal distribution will only cause wider gaps between the poor and the rich. That is our homework and we are aware of it. One of the duties of our leaders is to ensure equal distribution. We are not there yet but we are working on it. It is still a good sign that our economic growth is more than six percent per year and we are currently number 16 in the world in term of GDP.” Perempuan itu menyimak, kini dengan perhatian yang penuh. Saya lanjutkan, “as you can guess, it does not tell that we are the sixteenth wealthiest nation in the world. We have more than 240 million people to take care of.” Saya dengan segera menyampaikan kelemahan angka-angka GDP itu sebelum dia memprotes pemahaman saya. Sejujurnya saya tidak yakin-yakin amat dengan angka-angka yang saya sebutkan tetapi yakin bahwa menyebutkan angka-angka yang seperti itu akan memberi kesan berbeda dalam diskusi and it worked. Perempuan ini rupanya berpikir lebih jernih dan dia mulai mengubah nada biacaranya, “oh that is a good sign.” “Indeed. But we are not there yet and we need to work hard” jawab saya. “I hope they give young people like you a chance to lead the country one day”, katanya sambil tersenyum.

Saya tertawa saja mendengar ‘rayuan’ tiba-tiba itu. “Oh, thank you. You are too kind. But I agree with you that we have a lot of things to improve. We are working on it now” kata saya sambil tersenyum memandangnya dengan penghargaan. “I am sure there will be an improvement,” katanya dengan nada positif. “I am sure you will make a difference” katanya setengah serius. Kami sempat berbasa basi sejenak di dekat halte, betapa pertemuan itu mengesankan. “It was lovely meeting you“, katanya sambil melambaikan tangan ketika  bergegas menyeberang jalan meninggalkan kami berdua.

Apa yang saya sampaikan mungkin tidak akurat karena saya bukan orang ekonomi dan tidak ahli politik. Saya seorang surveyor yang berekspresi dengan titik, garis dan luasan. Jawaban saya tidak akan mengubah Indonesia, mungkin tidak juga membuatnya lebih baik tapi ada kesan berbeda pada perempuan itu tentang Indonesia setelah percakapan itu. Saya yakin. Akhirnya, Indonesia layaknya seorang Ibu. Saya tidak selalu setuju dengannya tetapi tidak pernah cukup alasan untuk memutuskan ikatan. Jika hanya lima menit yang saya punya, maka dia akan saya bela dalam lima menit itu. Dengan cara sendiri. Tiba-tiba, lagu Iwan Fals terngiang di telinga, “lusuhnya kain bendera di halaman rumah kita, bukan satu alasan untuk kita tinggalkan.”

Ruang Tunggu Royal Hospital for Women, Sydney, 1 Agustus 2013.
PS. Susunan kalimat saya pada percakapan tidak seteratur tulisan ini dan tentu terjadi kesalahan grammar di sana sini. Meski demikian, inti maknanya tidak berbeda dengan yang saya tulis.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

20 thoughts on “Membela Indonesia dalam Lima Menit”

  1. It was lovely meeting Bli Andi in Paris few years ago, if not I will not read this blog while smiling and see one of many who could contribute to our nation in near future. Great job Bli ! 😉

  2. I have a feeling kalo pak Andi ini bakalan menjadi salah satu tokoh Indonesia. Ya mudah2an presiden yooo… 🙂

  3. …banyaknya persoalan yang datang tak kenal kasihan… #lhah malah ikutan nyanyi :-0) seneng nih Bli suka Fals juga rupanya….#komen ga nyambung #yoben

  4. goodjob, mr andi. l’ m proud of ya. i do believe, like the woman told you, someday young people like us will rule this country and we can make a different for a better indonesia. so someday in the future we can stand with dignity as indonesian in front of many many nations.

  5. It’s pleasure to have a chance reading this article, Pak Made Andi. Indonesia have another distinguished expert in Law of The Sea. Menarik sekali menantikan aksi Bapak bahu-membahu dengan salah satu Ahli Batas Laut yang saya kenal dari Bandung sana (Dr. EDJ) dan memberikan wibawa yang kuat di tapal batas negara kita sana, hehe….

    I’m truly inspired by your passion and your way of defending your country.

    Salam Surveyor.

    1. Hello Yanes David,

      Thank you for your nice words. Pak EDJ is our guru. I learn from him. Please convey my regards to him if you happen to meet him. We will certainly collaborate for a better Indonesia.

      A

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s