Pagi masih belia ketika aku tiba di Sydney. Cerah musim semi masih bersahabat erat dengan sisa musim dingin yang sepertinya belum tuntas berlalu. Bus biru nomor 400 segera membawaku dari Bandara Kingsford Smith menuju Kingsford, sebuah kawasan yang tidak jauh dari Univesity of New South Wales, amamaterku saat menempuh pendidikan S2. Kembali ke Sydney seperti melambungkan ingatan duabelas tahun silam. Semua masih terasa seperti dulu.
Category: Renungan
Kembali ke Sydney

Di tangga-tangga Sydney Opera House, aku duduk termenung. Sendiri dan merasa sepi di tengah keramaian. Jauh di sisi selatan, nampak gedung-gedung tinggi menjulang, angkuh berebut ruang yang dilatari langit biru, bersih tanpa noda. Sydney Tower nampak khas, mengingatkan orang-orang yang pernah gandrung dengan film animasi “Finding Nemo”. Di pelataran Sydney Opera House, orang berlalu lalang menikmati hari yang cerah dan sejuk. Meskipun matahari menikam bumi, nuansa musim dingin belum sempurna diambil alih musim semi. Bagi penduduk katulistiwa sepertiku, Musim semi masih menyisakan dingin yang menyengat. Matahari yang menikam dan hembusan angin dingin yang bersemangat adalah paduan yang menghadirkan kesejukan. Di sini, di tangga-tangga ini, aku terduduk menikmati. Memandang dan menjadi pengamat, berusaha tidak terlibat.
Menyingkap Misteri IP
- Soal IP ini sensitif, saya paham 🙂 Pesan ini bagi mereka yg blm lulus saja. Someone has to tell the truth bahwa IP penting.
- Pesan saya soal IP untuk mahasiswa baru agar sadar dari awal. Yg terlanjur IPnya gak sempurna, ayo berjuang dgn ‘kreatif’ untuk menutupi kekurangan.
- IP tinggi memang tidak menjamin kesuksesan tapi IP tinggi akan memberikan kita kesempatan yang lebih banyak. Artinya peluang suksesnya juga lebih besar 🙂
- IP rendah itu memang tidak hina kok cuma agak repot aja kalau 4 thn lagi mau cari kerja. Itu saja 🙂 Jadi kalau masih punya waktu untuk meningkatkan IP, kenapa tidak?!
- IP yg tdk sempurna bukan akhir segalanya. Jangan putus asa. Masalahnya, kita harus berjuang lewat cara yg tidak ‘umum’. Itu saja. So, be ready!
- Menurut saya, mending kuliah lebih lama (jika harus) untuk memperbaiki IPK daripada kehilangan banyak kesempatan gara-gara IP ga’ cukup.
- IP bagus tdk harus cumlaude. Tapi Ada batasan angka yg membuat kesempatan terbuka lebih lebar 🙂 Tergantung mau jadi/kerja apa.
- Kita ga selalu berprestasi di kampus. Kadang merasa down ga apa2. Yg penting jgn lupa bangkit.
- Transkrip saya ada D nya. Tentu sy tdk bangga tapi bersyukur. Jadi sy punya ‘otoritas’ kalau ngomong soal IP :))
- Yg paling top: lulus cepet IP tinggi tp jika ga bisa, harus kompromi. Berdamai dg diri sendiri demi kepentingan lbh besar
- Banyak yg pengaruhi keberhasilan. Ada yg di luar kuasa kita. Tugas kita menghindarkan kegagalan krn hal yg bs kita kendalikan. IP salah satunya.
- IP bukan segalanya krn yg penting adalah karakter. Tapi seringkali kita ditanya IP dulu sblm diuji karakternya 🙂
- IP bagus (cukup) itu perlu kalau nanti mau sekolah ke LN selain indikator lain seperti kemampuan bahasa internasional. Harus diingat oleh mahasiswa baru nih.
- IP tinggi tidak lebih penting dari iman yg baik. Tapi iman baik + IP bagus bukan dosa juga. Think about it 🙂
- Banyak yg IPnya tidak bagus jadi orang sukses tapi bukan berarti untuk sukses IP harus jelek 🙂 Lagipula jadi pengusaha sukses dg IP tinggi juga keren.
- Saya sering ditanya “IP saya jelek, masih bisa daftar beasiswa nggak?” Selagi blm lulus, usahakanlah skrg! Kalau terlanjur jelek, cari beasiswa yang tidak mengutamakan IP.
- IP jelek? Kalau memang masih ada waktu, coba perbaiki. Saya pernah kok IP 1,2 🙂 Tidak bangga, tapi tdk malu juga. Bukan soal seberapa sering jatuh, tetapi seberapa mau untuk bangkit lagi 🙂
- Ukuran IP bagus itu tergantung tujuannya. 3.0 blm tentu cukup untuk perusahaan/beasiswa tertentu. Check ya 🙂
- Ada perusahaan/beasiswa yg mensyaratkan IP min 3 ada jg 3.25 atu di atas itu. PNS ada jg yg bisa 2.75. Check ya 🙂
- IP tinggi tidak bikin kamu mulia tapi bikin lamaran kerja kamu 4 thn lagi kelihatan lebih menarik. Itu saja 🙂
- Harus IP tinggi ya? Tidak. Bill Gates aja kaya meski gak lulus. Tp bisa kaya dan lulus dg IP bagus juga keren kok 🙂
- IP tinggi tidak menjamin keberhasilan di masa depan. Sayangnya, IP rendah juga tidak 😉 Jadi?
Mandi Pertama
Royal Hospital for Women, Sydney, 14 September 2005
Pelan-pelan kudorong kereta bayi itu dari bangsal bayi menuju sebuah ruang besar. Di sepanjang koridor rumah sakit, kulihat tubuh mungil tergolek tenang. Matanya tertutup rapat namun sepertinya tidak tidur. Tubuhnya terbungkus rapi oleh selimut putih bergaris-garis biru dan merah vertikal. Kelopak matanya bergerak-gerak, tanda dia tak tidur. Lita, anakku, baru berumur dua hari sejak kelahirannya dengan operasi sesar Senin lalu. Sementara itu, Asti, ibunya, masih tergeletak di bangsal, menjalani masa pemulihan.
Di luar ruangan, September baru setengah umur dan musim semi mulai menampakkan diri. Bunga-bunga di sepanjang jalan High Street bermekaran, meskipun tidak banyak ragamnya. Burung-burung yang bersembunyi di sepanjang musim dingin kini bermunculan dan bermain berkelebat di sela-sela batang pepohonan. Rombongan burung penghisap sari bunga bercengkrama menikmati manisnya cairan madu yang mereka curi dari bunga-bunga yang bermekaran. Meski cerita, musim semi juga membawa serta wabah demam yang mengintip siapa saja. Spring fever, kata para perawat di rumah sakit, maka kami harus berhati-hati menjaga bayi.
Dipeluk UGM
Wajahnya lesu. Matanya berkaca-kaca dan berusaha keras menahan tangis. Dari wajahnya nampak jelas dia sedih, bingung dan kecewa. Ada ketidakpastian yang menyembul dari pandangan matanya yang gamang. Anak itu adalah bimbingan akademik saya, dia datang mengadukan apa yang terjadi padanya.
Saya memanggilnya khusus karena beberapa waktu sebelumnya saya membaca status di Facebook-nya yang mengharu biru. Anak ini merasa nasib sedang tidak berpihak padanya karena urusan beasiswa dari pemerintah daerah yang tak jelas juntrungannya. Konon dia dinyatakan menerima beasiswa dari pemerintah daerah yang sampai kini belum diterimanya. Urusannya tidak saja dengannya secara pribadi tetapi juga dengan UGM sebagai tempat kuliahnya. Kesepakatannya adalah bahwa pemerintah daerah akan membayar uang kuliah anak ini langsung kepada UGM tetapi hal itu tidak pernah terjadi. Statusnya, anak ini nunggak uang kuliah kepada UGM karena pemerintah daerah yang tak menunaikan kewajiban.
Tips Komunikasi Internasional untuk Pejabat
Belakangan ini saya mengamati orang-orang penting di sekitar saya dalam tugasnya untuk menyampaikan pesan secara oral. Pesan itu bisa berupa pidato resmi di forum-forum besar, bisa berupa sambutan singkat dalam acara yang bersifat terbatas, bisa juga berupa pesan singkat dalam rapat kecil, atau sekedar kelakar dari seorang atasan kepada stafnya. Kesimpulan saya masih sama: kemampuan berbicara dengan baik selalu positif dampaknya dan kemampuan berbicara yang buruk dengan efektif dapat menyembunyikan kualitas baik seseorang.
Continue reading “Tips Komunikasi Internasional untuk Pejabat”
Washing the dishes is a very important life skills
Ibu saya bilang, bisa mengerjakan pekerjan rumah yang ‘remeh temeh’ memang tidah harus. Apalagi kalau bisa membayar orang lain untuk melakukannya. Meski begitu, bisa mengerjakan semua itu tidak pernah salah. Itu mungkin sebabnya saya ‘ditindas’ di masa kecil untuk mencuci piring. Kebiasaan ‘menindas’ itu kini terjadi pada saya dan Lita adalah ‘korbannya’. Selamat menikmati video ini.
Menemukan Bakat Anak Murid
Hari itu saya menerima seorang mahasiswa di ruangan saya. Dia berkonsultasi terkait mata kuliah yang akan diambilnya pada semester mendatang. Ada keraguan saya tangkap dari gerak-geriknya ketika berdiskusi. Pasalnya bisa diduga, nilainya tidak memuaskan. Bukan soal memuaskan saya sebagai dosen wali, nilai itu dirasa tidak memuaskan dirinya. IP-nya tidak sesuai dengan target pribadinya sehingga dia merasa kurang nyaman.
Saya punya banyak waktu hari itu sehingga sempat melayaninya agak lama, bercakap-cakap tentang banyak topik yang tidak selalu terkait dengan akademik. Saya mulai bertanya soal hobinya, soal kebiasaannya dan soal kegiatannya di luar jam kuliah. Dia seorang pelukis dan itu mengejutkan saya. Tidak banyak mahasiswa saya yang memiliki ketertarikan, apalagi keterampilan, melukis. Dia salah satu yang menurut saya istimewa.
Anies
Semalam, saya duduk mematung di depan laptop. Saya membaca sesuatu yang tak bisa membuat saya berpaling. Di sebelah saya, Asti, isteri saya, juga duduk dan membaca sesuatu di layar HPnya. Sesaat sebelumnya kami bermain dengan Lita sebelum akhirnya dia harus tidur di kamarnya. Di malam yang tenang itu, kami berdua asyik sendiri menikmati bacaan masing-masing.
Sekali waktu Asti berkomentar dan saya timpali. Ternyata, meskipun kami membaca di media yang berbeda dan tidak ada kesepakatan, bacaan kami sama. Kami sama-sama sedang membaca surat pamit dari Mas Anies Baswedan yang baru saja dibebastugaskan oleh Pak Jokowi sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Saya lebih banyak diam dan hanya mengiyakan komentar Asti. Mata saya menjelajahi komentar banyak orang tentang digantinya Mas Anies sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.
Mas Menteri telah menjalani tugasnya selama duapuluh bulan terakhir dan sesungguhnya itu belum paripurna. Mas Anies diberhentikan di tengah jalan. Sebuah keputusan yang mengejutkan banyak orang. Saya tentu salah satunya. Saya tidak punya kepentingan politik, seperti Mas Anies yang juga tidak berafiliasi pada salah satu partai politik tetapi pencopotan Mas Anies menyisakan kesedihan. Kesedihan mendalam itu tergambar jelas pada komentar ribuan penduduk dunia maya yang memberi komentar pada surat pamitnya yang mengharukan.

Dalam suratnya Mas Anies tidak berpamitan kepada presiden tetapi kepada para guru. Orang-orang hebat yang selalu disebutnya sebagai pahlawan. Dan kata pahlawan yang keluar dari mulut Mas Anies berbeda dengan kata ‘pahlawan’ yang diucapkan dalam suasana kaku di lapangan upacara yang sekedar melewatkan ritual. Ucapan pamit itu menggunakan kop resmi, tanda tangan basah dan cap yang formal. Di tangan Mas Anies, ketiga hal yang biasanya mendukung kekakuan itu seperti menyerah, bersimpuh dan menjelma menjadi pesan yang menyentuh hingga jauh ke dalam.
Asti menyentuh tangan saya ketika saya diam dalam renungan yang melempar saya pada kenangan dan juga harapan masa depan. Tanpa bisa saya bendung perasaan saya hanyut bersama luapan dukungan dan doa bagi Mas Anies dari penduduk dunia maya. Saya membacanya takzim. Dari sudut mata saya keluar butiran bening. Saya menangis dan akhirnya terisak tanpa bisa saya kendalikan.
Saya mungkin sekedar cemen. Mungkin juga benar seperti kata sahabat saya bahwa saya adalah seorang dengan pemikiran yang utopis, berjarak jauh dengan realitas. Mungkin benar demikian makanya saya cenderung mudah terharu pada kejutan-kejutan semacam dicopotnya seorang Anies dari posisi menteri. Meski demikian, saya melakukan itu dengan penuh kesadaran. Saya bahkan tidak begitu khawatir tertuduh cemen dan cengeng karena harus menitikkan air mata meratapi sebuah drama politik yang seharusnya tidak mengejutkan.
Bagi saya, tangis saya semalam adalah bayangan duka mendalam akibat terpenjaranya sebuah harapan dan gagasan. Mas Anies bukan seorang menteri yang mendobrak dengan keberingasan yang bisa mengundang sensasi media. Dia adalah seorang yang tegas dalam sikap tetapi santun dalam ekspresi. Mungkin benar juga, Mas Anies bukan seorang yang super cekatan merampungkan hal-hal pragmatis, seperti diduga sebagian teman saya. Mungkin. Tapi yang saya selalu yakini bahkan sampai saat ini adalah kesungguhannya untuk membangun karakter baik dalam pendidikan.
Ketika mengantar Lita ke sekolah di hari pertama sekolah, saya mengikuti pidato Ibu Kepala Sekolah. Belum pernah saya melihat seorang kepala sekolah menyampaikan pesan seorang menteri dengan sebegitu semangat dan penerimaan yang tak bisa disembunyikan. Pesan Mas Menteri itu adalah energi yang menjalar melalui kata-kata Ibu Kepala Sekolah dalam bentuk nasihat-nasihat sederhana namun prinsipil. Saya bersekimpulan, pesan Mas Menteri Anies tidak hanya hadir dalam lembaran surat atau disposisi kaku yang umumnya dilupakan seiring terhempasnya di rak arisp atau bahkan di tong sampah yang tua dan kumal. Pesan seorang Anies, hadir lewat semangat dan senyum kepala sekolah. Hari ini saya diliputi rasa optimisme.
Asti tidak berani menghentikan atau mengganggu saya ketika saya tercenung dalam isakan lirih. Dia tahu saya dan dia tahu betapa saya mengagumi seorang Anies sejak lama. Bagi saya, ini bukan soal kultus individu, ini adalah soal seorang manusia sekolahan seperti saya yang melihat idealisasi sebuah gagasan dan gerak yang menyatu pada seorang individu. Saya tidak terkejut dengan ide-ide Mas Anies karena itu merupakan milik banyak orang yang terdidik. Yang saya kagumi adalah kemampuannya mentransformasi ide dan idealism itu menjadi pesan yang mudah diiyakan, mudah untuk dituruti. Saya menjadi relawan Hari Pertama Sekolah karena saya percaya ide Mas Anies harus didukung. Saya ikut gerakan Turun Tangan karena seperti katanya, saya tidak boleh hanya urun angan. Saya dekat dengan para pengajar muda di Indonesia Mengajar karena saya tahu gagasan besar itu tak bisa tumbuh subur hanya dengan dipuji dan ditonton.
Saya yakin ribuan anak muda yang menjadi pengajar muda di Gerakan Indonesia Mengajar juga terpikat oleh kekuatan gagasan Mas Anies yang memancar lewat rangkain kata yang tersusun sedemikian rupa atau dalam bentuk tulisan-tulisan yang menyentuh dan membangunkan. Benar yang Mas Anies sampaikan, kita tidak bisa menjadi pahlawan sendiri. Dan bahwa kepimimpinan yang baik bukanlah yang menyelesaikan semua persoalan sendiri tetapi yang mampu menggerakkan orang lain untuk berbuat sesuatu. Mas Anies, tidak menyuruh saya untuk mempercayai dia tetapi mempercayai diri saya untuk bisa melakukan sesuatu perubahan meskipun kecil.
Saya tidak membiarkan diri saya mengumpat atau menyalahkan Pak Jokowi. Saya percaya dengan kebaikan beliau. Namun kebaikan saja tidak cukup untuk mempertahankan seorang Anies Baswedan yang memang tidak kuat secara politik. Pastilah ada banyak kalkulasi politik yang tidak akan bisa saya pahami dengan otak surveyor saya yang fakir pengetahuan politik. Yang saya tahu, selalu ada kalkulasi dan yang terjadi mungkin adalah yang terbaik.
Sementar itu, kekaguman dan terutama rasa terima kasih saya kepada Mas Anies tidak berkurang sedikit pun. Melihat kenyataan bahwa dia masuk dengan tegak serta keluar dengan gagah berani tanpa kasus yang berarti telah menguatkan hati saya untuk menjadikannya teladan. Saya mungkin adalah satu saja dari orang Indonesia yang cemen tetapi saya memilih menjadi cemen dengan sadar.
Hati saya ada bersama anak-anak sekolah yang sumringah datang ke sekolah di hari pertama karena sekolahnya ramah tanpa perploncoan. Semangat saya bersama guru-guru yang tidak lagi pusing hidupnya memikirkan cara terbaik memberi kunci jawaban pada anak-anak yang tertekan saat menjalani ujian yang seakan menentukan hidup matinya. Senyum saya bersama Lita dan teman-temannya yang tas sekolahnya tak lagi berat dan membuat tulang belakangnya cidera. Doa saya bersama Mas Anies yang telah berjuang mewujudkan semua itu. Terima kasih Mas Anies. Seperti kata Kaffee di A Few Good Men, “you don’t need to wear a patch on your arm to have honor”. Seorang Anies Baswedan tak harus menyandang pangkat menteri untuk disebut pahlawan dan pengubah.
Ps. Tulisan saya yang lain tentang Anies Baswedan
Rahasia di Balik Kedatangan Hassan Wirajuda
Alumni Teknik Geodesi UGM akhirnya bersikap atas silang sengkarut Laut Tiongkok Selatan. Kehebohan media tentang kedatangan kapal nelayan Tiongkok yang ‘mencuri’ ikan di perairan dekat Natuna, terjadinya insiden yang melibatkan petugas Indonesia, ‘provokasi’ petugas Tiongkok yang seakan tidak mengindahkan peringatan Indonesia menjadi warna yang membuat media masa hingar bingar. Suasana memang memanas, terutama pada bulan Maret hingga Juni 2016 dan media memberitakan dengan gegap gempita. Persoalannya, tidak banyak yang benar-benar paham duduk perkaranya.
Continue reading “Rahasia di Balik Kedatangan Hassan Wirajuda”