Menolak Lupa 1998


http://ismaielcreativity.blogspot.com

Beberapa kawan menjemput saya di kos di Blunyah Gede. Sore masih belia, hari belum gelap ketika kami berdiskusi serius di kamar sederhana itu. Tak lama berselang, kami sudah berada di kampus dan bersiap merencanakan aksi esok hari. Hari telah gelap, kami berkumpul di sebuah ruang yang biasa digunakan oleh BEM Teknik UGM untuk rapat dan berkegiatan. Saya memegang kuas, memandang penuh gelisah kain putih di depan kami. Semua nampak tegang, belum sepenuhnya yakin dengan keputusan kami. “Tulis saja, Ndi, masa’ kita nggak berani?!” kata seorang kawan memberi semangat.

Saya celupkan ujung kuas pada kaleng cat yang sudah terbuka sejak tadi. Dengan tangan yang agak bergetar, saya sentuhkan ujung kuas yang berlumur cat itu ke kain yang putih bersih. Teman-teman saya seperti bersorak dalam hati tetapi tidak satupun berani bicara. Satu persatu huruf tertulis di atas kain itu sampai akhirnya terangkai satu frase “TURUNKAN SOEHARTO”. Saya merasa telah melewati satu lorong sempit yang gelap dan bernafas lega. Menuliskan frase itu seperti dihimpit batu besar dan sulit bernafas. Maka tak heran, kami lega setelah frase itu tertulis dan tak mungkin dihapus lagi. Saya tersenyum, teman-teman merasa lega dan saling menyemangati. Itu adalah kali pertama kami menuliskan frase yang ketika itu terasa bergitu menakutkan dan mengancam hidup.

Kami tahu rasanya hidup di sebuah masa ketika menuliskan sebuah frase untuk menentang seorang presiden merupakan pilihan hidup dan mati. Tulisan itu bisa saja membuat kami terkapar berlumur darah karena ditembus peluru yang melesat dari sebuah senapan yang dikokang oleh penembak jitu. Tulisan seperti itu bisa saja membuat kami bersimbah darah karena timah panas yang melesat dari paruh senapan yang menyembul dari jendela mobil kijang yang berkeliaran di jalanan. Sebuah frase itu bisa saja membuat kami diculik, disulut rokok dan dipaksa untuk mengatakan apa yang tidak ingin kami katakan. Hidup di masa itu memang demikian, tetapi adrenalin kami tetap mengemuka, mendesak hendak keluar.

Malam itu, ketika spanduk sudah terselesaikan dan berbagai happening art, tercipta dengan penuh semangat, kami harus membuat satu keputusan penting. Pertanyannya adalah apakah kami akan tidur di kampus atau kembali ke kos masing-masing. “Situasi tidak kondusif, kita bisa mati konyol di jalan. Kita tidur di Mushola saja” kata seorang teman. Saya bukan seorang pemberani dan setuju apa yang dikatakan oleh kawan ini. Kami bersiap-siap hendak tidur di Mushola Teknik. Masih tergambar jelas kata dan kalimat di spanduk yang saya tulis dan itu jelas-jelas bisa membuat saya berhenti bernafas jika penguasa tahu apa yang telah saya perbuat. Saya memilih untuk tidur di Mushola saja. Lebih aman.

“Kata penjaga kampus Arsitek, tadi ada dua orang berjaket hitam naik motor dan datang ke Arsitek. Penjaga kampus tidak mengenali kedua orang itu. Sepertinya mereka intel atau penembak jitu. Kita harus meninggalkan kampus segera.” Kata-kata kawan saya itu diliputi kepanikan. Alhasil, kepanikan yang lebih besar mendera saya. Pulang dari kampus jam sembilan malam lebih di saat itu seperti perjalanan menuju neraka. Ketidakpastian berkuasa begitu rupa. Langsung teringat berita seorang anak SMA yang tertembus timah panas yang diduga berasal dari sebuah mobil yang melintas di dekatnya. Saya tidak mau seperti itu. Namun tidak ada pilihan lain, kami masing-masing harus meninggalkan kampus dan mencari perlindungan sendiri-sendiri.

Dengan penuh ragu saya pacu sepeda motro Grand stip hijau dari kampus menuju Blunyah Gede. Angin menerpa menambah dingin suasana yang mencekam. Pedagang kaki lima hampir tidak ada. Jalanan sepi. Pinggir jalan lengang, bebas dari jajahan pedagang pecel lele atau tempe penyet. Di saat seperti itulah saya rindu setengah mati pada mereka. Ternyata mereka bisa memberi kesan pertemanan dan perlindungan. Sayang mereka tidak ada. Maka jalanan itu menjadi jalanan sepi yang sesungguhnya, sementara saya memacu motor begitu kencang berharap tiba di kos dengan segera.

Setiap ada mobil yang bergerak dari belakang, saya merasa ajal saya tiba bebeberapa menit lagi. Timah panas bisa saja melesat dari moncong senapan yang tersembul di celah jendela yang terbuka sedikit itu. Satu dua mobil lewat, saya tidak terkapar bersimbah darah. Saya lega. Harga nyawa ditentukan dalam hitungan menit, begitulah yang saya yakini ketika itu.

21 Mei 2014
“Kamu milih siapa jadi presiden?” demikian pertanyaan yang terlontar dari seorang kawan, membuyarkan lamunan saya akan suasana reformasi belasan tahun silam. Saya tidak melihat ada orang sempurna yang akan bisa menjadi presiden. Meski demikian, ingatan saya tentang masa lalu di tahun 1998 seperti diputar ulang. Saya tahu rasanya takut teramat sangat hanya untuk menuliskan pemikiran. Saya paham duka nestapa teman-teman yang karena semagatnya akhirnya diculik dan disiksa di balik jeruji besi. Saya masih ingat orang-orang berseragam yang menyentuhkan popor senapan kepada dua orang kawan saya yang harus keluar rumah karena membuat secarik peta di atas kertas kalkir.

Saya tidak menjawab pertanyaan teman saya itu tentang presiden pilihan saya tetapi jika satu suara saya itu memang bernilai, saya pastikan suara itu memberikan kepastian yang lebih tinggi bahwa generasi di bawah saya tidak harus mengalami apa yang saya alami tahun 1998. Mereka tidak boleh didikte oleh popor senapan untuk mengatakan apa yang tidak mau mereka katakan atau untuk tidak mengatakan apa yang mau mereka katakan. Saya bukan pendendam tetapi menolak lupa bahwa di negeri ini, kekuatan intelektual pernah ditindas dan dikekakang dengan popor senapan oleh mereka yang berseragam.

Jika Tuan calon presiden merasa pernah setuju atau setidaknya membiarkan penindasan intelektualisme dengan senjata itu terjadi, maka Tuan tahu, Tuan tidak akan mendapatkan suara saya. Ketakutan di hati saya masih terasa. Kekhawatiran akan tertembus timah panas hanya gara-gara menulis sebuah spanduk itu masih jelas terasa. Saya bukan pendendam, tapi saya menolak lupa.

Yogyakarta, 21 Mei 2014 – Mengenang 16 tahun lengsernya Soeharto

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

5 thoughts on “Menolak Lupa 1998”

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s